kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 19 September 2007

 Bali


In Memoriam Prof. dr. Ngoerah----

Dokter
Pejuang, Pendidik, dan Abdi Masyarakat

Denpasar (Bali Post -
Tepat
tanggal 18 September pukul 12.30 wita tahun 2001, Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gde Ngoerah wafat dengan tenang. Enam tahun tepat setelah wafatnya suami I Gusti Ayu Oka Arwati yang meninggalkan empat putra dan empat putri yang semuanya sarjana ini, Selasa (18/9) kemarin seluruh keluarga berkumpul dan mengenangnya dalam sebuah hajatan yang sederhana. Sejumlah wartawan diundang dalam acara tersebut.

Menurut Gusti Ayu Oka Arwati yang didampingi putra-putrinya, banyak kenangan yang ditinggalkan almarhum. Almarhum sangat dekat dengan pasiennya. Sifat sosialnya sangat tinggi. ''Bapak tak mau menerima bayaran dari pasiennya,'' ujar Ibu Oka Arwati. Tak mengherankan pula, sebagai balas jasa, pasien sering membawakan buah-buahan. ''Bahkan ada pasien yang memberi ayam kepada Bapak,'' kenang Oka Arwati yang masih tampak bersemangat di usianya yang sudah memasuki kepala delapan ini.

Diceritakan, Prof. Ngoerah lahir 31 Maret 1922. Beliau  merupakan seorang tokoh, sebagaimana tertulis dalam buku ''Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gde Ngoerah, Sebuah Biografi Pendidikan'' yang ditulis oleh Tim Fakultas Sastra Unud. Ketokohan Prof. Ngoerah dalam bidang pengabdian masyarakat, dimulai pada 1953 setelah bertugas di Bali sebagai dokter Dinas Kesehatan Badung dan Distrik Marga (1953-1959).

Pada 1 Maret 1959 beliau diangkat sebagai Kepala Rumah Sakit Wangaya, Denpasar (1959-1968). Selain tugas tersebut, beliau juga membantu pelayanan di Rumah Sakit Sanglah. Prof. Ngoerah juga sebagai pengajar bagi pendidikan bidan. Ahli penyakit saraf tersebut berhasil menciptakan alat penyembuhan bagi pasien penyakit jiwa dan saraf yakni ECT yang kini tersimpan di Museum Kedokteran Fakultas Kedokteran UI Jakarta.

Karena kepribadiannya dan keahliannya, Prof. Ngoerah juga merupakan dokter kepresidenan di saat Presiden Soekarno berada di Bali. Meskipun menjadi dokter kepresidenan namun bila ada masyarakat kurang mampu berobat padanya tidak akan diberikan untuk membayar jasa pengobatannya karena beliau juga mengabdikan ilmunya untuk kemanusiaan.

 Sejumlah jabatan penting sempat dipegangnya antara lain Wakil Ketua Badan Perguruan Tinggi untuk pendirian Universitas Udayana, Dekan FK Unud dan Rektor Unud (1968-1977). Sejumlah tanda penghargaan sempat diterimanya. Meski sebagai dokter, Prof. Ngoerah juga dikenal sebagai seniman sekaligus pengukir sama dengan ayah dan kakeknya. (031/*)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)