kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 20 Mei 2007 tarukan valas
 

BERITA


Penderita AIDS Melahirkan di RS Sanglah--
Bisakah Bayi Itu Diselamatkan?

BARU-BARU ini ada seorang narapidana (napi) yang terjangkit virus HIV yang dirawat di RS Sanglah. Selain itu juga ada ibu berstatus ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) melahirkan bayi yang diduga terpapar HIV.

Berdasarkan informasi yang didapatkan Bali Post, ibu yang berinisial ST ini melahirkan anak perempuan. Ketika dijenguk di tempatnya dirawat, ST tampak sendirian tanpa ada yang menemani. Kondisinya masih terlihat sehat. Menurut petugas, selama di RS, ST hanya ditemani oleh temannya.

Secara umum, menurut dr. Ketut Dewi Kumara Wati, Sp.A. dari Divisi Alergi Imunology RS Sanglah, Sabtu (19/5) kemarin, bayi yang terpapar HIV biasanya mempunyai ayah dan ibu yang positif HIV. ''Secara umum orangtuanya positif HIV. Namun dalam hal ini banyak faktor risikonya, apakah sang suami suka ''jajan'' di luar, mendapatkan penyakit ini kemudian menularkan kepada istrinya lewat hubungan seksual atau memang ibunya seorang drug user,'' jelasnya.

Ternyata dengan penanganan yang benar, bayi yang dilahirkan ibu dengan HIV bisa lahir normal tanpa terjangkit penyakit ini. Jika ditangani sesuai dengan manajemen, kemungkinan bayi terkena HIV dari sang ibu dapat ditekan dari 60% menjadi 2%. Di RS Sanglah sendiri sudah ada tiga kasus bayi dengan ibu HIV melahirkan bayi normal tanpa terjangkit penyakit ini.

Ada empat penanganan utama bayi dengan ibu positif HIV, yaitu pemberian obat pada ibu selama hamil untuk mencegah penularan pada bayi yang dikandungnya, cara persalinan yang dibantu lewat sectio, tidak memberikan ASI kepada bayi dan memberikan obat kepada bayi selama seminggu setelah kelahirannya. Karena ASI ibu mengandung virus, maka bayi dianjurkan hanya diberi susu formula. Bayi sendiri juga diberi obat selama seminggu agar tidak terkena infeksi. Bayi biasanya dapat dites terpapar HIV atau tidak dari sang ibu saat umurnya 18 bulan.

 

Capai 4.000 Orang

Menurut Kasubdin P2M dan PL Dinas Kesehatan Propinsi Bali dr. Ketut Subrata, di Bali sendiri penderita HIV di tahun 2007 diramalkan mencapai 4.000 orang. Berdasarkan data yang didapatkan dari Dinkes Propinsi Bali, penularan HIV/AIDS terbanyak terjadi melalui hubungan heteroseksual, yaitu sekitar 618 kasus, IDU (pengguna narkoba suntik) sekitar 548 kasus, homoseksual (104 kasus), parinatal (dari ibu ke bayi) sekitar 11 kasus dan tidak diketahui sekitar 87 kasus. Dari data dapat dilihat bahwa hubungan seksual normal (heteroseksual) adalah yang paling tinggi dalam hal penularan HIV/AIDS di Bali.

Menurut Subrata, trend penularan melalui penggunaan jarum suntik juga cenderung meningkat. ''Biasanya seseorang yang tertular HIV dari penggunaan narkoba suntik menularkan ke keluarganya lewat hubungan seksual,'' jelas Subrata.

 

Gaya Hidup

Gaya hidup dan pergaulan bebas menjadi salah satu penyebab meningkatnya penyakit ini di masyarakat. Hasil riset Evaluasi Pengetahuan Seks dan Kesehatan Reproduksi Remaja di sembilan kabupaten/kota di Bali hasil kerja sama BKKBN Propinsi Bali dan KKS FE Unud menyatakan, 15,5% remaja merasa hubungan seks pranikah itu biasa saja. Hasil riset itu melibatkan 1.168 responden itu berarti sekitar 181 remaja di Bali menganggap hubungan seks pranikah boleh dilakukan. Sementara sekitar 13,1% remaja Bali atau 153 remaja dari 1.168 responden menyatakan hubungan seks pranikah boleh dilakukan asal nanti menikah.

Menurut S.A. Suryani, AMK, salah seorang konselor di VCT RS Sanglah, ada empat syarat penularan HIV yang perlu diketahui masyarakat. Jika salah satu tidak memenuhi, virus HIV dari penderita tidak berpotensi untuk menular ke orang lain.

Empat syarat itu adalah exit atau adanya virus yang keluar dari tubuh penderita. Survive atau seberapa kekuatan dan daya tahan virus. Sufficient adalah jumlah virus apakah cukup untuk menularkan dan enter yaitu apakah ada pintu masuk untuk virus ke dalam tubuh.

Sementara medium penularan virus HIV adalah lewat darah, cairan semen, cairan vagina dan ASI. ''Jadi selama tidak ada luka atau lesi, virus HIV tidak akan menular jika kita bersentuhan dengan penderita HIV,'' ujarnya.

Hingga Februari 2007, sudah sekitar 100 orang meninggal akibat penyakit ini. Sementara berdasarkan data dari VCT RS Sanglah, angka kematian dari tahun 2005-2006 cenderung meningkat. Pada tahun 2005 pasien HIV/AIDS yang dirawat di VCT RS Sanglah berjumlah 195 orang di mana 33 orang meninggal. Sementara pada tahun 2006, pasien HIV/AIDS yang dirawat berjumlah 219 orang, di mana 43 orang meninggal dunia. (san)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com