Wayan Sudirta:
Idealnya, Politik adalah Tahap ''Wanaprastha''
DARI awal April sampai pertengahan Mei ini, Wayan Sudirta,
anggota
DPD RI dari
Bali, rajin
masimakrama -- berdialog langsung dengan masyarakat desa. Ia telah
bertemu dengan ribuan tokoh kades, kadus, ketua BPD (Badan
Perwakilan Desa), ketua LPM (Lembaga Permusyawarahan Desa),
bendesa adat, klian banjar, sekaa teruna, klian subak, dan tokoh
lainnya, termasuk muspika. Dialog selalu penuh semangat.
Masyarakat menyampaikan aspirasi. Beberapa aspirasi ia selesaikan
di tempat, seperti permintaan pengaspalan jalan menuju pura di
Pidpid, di mana Ketua DPRD Karangasem Wayan Sukadana langsung
menelepon Kepala PU Karangasem, sampai permintaan sumbangan untuk
ngaben massal. Sebagian lain ditindaklanjuti dengan mendampingi
warga mengadu ke pejabat terkait, seperti warga Lembongan yang
didampingi menemui Kepala Balai Perairan Bali-Penida di Denpasar
untuk minta penanggulangan abrasi. Dan semua lainnya pasti ia
sampaikan dalam sidang paripurna DPD
RI.
Tak heran kalau simakrama-nya selalu dijejali tokoh dan elite desa
yang ingin menyampaikan aspirasi. Di tengah suasana hangat
munculnya tokoh yang diusung rakyat ke Pilgub Bali 2008 ini,
rakyat di beberapa desa berulang-ulang mendorongnya maju.
Kantornya yang mirip barak di Jl. Diponegoro Denpasar tak pernah
henti didatangi tamu -- sering sampai tengah malam atau bahkan
dinihari yang mengadukan berbagai hal dari perangkat desa yang
minta diperjuangkan jadi PNS sampai guru kontrak Karangasem yang
kecewa karena lulus tes tapi tak dapat SK. Berikut perbincangan
dengan mantan advokat yang tetap kritis semasa Orde Baru sampai
sekarang.
----------
MENURUT Anda, apa hasil penting simakrama dengan tokoh masyarakat
di seluruh Bali ini?
Banyak aspirasi yang perlu tindak lanjut dan langkah nyata. Ada
desa adat yang minta diperjuangkan agar tanah AYDS-PKD bebas pajak
dan disertifikatkan atas nama desa adat. Sekdes dan guru kontrak
yang ingin jadi PNS, kades-kadus dan perangkat desa pakraman yang
minta kesejahteraan ditingkatkan, khususnya minta Rp 100 juta per
tahun untuk desa pakraman. Ada pula pertanyaan tentang nasib
perjuangan otsus, jalan aspal, sengketa perbatasan desa, hutan,
air minum, pertanian, lapangan kerja, sampai aspirasi yang
menghendaki Bali ke depan perlu dipimpin figur yang tidak
sembarangan menjual Bali kepada investor. Tak boleh dilupakan, ada
yang minta bantuan untuk TK, gong kebyar, sekaa angklung, ngaben
massal, dan lain-lain.
Dengan wewenang yang terbatas, apa yang bisa diperbuat DPD
terhadap aspirasi yang banyak itu?
DPD memang bukan eksekutif, apalagi wewenangnya pun terbatas.
Tetapi, kalau kita kreatif memanfaatkan wewenang ini, hasilnya
bisa luar biasa. Sekadar contoh, bersama jaringan KORdEM, saya
memperjuangkan pengobatan gratis untuk orang miskin. Sempat ada
tarik-menarik dan ketegangan dengan pejabat sampai setingkat
Menkes. Jika Menkes yang kurang perhatian sama orang miskin, saya
sampaikan ke presiden. Nyatanya, pasien miskin yang dilengkapi
keterangan tidak mampu dan direkomendasi KORdEM, sampai saat ini
sudah banyak yang gratis di rumah sakit. Yang penting, sekalipun
wewenang terbatas, asalkan DPD dan rakyat sama-sama jujur dan
konsisten, ada yang bisa kita perbuat.
Mungkin itu sebabnya, DPD menuntut wewenang yang lebih besar
melalui amandemen UUD ya?
Itu hanyalah salah satu upaya, setelah rakyat mendorong-dorong
DPD. Bagi saya, wewenang segini-segini ya juga bagus, yang penting
saya bekerja terus. Biarpun ada yang mencabut dukungan untuk
amandemen ini, saya pribadi tidak terganggu. Yang penting,
masyarakat menyadari, DPD memang belum bisa maksimal karena
keterbatasan wewenang itu. Saya sendiri, tiap kali terjun ke
masyarakat, selalu berpegang pada standar ini.
Pertama, ada aspirasi yang bisa diselesaikan di tempat, seperti
aspirasi soal ngaben massal, diskusi-kemah untuk Geothermal
Bedugul, dan lain-lain. Kedua, saya jamin yang belum selesai itu
disampaikan ke instansi dan pejabat terkait, misalnya ke Pemda di
Bali yakni tuntutan desa pakraman soal kesejahteraan perangkat
desa dan bantuan desa adat, ke Menteri PU untuk proyek air minum
di Desa Seraya-Karangasem misalnya. Ketiga, secara umum, agar
aspirasi-aspirasi itu tercatat di dokumen negara, semua hasil
kerja saya ini akan dilaporkan dalam sidang paripurna DPD
RI. Dari sidang paripurna bisa saya
sampaikan ke pejabat terkait dalam audiensi yang dijadwalkan
kemudian.
Seberapa efektif hasil dari tindak lanjut seperti itu?
Saya tidak pernah pesimis. Setelah menyalurkannya ke pejabat
terkait, saya akan terus memantau langkah-langkah yang diambil
pejabat terkait. Tentu bersama-sama dengan masyarakat yang
berkepentingan. Mereka harus menjawab surat DPD, apa pun hasilnya.
Kalau responsnya kurang bagus, saya bisa melaporkan Menteri yang
kurang bagus kerja samanya ini ke Presiden. Ini pernah
berhasil bagus ketika saya memperjuangkan pengobatan gratis untuk
pasien miskin di Bali. Perjuangan berhasil setelah Menterinya kita
datangi, sementara di Bali jaringan KORdEM melakukan tekanan
publik. Akhirnya, pasien miskin yang kita tangani, gratis penuh di
beberapa rumah sakit di Bali.
Hampir di semua tempat, Anda didukung maju ke pilgub
Bali.
Bagaimana menjelaskan bahwa hal itu bukan rekayasa?
Gampang menjelaskannya. Tidak di semua daerah ada aspirasi
mendukung. Kalau orang merekayasa, pastilah tokoh yang tak
langsung mendukung diberi ruang dalam dialog maupun publikasi. Di
Kintamani Bangli dan Dawan Klungkung, masing-masing ada satu orang
yang menyatakan pikir-pikir. Padahal ratusan orang yang
hadir serempak menyatakan dukungan. Bagi saya, didukung ya terima
kasih, tidak didukung pun tetap terima kasih apalagi mereka
memberikan masukan. Di Kintamani, saya memperoleh pelajaran
berharga dari Pak Gusti Sadu yang menanyakan dari mana saya
memperoleh uang untuk membiayai kegiatan DPD, yang diperkirakan
bisa habis Rp 6 milyar dalam lima tahun masa jabatan?
Ya, dari mana? Setelah duduk di DPD, Anda
kan tidak bisa praktik pengacara. Gaji
juga sudah diserahkan ke KORdEM?
Saya berterima kasih ada tokoh seperti Gusti Sadu yang berani
bertanya dan bersikap beda, di tengah ratusan orang yang mendukung
saya. Saya hargai tinggi sikap beliau, dan juga saya hargai sikap
ratusan tokoh lain yang bisa menerima perbedaan itu. Soal dari
mana asalnya biaya simakrama, itu di tahun 1980-an, setelah tiga
tahun praktik advokat, ketika usia saya 33 tahun, uang saya cukup
untuk biaya keluarga seumur hidup. Dengan membela perkara-perkara
besar secara selektif, saya bisa memperoleh honor sampai Rp 11
milyar untuk satu perkara. Namun, untuk orang-orang miskin dan
tertindas, seperti warga Kerandan-Culik, bersama kawan-kawan malah
saya bela gratis. Itu sejak 1989 sampai sekarang. Ini semua uang
halal, karena saya selektif memilih perkara. Dari dulu saya tidak
mau membela perkara korupsi.
Kalau pada usia 33 sudah cukup uang, mengapa Anda tetap praktik
sampai 2004, sebelum menjadi DPD
RI?
Saya terus berpraktik sebagai advokat, pertama-tama bukanlah
karena uangnya, tapi karena ada idealisme di dalamnya. Belajar
dari sejarah, bahwa tokoh seperti Mahatma Gandhi adalah advokat
sebelum memimpin perjuangan ahimsa di India, saya terinspirasi
oleh hal itu. Memimpin perubahan memang tak cukup hanya dengan
gagasan-gagasan brilian, tapi perlu jaringan dan tak kalah
penting: uang! Maka saya cari uang sebanyak mungkin, tetapi
selektif mengenai sumbernya, dan menggunakannya untuk idealisme
ini. Sepanjang 20 tahun pengalaman berjuang dengan teman-teman,
perjuangan idealis dengan uang yang cukup, lebih cepat berhasil.
Idealisme murni dengan uang pas-pasan, akan berhasil juga, tapi
lebih lambat ketimbang idealisme yang menyatu dengan uang yang
cukup. Jadi, idealisme dan uang jangan dipertentangkan.
Bisa digambarkan, bagaimana Anda menggunakan penghasilan milyaran
itu untuk perjuangan?
Tahun 1985, saya mendirikan Pemuda Hindu dengan cita-cita
membangun masyarakat madani yang demokratis. Anda bisa bayangkan,
berjuang di tengah represi Orde Baru yang begitu kuat, untuk
rapat-rapat, transpor, akomodasi, dan itu berlangsung
bertahun-tahun, tidak akan bisa dilakukan tanpa dukungan logistik.
Kita tahu, berapa biaya untuk kongres sebuah ormas, berapa biaya
operasionalnya selama bertahun-tahun, agar bisa bertahan? Tanpa
logistik yang cukup, aktivis seidealis apa pun pasti kurang kuat
bertahan, apalagi menghadapi lawan yang kaya dan berkolusi dengan
penguasa. Kita tidak akan sanggup mengadvokasi Pura Rawamangun
yang mau diambil investor. Tidak akan sanggup bertahun-tahun
membela warga Kerandan Culik yang diancam sampai diusir. Tidak
akan sanggup mempertahankan Bali Corruption Watch, memberikan
beasiswa-beasiswa, dan lain-lain. Sekarang, termasuk biaya-biaya
bertugas sebagai DPD, masimakrama dengan warga, menyumbang
sekadarnya melalui Yayasan Bunda Luh Ronce, itu dari dana kita
sendiri.
Tapi, kan kecenderungan pejabat kita sekarang, miskin sebelum
menjabat, lalu kaya setelah menjabat?
Tidak etis mengungkap kekurangan politisi lain. Biarlah masyarakat
yang bicara. Referensi yang saya baca mengajarkan, berpolitik itu
dedikasi untuk masyarakat, kasarnya bukan untuk cari makan. Saya
menafsirkan, berpolitik itu adalah tahapan wanaprastha dalam
ajaran Hindu, di mana orang sudah melewati masa brahmacari,
menempuh pendidikan dan grahasta, menikah dan bekerja mengumpulkan
materi. Apa yang saya punya dan peroleh selama aktivitas grahasta
ini adalah anugerah Tuhan. Kini umur saya sudah 50 tahun lebih,
masa wanaprasta. Saya menafsirkan tahapan ini sebagai bekerja di
dunia politik bukan untuk mencari gaji. Kalau bisa, justru
menyumbangkan miliknya untuk pemberdayaan masyarakat, secara
ekonomi maupun intelektual.
Anda sering menyumbang untuk umat yang menyelenggarakan upacara
ngaben massal. Apa sebetulnya pesan yang ingin Anda sampaikan?
Pesan singkatnya, ngaben massal adalah representasi
kebersamaan dan kesederhanaan. Dengan ngaben bersama, umat Hindu
mengerjakannya bersama-sama. Dengan duduk bersama, mereka
mendialogkan siapa sulinggih yang muput upacara-upakara-nya dan
dengan begitu mereka masuk ke wilayah toleransi. Kebersamaan
mencegah jor-joran, dari sana muncul kesederhanaan. Ngaben massal
ini memang terutama untuk umat yang ekonominya masih berat, hingga
mereka bisa ngaben dengan Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu.
Lebih ideal lagi kalau awig-awig desa mengatur, ngaben massal
dilaksanakan 5 atau 10 tahun sekali. Dengan begitu warga desa bisa
mengalokasikan waktunya untuk kegiatan lain, perbaikan ekonomi dan
kesejahteraan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan
lainnya.
Ada yang khawatir, kalau ngaben besar ditiadakan, daya tarik
wisata akan berkurang?
Tidak berarti ritual-ritual besar harus dihindari. Yang penting,
bagaimana menyeimbangkan elemen tattwa (filsafat, idealisme),
susila (etika) dan upacara-upakara (ritual). Kalau untuk
upacara-upakara kita berani mapunia Rp 20 juta, mengapa tidak
poskan Rp 5 juta untuk susila dan tattwa, misalnya dengan
membentuk yayasan sosial, apakah untuk pendidikan, kesehatan, dan
sejenisnya. Pendidikan dan kesehatan sangat penting untuk
peningkatan kualitas sumber daya manusia Bali ke depan. Yang saya
lihat sampai saat ini, kita kurang seimbang mengalokasikan uang
untuk tattwa dan susila.
Bagaimana Anda menjaga stamina dengan beban kegiatan begitu
banyak?
Karena sudah di atas 50 tahun, saya aerobik setiap hari, mininal
30 menit. Paginya sarapan buah, kurangi makan nasi, malamnya
usahakan makan sedikit. Bahkan, tiap kali simakrama, saya minta
snack untuk warga jangan mengandung banyak gula, jangan berlebih,
agar audiens tidak mengantuk. Kalau mereka ngantuk, pesan-pesan
kita tidak sampai. (r/*)
BIODATA
Nama
: Wayan Sudirta, S.H.
Tempat/lahir : Pidpid, 20 Desember
1950
Pekerjaan :
Anggota DPD/MPR-RI 2004-2009
Pendidikan :
Sarjana Hukum Universitas Brawijaya,
Malang, 1976
Jabatan:
- Ketua Panitia Perancang Undang-Undang (PPUU) DPD-RI
- Ketua Tim Kerja Penanggulangan Korupsi PAH I DPD-RI
- Koordinator Penasihat Hukum DPD-RI
Pengalaman organisasi:
- Salah seorang pendiri BCW (2000) dan KORdEM Bali (2004)
- Wakil Ketua Umum Ikadin tahun 2003 - sekarang
- Anggota Sabha Walaka PHDI Pusat tahun 2001 - sekarang
- Ketua Umum Pemuda Hindu tahun 1985 - 1990
- Direktur Posbakum Peradin Jakarta 1980