kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Pon, 16 Januari 2008

 Ajeg Bali


Kahyangan
Tiga dan Kehidupan Modern

Keberadaan Kahyangan Tiga dan desa pakraman di Bali dilatarbelakangi oleh nilai-nilai spiritual Hindu yang universal. Dalam Pustaka Mpu Kuturan ada dinyatakan: Desa pakraman winangun dening sang catur varna manut linging Sang Hyang Aji. Artinya desa pakraman dibangun oleh sang Catur Varna menurut petunjuk pustaka suci. Ini artinya desa pakraman tersebut sebagai wadah umat Hindu untuk membina profesi sesuai dengan ajaran kitab suci. Apa saja yang perlu dipersiapkan desa pakraman dalam menghadapi tantangan global?

======================================================= 

Kehidupan modern dewasa ini semakin membutuhkan SDM yang profesional sesuai dengan bidangnya masing-masing. Pada zaman modern sekarang ini kehidupan seseorang tidak mungkin akan aman, damai dan sejahtera kalau tidak memiliki suatu profesi tertentu yang mampu memberikan penghasilan yang dapat diandalkan menunjang kehidupan sehari-hari.

Mengeksistensikan suatu profesi pada zaman modern sekarang ini semakin tidak mudah. Desa pakraman sesuai dengan bunyi Pustaka Mpu Kuturan itu seyogianya mengembangkan pembinaan SDM di tingkat desa pakraman melalui pendidikan nonformal dengan bersinergi dengan lembaga pendidikan formal. Dewasa ini di setiap desa pakraman sesungguhnya sudah banyak SDM yang memiliki suatu profesi tertentu. Mereka-mereka ini juga dapat didayagunakan oleh desa pakraman untuk membangkitkan potensi yang masih terpendam di setiap banjar.

Persaingan zaman modern ini membutuhkan daya tahan moral dan mental yang semakin luhur dan tangguh dalam menghadapi dinamika zaman. Keberadaan Pura Kahyangan Tiga sebagai sarana sakral dewasa ini semakin dibutuhkan untuk menguatkan daya spiritualitas umat sebagai dasar penguatan moral dan mental menghadapi persaingan hidup zaman modern.

Pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti untuk menguatkan dan meningkatkan daya kreativitas umat untuk menciptakan, memelihara dan meniadakan sesuatu yang perlu diciptakan, dipelihara dan ditiadakan. Pada masyarakat yang masih agraris sederhana dahulu umat mungkin tidak seperti sekarang kuantitasnya memuja Tuhan di Pura Kahyangan Tiga.

Tantangan hidup pada masyarakat agraris dahulu tingkatannya tidak seberat sekarang. Karena itu memuja Tuhan di Pura Kahyangan Tiga tidak saja dilihat dari kuantitasnya tetapi perlu ditingkatkan kualitasnya. Fasilitas di setiap Pura Kahyangan Tiga perlu ditingkatkan agar mampu menampung berbagai pelaksanaan program dalam memajukan anggota krama menjadi SDM yang berkualitas.

Ajaran Tri Guna sebagai salah satu konsep membangun moral dan mental SDM. Keberadaan Pura Kahyangan Tiga di Bali umumnya sudah mengandung arti untuk mengembangkan unsur-unsur Tri Guna dalam membangun sifat dan bakat umat. Pada umumnya Pura Desa dan Pura Puseh dibangun dalam suatu areal atau mandala yang sama. Sedangkan Pura Dalem dibangun dalam suatu areal atau mandala tersendiri. Umumnya dekat dengan kuburan.

Pelinggih Pura Desa dalam wujud Gedong, sedangkan Pura Puseh dalam wujud Meru Tumpang Lima dibangun berjejer di bagian timur areal pura. Umumnya Pelinggih Puseh berupa Meru Tumpang Pitu dibangun di kanan Pelinggih Pura Desa. Batara Wisnu dalam Purana sebagai aspek Tuhan untuk membina Guna Sattwam, sedangkan Batara Brahma sebagai pengendali Guna Rajah.

Dalam Wrehaspati Tattwa 21 dinyatakan bahwa Guna Sattwam dan Guna Rajah hendaknya seimbang menguasai Citta atau alam pikiran. Guna Sattwam menguatkan manusia untuk mengembangkan niat dan tekad mulia untuk berbuat baik berdasarkan dharma. Sedangkan Guna Rajah yang kuat seimbang dengan Guna Sattwam akan membangun kemampuan untuk mewujudkan niat dalam perbuatan nyata.

Dalam sastra Hindu banyak sekali ajaran untuk membangun keseimbangan Guna Sattwam dan Guba Rajah. Pengamalan ajaran Hindu tersebutlah yang semestinya diprogramkan oleh desa pakraman dalam membina umat menjadi SDM yang baik. Dalam Wrehaspati Tattwa 14 ada dinyatakan tentang arti Sakti.

Penjelasan dalam bahasa Jawa Kuno dinyatakan dalam Wrehaspati Tattwa tersebut sbb: Sakti ngarania ikang sarwa jnyana lawan sarwa karya. Artinya: Sakti adalah mereka yang memiliki banyak ilmu (jnyana) dan banyak berbuat nyata mewujudkan ilmu tersebut. Untuk memiliki banyak ilmu haruslah mengembangkan Guna Sattwam. Mereka yang Guna Sattwam-nya kuat akan terdorong untuk terus meningkatkan kemauan belajarnya. Sedangkan mereka yang memiliki Guna Rajah-nya yang kuat akan selalu memiliki semangat kuat untuk terus bekerja mewujudkan ilmu yang didapatkan dalam perbuatan nyata.

Dua hal itulah yang dapat diprogramkan sebagai kelanjutan dari pemujaan Tuhan di Pura Desa dan Pura Puseh. Demikian juga keberadaan Pura Dalem untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Siwa Rudra. Pemujaan Tuhan di Pura Dalem diarahkan untuk menguatkan kemampuan untuk mengendalikan sifat-sifat tamah agar tidak eksis membuat manusia malas, bebal tetapi rakus. Sifat rajah dapat dibina membuat manusia malas untuk berbuat yang adharma. Dengan malas berbuat adharma sifat tamas menjadi positif.

Dalam wujud yang lebih nyata pembinaan Guna Tamas akan mendorong umat untuk melakukan langkah-langkah nyata menghilangkan berbagai AGHT dalam kehidupan ini. AGHT itu adalah ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan hidup. Melawan aspek yang negatif dalam kehidupan ini melalui pemahaman yang benar dari Guna Tamah.

Swadharma desa pakraman yang dijiwai oleh keberadaan Kahyangan Tiga ini adalah mengembangkan ajaran Tri Kona dan Tri Guna dalam membangun umat yang jagat hita. Banyak acuan yang dapat diambil dalam berbagai sastra Hindu untuk diprogramkan dengan sebaik-baiknya di desa pakraman. Kalau hal ini benar-benar dibuatkan program yang matang maka desa pakraman dengan Kahyangan Tiga sebagai hulunya akan eksis dalam membangun Bali yang ajeg.

Dengan demikian pemujaan pada Tuhan di Kahyangan Tiga akan bermakna untuk membangun alam yang lestari (bhuta hita) dan manusia Bali yang jagat hita. Membangun alam yang lestari dengan konsep Rta. Sedangkan membangun jagat hita dengan konsep dharma. Ini artinya memuja Tuhan bukan berhenti pada memuja saja. Pemujaan Tuhan harus dapat berdaya guna menguatkan manusia untuk menjaga alam dan menjaga hidup bersama yang saling mengabdi. Itulah tujuan pendirian Kahyangan Tiga di desa pakraman. * wiana

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)