Pendidikan Formal tak Beri Harapan,
Sekolah-Rumah Hadir Jadi Alternatif
BELAKANGAN
ini, di dunia pendidikan dikenal ada istilah sekolah-rumah
(homeschooling). Banyak peserta didik menempuh model
sekolah-sekolah terutama di kota-kota besar seperti di Jakarta dan
Surabaya. Komunitas homeschooling Kak Seto adalah salah satunya di
Jakarta. Tak kalah, artis Dewi Hughes juga meluncurkan model
sekolah-rumah. Mengapa ada sekolah-rumah?
---------
Jawabannya beragam. Di antaranya, anak tidak
kerasan belajar di sekolah konvensional atau formal akibat ada
intimidasi oleh teman atau gurunya. Sekolah formal tidak lagi
memberikan pendidikan seperti yang diharapkan keluarga.
Kesungguhan guru dalam memberi pendidikan diragukan. Sekolah
dianggap sebagai "penjara" bagi anak yang punya kemampuan lebih
sebab ia harus menunggu waktu untuk naik kelas. Atau, lebih
mendasar lagi, sekolah konvensional tidak lagi "memanusiakan
manusia".
Sekolah-rumah
sesungguhnya bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan jika
dipertentangkan dengan sekolah konvensional atau sekolah formal --
sekolah yang lazim kita kenal. Memang, salah satu sumber
menyebutkan bahwa di Amerika Serikat sudah ada sebelum abad ke-18
(Loy Kho, 2007). Namun, kalau sekolah-rumah itu dipahami sebagai
pembelajaran yang tidak langsung dibimbing oleh guru, sebenarnya
jauh sebelum itu sudah ada konsep sekolah-rumah.
Orang yang suka menonton wayang Mahabharata,
misalnya, mungkin teringat kisah Ekalaya. Kisah ini ada kemiripan
dengan model belajar pendidikan yang tidak langsung dibimbing oleh
guru. Dikisahkan, Ekalaya ditolak menjadi murid "sekolah
konvensional" di negeri Astina yang dibina oleh guru Drona.
Akhirnya, Ekalaya belajar secara mandiri dan hasilnya lebih baik
daripada kemampuan Arjuna -- siswa yang diajar secara langsung
oleh guru. Dalam konteks ini, motivasi belajar sangat mempengaruhi
hasil belajar.
Kini, dengan makin maraknya tindak kekerasan dan
intimidasi di sekolah formal, makin mendorong peserta didik enggan
belajar di sekolah konvensional. Sejumlah kasus patut dijadikan
bahan pemikiran, selain kasus kekerasan IPDN, misalnya. Bahkan,
anak SD pun ada yang meninggal karena dikeroyok oleh temannya.
Ada juga anak yang tidak mau sekolah lagi padahal
baru di kelas I SD. Katanya, guru di SD itu tak sanggup lagi
membina anak itu karena nakal. Sayang, orangtua si anak hanya
seorang penggali batu padas. Ia tidak bisa menempuh jalan
sekolah-rumah. Si anak dibiarkan begitu saja keluyuran tanpa
mendapat pendidikan. Kalau saja ada sanksi hukum jika anak tidak
memperoleh pendidikan dasar sembilan tahun, si orangtua sudah
pasti kena.
Intimidasi di sekolah tidak selamanya berupa
ancaman fisik, bisa juga ancaman mental. Intimidasi bisa terjadi
sesama siswa, bahkan guru. Ancaman dari siswa waktunya temporer,
misalnya soal rebutan pacar, salah paham. Beda dengan guru,
intimindasinya lebih permanen.
Tidak sedikit anak enggan mengikuti mata pelajaran
tertentu karena merasa terancam, selalu disudutkan oleh guru yang
bersangkutan. Salah sedikit disuruh berdiri di depan kelas
beberapa puluh menit, juga kata-kata guru kurang mengenakkan.
Selain itu, intimidasi guru BK (Bimbingan dan Konseling) juga ada.
Tak sedikit anak yang tidak mau berkonsultasi dengan guru BK
karena kurang mendapatkan pemecahan, malah yang didapat
"semprotan". Beberapa kesalahan siswa malah diungkit-ungkit.
Tak Dapat Apa
Orangtua menyekolahkan anaknya di sekolah
konvensional tentunya berharap agar anaknya memiliki kecerdasan,
akhlak yang baik, selain menguasai ilmu untuk bekal hidup. Namun,
apa yang terjadi?
Sejumlah orangtua merasakan tidak mendapatkan apa
yang diharapkan itu. Baginya, anak lebih banyak menghabiskan
waktunya dengan memperoleh sesuatu yang kurang berguna. Yang
didapat hanya sejumlah beban hapalan yang tidak banyak manfaatnya,
mestinya si anak bisa menggali potensi dirinya. Waktu lebih banyak
dihabiskan untuk menghapal yang tidak banyak manfaatnya. Maka,
potensi yang dimiliki anak tidak digarap dengan baik oleh pihak
sekolah. Pertimbangan-pertimbangan inilah yang membuat orangtua
mencari alternatif berupa sekolah-rumah seperti yang digagas oleh
Kak Seto.
Kalau sekolah dirasakan sebagai penjara, pastilah
ada benarnya. Cobalah perhatikan! Jika ada pengumuman dari pihak
sekolah, "Pada jam ke-5 dan seterusnya anak belajar di rumah
karena guru akan rapat", maka reaksi siswa pastilah umumnya
senang, seolah lepas dari "penjara". Kalau demikian, pihak sekolah
maupun pemerintah tentulah harus mencari upaya agar sekolah tidak
dirasakan sebagai "penjara" oleh peserta didik.
Wajarlah di akhir masa belajar, begitu diumumkan
lulus, para siswa malah mengecat baju seragamnya, bahkan
merobeknya sebagai tanda "lepas penjara". Mestinya, anak merasa
bangga dengan atribut siswanya. Bisakah sekolah dibuat agar
menjadi tempat yang didambakan oleh sebagian besar peserta didik
untuk menggali potensi yang ada pada dirinya?
Seorang teman, guru matematika, bercerita bahwa
anaknya yang masih kelas I SD ternyata memiliki kemampuan yang
lebih dalam metematika. Jangankan soal matematika kelas I, soal
matematika kelas II pun dapat diselesaikannya dengan baik. Menurut
cerita teman itu, si anak bosan belajar matematika di kelas.
Dengan demikian, anak yang cerdas juga menganggap sekolah sebagai
"penjara".
Jika guru tidak menelusuri kondisi anak kasus demi
kasus, tentulah anak yang punya kemampuan lebih bisa berakibat
kurang baik di dalam kelas. Anak yang memiliki kemampuan lebih,
apalagi yang luar biasa, tentu suasana belajar di dalam kelas
dianggap buang-buang waktu saja.
Dianggap
Robot
Dengan sistem pelulusan yang sentralistik, peserta
didik dianggap robot saja. Tidak ada kompromi dengan si anak untuk
tidak melaksanakan perintah sekolah demi ujian akhir nasional. Mau
tidak mau si anak harus ikut les demi ujian akhir nasional. Kalau
kebetulan ia lelah fisik maupun pikiran, kelelahan itu tidak dapat
dijadikan alasan untuk tidak ikut les di sekolah. Jika tidak ikut
les, sanksi dari pihak guru atau sekolah sudah menunggunya.
Sekolah berbuat demikian tentu punya alasan karena
mutu sekolah ada pada hasil ujian akhir nasional. Akhirnya,
sekolah menjejali anak dengan materi ujian sebanyak-banyaknya.
Pelajaran yang lain dibiarkan, dianggap kurang penting walaupun
anak menyukainya. Melihat kondisi seperti ini boleh dikatakan
pendidikan kita bukan "memanusiakan manusia", melainkan
"menjadikan manusia seperti robot".
Begitulah di antaranya kondisi sekolah konvensional
sehingga sejumlah anak maupun orangtua mengambil alternatif
sekolah-rumah. Walau sekolah-rumah diakui eksistensinya oleh
Depdiknas, sekolah konvensional (sekolah publik) tetap menjadi
pilihan utama sampai kapan pun. Yang perlu mendapat perhatian
adalah, dapatkah sekolah-rumah itu menjadi "teman" sekolah
konvensional, bukan "jalan lain" manakala sekolah konvensional
tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Jadi, penanganan sekolah konvensional dengan baik
bukan untuk mencegah orang mengadakan sekolah-rumah, melainkan
untuk mengembangkan sumber daya manusia, menggali potensi yang ada
pada anak, dan yang lebih penting mampu "memanusiakan manusia".
* i gusti
ketut tribana,
guru SMA di Denpasar