kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Umanis, 8 Juni 2007

 Ekonomi


Setahun
, Peraturan Berubah Tiga Kali...
Produksi
Rokok Merosot 

Surabaya (Bali Post) -
Sebelum
2001, produksi rokok di Indonesia mencapai 235 milyar batang. Namun saat pemerintah mengeluarkan kebijakan/peraturan tentang rokok tiga kali dalam satu tahun, produksi rokok terus merosot. Bahkan saat ini (2007-red) produksi rokok yang dihasilkan pabrik rokok di seluruh Indonesia hanya mencapai 220 milyar batang.

Penegasan itu dikemukakan Ketua Asosiasi Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Ismanu Sumiran kepada Bali Post di sela-sela Lokakarya Nasional Agribisnis Tembakau di Hotel Garden Palace Surabaya, Kamis (7/6) kemarin. ''Karena itu, tiga tahun ke depan ada pertumbuhan sehingga produksi rokok bisa kembali mencapai 235 milyar batang,'' kata Ismanu Sumiran didampingi Ketua Gabungan Produsen Rokok Indonesia (Gaprindo) M Mufti, Sekjen Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Abdus Setiawan serta Kepala Badan Litbang Pertanian Indonesia Dr. Ahmad Suryana.

Ismanu optimis, ratusan pabrik rokok di seluruh Indonesia mampu memproduksi rokok 235 milyar batang dalam tiga tahun ke depan. Meski optimis, ia mengatakan pabrik rokok mampu memproduksi rokok 235 milyar batang dengan catatan pemerintah tidak membuat kebijakan yang sifatnya mendadak. ''Produksi rokok terus menurun sejak 2001 akibat adanya kebijakan tentang harga jual eceran yang berubah tiga kali dalam setahun. Akibatnya, pabrik rokok bingung yang berdampak produksinya menurun,'' katanya.

Seperti diketahui, pemerintah menetapkan industri rokok masuk ke dalam kelompok 10 industri prioritas. Hal ini disebabkan karena cukai dan devisa ekspor tembakau dan hasil tembakau cukup besar. Pendapatan negara melalui pemasukan cukai rokok sekitar Rp 42 triyun. Pemasukan devisa melalui ekspor tembakau Rp 1,9 trilyun.

Ketua Gaprindo M Mufti menambahkan, tembakau memiliki peran lain yang tidak dapat diabaikan yaitu sebagai sumber pendapatan utama petani tembakau dan penyedia lapangan kerja. Usaha tani tembakau dapat menyumbang 40-80 persen terhadap total pendapatan petani di daerah penghasil tembakau sehingga mempunyai nilai kompetisi tinggi. Sedangkan tenaga kerja yang terserap di sektor budidaya, proses dan pabrikasi, perdagangan, transportasi yang terkait dengan rokok sekitar 10 juta orang. Usaha tani dan perdagangan tembakau juga merangsang tumbuhnya sektor informal di pedesaan sehingga dapat menambah penghasilan petani dan masyarakat. (059)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)