Kahyangan
Tiga
dan Kehidupan Modern
Keberadaan
Kahyangan
Tiga
dan desa
pakraman
di Bali
dilatarbelakangi oleh
nilai-nilai spiritual Hindu
yang universal. Dalam
Pustaka
Mpu Kuturan
ada
dinyatakan: Desa
pakraman
winangun
dening sang
catur
varna
manut
linging Sang Hyang
Aji.
Artinya desa
pakraman
dibangun
oleh sang
Catur
Varna menurut
petunjuk
pustaka
suci. Ini
artinya
desa pakraman
tersebut
sebagai
wadah umat Hindu
untuk
membina profesi
sesuai
dengan ajaran
kitab
suci. Apa
saja yang
perlu
dipersiapkan desa
pakraman
dalam
menghadapi tantangan
global?
=======================================================
Kehidupan
modern dewasa
ini
semakin membutuhkan
SDM yang profesional
sesuai
dengan bidangnya
masing-masing.
Pada
zaman modern sekarang
ini
kehidupan seseorang
tidak
mungkin akan
aman,
damai dan
sejahtera
kalau
tidak memiliki
suatu
profesi tertentu yang
mampu
memberikan penghasilan
yang dapat
diandalkan
menunjang
kehidupan
sehari-hari.
Mengeksistensikan
suatu
profesi pada
zaman modern
sekarang
ini
semakin tidak
mudah.
Desa pakraman
sesuai
dengan bunyi
Pustaka
Mpu Kuturan
itu
seyogianya mengembangkan
pembinaan SDM
di
tingkat desa
pakraman
melalui
pendidikan nonformal
dengan
bersinergi dengan
lembaga
pendidikan formal. Dewasa
ini di
setiap
desa pakraman
sesungguhnya
sudah
banyak SDM yang memiliki
suatu
profesi tertentu.
Mereka-mereka
ini
juga dapat
didayagunakan
oleh
desa pakraman
untuk
membangkitkan potensi
yang masih
terpendam
di
setiap banjar.
Persaingan
zaman modern
ini
membutuhkan daya
tahan moral
dan mental yang
semakin
luhur dan
tangguh
dalam menghadapi
dinamika
zaman.
Keberadaan Pura
Kahyangan
Tiga
sebagai sarana
sakral
dewasa ini
semakin
dibutuhkan untuk
menguatkan
daya
spiritualitas umat
sebagai
dasar penguatan moral
dan mental
menghadapi
persaingan
hidup
zaman modern.
Pemujaan
Tuhan
sebagai Tri Murti
untuk
menguatkan dan
meningkatkan
daya
kreativitas umat
untuk
menciptakan, memelihara
dan
meniadakan sesuatu
yang perlu
diciptakan,
dipelihara
dan
ditiadakan. Pada
masyarakat yang
masih
agraris sederhana
dahulu
umat mungkin
tidak
seperti sekarang
kuantitasnya
memuja
Tuhan di
Pura
Kahyangan Tiga.
Tantangan
hidup
pada masyarakat
agraris
dahulu tingkatannya
tidak
seberat sekarang.
Karena
itu memuja
Tuhan
di Pura
Kahyangan
Tiga
tidak saja
dilihat
dari kuantitasnya
tetapi
perlu ditingkatkan
kualitasnya.
Fasilitas
di
setiap Pura
Kahyangan
Tiga
perlu ditingkatkan
agar mampu
menampung
berbagai
pelaksanaan program
dalam
memajukan anggota
krama
menjadi SDM yang berkualitas.
Ajaran
Tri Guna
sebagai
salah satu
konsep
membangun moral dan
mental SDM. Keberadaan
Pura
Kahyangan Tiga
di Bali
umumnya sudah
mengandung
arti
untuk mengembangkan
unsur-unsur Tri
Guna
dalam membangun
sifat
dan bakat
umat.
Pada umumnya
Pura
Desa dan
Pura
Puseh dibangun
dalam
suatu areal
atau
mandala yang sama.
Sedangkan
Pura
Dalem dibangun
dalam
suatu areal
atau
mandala tersendiri.
Umumnya
dekat dengan
kuburan.
Pelinggih
Pura
Desa dalam
wujud
Gedong, sedangkan
Pura
Puseh dalam
wujud
Meru Tumpang Lima
dibangun
berjejer
di
bagian timur
areal
pura. Umumnya
Pelinggih
Puseh
berupa Meru
Tumpang
Pitu dibangun
di
kanan Pelinggih
Pura
Desa. Batara
Wisnu
dalam Purana
sebagai
aspek Tuhan
untuk
membina Guna
Sattwam,
sedangkan
Batara Brahma
sebagai
pengendali Guna
Rajah.
Dalam
Wrehaspati
Tattwa 21
dinyatakan
bahwa
Guna Sattwam
dan
Guna Rajah hendaknya
seimbang
menguasai
Citta
atau alam
pikiran.
Guna
Sattwam menguatkan
manusia
untuk mengembangkan
niat
dan tekad
mulia
untuk berbuat
baik
berdasarkan dharma.
Sedangkan Guna Rajah
yang kuat
seimbang
dengan
Guna Sattwam
akan
membangun kemampuan
untuk
mewujudkan niat
dalam
perbuatan nyata.
Dalam
sastra Hindu
banyak
sekali ajaran
untuk
membangun keseimbangan
Guna
Sattwam dan
Guba Rajah.
Pengamalan
ajaran Hindu
tersebutlah yang
semestinya
diprogramkan
oleh
desa pakraman
dalam
membina umat
menjadi SDM yang
baik.
Dalam Wrehaspati
Tattwa 14
ada
dinyatakan tentang
arti
Sakti.
Penjelasan
dalam
bahasa Jawa
Kuno
dinyatakan dalam
Wrehaspati
Tattwa
tersebut sbb:
Sakti
ngarania ikang
sarwa
jnyana lawan
sarwa
karya. Artinya:
Sakti
adalah mereka yang
memiliki
banyak
ilmu (jnyana)
dan
banyak berbuat
nyata
mewujudkan ilmu
tersebut.
Untuk
memiliki banyak
ilmu
haruslah mengembangkan
Guna
Sattwam. Mereka yang
Guna
Sattwam-nya kuat
akan
terdorong untuk
terus
meningkatkan kemauan
belajarnya.
Sedangkan
mereka yang
memiliki
Guna Rajah-nya
yang kuat
akan
selalu memiliki
semangat
kuat
untuk terus
bekerja
mewujudkan ilmu yang
didapatkan
dalam
perbuatan nyata.
Dua
hal
itulah yang dapat
diprogramkan
sebagai
kelanjutan dari
pemujaan
Tuhan
di Pura
Desa
dan Pura
Puseh.
Demikian juga
keberadaan
Pura
Dalem untuk
memuja
Tuhan sebagai
Dewa
Siwa Rudra.
Pemujaan
Tuhan
di Pura
Dalem
diarahkan untuk
menguatkan
kemampuan
untuk
mengendalikan sifat-sifat
tamah agar
tidak
eksis membuat
manusia
malas, bebal
tetapi
rakus. Sifat rajah
dapat
dibina membuat
manusia
malas untuk
berbuat yang
adharma.
Dengan
malas berbuat
adharma
sifat tamas
menjadi
positif.
Dalam
wujud yang
lebih
nyata pembinaan
Guna
Tamas akan
mendorong
umat
untuk melakukan
langkah-langkah
nyata
menghilangkan berbagai
AGHT dalam
kehidupan
ini. AGHT
itu
adalah ancaman,
gangguan,
hambatan
dan
tantangan hidup.
Melawan
aspek yang negatif
dalam
kehidupan ini
melalui
pemahaman yang benar
dari
Guna Tamah.
Swadharma
desa
pakraman yang dijiwai
oleh
keberadaan Kahyangan
Tiga
ini adalah
mengembangkan
ajaran Tri
Kona
dan Tri Guna
dalam
membangun umat yang
jagat
hita. Banyak
acuan yang
dapat
diambil dalam
berbagai
sastra Hindu
untuk
diprogramkan dengan
sebaik-baiknya
di desa
pakraman.
Kalau
hal ini
benar-benar
dibuatkan program yang
matang
maka desa
pakraman
dengan
Kahyangan Tiga
sebagai
hulunya akan
eksis
dalam membangun
Bali
yang ajeg.
Dengan
demikian
pemujaan
pada
Tuhan di
Kahyangan
Tiga
akan bermakna
untuk
membangun alam yang
lestari (bhuta
hita)
dan manusia
Bali
yang jagat
hita.
Membangun alam yang
lestari
dengan konsep
Rta.
Sedangkan membangun
jagat
hita dengan
konsep dharma.
Ini
artinya memuja
Tuhan
bukan berhenti
pada
memuja saja.
Pemujaan
Tuhan
harus dapat
berdaya
guna menguatkan
manusia
untuk menjaga
alam
dan menjaga
hidup
bersama yang saling
mengabdi.
Itulah
tujuan pendirian
Kahyangan
Tiga di
desa
pakraman. *
wiana