kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 20 Mei 2007 tarukan valas
 

BERITA


Gelombang Pasang masih Berlanjut---
Ombak di Gianyar Capai Lima Meter

Gianyar (Bali Post) -
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mendeteksi gelombang pasang tinggi yang terjadi di pantai sebelah barat Sumatera sampai pantai selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, kemungkinan masih terus berlanjut hingga tanggal 21 - 25 Mei mendatang. Bahkan, BMG mensinyalir gelombang pasang tinggi akan terjadi lagi pada bulan Juni mendatang.

Gelombang laut di Gianyar kembali naik Sabtu (19/5) kemarin. Kenaikannya ini jauh lebih besar dibandingkan dengan Jumat (18/5) lalu. Bahkan, hingga hari kemarin ketinggian ombak mencapai 5 meter. Kenaikan ombak ini berakibat terhadap naiknya air laut hingga mencapai areal parkir.

Peristiwa naiknya ombak tersebut membuat sejumlah pejabat turun ke lapangan. Kepala Kesbanglinmas IB Nyoman Rai, S.H. dan  Kepala UPTD Satpol PP berada di lokasi memantau situasi. Dandim 1616 Gianyar Letnan Kolonel Inf. Andrian Ponto, S.H. didampingi Danramil Kota Gianyar Kapten Inf. Hari Subambang juga nampak hadir di pantai Lebih memantau situasi air laut di pesisir pantai Lebih.

Perbekel Desa Lebih A.A. Wira mengatakan gelombang pasang di pantai Lebih sudah terjadi sejak Jumat (18/5) dan masih berlangsung hingga Sabtu kemarin. Ombak besar mulai terjadi sekitar pukul 10.00. Menurutnya, ombak besar kali ini hingga mencapai 5 meter, sehingga kondisi pantai yang abrasi makin parah.

Kepala Bagian Informasi BMG Ahmad Zakir di Jakarta, Sabtu kemarin mengatakan, nelayan di wilayah perairan itu hendaknya tidak turun melaut dulu dan tidak beraktivitas sampai kondisi benar-benar normal. Mengingat cuaca yang terjadi saat ini memang tidak lazim karena terjadi pergeseran musim. Karena itu, para nelayan, masyarakat maupun wisatawan yang berwisata di pantai diminta waspada dan mencermati setiap perubahan cuaca.

Hasil pantauan BMG, lanjut Zakir, naiknya gelombang pasang tinggi yang menerjang 11 propinsi sepanjang Kamis, Jumat dan Sabtu ini bukan disebabkan oleh kencangnya angin di Laut Jawa, tetapi disebabkan akumulasi tiupan angin di pantai dengan kecepatan 30 knot dari wilayah Samudera Hindia.

Sementara itu, BMG Maritim Tanjung Priok Jakarta Sugarin menambahkan, hanya gelombangnya yang sampai di Indonesia, sedangkan kekuatan angin tidak begitu besar. Gelombang ini bisa mencapai ketinggian terendah 5 meter. Artinya, gelombang ini bisa lebih tinggi.

Gelombang itu akibat adanya alun atau gelombang kiriman dari tempat lain. ''Pantai selatan Jawa hingga ke pantai sebelah barat Sumatera gelombangnya cukup tinggi akibat adanya alun atau swell,'' tandasnya.

Peneliti iklim dan cuaca dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wahyoe S Hantoro menambahkan, tingginya gelombang laut dan angin kencang yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia karena perbedaan tekanan udara antara kawasan Australia dan Indonesia. Suhu air laut di Indonesia saat ini sedang hangat, sedangkan di Australia dalam kondisi dingin. Kondisi ini akan menimbulkan tekanan udara yang berbeda, di mana tekanan udara di Australia lebih tinggi dari Indonesia. ''Akibatnya, angin kencang melanda daerah-daerah di Indonesia, terutama wilayah selatan,'' sambungnya.

Di Jakarta, sekitar 2.000 rumah nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu kemarin terendam air laut yang naik bersama gelombang pasang. Air naik pada saat warga lelap tidur. Sejumlah fasilitas umum, seperti tempat ibadah, puskesmas dan sekolah juga ikut terendam. Luapan air laut mencapai satu hingga dua meter.

Fenomena semacam ini pernah terjadi tahun 1992 dan tahun 2002. Namun, banjir saat itu tidak separah sekarang. Saat ini, air laut meluap ke darat hingga jarak 500 meter dari tepi laut. Saat ini luapan air laut memang mulai surut. Namun, luapan air tak urung membuat penduduk yang rumahnya tergenang terpaksa mengungsi ke rumah-rumah warga yang tidak tergenang atau di pos-pos siskamling. Jumlah pengungsi mencapai ratusan orang dan tidak ada korban jiwa dalam bencana ini.

 

Kembali Normal

Sementara itu, aktivitas warga di pesisir pantai Kedonganan kembali normal, Sabtu kemarin. Tinggi gelombang laut sudah tidak seperti sehari sebelumnya. Kemarin tinggi gelombang diperkirakan kurang dari dua meter. Para nelayan di pantai ini sudah mulai beraktivitas. Demikian juga aktivitas di pasar ikan tampak normal. Kegiatan di sejumlah kafe di pantai Kedonganan juga sudah kembali seperti sediakala.

Lurah Kedonganan Made Widiana mengatakan, akibat terjangan ombak besar Jumat (18/5), 21 jukung nelayan mengalami kerusakan dan fondasi emperan sebuah kafe jebol. ''Kerusakan kafe itu sudah diperbaiki,'' katanya.

Sementara aktivitas di pantai Kuta, kata Satgas Pantai Kuta Made Mandra, sudah mulai normal sore kemarin. Siang hari memang ombak masih cukup besar, tetapi tingginya di bawah dua meter. Sore harinya air laut sudah mulai normal. Para pengunjung, baik tamu lokal maupun turis mancanegara, kembali berdatangan ke pantai Kuta.

 

Posisi Bulan

Gelombang pasang ini disebabkan posisi astronomi bumi, bulan dan matahari saat ini berada dalam matriks sejajar sehingga menyebabkan daya tarik gelombang laut yang sangat kuat.   ''Fenomena astronomi ini kebetulan bersamaan dengan terjadinya gelombang Kelvin yang biasanya terjadi secara periodik setiap 30-90 hari,'' kata pakar meteorologi dari Unit Teknis Modifikasi Cuaca BPPT Dr. Edvin Aldrian di Jakarta.

Sejajarnya bumi, bulan dan matahari, menurutnya, hanya berlangsung dalam setengah hari yang puncaknya terjadi pada Jumat (18/5) sore. Pada saat itu massa air di kawasan tersebut bertambah dari Samudera Hindia.

Gelombang Kelvin itu sendiri, katanya, terkait dengan perputaran bumi ke arah timur yang menimbulkan daya menjalar gelombang laut dari tengah Samudera Hindia ke arah Mentawai, terus menjalar ke arah timur dan selatan Jawa. ''Gelombang ini selalu menjalar ke timur ini wajar saja akibat bentuk bumi dan terjadi secara periodik terkait peralihan musim. Hanya, kali ini terjadi secara bersamaan dengan fenomena astronomi. Padahal gejala pasang biasanya hanya disebabkan daya tarik bulan ketika purnama,'' katanya.

Gelombang laut yang biasa menjalar tanpa hambatan di sepanjang pesisir barat Sumatera dan selatan Jawa terlihat dari terjalnya pesisir kawasan tersebut. Ia memperkirakan tingginya gelombang pasang tidak akan lama dan hanya terjadi dalam beberapa hari. Ia menegaskan bahwa peristiwa ini tak ada hubungannya dengan badai karena saat ini memang tidak ada badai atau siklon di lautan. (dar/034/08)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com