Gelombang Pasang masih Berlanjut---
Ombak di Gianyar Capai Lima Meter
Gianyar
(Bali Post) -
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mendeteksi gelombang pasang
tinggi yang terjadi di pantai sebelah barat Sumatera sampai pantai
selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, kemungkinan masih terus
berlanjut hingga tanggal 21 - 25 Mei mendatang. Bahkan, BMG
mensinyalir gelombang pasang tinggi akan terjadi lagi pada bulan
Juni mendatang.
Gelombang laut di Gianyar kembali naik Sabtu (19/5)
kemarin. Kenaikannya ini jauh lebih besar dibandingkan dengan
Jumat (18/5) lalu. Bahkan, hingga hari kemarin ketinggian ombak
mencapai 5 meter. Kenaikan ombak ini berakibat terhadap naiknya
air laut hingga mencapai areal parkir.
Peristiwa naiknya ombak tersebut membuat sejumlah
pejabat turun ke lapangan. Kepala Kesbanglinmas IB Nyoman Rai,
S.H. dan Kepala UPTD Satpol PP berada di lokasi memantau
situasi. Dandim 1616 Gianyar Letnan Kolonel Inf. Andrian Ponto,
S.H. didampingi Danramil Kota Gianyar Kapten Inf. Hari Subambang
juga nampak hadir di pantai Lebih memantau situasi air laut di
pesisir pantai Lebih.
Perbekel Desa Lebih A.A. Wira mengatakan gelombang
pasang di pantai Lebih sudah terjadi sejak Jumat (18/5) dan masih
berlangsung hingga Sabtu kemarin. Ombak besar mulai terjadi
sekitar pukul 10.00. Menurutnya, ombak besar kali ini hingga
mencapai 5 meter, sehingga kondisi pantai yang abrasi makin parah.
Kepala Bagian Informasi BMG Ahmad Zakir di Jakarta,
Sabtu kemarin mengatakan, nelayan di wilayah perairan itu
hendaknya tidak turun melaut dulu dan tidak beraktivitas sampai
kondisi benar-benar normal. Mengingat cuaca yang terjadi saat ini
memang tidak lazim karena terjadi pergeseran musim. Karena itu,
para nelayan, masyarakat maupun wisatawan yang berwisata di pantai
diminta waspada dan mencermati setiap perubahan cuaca.
Hasil pantauan BMG, lanjut Zakir, naiknya gelombang
pasang tinggi yang menerjang 11 propinsi sepanjang Kamis, Jumat
dan Sabtu ini bukan disebabkan oleh kencangnya angin di Laut Jawa,
tetapi disebabkan akumulasi tiupan angin di pantai dengan
kecepatan 30 knot dari wilayah Samudera Hindia.
Sementara itu, BMG Maritim Tanjung Priok Jakarta
Sugarin menambahkan, hanya gelombangnya yang sampai di Indonesia,
sedangkan kekuatan angin tidak begitu besar. Gelombang ini bisa
mencapai ketinggian terendah 5 meter. Artinya, gelombang ini bisa
lebih tinggi.
Gelombang itu akibat adanya alun atau gelombang
kiriman dari tempat lain. ''Pantai selatan Jawa hingga ke pantai
sebelah barat Sumatera gelombangnya cukup tinggi akibat adanya
alun atau swell,'' tandasnya.
Peneliti iklim dan cuaca dari Pusat Penelitian
Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wahyoe S
Hantoro menambahkan, tingginya gelombang laut dan angin kencang
yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia karena perbedaan
tekanan udara antara kawasan Australia dan Indonesia. Suhu air
laut di Indonesia saat ini sedang hangat, sedangkan di Australia
dalam kondisi dingin. Kondisi ini akan menimbulkan tekanan udara
yang berbeda, di mana tekanan udara di Australia lebih tinggi dari
Indonesia. ''Akibatnya, angin kencang melanda daerah-daerah di
Indonesia, terutama wilayah selatan,'' sambungnya.
Di Jakarta, sekitar 2.000 rumah nelayan di Muara
Angke, Jakarta Utara, Sabtu kemarin terendam air laut yang naik
bersama gelombang pasang. Air naik pada saat warga lelap tidur.
Sejumlah fasilitas umum, seperti tempat ibadah, puskesmas dan
sekolah juga ikut terendam. Luapan air laut mencapai satu hingga
dua meter.
Fenomena semacam ini pernah terjadi tahun 1992 dan
tahun 2002. Namun, banjir saat itu tidak separah sekarang. Saat
ini, air laut meluap ke darat hingga jarak 500 meter dari tepi
laut. Saat ini luapan air laut memang mulai surut. Namun, luapan
air tak urung membuat penduduk yang rumahnya tergenang terpaksa
mengungsi ke rumah-rumah warga yang tidak tergenang atau di
pos-pos siskamling. Jumlah pengungsi mencapai ratusan orang dan
tidak ada korban jiwa dalam bencana ini.
Kembali
Normal
Sementara itu, aktivitas warga di pesisir pantai
Kedonganan kembali normal, Sabtu kemarin. Tinggi gelombang laut
sudah tidak seperti sehari sebelumnya. Kemarin tinggi gelombang
diperkirakan kurang dari dua meter. Para nelayan di pantai ini
sudah mulai beraktivitas. Demikian juga aktivitas di pasar ikan
tampak normal. Kegiatan di sejumlah kafe di pantai Kedonganan juga
sudah kembali seperti sediakala.
Lurah Kedonganan Made Widiana mengatakan, akibat
terjangan ombak besar Jumat (18/5), 21 jukung nelayan mengalami
kerusakan dan fondasi emperan sebuah kafe jebol. ''Kerusakan kafe
itu sudah diperbaiki,'' katanya.
Sementara aktivitas di pantai Kuta, kata Satgas
Pantai Kuta Made Mandra, sudah mulai normal sore kemarin. Siang
hari memang ombak masih cukup besar, tetapi tingginya di bawah dua
meter. Sore harinya air laut sudah mulai normal. Para pengunjung,
baik tamu lokal maupun turis mancanegara, kembali berdatangan ke
pantai Kuta.
Posisi
Bulan
Gelombang pasang ini disebabkan posisi astronomi
bumi, bulan dan matahari saat ini berada dalam matriks sejajar
sehingga menyebabkan daya tarik gelombang laut yang sangat kuat.
''Fenomena astronomi ini kebetulan bersamaan dengan terjadinya
gelombang Kelvin yang biasanya terjadi secara periodik setiap
30-90 hari,'' kata pakar meteorologi dari Unit Teknis Modifikasi
Cuaca BPPT Dr. Edvin Aldrian di Jakarta.
Sejajarnya bumi, bulan dan matahari, menurutnya,
hanya berlangsung dalam setengah hari yang puncaknya terjadi pada
Jumat (18/5) sore. Pada saat itu massa air di kawasan tersebut
bertambah dari Samudera Hindia.
Gelombang Kelvin itu sendiri, katanya, terkait
dengan perputaran bumi ke arah timur yang menimbulkan daya
menjalar gelombang laut dari tengah Samudera Hindia ke arah
Mentawai, terus menjalar ke arah timur dan selatan Jawa.
''Gelombang ini selalu menjalar ke timur ini wajar saja akibat
bentuk bumi dan terjadi secara periodik terkait peralihan musim.
Hanya, kali ini terjadi secara bersamaan dengan fenomena
astronomi. Padahal gejala pasang biasanya hanya disebabkan daya
tarik bulan ketika purnama,'' katanya.
Gelombang laut yang biasa menjalar tanpa hambatan
di sepanjang pesisir barat Sumatera dan selatan Jawa terlihat dari
terjalnya pesisir kawasan tersebut. Ia memperkirakan tingginya
gelombang pasang tidak akan lama dan hanya terjadi dalam beberapa
hari. Ia menegaskan bahwa peristiwa ini tak ada hubungannya dengan
badai karena saat ini memang tidak ada badai atau siklon di
lautan. (dar/034/08)