Pura
Merajan
Slonding
Daivadyantam
tadiheta.
Pitrayantamna
tad bhavet.
Pitradyantam
tvihamanah.
Ksipram
nasyati
sanvayah.
(Manawa Dharmasastra,
III.205).
Maksudnya:
Melakukan
pemujaan
leluhur (upacara
Sradha)
hendaknya dilakukan
mendahului
pemujaan
Dewa
manifestasi Tuhan.
Hendaknya
pemujaan
leluhur
itu jangan
berakhir
dengan
pemujaan leluhur
saja.
Kalau
pemujaan leluhur
berhenti
pada
pemujaan leluhur
tidak
dilanjutkan dengan
pemujaan
Dewa,
keluarga itu
akan
cepat
hancur bersama
keturunannya.
PURA
Merajan
Slonding tergolong
salah
satu dari
kompleks
Pura
Besakih yang memiliki
kedudukan yang
cukup
penting.
Pura
ini
terletak di
sebelah
utara Pura
Ulun
Kulkul atau
masyarakat
menyebutnya
di
sebelah barat
Pura
Ulun Kulkul.
Pura
ini
tergolong Pura
Soring
Ambal-ambal.
Pura
Merajan
Slonding adalah
bagian
dari Merajannya Raja
Kesari
Warma Dewa.
Meskipun
seorang raja yang
memiliki
wilayah
kekuasaan yang luas
di
dalam rumah
tempat
tinggalnya yang disebut
istana
atau puri
selalu
ada juga
tempat
pemujaan leluhur sang
raja sebagai
hulu
dari pekarangan
purinya.
Seorang
raja sebagai
kesatria
memiliki
kewajiban
dan
tanggung jawab yang
amat
berat.
Dalam
Manawa Dharmasastra I.89
dinyatakan
kewajiban raja
sebagai
kesatria adalah
mengupayakan
rasa
aman (Raksanam)
dan
kesejahteraan (Danam)
untuk
rakyatnya.
Karena
itu
sebagai kesatria
diwajiban
untuk
setiap hari
mengupayakan
melakukan
pemujaan
kepada
leluhur dan
kepada
Tuhan, mempelajari
Weda,
melakukan upacara
yadnya
dan mengusahakan
pengekangan
hawa
nafsu (wisayeswaprasaktatih).
Karena
demikian
beratnya
tugas-tugas
seorang raja
akan
Merajan
tersendiri bagi
seorang raja
tentunya
amat
dibutuhkan untuk
melakukan
kotemplasi spiritual
untuk
menguatkan diri
bagi
seorang raja.
Di
areal
Pura Merajan
Slonding
inilah
tempat Merajan Raja
Kesari
Warma Dewa.
Mengapa
pura
ini disebut
Merajan
Slonding.
Karena
di pura
ini
sebagai tempat
menyimpan
suatu
alat musik
tradisional yang
disebut
Slonding.
Slonding
ini
adalah sejenis
gamelan
Bali
yang digunakan
saat
ada upacara
keagamaan yang
penting
di pura
ini.
Gamelan Slonding
ini
disimpan di
sebuah
Pelinggih Gedong
Penyimpenan
bertiang
enam
beratap ijuk.
Di
Gedong
inilah disimpan
Gamelan Slonding,
lontar,
semua pratima
dari
semua pura yang
tergolong
Soring
Ambal-ambal.
Di
Gedong
ini juga
disimpan
prasasti
Bradah.
Sedangkan
berbagai
busana
sakral dengan
perlengkapan
pura di
Soring
Ambal-ambal disimpan
di Bale
Pengangge.
Di
samping
itu ada
juga
Pelinggih Gedong
Saraswati
bertiang
empat
beratap ijuk.
Di
Pura
Merajan Slonding
ini
disebutkan sebagai
Linggih Ida
Ratu
Bagus Slonding.
Ada
juga
Balai Piyasan
sebagai
tempat mengaturkan
sesajen
kalau ada
upacara
besar.
Yang cukup
menarik
perhatian kita
adalah
mengapa pratima
dan
berbagai perlengkapan
sakral
dari Pura
Soring
Ambal-ambal disimpan
di Pura
Merajan
Slonding.
Dari segi
praktisnya
sepertinya
agak
janggal.
Karena
cukup
merepotkan.
Mengapa
tidak
cukup disimpan
di
masing-masing pelinggih
dari
Pura Soring
Ambal-ambal
tersebut.
Pura
Soring
Ambal-ambal ini
adalah
pura sebagai
tempat
memuja Tuhan yang
memberikan
jiwa
alam bawah.
Disatukannya
pratima
dan berbagai
sarana
sakral tersebut
sebagai
suatu simbol
bahwa
di alam
bawah
tersebut meskipun
Tuhan
diberikan berbagai
sebutan yang
berbeda-beda
namun
sumbernya satu
yaitu
Tuhan Yang Maha
Esa.
Berstana Ida
Batara
Ratu Mas
Malilit
di Pura
Manik
Mas, Ida Batara
Ananta
Bhoga di
Pura
Bangun Sakti, Ida
Batara
Basukian di
Pura
Basukian, Ida Batara
Naga Raja
atau
Naga Tiga
di Pura
Goa
Raja, dstnya.
Sebutan
Tuhan
sebagai jiwa
alam
itu hanya
untuk
mudah membeda-bedakan
fungsi
dari sumber
alam yang
dijiwai
oleh Tuhan Yang
Maha
Esa tersebut.
Karena
semua
sumber alam
tersebut
tidak
mungkin dapat
berfungsi
sebagaimana
mestinya
tanpa
ada kekuatan
Tuhan yang
memberikan
makna.
Ditempatkannya
dalam
satu tempat
semua
pratima dan
simbol-simbol
sakral
tersebut di
Pura
Merajan Slonding
nampaknya
bukan
semata untuk
lebih
mudah mengamankannya.
Tetapi
ada makna lain
untuk
memberikan motivasi
pada sang raja agar
dalam
membangun kemakmuran
rakyatnya
dengan
memberikan perhatian
pada
unsur-unsur alam yang
disimbolkan
oleh
semua pura
di
Soring Ambal-ambal.
Setiap
ada
upacara di
masing-masing
Pura
Soring Ambal-ambal
pratima
dan simbol-simbol
sakral
itu pasti
diambil
melalui prosesi
ritual tertentu.
Dari Pura
Merajan
Slonding. Hal ini
akan
mengingatkan raja
dan
rakyat apa
makna
dari masing-masing
pemujaan
di
setiap pura
di
Soring Ambal-ambal
tersebut.
Demikian
juga
saat mengembalikan
tersebut
sebagai
suatu proses
untuk
mengingatkan raja dan
rakyat
secara berulang-ulang
apa
makna
dari pemujaan
tersebut.
Dengan
cara
berulang-ulang
itu
seyogianya pemaknaan
pemujaan
itu
lebih dapat
diwujudkan
dengan
lebih nyata
dalam
kehidupan sehari-hari,
baik
oleh sang raja maupun
dari
rakyat sendiri.
Demikian
juga
adanya Gedong
Saraswati
sebagai
suatu sarana
untuk
mengingatkan raja dan
rakyatnya agar
dalam
mengelola kehidupan
bersama
dalam wadah
negara
kerajaan senantiasa
menggunakan
ilmu
pengetahuan suci yang
berasal
dari ciptaan
Tuhan.
Weda
tersebut
juga
ibu atau
Weda Mata.
Karena
dari
Weda-lah lahirnya
dua
macam ilmu
yaitu Para
Widya
dan Apara
Widya.
Para Widya
adalah
ilmu pengetahuan
rohani
dan Apara
Widya
adalah ilmu
pengetahuan
duniawi.
Dua
ilmu atau
kalau
diterapkan secara
seimbang
dan
terpadu
akan dapat
membangun
kehidupan yang
seimbang
antara
kehidupan rohani
dan
kehidupan duniawi.
Seimbangnya
kehidupan
rohani
dan duniawi
itulah yang
akan
membawa
masyarakat bahagia
lahir
batin.
*
I Ketut
Gobyah