Penderita AIDS Melahirkan di RS Sanglah--
Bisakah Bayi Itu Diselamatkan?
BARU-BARU
ini ada seorang narapidana (napi) yang terjangkit virus HIV yang
dirawat di RS Sanglah. Selain itu juga ada ibu berstatus ODHA
(Orang Dengan HIV/AIDS) melahirkan bayi yang diduga terpapar HIV.
Berdasarkan informasi yang didapatkan Bali Post,
ibu yang berinisial ST ini melahirkan anak perempuan. Ketika
dijenguk di tempatnya dirawat, ST tampak sendirian tanpa ada yang
menemani. Kondisinya masih terlihat sehat. Menurut petugas, selama
di RS, ST hanya ditemani oleh temannya.
Secara umum, menurut dr. Ketut Dewi Kumara Wati,
Sp.A. dari Divisi Alergi Imunology RS Sanglah, Sabtu (19/5)
kemarin, bayi yang terpapar HIV biasanya mempunyai ayah dan ibu
yang positif HIV. ''Secara umum orangtuanya positif HIV. Namun
dalam hal ini banyak faktor risikonya, apakah sang suami suka
''jajan'' di luar, mendapatkan penyakit ini kemudian menularkan
kepada istrinya lewat hubungan seksual atau memang ibunya seorang
drug user,'' jelasnya.
Ternyata dengan penanganan yang benar, bayi yang
dilahirkan ibu dengan HIV bisa lahir normal tanpa terjangkit
penyakit ini. Jika ditangani sesuai dengan manajemen, kemungkinan
bayi terkena HIV dari sang ibu dapat ditekan dari 60% menjadi 2%.
Di RS Sanglah sendiri sudah ada tiga kasus bayi dengan ibu HIV
melahirkan bayi normal tanpa terjangkit penyakit ini.
Ada empat penanganan utama bayi dengan ibu positif
HIV, yaitu pemberian obat pada ibu selama hamil untuk mencegah
penularan pada bayi yang dikandungnya, cara persalinan yang
dibantu lewat sectio, tidak memberikan ASI kepada bayi dan
memberikan obat kepada bayi selama seminggu setelah kelahirannya.
Karena ASI ibu mengandung virus, maka bayi dianjurkan hanya diberi
susu formula. Bayi sendiri juga diberi obat selama seminggu agar
tidak terkena infeksi. Bayi biasanya dapat dites terpapar HIV atau
tidak dari sang ibu saat umurnya 18 bulan.
Capai 4.000
Orang
Menurut Kasubdin P2M dan PL Dinas Kesehatan
Propinsi Bali dr. Ketut Subrata, di Bali sendiri penderita HIV di
tahun 2007 diramalkan mencapai 4.000 orang. Berdasarkan data yang
didapatkan dari Dinkes Propinsi Bali, penularan HIV/AIDS terbanyak
terjadi melalui hubungan heteroseksual, yaitu sekitar 618 kasus,
IDU (pengguna narkoba suntik) sekitar 548 kasus, homoseksual (104
kasus), parinatal (dari ibu ke bayi) sekitar 11 kasus dan tidak
diketahui sekitar 87 kasus. Dari data dapat dilihat bahwa hubungan
seksual normal (heteroseksual) adalah yang paling tinggi dalam hal
penularan HIV/AIDS di Bali.
Menurut Subrata, trend penularan melalui penggunaan
jarum suntik juga cenderung meningkat. ''Biasanya seseorang yang
tertular HIV dari penggunaan narkoba suntik menularkan ke
keluarganya lewat hubungan seksual,'' jelas Subrata.
Gaya Hidup
Gaya hidup dan pergaulan bebas menjadi salah satu
penyebab meningkatnya penyakit ini di masyarakat. Hasil riset
Evaluasi Pengetahuan Seks dan Kesehatan Reproduksi Remaja di
sembilan kabupaten/kota di Bali hasil kerja sama BKKBN Propinsi
Bali dan KKS FE Unud menyatakan, 15,5% remaja merasa hubungan seks
pranikah itu biasa saja. Hasil riset itu melibatkan 1.168
responden itu berarti sekitar 181 remaja di Bali menganggap
hubungan seks pranikah boleh dilakukan. Sementara sekitar 13,1%
remaja Bali atau 153 remaja dari 1.168 responden menyatakan
hubungan seks pranikah boleh dilakukan asal nanti menikah.
Menurut S.A. Suryani, AMK, salah seorang konselor
di VCT RS Sanglah, ada empat syarat penularan HIV yang perlu
diketahui masyarakat. Jika salah satu tidak memenuhi, virus HIV
dari penderita tidak berpotensi untuk menular ke orang lain.
Empat syarat itu adalah exit atau adanya virus yang
keluar dari tubuh penderita. Survive atau seberapa kekuatan dan
daya tahan virus. Sufficient adalah jumlah virus apakah cukup
untuk menularkan dan enter yaitu apakah ada pintu masuk untuk
virus ke dalam tubuh.
Sementara medium penularan virus HIV adalah lewat
darah, cairan semen, cairan vagina dan ASI. ''Jadi selama tidak
ada luka atau lesi, virus HIV tidak akan menular jika kita
bersentuhan dengan penderita HIV,'' ujarnya.
Hingga Februari 2007, sudah sekitar 100 orang
meninggal akibat penyakit ini. Sementara berdasarkan data dari VCT
RS Sanglah, angka kematian dari tahun 2005-2006 cenderung
meningkat. Pada tahun 2005 pasien HIV/AIDS yang dirawat di VCT RS
Sanglah berjumlah 195 orang di mana 33 orang meninggal. Sementara
pada tahun 2006, pasien HIV/AIDS yang dirawat berjumlah 219 orang,
di mana 43 orang meninggal dunia. (san)