Kisah Mahasiswa Indonesia di Cina pada Tahun
1960-an
Judul
: Dunia Kampus yang Lain
Pengarang
: Arthanegara
Penerbit
: Panakom, 2007, 224 hlm.
Kata Pengantar
: Nh Dini
-----
NOVEL
pendek ini berkisah tentang pengalaman mahasiswa Indonesia yang
tugas belajar di negeri komunis Cina yang terpaksa pulang lebih
cepat karena insiden G-30-S/PKI tahun 1965. Pada zaman Bung Karno,
hubungan Indonesia-Cina lagi akur. Banyak mahasiswa Indonesia
dikirim studi ke Cina. Peking jadi kota internasional karena di
sana banyak mahasiswa luar negeri seperti dari Jepang, Thailand,
Perancis, dan Aljazair.
Lewat tokoh Aku, novel ini mengisahkan suka-duka
mahasiswa Indonesia belajar di Cina. Pendidikan ala Cina
dilukiskan sangat ketat, disiplin tinggi, dan segalanya diatur
lewat bel. Ada bel bangun pagi, bel cuci muka, bel makan, dan
bel-bel lain sepanjang hari. Walaupun merasa tertekan, para
mahasiswa Indonesia dilukiskan dengan cepat bisa berbahasa dan
menulis huruf Cina.
Kisah pendidikan ala Cina yang ketat itu,
dikisahkan dengan penuh humor, romantika cinta, dan spirit
nasionalisme. Humor-humor terjadi karena mahasiswa Indonesia
selalu punya akal untuk menghindar dari kegiatan yang tidak
disukainya misalnya menonton film di kampus setiap minggu yang
filmnya penuh dengan propaganda kebesaran Cina. Sakit perut, tidak
punya baju baru, harus ke Kedutaan Indonesia, adalah contoh yang
dipakai dalih untuk mengolok lao-shi (dosen/guru) agar dapat bebas
dari belajar.
Romantika cinta para mahasiswa menjadi satu bagian
yang memikat dalam novel ini. Dilukiskanlah bagaimana tokoh Aku
berpacaran dengan mahasiswa Jepang dan Thailand. Waktu untuk
kuliah pun banyak dicuri-curi untuk bisa berpacaran dengan alasan
yang dibuat-buat. Percintaan ini dijadikan bumbu penyedap untuk
menuturkan kisah politik.
Alur besar novel ini memang linier. Kisah dimulai
saat mahasiswa berangkat ke Peking dan diakhiri saat mereka pulang
dari Peking. Alur linier ini menjadi menarik karena di dalamnya
ada kisah sorot balik misalnya saat melukiskan percintaan. Ketika
tokoh Aku berpacaran dengan Siriornch, mahasiswi Thailand, adegan
sorot balik dilakukan untuk menjelaskan masa lalu cewek ini
sebelum datang ke Cina. Sorot balik membuat struktur cerita
makilit atau terjalin baik.
Walaupun ada percintaan serta olok-olok jenaka,
inti dari novel terletak pada semangat nasionalisme mahasiswa
Indonesia ketika hubungan dengan Cina mulai menegang. Hampir dua
pertiga dari novel ini berkisah tentang dampak insiden G-30-S/PKI
terhadap kehidupan mahasiswa yang cinta Tanah Air. Mereka harus
pintar membawa diri di sekitar kampus dan ketika berhubungan
dengan Kedutaan yang para diplomatnya berbeda posisi dalam
memandang kudeta. Mahasiswa pun terbelah, ada yang pro-Cina dan
pro-Indonesia alias cinta Tanah Air.
Mahasiswa yang cinta Tanah Air sempat disudutkan
oleh pimpinan kampus dalam suatu demo. Katanya, "Kita berkumpul
sekarang adalah untuk mengganyang orang-orang Indonesia yang anti
pada sosialisme. Mereka dengan sewenang-wenang telah menghancurkan
komunisme di Indonesia. Kita ganyang antek-antek rezim fasis dan
kaum revisionis ini" (hlm. 205). Dalam situasi tegang pun lukisan
percintaan tetap diteruskan sehingga novel menjadi kisah yang
multidimensional, hidup, wajar, dan alamiah.
Walau diteror, mahasiswa cinta Tanah Air tidak
gentar, mereka tetap bangga menjadi orang Indonesia. Walau melihat
banyak orang keturunan dari Indonesia hijrah ke Cina pascakudeta,
para mahasiswa tetap ingin kembali ke Tanah Air. Novel berakhir
ketika mahasiswa diselundupkan pagi-pagi benar ke airport. Tak
dilukiskan sampai mereka tiba di Indonesia. Bagian dari kalimat
terakhir dari novel adalah, "Kami bersyukur karena rupanya tidak
sia-sia kami mendapat latihan militer sebelum meninggalkan Tanah
Air".
Belum
Dikenal
Novel ini lahir dari tangan penulis yang belum
banyak dikenal sebagai penulis. Dia adalah I Gusti Bagus
Arthanegara (63), tokoh yang banyak bergerak di bidang pendidikan
sampai pensiun sebagai pegawai negeri di Kanwil Depdiknas Bali.
Ketika muda, Arthanegara mendapat kesempatan belajar ke Cina.
Makanya, tokoh Aku dalam novel ini identik dengan pengarangnya
sendiri.
Sebelum dikirim ke Peking, Arthanegara menggemari
dunia sastra. Dia menulis puisi, cerpen, antara lain diterbitkan
di Suluh Marhaen (sekarang Bali Post). Dia aktif dalam apresiasi
sastra bersama seniman muda waktu itu seperti Made Sukada, Paulus
Yos Adi Riyadi, dan Raka Santeri. Puisinya dimuat dalam buku
antologi pertama puisi penyair Bali, berjudul "Penyair Bali"
(Himpi, 1969). Dalam antologi ini, dimuat sajaknya tentang
pengalamannya di Peking.
Walaupun Arthanegara sudah menekuni dunia sastra
sejak lama, kehadiran novel "Dunia Kampus yang Lain" ini tetap
mengejutkan karena diam-diam dia terus mengasah pena. Struktur
naratif novelnya pantas diacungi jempol! Tepatlah kalau novelis
sekaliber Nh Dini dalam "kata pengantar" novel ini memuji
"kelancaran bercerita" Arthanegara. Tampil dengan bahasa yang
jernih dan mengalir, novel ini layak dibaca pelajar, mahasiswa,
dan penggemar sastra.
Selain pada kelancaran cerita, pujian juga layak
dialamatkan ke isi cerita karena dapat memberikan pembacanya
dimensi lain dari peristiwa politik pertengahan tahun 1960-an,
terutama dari sudut mahasiswa yang saat itu berada di Cina. Novel
ini kaya akan respons fiksional terhadap situasi politik di Cina
pasca-G-30-S/PKI.
* darma
putra,
Brisbane (Australia)