Kesederhanaan
Anak
Petani
NYOMAN
Gunarsa
adalah sosok
manusia
sederhana kelahiran
Dusun Banda,
Klungkung. Lahir
sebagai anak
petani,
sebagaimana anak
petani
lainnya di
desanya,
Gunarsa sudah
terbiasa
ngarit atau
menyabit
rumput serta
ngangon sampi
atau
mengembala sapi
sejak belia.
Ia juga
membantu
orangtuanya membajak
di sawah,
mengetam padi,
tidur di
gubuk sawah
pada musim
panen. Namun
di balik
pekerjaan
petani itu
terselip
bakat dan
semangat
tinggi dalam
angan-angannya
ingin menjadi
seniman atau
sangging --
suatu sebutan
untuk "seniman"
di desanya.
Namun,
ternyata
Gunarsa bukan
sembarang
anak desa.
Ia "berdarah
biru" dari
trah ksatria
Dalem
Anggungan, putra
Dalem Tegal
Besung,
saudara Dalem
Waturenggong -- Raja Bali yang
termashur
pada abad ke-15
itu. Menurut
Gunarsa, hal
ini bukan
sekadar
wacana dari
mulut ke
mulut cerita
orangtua atau
warganya,
tapi ada
bukti otentik
dengan adanya
tunggul
berupa keris
pajenengan
lengkap dengan
tombak, dan
alat-alat
pakaian perang yang
hingga kini
tersimpan di
paibon-nya.
Pungkusan yang disandangnya
dengan
panggilan I Nyoman, I Made,
I Wayan atau
I Ketut --
menurut Gunarsa --
adalah
semata-mata karena
alasan nyineb
wangsa.
Rupanya, spirit trah
inilah yang
juga sangat
mempengaruhi
karakter dan
perjuangan
Gunarsa dalam
seni rupa
kelak
kemudian hari.
Sebagai
anak desa
yang sederhana,
pada masa
belianya,
Gunarsa selalu
mencorat-coret
arang di
dinding
rumahnya yang menggambarkan
tokoh-tokoh
cerita pewayangan,
cerita
dongeng anak-anak,
cerita raja-raja
Daha, Kediri,
Jenggala, yang
diterimanya
dari neneknya
setiap
menjelang tidur.
Sejak kecil,
ia juga
suka
mendalang dengan
membuat
wayang sendiri,
atau membuat
sekaa barong yang
dikreasikannya
sendiri.
Pengamatannya
sejak kecil
tentang
lukisan klasik
wayang yang
terpampang di
Pura Desa
di desanya
sangat
melecut semangatnya
untuk menjadi
pelukis atau
tukang gambar.
Ketika
sekolah di SMP
Negeri
Klungkung, pengamatannya
seputar seni
lukis klasik
pewayangan yang
terpampang di
Kerta Gosa
dan Taman
Gili
betul-betul merupakan
waktu
studinya yang sangat
mendalam
tentang seni
lukis Bali.
Di lain kesempatan,
karena
bersentuhan dengan
para pelukis
asing yang
menetap di Bali
seperti Le
Mayeur di
Sanur, Antonio Blanco, Bonnet,
Arie Smit,
dan Hans Snel
di Ubud,
mulailah
Gunarsa memfokuskan
cita-citanya
untuk menjadi
pelukis.
Setamat
SMP di
Klungkung, atas saran
Kepala
Sekolah, Made Sutama,
Gunarsa
diberikan dua
alternatif,
ke ASRI Yogya
atau ITB
Bandung. Akhirnya,
Gunarsa
memilih ke
Yogya dengan
masuk ke
SMA seni rupa
ASRI. Institusi
tersebutlah yang
mengantar
anak petani
Dusun Banda
ini menjadi
pelukis besar
yang sering
dijuluki pelukis "bertangan
emas". (kmb/*)