kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 19 September 2007

 Bali


Transportasi Serbagita----
Monorel Memungkinkan Diwujudkan
 

Denpasar (Bali Post)-
Tawaran konsep transportasi Serbagita oleh Kadis Perhubungan Bali Putu Ardana disambut baik Dewan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Namun dari berbagai alternatif, hanya monorel yang memungkinkan untuk direalisasikan. ''Busway atau jalan layang sangat sulit diterapkan di Bali,'' kata anggota komisi III DPRD Bali Putu Agus Suradnyana usai sidang DPRD Bali, Selasa (18/9) kemarin di Renon.

Sementara Sekretaris Komisi III Made Arimbawa, S.H., menyatakan harus ada keberanian pemerintah membatasi qouta pemilikan kendaraan baru mengingat penambahan volume ruas jalan selalu tertinggal dengan penambahan jumlah kendaraan. Selain itu perlu dilakukan pembatasan kendaraan hanya sampai tahun tertentu diperbolehkan beroperasi di jalan raya.

Cara itu dipandang lebih efektif ketimbang menambah ruas jalan baru. Menurutnya, penambahan jalan baru tetap tak mampu menyelesaikan masalah kemacetan. Justru mempercepat alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman.

Sementara Putu Agus Suradnyana berpendapat alternatif monorel hanya memerlukan satu rel dan beberapa stasiun seperti di Jawa. Namun, sistem monorel menuntut kedisiplinan penumpang menunggu di stasiun. Monorel disiapkan pada lintasan yang dekat dengan jalur para pekerja seperti Sanur, Kuta, Nusa Dua dan jalur di luar Denpasar sebagai pemasok tenaga kerja tersebut.

Sementara busway seperti Jakarta sangat sulit diterapkan karena jalan-jalan di Denpasar sangat sempit. ''Kalaupun ada jalan lebar sangat susah diseplit,'' ucapnya. Berbeda dengan DKI lebar jalan sampai 36 meter sehingga tak soal kalau satu jalur dipakai busway. Sementara jalan layang masih ada pro dan kontra terkait dengan adat dan budaya.

Dia sependapat konsep transportasi Serbagita harus disiapkan sejak sekarang. ''Sebab lima tahun lagi Denpasar sudah macet total dan sangat sulit mencari alternatif pemecahan,'' katanya. Saat ini saja solusi yang ditawarkan pada ruas jalan tertentu justru menyebabkan kemacetan seperti jalan Surapati, Kamboja, Gajah Mada dan sebagainya.

Kadishub Bali Putu Ardana menyatakan sumber kemacetan jalan di perkotaan karena banyaknya penggunaan kendaraan pribadi. Sebanyak 96 persen menggunakan kendaraan pribadi dan hanya 4 persen angkutan umum. Dari 96 persen itu, hampir 80 persen sepeda motor, 16 persen mobil pribadi. Kadishub menyatakan konsep tersebut telah ditawarkan ke Ditjen Perhubungan Darat di Jakarta. Konsep Serbagita ini menyatukan sistem trasportasi Kota Denpasar, Badung, Tabanan dan Gianyar  sebagaimana Jabotabek. ''Sistem mana yang cocok apakah busway, monorel atau yang lain masih dikaji,'' ucapnya. (029)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)