kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 19 September 2007

 Debat

 

Pemimpin harus Jadi Panutan yang Benar
Oleh
Dr. N. Sutrisna Widjaya, MPH 

PEMBELAJARAN paling efektif perihal sikap dasar dan perilaku memang terjadi dengan meniru (mengamati dan mengadopsi) perilaku sehari-hari. Jadi secara alami, pemimpin memang otomatis menjadi panutan, apakah ia orangtua dalam keluarga, atau pemimpin pada komunitas tertentu atau pemimpin di masyarakat. Yang penting adalah perbedaan apakah ia menjadi panutan yang benar dan baik atau sebaliknya.

Menjadi panutan yang benar dan baik itu tidak mudah. Introspeksi atau mulat sarira hampir 95% mengalami bias dalam penerapannya. Kata introspeksi lebih sering dilontarkan untuk mendorong orang lain agar melakukannya sementara ia sendiri sangat jarang (benar-benar) melakukannya. Ki Hajar Dewantara, sejak dulu telah memberi kita anjuran untuk menjadi pemimpin sebagai panutan yang benar dengan berpegang pada tiga sikap utama yakni, Hing Ngarso Sung Tulodo, Hing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Tetapi mengapa sekarang ini sangat jarang bisa kita temukan pemimpin yang membawakan model peran seperti ajaran Ki Hajar Dewantara? Di Bali kita punya ajaran-ajaran kepemimpinan yang antara lain kita kenal dengan Asta Brata, tetapi mengapa pengembangan metanoia (metafora dalam berpikir) masih sangat terbatas, baik segi kedalaman maupun keluasannya? Mungkinkah karena di zaman sekarang kita lebih menyukai sesuatu yang bersifat instan superfisial (kulit luar) dibandingkan dengan yang sifatnya inti dan lebih mendasar?

Salah satu hukum paradoks dan polaritas dalam ajaran Tao  berbunyi, ''Supaya bisa memimpin, pemimpin harus mengikuti, supaya bisa mengarahkan pemimpin harus mengambil arah. Supaya bisa bertahan pemimpin tidak boleh menempatkan dirinya di atas yang lain''. Mengikuti artinya mengakomodasi apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan dari pengikutnya, mengambil arah artinya membangun tatanan berdasarkan visi atau pemahamannya tentang kecenderungan ke depan. Tidak menempatkan dirinya di atas berarti mengambil model peran seperti laut. Sungai dan kali mengalir ke laut karena laut lebih rendah. Laut mempunyai kekuatan yang besar namun tidak memaksakan dirinya. Seperti laut, tetap rendah sesungguhnya menghasilkan kekuatan yang besar.

Yang kebanyakan terjadi di kalangan pemimpin akhir-akhir ini adalah justru kebalikannya. Mereka ingin agar kemauannya selalu diikuti, suka memberi nasihat dan pengarahan padahal nasihat itu tidak pernah memberi hasil yang efektif kecuali kalau diminta, dan mereka ingin agar selalu tampil di depan atau pada kedudukan yang lebih tinggi.

Akhirnya yang menjadi pertanyaan untuk diperdebatkan lebih lanjut adalah, apakah pemimpin itu menjalankan perannya lebih banyak berdasarkan pikiran ego atau pikiran jiwa (-spiritualnya). Bila pikiran-pikiran ego mereka yang lebih dominan bekerja (selalu tanpa disadari), jadilah seperti yang terjadi dengan bangsa kita saat ini, mengalami krisis kepemimpinan. Bila pikiran jiwa (-spiritual) yang ingin dikedepankan kita bisa belajar menyadari eksistensi Atman dalam keseharian (bukan hanya di seputar dan/atau setelah kematian) yang menyebabkan kita hidup, dapat bernapas, dan beraktivitas. Pengertian Atman antara lain adalah Brahman pada diri, Tuhan yang ada di dalam diri kita masing-masing, yang sejak semula (mula jati) telah membawa dan memberi kita semua milik (properti)-Nya seperti perasaan damai, penuh kasih, tenteram dan bahagia -- kecerdasan dan kearifan tanpa batas, keberlimpahan dan kemurahan hati -- dan lain-lain.  Bayangkan betapa indahnya kalau para pemimpin mau mengambil pilihan ini, agar berkembang menjadi panutan yang benar.

 

Penulis, pendiri Lembaga Pengembangan Citra Diri (LPCD) Denpasar

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)