Zaman Serba
"APA nama lembaga yang Anda pimpin dan
tahun berapa berdirinya?" tanya Presiden Republik Mimpi, Si Butet
dari Yogya (SBY).
"Namanya Indonesia Bangkit, berdiri tahun 2003," jawab Imam
Sugema.
"Tahun 2003? Wah, kenapa Indonesia tidak bangkit-bangkit ya?"
"Tentu, karena perekonomiannya dipimpin Tim Indonesia Bangkrut!"
Dialog yang terlontar di acara "Republik Mimpi" di sebuah stasiun
TV swasta Minggu malam lalu membuat Rubag mengelus dada. Bagaimana
tidak, Indonesia yang kemerdekaannya kini menjelang 62 tahun,
justru menerima berbagai sindiran negatif atas kedaulatan dan
eksistensinya sebagai negara merdeka. Sebelumnya, akibat krisis
berkepanjangan dalam segala sektor kehidupan yang sulit
ditanggulangi, beberapa pakar politik menengarainya sebagai negara
yang nyaris gagal. Kini doktor ekonomi Imam Sugema, meskipun lewat
parodi, menyebut istilah yang kurang enak didengar, namun sulit
dibantah. Kemelut politik, kekacauan ekonomi, timpangnya hukum,
keterpurukan sosial budaya dan degradasi moral, berkembang
melebihi virus flu burung dan demam berdarah.
"Padahal hari ini 99 tahun silam, seorang dokter berusia muda
bernama Wahidin Sudirohusodo bersama kawan-kawannya di sekolah
kedokteran STOVIA Betawi atau Jakarta sekarang, mendirikan
organisasi yang disebut Budi Utomo. Tujuannya, mengumpulkan dana
guna meningkatkan harkat dan martabat bangsa lewat pendidikan.
Makanya 20 Mei dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena
Budi Utomo yang memotivasi semangat dan kesadaran para bapak
bangsa untuk mewujudkan kemerdekaan, meskipun membutuhkan waktu 37
tahun untuk memproklamasikannya. Nah, kini setelah hampir 62 tahun
usia kemerdekaan, muncul slentingan 'negara gagal' atau 'Indonesia
Bangkrut', apa nggak sakit hatiku?" ujar Rubag dengan suara
gemetar sembari mengurut dada.
"Sabar Bag, sabar! Apa perlu dadamu aku simbuh atau kugosok dengan
balsem agar emosimu reda? Seharusnya bukan kau yang jengah seperti
itu, tapi para elit penyelenggara negara di pusat maupun di
daerah-daerah. Tapi, mereka kelihatannya tenang-tenang saja.
Bahkan suasana sidang yang sering tertayang di TV, konon untuk
membahas kepentingan rakyat yang dihimpit kesulitan hidup, tidak
tampak disertai kening berkerut dan debat serius. Mereka terlihat
santai, kadang-kadang cekikikan sambil menikmati kudapan. Mereka
baru tegang dan menggebrak meja bila berbagai tunjangan dan
fasilitas mereka dikurangi atau dimutasi ke tempat yang lebih
kering," ujar Kasna.
"Gemuruh protes rakyat terhadap lonjakan harga-harga kebutuhan
hidup yang dikatrol kenaikan harga BBM ratusan persen, seakan-akan
mereka dengar seperti lagu rap Tupac Shakur. Jeritan rakyat miskin
yang konon jumlahnya kian banyak disertai pengangguran makin
berjubel, mereka anggap sebagai angin lalu karena mereka lebih
disibukkan perebutan kekuasaan di parlemen maupun kabinet. Mungkin
karena merasa bertanggung jawab atas keselamatan bangsa dan
negara, serta prihatin atas penyelenggaraan negara yang tidak
berjalan sesuai bunyi konstitusi, beberapa pensiunan jenderal yang
tergabung dalam Forum Komunikasi Purnawirawan TNI melontarkan
kritik terhadap para penguasa saat ini. Dibanding kau Bag,
yang menjadi kepala dusun saja tidak pernah, mereka lebih cocok
merasa prihatin dan mengkritisi. Soal didengar, may be yes,
may be no, hahaha...," imbuh Santika terkekeh.
"Memprotes tidak didengar, mengkritik di-cuekin, mendemo
ditangkap, prihatin dan kecewa tidak pantas, lalu hakku sebagai
rakyat biasa, apa? Apa cuma boleh bunuh diri? Dalam konstitusi,
undang-undang, peraturan dan hukum, nama rakyat disebut
berulang-ulang, lalu siapa saja rakyat itu? Apa Rubag tidak
termasuk di dalamnya? Baiklah, karena sistem perwakilan, segala
keluhan dan aspirasi rakyat disalurkan lewat wakil-wakil mereka di
parlemen, tapi ketika harga beras dan minyak goreng melonjak,
minyak tanah menghilang, premium seret, wakil-wakil itu kok diam
seribu bahasa. Perih dadaku!" sahut Rubag geregetan.
"Sabar! Sabar! Tidak ada yang meragukan kalau kau adalah salah
seorang dari rakyat itu, andaikan satu titik dalam sebuah garis
atau sebutir atom dalam sebuah molekul. Meminjam fatwa hukum Anglo
Saxon, ada aturan Miranda yang diujarkan polisi saat menangkap
tersangka, berbunyi: 'kau berhak diam dan ditemani pengacara,
sebab apapun yang kau katakan sekarang, ucapanmu itu bisa dipakai
menjeratmu di pengadilan'! Nah, sebagai rakyat yang diikat
peraturan dan undang-undang, kondisimu tak ubahnya seperti
tersangka dalam Miranda Law itu. Kau hanya berhak diam,
ditemani kesabaran dan kepasrahan, sebab kalau ucapanmu ngacuh,
kau bisa masuk bui dengan dakwaan provokator. Juga ingat, satu
titik tidak bisa membelokkan arah garis, satu atom tidak bisa
mengubah sifat molekul. Hati-hati, jangan sampai kekecewaan dan
keprihatinanmu yang mendalam menyebabkanmu sakit!" saran Lonjong.
"Ya, 'Orang Miskin Dilarang Sakit', demikian judul sebuah buku
yang tidak kubeli karena tidak punya uang. Meskipun pemerintah
baru-baru ini memproduksi obat yang harganya serba 'seribu',
mungkin meniru toko-toko '5.000' yang hadir di berbagai pelosok,
namun itu cuma untuk mengobati pusing, demam dan batuk. Seperti
tempo hari, kau mengaku kekurangan gizi karena mengakrabi nasi
janggo yang jauh dari empat sehat lima sempurna, kalau sakit,
kukira penyakitmu lebih berat dari pusing, demam dan batuk. Ketiga
jenis gangguan kesehatan itu, konon, tidak selalu akibat masuk
angin, tapi sering sebagai gejala-gejala penyakit parah yang
muncul kemudian. Nah, kalau itu terjadi, apa kau sudah punya surat
keterangan miskin dan Askeskin?" tanya Kudil.
"Aku justru tidak memikirkan soal itu. Terlalu ribet! Masak untuk
mendapat fasilitas miskin aku harus membongkar keramik dan
mempreteli instanlasi listrik rumahku, kendati pendapatanku per
hari jauh di bawah dua dolar AS? Untuk berstatus Rumah Tengga
Miskin konon ada 14 kriteria. Memegang kartu Askeskin pun tidak
menjamin pelayanan yang memadai. Masih ingat kisah ibu yang
terpaksa melahirkan bayinya di atas trotoar pinggir jalan, seperti
yang pernah kututurkan?" ujar Rubag.
"Ya, sebuah kisah tragis yang sulit kulupa. Ibu yang ditolak
melahirkan di sebuah RS dimana dia memeriksakan diri sejak
kehamilan, juga tidak diterima di praktik bidan, meski dilengkapi
surat keterangan miskin. Syukur bayi dan ari-ari yang tergenang
darah tergeletak di samping ibunya tidak disantap anjing-anjing
liar, ketika ayah sang bayi meninggalkanya untuk minta
pertolongan. Hati nurani bangsa ini seakan-akan sudah copot dari
cantolannya jatuh ke perut besar, lalu digiling jadi kotoran.
Tidak tersisa lagi rasa kasihan dan toleransi," kilah Kasna.
"Bukan itu saja, konon, dana Askeskin pun digerogoti di RSU
Sanglah. Jadi, bukan hanya tidak ada toleransi dan empati, juga
tega makan uang yang diperuntukkan rakyat miskin. Mirip
seperti koboi yang membunuh lawannya dua kali, sekali saat masih
hidup, sekali lagi setelah jadi mayat. Jumlahnya? Rupanya sekarang
'zaman serba'. Bila pemerintah menjual obat dengan harga serba Rp
1.000, untuk meniru toko serba Rp 5.000, korupsi di RSUP Sanglah
pun meniru isu suap proyek Tower, yakni serba Rp 2,3 milyar.
Akibatnya, kita serba susah!" komentar Lonjong.
* aridus