In Memoriam Prof. dr. Ngoerah----
Dokter
Pejuang,
Pendidik,
dan
Abdi Masyarakat
Denpasar
(Bali Post
-
Tepat
tanggal 18 September
pukul 12.30
wita
tahun 2001, Prof. dr. I
Goesti Ngoerah
Gde
Ngoerah wafat
dengan
tenang. Enam
tahun
tepat setelah
wafatnya
suami I
Gusti Ayu
Oka
Arwati yang meninggalkan
empat
putra dan
empat
putri yang semuanya
sarjana
ini, Selasa (18/9)
kemarin
seluruh keluarga
berkumpul
dan
mengenangnya dalam
sebuah
hajatan yang sederhana.
Sejumlah
wartawan
diundang
dalam
acara tersebut.
Menurut
Gusti
Ayu Oka
Arwati yang
didampingi
putra-putrinya,
banyak
kenangan yang ditinggalkan
almarhum.
Almarhum
sangat
dekat dengan
pasiennya.
Sifat
sosialnya sangat
tinggi. ''Bapak
tak mau
menerima
bayaran
dari pasiennya,''
ujar
Ibu Oka
Arwati.
Tak mengherankan
pula, sebagai balas
jasa,
pasien sering
membawakan
buah-buahan. ''Bahkan
ada
pasien yang memberi
ayam
kepada Bapak,''
kenang
Oka Arwati yang
masih
tampak bersemangat
di
usianya yang sudah
memasuki
kepala
delapan ini.
Diceritakan,
Prof. Ngoerah
lahir 31
Maret 1922.
Beliau
merupakan
seorang
tokoh, sebagaimana
tertulis
dalam
buku ''Prof. dr. I Goesti
Ngoerah
Gde Ngoerah,
Sebuah
Biografi Pendidikan''
yang ditulis
oleh Tim
Fakultas
Sastra
Unud. Ketokohan Prof.
Ngoerah
dalam bidang
pengabdian
masyarakat,
dimulai
pada 1953 setelah
bertugas
di Bali
sebagai dokter
Dinas
Kesehatan Badung
dan
Distrik Marga
(1953-1959).
Pada
1 Maret 1959
beliau
diangkat sebagai
Kepala
Rumah Sakit
Wangaya,
Denpasar (1959-1968).
Selain
tugas tersebut,
beliau
juga membantu
pelayanan
di
Rumah Sakit
Sanglah. Prof.
Ngoerah
juga sebagai
pengajar
bagi
pendidikan bidan.
Ahli
penyakit saraf
tersebut
berhasil
menciptakan
alat
penyembuhan bagi
pasien
penyakit jiwa
dan
saraf yakni ECT yang
kini
tersimpan di Museum
Kedokteran
Fakultas
Kedokteran UI Jakarta.
Karena
kepribadiannya
dan
keahliannya, Prof. Ngoerah
juga
merupakan dokter
kepresidenan
di saat
Presiden
Soekarno
berada
di Bali. Meskipun
menjadi
dokter kepresidenan
namun
bila ada
masyarakat
kurang
mampu berobat
padanya
tidak akan
diberikan
untuk
membayar jasa
pengobatannya
karena
beliau juga
mengabdikan
ilmunya
untuk kemanusiaan.
Sejumlah
jabatan
penting sempat
dipegangnya
antara lain
Wakil
Ketua Badan
Perguruan
Tinggi
untuk pendirian
Universitas
Udayana,
Dekan FK
Unud
dan Rektor
Unud (1968-1977).
Sejumlah
tanda
penghargaan sempat
diterimanya.
Meski
sebagai dokter, Prof.
Ngoerah
juga dikenal
sebagai
seniman sekaligus
pengukir
sama
dengan ayah dan
kakeknya.
(031/*)