Sejarah
Perang
Jagaraga
Tanggal
2 Mei dan
20 Mei adalah
hari penting
bagi sebuah
kesadaran sejarah
terutama yang
menyangkut generasi
muda sebagai
penerus bangsa
yang telah
mewarisi nilai-nilai
perjuangan para
pendahulunya.
Berbagai
kegiatan yang
berbau heroik,
digelar, seperti
napak tilas,
upacara bendera,
dan seminar yang
mengangkat pejuang
nasional. Salah
satunya, seminar yang
digelar oleh
UPTD Monumen
Perjuangan Rakyat Bali, yang
bertempat di
Monumen Bajra
Sandhi, Renon
Denpasar
baru-baru ini.
Dalam seminar itu
diangkat
nilai-nilai perjuangan
Perang Jagaraga,
yang nota bene
di dalamnya
menghadirkan
tokoh patriotik
Gusti Ketut
Djelantik yang
terkenal dengan
sebutan Patih
Djelantik.
Dalam
seminar yang menghadirkan 3
pemakalah --
semuanya sesuai
tema --
menghadirkan ketokohan
Patih Djelantik
dari segala
sudut pandang
yang intinya
mengandung nilai-nilai yang
patut diteladani
oleh generasi
muda kita.
Ini dikemukakan
dengan sangat
antusias oleh
pemakalah dan
para peserta
seminar. Persoalan
tidak sampai
di situ.
Kegamangan yang mungkin
dialami sebagian
masyarakat
khususnya Buleleng,
akan menipis
menjadi
kebanggaan jika
didapat kejelasan
sebuah fakta
siapa sebenarnya
Patih Djelantik
itu. Sebab
dari sekian
referensi nyaris
asal usul
beliau tersamar
dalam balutan
keperkasaan
beliau.
Seperti
yang kita ketahui
bersama setelah
selesai perang
saudara di
Buleleng terjadi
kesepakatan
antara Raja Karangasem
dengan Raja
Buleleng, bahwa
jika rajanya
keturunan Dinasti
Karangasem maka
patihnya adalah
keturunan Dinasti
Pandji Sakti.
Kemudian ada
disebut-sebut
seorang pahlawan
wanita yang
bernama Jro
Jempiring. Siapa
pula itu dan
siapa
keturunannya? Mungkin
jawaban itu
akan didapat
jika para
sejarawan, atau
pakar-pakar dan
para pengambil
kebijakan sedikit
melirik siapa
yang menjadi
keturunan para
penguasa (raja),
karena bagaimanapun
konsep-konsep
kepemimpinan, nilai-nilai
sosial budaya
dulunya berpusat
di puri.
Ni
Putu
Karnadhi
Jl.
Gajah Mada
No.2
Singaraja