kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Paing, 20 Mei 2007 tarukan valas
 

OPINI


Zaman Serba

"APA nama lembaga yang Anda pimpin dan tahun berapa berdirinya?" tanya Presiden Republik Mimpi, Si Butet dari Yogya (SBY).

"Namanya Indonesia Bangkit, berdiri tahun 2003," jawab Imam Sugema.

"Tahun 2003? Wah, kenapa Indonesia tidak bangkit-bangkit ya?"

"Tentu, karena perekonomiannya dipimpin Tim Indonesia Bangkrut!"

Dialog yang terlontar di acara "Republik Mimpi" di sebuah stasiun TV swasta Minggu malam lalu membuat Rubag mengelus dada. Bagaimana tidak, Indonesia yang kemerdekaannya kini menjelang 62 tahun, justru menerima berbagai sindiran negatif atas kedaulatan dan eksistensinya sebagai negara merdeka. Sebelumnya, akibat krisis berkepanjangan dalam segala sektor kehidupan yang sulit ditanggulangi, beberapa pakar politik menengarainya sebagai negara yang nyaris gagal. Kini doktor ekonomi Imam Sugema, meskipun lewat parodi, menyebut istilah yang kurang enak didengar, namun sulit dibantah. Kemelut politik, kekacauan ekonomi, timpangnya hukum, keterpurukan sosial budaya dan degradasi moral, berkembang melebihi virus flu burung dan demam berdarah.

"Padahal hari ini 99 tahun silam, seorang dokter berusia muda bernama Wahidin Sudirohusodo bersama kawan-kawannya di sekolah kedokteran STOVIA Betawi atau Jakarta sekarang, mendirikan organisasi yang disebut Budi Utomo. Tujuannya, mengumpulkan dana guna meningkatkan harkat dan martabat bangsa lewat pendidikan. Makanya 20 Mei dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena Budi Utomo yang memotivasi semangat dan kesadaran para bapak bangsa untuk mewujudkan kemerdekaan, meskipun membutuhkan waktu 37 tahun untuk memproklamasikannya. Nah, kini setelah hampir 62 tahun usia kemerdekaan, muncul slentingan 'negara gagal' atau 'Indonesia Bangkrut', apa nggak sakit hatiku?" ujar Rubag dengan suara gemetar sembari mengurut dada.

"Sabar Bag, sabar! Apa perlu dadamu aku simbuh atau kugosok dengan balsem agar emosimu reda? Seharusnya bukan kau yang jengah seperti itu, tapi para elit penyelenggara negara di pusat maupun di daerah-daerah. Tapi, mereka kelihatannya tenang-tenang saja. Bahkan suasana sidang yang sering tertayang di TV, konon untuk membahas kepentingan rakyat yang dihimpit kesulitan hidup, tidak tampak disertai kening berkerut dan debat serius. Mereka terlihat santai, kadang-kadang cekikikan sambil menikmati kudapan. Mereka baru tegang dan menggebrak meja bila berbagai tunjangan dan fasilitas mereka dikurangi atau dimutasi ke tempat yang lebih kering," ujar Kasna.

"Gemuruh protes rakyat terhadap lonjakan harga-harga kebutuhan hidup yang dikatrol kenaikan harga BBM ratusan persen, seakan-akan mereka dengar seperti lagu rap Tupac Shakur. Jeritan rakyat miskin yang konon jumlahnya kian banyak disertai pengangguran makin berjubel, mereka anggap sebagai angin lalu karena mereka lebih disibukkan perebutan kekuasaan di parlemen maupun kabinet. Mungkin karena merasa  bertanggung jawab atas keselamatan bangsa dan negara, serta prihatin atas penyelenggaraan negara yang tidak berjalan sesuai bunyi konstitusi, beberapa pensiunan jenderal yang tergabung dalam Forum Komunikasi Purnawirawan TNI melontarkan kritik terhadap para penguasa saat ini.  Dibanding kau Bag, yang menjadi kepala dusun saja tidak pernah, mereka lebih cocok merasa prihatin dan mengkritisi.  Soal didengar, may be yes, may be no, hahaha...," imbuh Santika terkekeh.

"Memprotes tidak didengar, mengkritik di-cuekin, mendemo ditangkap, prihatin dan kecewa tidak pantas, lalu hakku sebagai rakyat biasa, apa? Apa cuma boleh bunuh diri? Dalam konstitusi, undang-undang, peraturan dan hukum, nama rakyat disebut berulang-ulang, lalu siapa saja rakyat itu? Apa Rubag tidak termasuk di dalamnya? Baiklah, karena sistem perwakilan, segala keluhan dan aspirasi rakyat disalurkan lewat wakil-wakil mereka di parlemen, tapi ketika harga beras dan minyak goreng melonjak, minyak tanah menghilang, premium seret, wakil-wakil itu kok diam seribu bahasa. Perih dadaku!" sahut Rubag geregetan.

"Sabar! Sabar! Tidak ada yang meragukan kalau kau adalah salah seorang dari rakyat itu, andaikan satu titik dalam sebuah garis atau sebutir atom dalam sebuah molekul. Meminjam fatwa hukum Anglo Saxon, ada aturan Miranda yang diujarkan polisi saat menangkap tersangka, berbunyi: 'kau berhak diam dan ditemani pengacara, sebab apapun yang kau katakan sekarang, ucapanmu itu bisa dipakai menjeratmu di pengadilan'! Nah, sebagai rakyat yang diikat peraturan dan undang-undang, kondisimu tak ubahnya seperti tersangka  dalam Miranda Law itu. Kau hanya berhak diam, ditemani kesabaran dan kepasrahan, sebab kalau ucapanmu ngacuh, kau bisa masuk bui dengan dakwaan provokator. Juga ingat, satu titik tidak bisa membelokkan arah garis, satu atom tidak bisa mengubah sifat molekul. Hati-hati, jangan sampai kekecewaan dan keprihatinanmu yang mendalam menyebabkanmu sakit!" saran Lonjong.

"Ya, 'Orang Miskin Dilarang Sakit', demikian judul sebuah buku yang tidak kubeli karena tidak punya uang. Meskipun pemerintah baru-baru ini memproduksi obat yang harganya serba 'seribu', mungkin meniru toko-toko '5.000' yang hadir di berbagai pelosok, namun itu cuma untuk mengobati pusing, demam dan batuk. Seperti tempo hari, kau mengaku kekurangan gizi karena mengakrabi nasi janggo yang jauh dari empat sehat lima sempurna, kalau sakit, kukira penyakitmu lebih berat dari pusing, demam dan batuk. Ketiga jenis gangguan kesehatan itu, konon, tidak selalu akibat masuk angin, tapi sering sebagai gejala-gejala penyakit parah yang muncul kemudian. Nah, kalau itu terjadi, apa kau sudah punya surat keterangan miskin dan Askeskin?" tanya Kudil.

"Aku justru tidak memikirkan soal itu. Terlalu ribet! Masak untuk mendapat fasilitas miskin aku harus membongkar keramik dan mempreteli instanlasi listrik rumahku, kendati pendapatanku per hari jauh di bawah dua dolar AS? Untuk berstatus Rumah Tengga Miskin konon ada 14 kriteria. Memegang kartu Askeskin pun tidak menjamin pelayanan yang memadai. Masih ingat kisah ibu yang terpaksa melahirkan bayinya di atas trotoar pinggir jalan, seperti yang pernah kututurkan?" ujar Rubag.

"Ya, sebuah kisah tragis yang sulit kulupa. Ibu yang ditolak melahirkan di sebuah RS dimana dia memeriksakan diri sejak kehamilan, juga tidak diterima di praktik bidan, meski dilengkapi surat keterangan miskin. Syukur bayi dan ari-ari yang tergenang darah tergeletak di samping ibunya tidak disantap anjing-anjing liar, ketika ayah sang bayi meninggalkanya untuk minta pertolongan. Hati nurani bangsa ini seakan-akan sudah copot dari cantolannya jatuh ke perut besar, lalu digiling jadi kotoran. Tidak tersisa lagi rasa kasihan dan toleransi," kilah Kasna.

"Bukan itu saja, konon, dana Askeskin pun digerogoti di RSU Sanglah. Jadi, bukan hanya tidak ada toleransi dan empati, juga tega makan uang yang diperuntukkan rakyat miskin.  Mirip seperti koboi yang membunuh lawannya dua kali, sekali saat masih hidup, sekali lagi setelah jadi mayat. Jumlahnya? Rupanya sekarang 'zaman serba'. Bila pemerintah menjual obat dengan harga serba Rp 1.000, untuk meniru toko serba Rp 5.000, korupsi di RSUP Sanglah pun meniru isu suap proyek Tower, yakni serba Rp 2,3 milyar. Akibatnya, kita serba susah!" komentar Lonjong.

 

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com