kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 20 Mei 2007 tarukan valas
 

SENI


Tari Barong Berlomba Tebar Kebajikan

BARONG adalah benda sakral yang hingga kini dihormati begitu takzim oleh masyarakat Bali. Namun dalam konteks pariwisata, Barong juga tontonan turistik yang berdimensi ekonomis yang banyak diminati wisatawan mancanegara. Sebagai ekspresi seni, tari Barong terus menggeliat.

-------------

 

Lomba tari Barong adalah salah satu upaya menggali kreativitas dan pendakian kualitas seni membawakan Barong yang begitu menarik untuk disaksikan. "Festival Tari Barong se-Bali" yang berlangsung di Bangli pada 10-13 Mei lalu membuktikan antusiasisme penonton memadati panggung pementasan.

Adalah pihak Pemda Bangli yang bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar -- dengan program gelar seni hibah Due-like dari Dikti yang dimenangkan Jurusan Karawitan -- mengambil inisiatif menyelenggarakan festival Barong berkaitan dengan HUT ke-803 Kota Bangli. Gagasan itu direspons oleh 38 tukang bapang (penari Barong) dengan pemain kendangnya masing-masing yang datang dari seluruh Bali. Selama tiga malam, secara bergantian penari Barong dan pemain kendang itu menunjukkan kebolehannya. Tukang bapang maupun pengendangnya dipacu dengan hadian jutaan rupiah.

Memainkan Barong, selain harus memiliki keterampilan seni tari, juga mesti disangga oleh fisik prima dan tenaga ekstra. Bayangkan saat menari bersama pemain belakang, harus mengusung beban antara 15-20 kg berat Barong yang terbuat dari kayu, bambu, kulit sapi, gelas, dan rumbai-rumbai. Dalam durasi 20-30 menit, duet sepasang penari Barong harus menunjukkan koreografi dengan kepala yang tertindih dan ruang nafas yang sempit. Pesona sebuah tarian Barong lebih menjadi tanggung jawab pemain bagian depan, kendati kerja sama dengan pemain belakang tak bisa diremehkan -- yang disebut tukang bapang itu.

 

Juru kendang memiliki peran penting dalam tari Barong. Instrumen kendang yang dipakai untuk mengiringi tarian ini adalah kendang babarongan yang dilengkapi dengan pemukul sepanjang 30 cm. Kendang yang dimainkan secara solo ini lazim disebut kendang tunggal. Kecanggihan pukulan panggul di sebelah kanan dan kecipak tangkas pukulan tangan kiri seorang pemain kendang babarongan, bertugas memberi dan menggarisbawahi aksen-aksen lugas dalam tari Barong. Kesiagaan dan sensitifitas estetik, dan kemampuan berimprovisasi seorang pemain kendang juga ikut menunjang keberhasilan sebuah sajian tari Barong. Karenanya, tukang bapang dan pemain kendang adalah paket yang saling ketergantungan satu sama lainnya.

 

Sakral dan Imitasi

Dari sekian puspa warna Barong yang ada di Bali, Barong Ket atau Ketet paling banyak disakralkan dan paling banyak dibuat imitasinya untuk kepentingan pertunjukan estetik murni dan komersial turistik. Barong turistik yang disuguhkan kepada wisatawan selain ditampilkan sebagai tari lepas juga terikat dengan drama tari yang dibawakan --biasanya lakon Kuntisraya yang dipetik dari cerita Mahabharata.

Dalam "Festival Tari Barong se-Bali" di Bangli itu, khusus dikompetisikan Barong Ketet sebagai tari Barong lepas. Tampak penonton menyaksikannya dengan penuh perhatian bagaimana masing-masing tukang bapang dan pengendangnya menghadirkan ungkapan seninya.

Secara visual, Barong Ket merupakan bentuk kombinasi dari singa, macan atau lembu. Bulu-bulu putih barong ini dibuat dari praksok dan ada pula yang mempergunakan bulu-bulu unggas. Keseluruhan tubuhnya meriah dengan ornamen berukir, berprada kuning emas dan dengan kemilau binar-binar kacanya.

Secara mitologis, Barong Ket diidentikkan dengan raja hutan alias banaspati raja yang umumnya dikeramatkan di Pura Dalem masing-masing desa. Sejak seorang pelukis Jerman, Walter Spies, yang tinggal di Ubud sering mengajak teman-teman Barat-nya menonton drama tari Calonarang di Tegal Tamu dan Pagutan saat odalan di pura setempat pada tahun 1930-an, tari Barong dengan drama tari Calonarang-nya mengarah atau dibuatkan bentuk profannya yang khusus dipertontonkan kepada wisatawan hingga kini di Batubulan, Singapadu, Celuk, dan Ubud dan di tempat-tempat lainnya dengan menampilkan tari Barong Ketet sebagai maskotnya.

Di tengah paceklik turis sejak lima tahun belakangan ini, Barong sebagai ekspresi budaya rupanya tak mau teronggok di pojok. Barong Ket agaknya masih punya kesanggupan menebar kebajikan nilai seninya. Dua tahun lalu, 2005, Museum Klasik Nyoman Gunarsa menggelar lomba Barong se-Bali dengan hadiah uang nan menggiurkan. Lewat penyajian sebuah drama tari, lengkap dengan tari lepas Barong-nya, para juara I, II, dan III, diganjar dengan uang sampai Rp 100 juta. Keluar sebagai juara I saat itu grup Barong Banjar Sengguan, Singapadu, Sukawati, Gianyar. Sedangkan untuk lomba Barong di Bangli kali ini, keluar sebagai juara I adalah Anak Agung Rai, tukang bapang dari Klungkung, juara II Komang Suartama dari Bangli, dan pemenang III Nengah Gunawirawan dari Denpasar.

Tanpa mengharapkan hadiah uang, Barong juga masih sanggup mempesona masyarakatnya sendiri. Dalam konteks ngayah, pertunjukan ritual magis Calonarang misalnya, penampilan tari Barong di awal pertunjukan selalu dinanti-nanti penonton. Bahkan dalam suasana yang komunal, sering tidak cukup dengan hanya satu penampilan tukang bapang saja namun bisa hingga tiga yang semuanya berusaha menyuguhkan ciri khas dan kelebihannya masing-masing. Ada penampilan Barong Ket dengan properti pajeng dan ada pula yang menari dengan kipas di kaki. Budaya ngayah masih mengipas Barong -- sebagai simbol dharma -- untuk dihormati, disayangi, dan dikagumi masyarakat Bali.

* kadek suartaya

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com