Pemimpin
harus
Jadi Panutan yang
Benar
Oleh
Dr. N. Sutrisna
Widjaya, MPH
PEMBELAJARAN
paling efektif
perihal
sikap dasar
dan
perilaku memang
terjadi
dengan meniru (mengamati
dan
mengadopsi) perilaku
sehari-hari.
Jadi
secara alami,
pemimpin
memang
otomatis menjadi
panutan,
apakah
ia
orangtua
dalam
keluarga, atau
pemimpin
pada
komunitas tertentu
atau
pemimpin di
masyarakat. Yang
penting
adalah perbedaan
apakah
ia
menjadi
panutan yang benar
dan
baik atau
sebaliknya.
Menjadi
panutan yang
benar
dan baik
itu
tidak mudah.
Introspeksi
atau
mulat sarira
hampir 95%
mengalami bias
dalam
penerapannya. Kata
introspeksi
lebih
sering dilontarkan
untuk
mendorong orang
lain agar
melakukannya
sementara
ia
sendiri sangat
jarang (benar-benar)
melakukannya.
Ki
Hajar Dewantara,
sejak
dulu telah
memberi
kita anjuran
untuk
menjadi pemimpin
sebagai
panutan yang benar
dengan
berpegang pada
tiga
sikap utama
yakni,
Hing Ngarso Sung
Tulodo,
Hing Madyo
Mangun
Karso, Tut
Wuri
Handayani.
Tetapi
mengapa
sekarang ini
sangat
jarang bisa
kita
temukan pemimpin yang
membawakan model
peran
seperti ajaran
Ki
Hajar Dewantara?
Di Bali
kita punya
ajaran-ajaran
kepemimpinan yang
antara lain
kita
kenal dengan
Asta
Brata, tetapi
mengapa
pengembangan metanoia
(metafora
dalam
berpikir) masih
sangat
terbatas,
baik
segi
kedalaman maupun
keluasannya?
Mungkinkah
karena
di zaman
sekarang
kita
lebih menyukai
sesuatu yang
bersifat
instan
superfisial (kulit
luar)
dibandingkan dengan
yang sifatnya
inti
dan lebih
mendasar?
Salah
satu
hukum paradoks
dan
polaritas dalam
ajaran
Tao berbunyi,
''Supaya
bisa
memimpin, pemimpin
harus
mengikuti, supaya
bisa
mengarahkan pemimpin
harus
mengambil arah.
Supaya
bisa bertahan
pemimpin
tidak
boleh menempatkan
dirinya
di atas yang lain''.
Mengikuti
artinya
mengakomodasi
apa yang
menjadi
keinginan dan
kebutuhan
dari
pengikutnya, mengambil
arah
artinya membangun
tatanan
berdasarkan visi
atau
pemahamannya tentang
kecenderungan
ke
depan.
Tidak
menempatkan
dirinya
di atas
berarti
mengambil model peran
seperti
laut.
Sungai
dan kali
mengalir
ke laut
karena
laut lebih
rendah.
Laut
mempunyai
kekuatan yang
besar
namun tidak
memaksakan
dirinya.
Seperti
laut,
tetap rendah
sesungguhnya
menghasilkan
kekuatan yang
besar.
Yang kebanyakan
terjadi
di kalangan
pemimpin
akhir-akhir
ini
adalah justru
kebalikannya.
Mereka
ingin agar kemauannya
selalu
diikuti, suka
memberi
nasihat dan
pengarahan
padahal
nasihat itu
tidak
pernah memberi
hasil yang
efektif
kecuali kalau
diminta,
dan
mereka ingin agar
selalu
tampil di
depan
atau pada
kedudukan yang
lebih
tinggi.
Akhirnya
yang menjadi
pertanyaan
untuk
diperdebatkan lebih
lanjut
adalah, apakah
pemimpin
itu
menjalankan perannya
lebih
banyak berdasarkan
pikiran ego
atau
pikiran jiwa (-spiritualnya).
Bila
pikiran-pikiran ego
mereka yang
lebih
dominan bekerja (selalu
tanpa
disadari), jadilah
seperti yang
terjadi
dengan bangsa
kita
saat ini,
mengalami
krisis
kepemimpinan.
Bila
pikiran
jiwa (-spiritual) yang ingin
dikedepankan
kita
bisa belajar
menyadari
eksistensi Atman
dalam
keseharian (bukan
hanya
di seputar
dan/atau
setelah
kematian) yang menyebabkan
kita
hidup, dapat
bernapas,
dan
beraktivitas.
Pengertian Atman antara
lain adalah Brahman
pada
diri, Tuhan yang
ada di
dalam
diri kita
masing-masing, yang
sejak
semula (mula
jati)
telah membawa
dan
memberi kita
semua
milik (properti)-Nya
seperti
perasaan damai,
penuh
kasih, tenteram
dan
bahagia -- kecerdasan
dan
kearifan tanpa
batas,
keberlimpahan dan
kemurahan
hati --
dan lain-lain.
Bayangkan
betapa
indahnya kalau
para
pemimpin mau
mengambil
pilihan
ini, agar berkembang
menjadi
panutan yang benar.
Penulis,
pendiri
Lembaga Pengembangan
Citra Diri (LPCD)
Denpasar