Tari Barong Berlomba Tebar Kebajikan
BARONG
adalah benda sakral yang hingga kini dihormati begitu takzim oleh
masyarakat Bali. Namun dalam konteks pariwisata, Barong juga
tontonan turistik yang berdimensi ekonomis yang banyak diminati
wisatawan mancanegara. Sebagai ekspresi seni, tari Barong terus
menggeliat.
-------------
Lomba tari Barong adalah salah satu upaya menggali
kreativitas dan pendakian kualitas seni membawakan Barong yang
begitu menarik untuk disaksikan. "Festival Tari Barong se-Bali"
yang berlangsung di Bangli pada 10-13 Mei lalu membuktikan
antusiasisme penonton memadati panggung pementasan.
Adalah
pihak Pemda Bangli yang bekerja sama dengan Institut Seni
Indonesia (ISI) Denpasar -- dengan program gelar seni hibah
Due-like dari Dikti yang dimenangkan Jurusan Karawitan --
mengambil inisiatif menyelenggarakan festival Barong berkaitan
dengan HUT ke-803 Kota Bangli. Gagasan itu direspons oleh 38
tukang bapang (penari Barong) dengan pemain kendangnya
masing-masing yang datang dari seluruh Bali. Selama tiga malam,
secara bergantian penari Barong dan pemain kendang itu menunjukkan
kebolehannya. Tukang bapang maupun pengendangnya dipacu dengan
hadian jutaan rupiah.
Memainkan Barong, selain harus memiliki
keterampilan seni tari, juga mesti disangga oleh fisik prima dan
tenaga ekstra. Bayangkan saat menari bersama pemain belakang,
harus mengusung beban antara 15-20 kg berat Barong yang terbuat
dari kayu, bambu, kulit sapi, gelas, dan rumbai-rumbai. Dalam
durasi 20-30 menit, duet sepasang penari Barong harus menunjukkan
koreografi dengan kepala yang tertindih dan ruang nafas yang
sempit. Pesona sebuah tarian Barong lebih menjadi tanggung jawab
pemain bagian depan, kendati kerja sama dengan pemain belakang tak
bisa diremehkan -- yang disebut tukang bapang itu.
Juru kendang memiliki peran penting dalam tari
Barong. Instrumen kendang yang dipakai untuk mengiringi tarian ini
adalah kendang babarongan yang dilengkapi dengan pemukul sepanjang
30 cm. Kendang yang dimainkan secara solo ini lazim disebut
kendang tunggal. Kecanggihan pukulan panggul di sebelah kanan dan
kecipak tangkas pukulan tangan kiri seorang pemain kendang
babarongan, bertugas memberi dan menggarisbawahi aksen-aksen lugas
dalam tari Barong. Kesiagaan dan sensitifitas estetik, dan
kemampuan berimprovisasi seorang pemain kendang juga ikut
menunjang keberhasilan sebuah sajian tari Barong. Karenanya,
tukang bapang dan pemain kendang adalah paket yang saling
ketergantungan satu sama lainnya.
Sakral dan Imitasi
Dari sekian puspa warna Barong yang ada di Bali,
Barong Ket atau Ketet paling banyak disakralkan dan paling banyak
dibuat imitasinya untuk kepentingan pertunjukan estetik murni dan
komersial turistik. Barong turistik yang disuguhkan kepada
wisatawan selain ditampilkan sebagai tari lepas juga terikat
dengan drama tari yang dibawakan --biasanya lakon Kuntisraya yang
dipetik dari cerita Mahabharata.
Dalam "Festival Tari Barong se-Bali" di Bangli itu,
khusus dikompetisikan Barong Ketet sebagai tari Barong lepas.
Tampak penonton menyaksikannya dengan penuh perhatian bagaimana
masing-masing tukang bapang dan pengendangnya menghadirkan
ungkapan seninya.
Secara visual, Barong Ket merupakan bentuk
kombinasi dari singa, macan atau lembu. Bulu-bulu putih barong ini
dibuat dari praksok dan ada pula yang mempergunakan bulu-bulu
unggas. Keseluruhan tubuhnya meriah dengan ornamen berukir,
berprada kuning emas dan dengan kemilau binar-binar kacanya.
Secara mitologis, Barong Ket diidentikkan dengan
raja hutan alias banaspati raja yang umumnya dikeramatkan di Pura
Dalem masing-masing desa. Sejak seorang pelukis Jerman, Walter
Spies, yang tinggal di Ubud sering mengajak teman-teman Barat-nya
menonton drama tari Calonarang di Tegal Tamu dan Pagutan saat
odalan di pura setempat pada tahun 1930-an, tari Barong dengan
drama tari Calonarang-nya mengarah atau dibuatkan bentuk profannya
yang khusus dipertontonkan kepada wisatawan hingga kini di
Batubulan, Singapadu, Celuk, dan Ubud dan di tempat-tempat lainnya
dengan menampilkan tari Barong Ketet sebagai maskotnya.
Di tengah paceklik turis sejak lima tahun
belakangan ini, Barong sebagai ekspresi budaya rupanya tak mau
teronggok di pojok. Barong Ket agaknya masih punya kesanggupan
menebar kebajikan nilai seninya. Dua tahun lalu, 2005, Museum
Klasik Nyoman Gunarsa menggelar lomba Barong se-Bali dengan hadiah
uang nan menggiurkan. Lewat penyajian sebuah drama tari, lengkap
dengan tari lepas Barong-nya, para juara I, II, dan III, diganjar
dengan uang sampai Rp 100 juta. Keluar sebagai juara I saat itu
grup Barong Banjar Sengguan, Singapadu, Sukawati, Gianyar.
Sedangkan untuk lomba Barong di Bangli kali ini, keluar sebagai
juara I adalah Anak Agung Rai, tukang bapang dari Klungkung, juara
II Komang Suartama dari Bangli, dan pemenang III Nengah
Gunawirawan dari Denpasar.
Tanpa mengharapkan hadiah uang, Barong juga masih
sanggup mempesona masyarakatnya sendiri. Dalam konteks ngayah,
pertunjukan ritual magis Calonarang misalnya, penampilan tari
Barong di awal pertunjukan selalu dinanti-nanti penonton. Bahkan
dalam suasana yang komunal, sering tidak cukup dengan hanya satu
penampilan tukang bapang saja namun bisa hingga tiga yang semuanya
berusaha menyuguhkan ciri khas dan kelebihannya masing-masing. Ada
penampilan Barong Ket dengan properti pajeng dan ada pula yang
menari dengan kipas di kaki. Budaya ngayah masih mengipas Barong
-- sebagai simbol dharma -- untuk dihormati, disayangi, dan
dikagumi masyarakat Bali.
* kadek
suartaya