kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 6 Juni 2007

 Ajeg Bali


Ilmu
dan Seni untuk Persembahan 

Adanya Gedong Saraswati dan Pelinggih Ida Ratu Bagus Slonding di Pura Merajan Slonding sebagai simbol yang penuh arti. Pura Merajan Slonding sebagai sentral Pura Soring Ambal-ambal melambangkan konsep sentral dalam penataan dunia bawah atau dunia sekala. Untuk menata dunia ini hendaknya dengan ilmu dan seni. Artinya dunia nyata ini harus ditata dengan ilmu pengetahuan dengan menggunakan daya nalar yang cerdas dan fokus. Namun penggunaan daya nalar yang cerdas dan fokus itu sebagai wujud persembahan pada Tuhan. Artinya betapapun hebatnya daya nalar dan kecerdasan manusia tetap berada di bawah kekuasaan Tuhan.

==========================================================

Kuatnya daya nalar dan kecerdasan yang dimiliki manusia itu atas karunia Tuhan. Harus diyakini bahwa Tuhan menurunkan manusia cerdas untuk menata ciptaannya untuk menegakkan Rta dan Dharma. Ini artinya seorang ilmuwan yang cerdas dengan daya nalar yang hebat seyogianya menggunakan kelebihannya itu untuk menjaga amanat Tuhan memelihara kesejahteraan alam dan kesejahteraan sesama manusia di bumi ini secara adil dengan dasar-dasar nilai-nilai kemanusiaan.

Ini artinya ilmu yang membuat orang menjadi pandai, cerdas dan punya daya nalar itu sebagai sarana untuk menyukseskan swadharma yang diamanatkan oleh Tuhan. Salah satu amanat Tuhan adalah menggunakan ilmu pengetahuan atau Widya yang diturunkan itu untuk mengelola ciptaan-Nya.

Penguasaan ilmu pengetahuan itu menurut Kekawin Nitisastra IV.19 bisa menimbulkan kemabukan. Hal inilah yang wajib dihindari oleh manusia yang serius berkecimpung di bidang ilmu pengetahuan. Kalau ada orang yang tidak mabuk oleh ilmu pengetahuan dan lain-lainnya itu yang dikuasainya, orang yang demikian itulah yang disebut manusia utama atau disebut sang Mahardika.

Mahatma Gandhi juga menyatakan bahwa ''ilmu tanpa kemanusiaan dapat menimbulkan dosa sosial''. Didirikannya Pelinggih Gedong Saraswati di Pura Merajan Slonding untuk mengingatkan raja dan rakyat agar jangan sampai menyalahgunakan ilmu pengetahuan untuk merusak nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai alam ciptaan Tuhan tersebut. Karena itu dalam upaya untuk mencari dan mendalami ilmu pengetahuan hendaknya dengan memuja Tuhan melalui Dewi Saraswati.

Dengan demikian diharapkan pengembangan ilmu pengetahuan tidak melanggar nilai-nilai spiritual intisari agama. Demikian juga ilmu tersebut seyogianya dikembangkan secara seimbang antara ilmu eksata dan ilmu sosial. Ilmu eksata untuk menata dan memanfaatkan sumber daya alam secara wajar. Artinya ada keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatannya. Tidak semata-mata alam diolah untuk dieksploitasi demi mendapatkan keuntungan sesaat sampai melebihi daya dukung alam tersebut.

Pengembangan ilmu sosial untuk dapat mengelola kehidupan bersama yang setara, bersaudara dan merdeka dalam mengembangkan jati diri sebagai manusia ciptaan Tuhan. Ilmu sosial bukan untuk mengelola masyarakat agar dengan mudah masyarakat diarahkan sesuai dengan kehendak dan ambisi dari segelintir orang yang berkuasa. Ilmu sosial dikembangkan untuk memberdayakan masyarakat agar mandiri dalam membangun kebersamaannya secara demokratis.

Pemujaan Dewi Saraswati bukan sekadar memuja Tuhan sebagai dewinya ilmu pengetahuan. Pemujaan Tuhan sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan justru untuk membatasi penerapan ilmu pengetahuan tersebut agar jangan sampai merusak nilai-nilai kemanusiaan. Karena hakikat manusia adalah Atman. Sedangkan Atman menurut ajaran Upanishad adalah percikan Brahman sendiri. Atau Brahman Atman aikyam.

Hakikat ilmu pengetahuan yang sejati adalah pengetahuan tentang Atman dan Brahman atau Atman Vidya dan Brahma Vidya. Kalau semua ilmu bertumpu dari Atma Vidya dan Brahma Vidya maka penyalahgunaan ilmu pengetahuan tersebut akan menjadi semakin dapat diminimalisasi.

Swami Satya Narayana menyatakan bahwa lembaga pendidikan dewasa ini lebih banyak mengajarkan peserta didik cara mencari nafkah. Seyogianya pendidikan mengajarkan peserta didik cara mengelola hidup yang benar, tentunya termasuk di dalamnya cara mencari nafkah secara benar dan wajar. Dengan memuja Tuhan sebagai Dewi Saraswati akan dapat dicegah ilmu hanya untuk ilmu. Kalau ilmu untuk ilmu dapat merusak nilai-nilai kemanusiaan dan alam.

Di Pura Merajan Slonding Tuhan dipuja sebagai Ida Ratu Bagus Slonding. Ida Ratu Bagus Slonding ini tidak lain adalah sebutan Tuhan sebagai Dewa Kesenian. Seni juga bukan untuk seni. Gamelan Slonding adalah gamelan sakral yang dipentaskan untuk mengantarkan pemujaan pada dewa-dewa manifestasi Tuhan. Dalam konsep Satyam, Siwam, Sundaram yang artinya kebenaran, kesucian dan keindahan terkandung makna bahwa keindahan suatu seni itu harus untuk menegakkan kebenaran dan kesucian. Kalau seni hanya untuk keindahan dapat saja keindahan tersebut melanggar kebenaran, kesucian dan etika moral. Karena dapat saja keindahan itu hanya untuk menyenangkan gejolak hawa nafsu

Dengan pemujaan Tuhan sebagai Ida Ratu Bagus Slonding berarti pemujaan itu telah memberikan rambu-rambu untuk membatasi seni agar tidak melanggar kebenaran (Satyam) dan kesucian (Siwam). Dengan pandangan ini, di dunia ini pada hakikatnya tidak ada yang benar-benar bebas nilai. Hanya Tuhan-lah yang tidak terbatas. Tentunya tidak semua pihak sependapat dengan pandangan ini. Ada juga yang menyatakan bahwa seni itu bebas nilai. Asalkan untuk seni ukurannya keindahan. Kalau sudah indah dan menyenangkan seni itu sah-sah saja untuk ditampilkan. Pandangan ini dalam era demokrasi boleh-boleh saja. Tetapi menurut ukuran moral Hindu keindahan itu tidak boleh bertentangan dengan Satyam dan Siwam. * wiana

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)