kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Kliwon, 4 Maret 2007 tarukan valas
 

POTRET


Kesederhanaan
Anak Petani

NYOMAN Gunarsa adalah sosok manusia sederhana kelahiran Dusun Banda, Klungkung. Lahir sebagai anak petani, sebagaimana anak petani lainnya di desanya, Gunarsa sudah terbiasa ngarit atau menyabit rumput serta ngangon sampi atau mengembala sapi sejak belia. Ia juga membantu orangtuanya membajak di sawah, mengetam padi, tidur di gubuk sawah pada musim panen. Namun di balik pekerjaan petani itu terselip bakat dan semangat tinggi dalam angan-angannya ingin menjadi seniman atau sangging -- suatu sebutan untuk "seniman" di desanya.

Namun, ternyata Gunarsa bukan sembarang anak desa. Ia "berdarah biru" dari trah ksatria Dalem Anggungan, putra Dalem Tegal Besung, saudara Dalem Waturenggong -- Raja Bali yang termashur pada abad ke-15 itu. Menurut Gunarsa, hal ini bukan sekadar wacana dari mulut ke mulut cerita orangtua atau warganya, tapi ada bukti otentik dengan adanya tunggul berupa keris pajenengan lengkap dengan tombak, dan alat-alat pakaian perang yang hingga kini tersimpan di paibon-nya. Pungkusan yang disandangnya dengan panggilan I Nyoman, I Made, I Wayan atau I Ketut -- menurut Gunarsa -- adalah semata-mata karena alasan nyineb wangsa. Rupanya, spirit trah inilah yang juga sangat mempengaruhi karakter dan perjuangan Gunarsa dalam seni rupa kelak kemudian hari.

Sebagai anak desa yang sederhana, pada masa belianya, Gunarsa selalu mencorat-coret arang di dinding rumahnya yang menggambarkan tokoh-tokoh cerita pewayangan, cerita dongeng anak-anak, cerita raja-raja Daha, Kediri, Jenggala, yang diterimanya dari neneknya setiap menjelang tidur. Sejak kecil, ia juga suka mendalang dengan membuat wayang sendiri, atau membuat sekaa barong yang dikreasikannya sendiri.

Pengamatannya sejak kecil tentang lukisan klasik wayang yang terpampang di Pura Desa di desanya sangat melecut semangatnya untuk menjadi pelukis atau tukang gambar. Ketika sekolah di SMP Negeri Klungkung, pengamatannya seputar seni lukis klasik pewayangan yang terpampang di Kerta Gosa dan Taman Gili betul-betul merupakan waktu studinya yang sangat mendalam tentang seni lukis Bali. Di lain kesempatan, karena bersentuhan dengan para pelukis asing yang menetap di Bali seperti Le Mayeur di Sanur, Antonio Blanco, Bonnet, Arie Smit, dan Hans Snel di Ubud, mulailah Gunarsa memfokuskan cita-citanya untuk menjadi pelukis.

Setamat SMP di Klungkung, atas saran Kepala Sekolah, Made Sutama, Gunarsa diberikan dua alternatif, ke ASRI Yogya atau ITB Bandung. Akhirnya, Gunarsa memilih ke Yogya dengan masuk ke SMA seni rupa ASRI. Institusi tersebutlah yang mengantar anak petani Dusun Banda ini menjadi pelukis besar yang sering dijuluki pelukis "bertangan emas". (kmb/*)

 

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com