Ilmu
dan
Seni untuk
Persembahan
Adanya
Gedong
Saraswati dan
Pelinggih Ida
Ratu
Bagus Slonding
di Pura
Merajan
Slonding sebagai
simbol yang
penuh
arti. Pura
Merajan
Slonding sebagai
sentral
Pura Soring
Ambal-ambal
melambangkan
konsep
sentral dalam
penataan
dunia
bawah atau
dunia
sekala. Untuk
menata
dunia ini
hendaknya
dengan
ilmu dan
seni.
Artinya dunia
nyata
ini harus
ditata
dengan ilmu
pengetahuan
dengan
menggunakan daya
nalar yang
cerdas
dan fokus.
Namun
penggunaan daya
nalar yang
cerdas
dan fokus
itu
sebagai wujud
persembahan
pada
Tuhan. Artinya
betapapun
hebatnya
daya
nalar dan
kecerdasan
manusia
tetap berada
di
bawah kekuasaan
Tuhan.
==========================================================
Kuatnya
daya
nalar dan
kecerdasan yang
dimiliki
manusia
itu atas
karunia
Tuhan. Harus
diyakini
bahwa
Tuhan menurunkan
manusia
cerdas untuk
menata
ciptaannya untuk
menegakkan
Rta dan
Dharma. Ini
artinya
seorang ilmuwan yang
cerdas
dengan daya
nalar yang
hebat
seyogianya menggunakan
kelebihannya
itu
untuk menjaga
amanat
Tuhan memelihara
kesejahteraan
alam
dan kesejahteraan
sesama
manusia di
bumi
ini secara
adil
dengan dasar-dasar
nilai-nilai
kemanusiaan.
Ini
artinya
ilmu yang membuat
orang
menjadi pandai,
cerdas
dan punya
daya
nalar itu
sebagai
sarana untuk
menyukseskan
swadharma yang
diamanatkan
oleh
Tuhan. Salah
satu
amanat Tuhan
adalah
menggunakan ilmu
pengetahuan
atau
Widya yang diturunkan
itu
untuk mengelola
ciptaan-Nya.
Penguasaan
ilmu
pengetahuan itu
menurut
Kekawin Nitisastra
IV.19 bisa
menimbulkan
kemabukan. Hal
inilah yang
wajib
dihindari oleh
manusia yang
serius
berkecimpung di
bidang
ilmu pengetahuan.
Kalau
ada orang yang
tidak
mabuk oleh
ilmu
pengetahuan dan lain-lainnya
itu yang
dikuasainya,
orang yang
demikian
itulah yang
disebut
manusia utama
atau
disebut sang Mahardika.
Mahatma Gandhi juga
menyatakan
bahwa ''ilmu
tanpa
kemanusiaan dapat
menimbulkan
dosa
sosial''. Didirikannya
Pelinggih
Gedong
Saraswati di
Pura
Merajan Slonding
untuk
mengingatkan raja dan
rakyat agar
jangan
sampai menyalahgunakan
ilmu
pengetahuan untuk
merusak
nilai-nilai kemanusiaan
dan
nilai-nilai alam
ciptaan
Tuhan tersebut.
Karena
itu dalam
upaya
untuk mencari
dan
mendalami ilmu
pengetahuan
hendaknya
dengan
memuja Tuhan
melalui
Dewi Saraswati.
Dengan
demikian
diharapkan
pengembangan
ilmu
pengetahuan tidak
melanggar
nilai-nilai spiritual
intisari agama.
Demikian
juga
ilmu tersebut
seyogianya
dikembangkan
secara
seimbang antara
ilmu
eksata dan
ilmu
sosial. Ilmu
eksata
untuk menata
dan
memanfaatkan sumber
daya
alam secara
wajar.
Artinya ada
keseimbangan
antara
konservasi dan
pemanfaatannya.
Tidak
semata-mata alam
diolah
untuk dieksploitasi
demi
mendapatkan keuntungan
sesaat
sampai melebihi
daya
dukung alam
tersebut.
Pengembangan
ilmu
sosial untuk
dapat
mengelola kehidupan
bersama yang
setara,
bersaudara dan
merdeka
dalam mengembangkan
jati
diri sebagai
manusia
ciptaan Tuhan.
Ilmu
sosial bukan
untuk
mengelola masyarakat
agar dengan
mudah
masyarakat diarahkan
sesuai
dengan kehendak
dan
ambisi dari
segelintir
orang yang
berkuasa.
Ilmu
sosial dikembangkan
untuk
memberdayakan masyarakat
agar mandiri
dalam
membangun kebersamaannya
secara
demokratis.
Pemujaan
Dewi
Saraswati bukan
sekadar
memuja Tuhan
sebagai
dewinya ilmu
pengetahuan.
Pemujaan
Tuhan
sebagai Dewi
Ilmu
Pengetahuan justru
untuk
membatasi penerapan
ilmu
pengetahuan tersebut
agar jangan
sampai
merusak nilai-nilai
kemanusiaan.
Karena
hakikat manusia
adalah Atman.
Sedangkan Atman
menurut
ajaran Upanishad adalah
percikan Brahman
sendiri.
Atau Brahman Atman
aikyam.
Hakikat
ilmu
pengetahuan yang sejati
adalah
pengetahuan tentang
Atman dan Brahman
atau Atman
Vidya
dan Brahma Vidya.
Kalau
semua ilmu
bertumpu
dari
Atma Vidya
dan Brahma
Vidya
maka penyalahgunaan
ilmu
pengetahuan tersebut
akan
menjadi semakin
dapat
diminimalisasi.
Swami Satya
Narayana
menyatakan
bahwa
lembaga pendidikan
dewasa
ini lebih
banyak
mengajarkan peserta
didik
cara mencari
nafkah.
Seyogianya pendidikan
mengajarkan
peserta
didik cara
mengelola
hidup yang
benar,
tentunya termasuk
di
dalamnya cara
mencari
nafkah secara
benar
dan wajar.
Dengan
memuja Tuhan
sebagai
Dewi Saraswati
akan
dapat dicegah
ilmu
hanya untuk
ilmu.
Kalau ilmu
untuk
ilmu dapat
merusak
nilai-nilai kemanusiaan
dan
alam.
Di
Pura
Merajan Slonding
Tuhan
dipuja sebagai Ida
Ratu
Bagus Slonding. Ida
Ratu
Bagus Slonding
ini
tidak lain adalah
sebutan
Tuhan sebagai
Dewa
Kesenian. Seni
juga
bukan untuk
seni. Gamelan
Slonding
adalah gamelan
sakral yang
dipentaskan
untuk
mengantarkan pemujaan
pada
dewa-dewa manifestasi
Tuhan.
Dalam konsep
Satyam,
Siwam, Sundaram yang
artinya
kebenaran, kesucian
dan
keindahan terkandung
makna
bahwa keindahan
suatu
seni itu
harus
untuk menegakkan
kebenaran
dan
kesucian. Kalau
seni
hanya untuk
keindahan
dapat
saja keindahan
tersebut
melanggar
kebenaran,
kesucian
dan
etika moral. Karena
dapat
saja keindahan
itu
hanya untuk
menyenangkan
gejolak
hawa nafsu.
Dengan
pemujaan
Tuhan
sebagai Ida Ratu
Bagus
Slonding berarti
pemujaan
itu
telah memberikan
rambu-rambu
untuk
membatasi seni agar
tidak
melanggar kebenaran (Satyam)
dan
kesucian (Siwam).
Dengan
pandangan ini,
di
dunia ini
pada
hakikatnya tidak
ada yang
benar-benar
bebas
nilai. Hanya
Tuhan-lah yang
tidak
terbatas. Tentunya
tidak
semua pihak
sependapat
dengan
pandangan ini.
Ada
juga yang
menyatakan
bahwa
seni itu
bebas
nilai. Asalkan
untuk
seni ukurannya
keindahan.
Kalau
sudah indah
dan
menyenangkan seni
itu
sah-sah saja
untuk
ditampilkan. Pandangan
ini
dalam era demokrasi
boleh-boleh
saja.
Tetapi menurut
ukuran moral Hindu
keindahan
itu
tidak boleh
bertentangan
dengan
Satyam dan
Siwam.
* wiana