kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 19 September 2007

 Bali

 

DARI WARUNG GLOBAL
Perlu Puspem Megah tetapi Prioritaskan Pendidikan
dan Warga Miskin
 

BADUNG yang kaya, dengan PAD terbesar di Bali dan kedua di Indonesia, dengan PHR terbesar memberikan subsidi kepada kabupaten lain di Bali. Namun sayang sampai saat ini Badung belum memiliki Puspem yang dikategorikan layak untuk mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat. Bahkan Badung harus mengontrak tempat untuk kantor. Adanya rencana meminjam dana Rp 250 M dari BPD Bali untuk pembanguan Puspem Badung sah-sah saja asalkan nantinya tidak membebani rakyat Badung serta jangan sampai punya kantor Puspem yang megah tapi rakyatnya berada dalam kemiskinan dan menelantarkan pendidikan dan lainnya. Pinjaman tersebut wajar namun jangan sampai diselewengkan dan juga perhatikan rakyat yang masih dikategorikan miskin. Jangan sampai kantornya saja megah tapi rakyat juga harus hidup megah. Diharapkan pula kantor yang megah agar bisa memberikan pelayanan yang bagus. Memang perlu bangunan yang megah tetapi ada hal-hal yang lebih penting seperti pendidikan, warga miskin juga masih banyak di Badung. Inilah yang harus menjadi skala prioritas. Demikian juga APBD yang ada kaitannya dengan pengembalian utang jangan menyebabkan yang tidak-tidak dinaikkan semisal pajak dinaikkan. Demikian salah satu opini yang muncul dalam acara Warung Global yang disiarkan Radio Global 96,5 FM, Selasa (18/9) kemarin. Berikut rangkuman selengkapnya.

---------------------------

Dewa Winaya di Tabanan mengharapkan kalau bisa janganlah meminjam sebesar itu, sebaiknya pembangunan dilakukan bertahap.

Narawijaya di Abiansemal menambahkan jumlah pinjaman tersebut sangat besar, dikhawatirkan karena besarnya pinjaman maka kesejahtreraan masyarakat terus terkebelakang. Seharusnya diprioritaskan mana yang lebih dulu.

Sutama di Badung bertanya apakah BPD Bali memiliki dana sebesar Rp 250 M itu? Kalau Puspem dibangun dengan maket yang ada maka akan sangat megah luar biasa. Kalau ini direlisasikan maka setengah trilyun akan habis. Akan lebih bagus kalau kantor mana dulu yang dibikin agar tidak kelihatan mengagetkan, dimana penghasilan besar tapi masih meminjam.

Nyoman Ledang di Denpasar menyarankan kantor pemerintahan cukup yang sederhana saja. Cukup sederhana asalkan berjalan sesuai dengan fungsinya. Kalau harus berutang, siapa yang berat? Tentu rakyat nantinya.

Jujur di Sanglah berpendapat tidak masalah Rp 250 M kalau bisa Rp 750 M agar jangan sampai kekurangan sehingga tidak repot. Kalau sampai meminjam dirasa terlalu besar keinginan sementara biaya tidak ada. Padahal perencanaan sudah dari awal ketika masa bupati sebelumnya, sekarang hanya menindaklanjuti dari program awal tersebut. Kalau sampai meminjam dari sudut APBD seharusnya alokasikan. Sehingga kalau meminjam dirasa keliru karena PAD Badung sangat tinggi seharusnya disisihkan.

Adnyana di Pedungan menjelaskan namanya pemimpin pasti ingin sukses. Badung dengan PAD terbesar di Bali. Pinjaman tersebut wajar namun jangan sampai diselewengkan dan juga perhatikan rakyat yang masih dikategorikan miskin. Jangan sampai kantornya saja megah tapi rakyat juga harus hidup megah. Diharapkan pula kantor yang megah agar bisa memberikan pelayanan yang bagus. Demikian juga APBD yang ada kaitannya dengan pengembalian utang jangan menyebabkan yang tidak-tidak dinaikkan semisal pajak dinaikkan.

Mardika di Kuta heran, katanya kaya kenapa miskin? Kalau bisa jangan sampai pinjam, uang yang banyak dikemanakan oleh pejabat?

Gede Biasa di Denpasar menilai pemerintah Badung tidak sabar untuk memiliki puspem yang elite. Masyarakat juga mengharapkan agar Badung memiliki puspem namun diharapkan juga pemerintah Badung jangan melupakan masalah pendidikan masyarakat.

Menurut Nang Tualen di Tabanan pimjam dana sah-sah saja. Badung memberikan subsidi kepada kabupaten-kabupaten lain. Dengan peminjaman ini maka Badung tidak bisa memberikan subsidi lagi.

Bratayasa di Sangeh berpendapat memang perlu bangunan yang megah tapi dalam hal ini ada hal-hal yang lebih penting seperti pendidikan, KK miskin juga masih banyak di Badung. Inilah yang harus menjadi skala prioritas.

Lengkong di Dalung sangat setuju pembangunan kantor megah asalkan pelayanan baik kepada masyarakat. Yang diprioritaskan adalah untuk kantor DPRD Badung, karena selama ini kantor masih menyewa di Jalan Melati dan kalau sidang haru sewa hotel, tentu akan menghabiskan biaya yang banyak.

Agung Putra di Denpasar menilai layak dan sah-sah saja. Mengenai kajian teknis sesungguhnya sudah dapat dipastikan cost-nya, malahan yang non teknis yakni trasparansi biasanya yang sulit diinformasikan. Kalau bisa mengefisiensikan.

Walek di Glogor melihat terlalu banyak kepentingan di legislatif. Masih ada pertentangan antara eksekutif dengan legislatif akibat minimnya daya dukung dari legislatif untuk eksekutif. Golkar mendukung bupati tapi dari fraksi lain tidak atau belum mendukung, ini terbukti tidak efektifnya kerja sama dari eksekutif dan legislatif. Jelas sekali ada unsur politik. Kalau ini dijadikan ajang politik maka penyelesaian juga secara politis. Fraksi lain selain Golkar akan berpikir dua kali. Semestinya sebagai anggota Dewan berpikir jernih untuk melakukan dukungan tersebut demi kepentingan Badung. Karena sudah sangat lama Puspem Badung ini belum terbentuk. Kalau ini dilakukan dan dijadikan ajang politik maka sampai kapan pun Badung tidak akan memiliki Puspem sehingga tidak bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Menurut Ida Bagus Rai di Denpasar memang perlu meminjam, kalau tidak mendesak sekali bisa direncanakan per tahun berapa dianggarkan sehingga beberapa tahun baru bisa membangun. Kalau memang dipaksakan sumber pembayaran dari mana dan diperkirakan dalam jangka waktu berapa tahun dilunasi. Jangan sampai sudah pinjam uang, proyek mangkrak, ganti pimpinan, ujung-ujungnya rakyat yang menderita.

* panca

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)