kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Kliwon, 4 Maret 2007 tarukan valas
 

OPINI


Hipersemiotika Salju

SEMIOTIKA pada prinsipnya adalah sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta. (Umberto Eco)

-------------

 

Semiotika struktural dalam linguistik memang ilmu yang membahas tanda-tanda. Penanda yang lahir dalam pikiran manusia sebagai konsep ditujukan ke sesuatu petanda di luar tubuh dengan sebuah kata, lalu secara konvensional diakui seluruh komunitas bahasa sebagai nama petanda tersebut.

Mawar disebut mawar, bukan melulu karena baunya, namun karena memenuhi kriteria tertentu yang disepakati secara arbitrasi seluruh komunitas bahasa Indonesia untuk disebut "mawar". Mengejutkan bila adenium di Bali disebut "jepun Jepang" padahal di Jepang sendiri tidak pernah tumbuh pohon jepun.

Seorang pakar pertanian Universitas Udayana yang juga dosen terbang di beberapa perguruan tinggi Jepang, Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta hanya tersenyum simpul mendengar nama tanaman hias yang secara konvensional disebut "jepun Jepang" itu. Demikian pula sejenis buah yang sering dijadikan bahan sayur di Bali disebut "buah Jepang". Padahal keduanya, tegas Suprapta, adalah tanaman khas tropis yang tidak tumbuh di Jepang secara alamiah, kecuali direkayasa.

Diduga, lantaran bangsa Indonesia pernah dijajah Jepang, nama bangsa dan negara itu digunakan sebagai "penanda", meski masyarakat Jepang tidak tahu menahu soal itu. Bahkan kata jepun untuk frangipani atau kamboja pun, diperkirakan berasal dari bahasa Malaysia yang berarti "orang Jepang".

"Ini termasuk dusta, seperti definisi Umberto Eco tentang semiotika, meski dusta kecil-kecilan yang tidak meresahkan. Beda dengan iklan berbentuk baliho tentang turunnya salju di bulan Maret ini, yang konon membuat temperatur drop minus 20 derajat Celcius. Meskipun bertujuan merangsang hasrat konsumen, seharusnya iklan tidak terlalu membohongi publik yang dapat menimbulkan keresahan. Apalagi negeri ini sejak beberapa tahun terakhir seakan-akan berlangganan dengan musibah dan bencana. Iklan 'salju' itu, pinjam istilah Yasraf A. Piliang, adalah hipersemiotika yang memproduksi tanda melampaui realitas," tutur Rubag setelah membaca Tajuk Denpost edisi Rabu (28/2) lalu.

"Iklan adalah jantung kapitalisme global. Dari jantung ini dipompakan kata-kata, simbol, citra dan dusta ke seluruh tubuh masyarakat konsumen. Etika bisnis yang bermuara pada keuntungan sebanyak-banyaknya menafikan etika moral. Apalagi pendekatan produksi dalam kapitalisme tingkat lanjut seperti sekarang, sudah bergeser ke pendekatan konsumsi, yang mengubah industri kebutuhan menjadi industri hasrat. Dengan menjanjikan hal-hal yang mustahil terpenuhi, iklan menyihir kesadaran para konsumen untuk membeli segala produk yang ditawarkan. Aku khawatir, nanti akan ada perusahaan perjalanan yang menawarkan tamasya ke sorga, setelah perjalanan ke bulan," komentar Kudil.

"Kalau nama 'jepun Jepang' diduga lantaran bangsa ini pernah dijajah Dai Nippon, bisakah iklan 'salju' itu dipersepsi sebagai pengaruh penjajahan neoliberal kapitalisme? Setelah mobil, barang elektronik, jeans, kacamata, sampai minuman ringan dan keras diimpor atau ditiru dari negara-negara bermusim dingin, kini alam dan atmosfir Barat juga didatangkan. Padahal kemiskinan sedang mendera bangsa ini dari segala sektor, sehingga banyak warga bangsa yang tak mampu membeli beras berkualitas terburuk pun. Mengapa tidak dibikin program hujan beras berton-ton, bukan salju yang bikin kulit mengkerut?" tanya Kasna.

"Pas! Bila hujan beras berkarung-karung deras mengguyur, singkatan PKK sebagai Program Kesejahteraan Keluarga jadi tepat. Sebab, dalam Tajuk Denpost, iklan itu menurut Kabag Humas dan Protokol Setkab Badung, konon berasal dari PKK Pusat dan PKK Badung, yang bertujuan menampilkan salju pada 20 Maret mendatang. Bila itu benar meski sebatas iklan program rekreasi, di tengah-tengah era yang penuh plesetan ini, aku takutkan PKK akan diterjemahkan sebagai Program Keresahan Keluarga," ulas Putra.

"Memindahkan salju ke bumi tropis, tak ubahnya seperti sihir kontemporer dengan bantuan hi-tech. Umberto Eco menyebutnya sebagai 'Tamasya dalam Hiperealitas' karena fantasi benar-benar direproduksi. Aku tidak tahu, apakah ibu-ibu yang tergabung dalam PKK sudah terbius dengan budaya Disneyland, sehingga punya ide untuk menampilkan salju yang memerosotkan temperatur ke titik beku? Walt Disney adalah perusahaan tersebar di seluruh pelosok dunia, punya teknologi yang mampu memproduksi realitas melebihi yang bisa disajikan alam. Dia bisa membawa alam tropis ke dunia salju atau sebaliknya mengantarkan orang Bali memasuki dunia Peter Pan dan Putri Salju. Disneyland, kata Eco, benar-benar merupakan saripati ideologi konsumen, yang menciptakan ilusi untuk  menstimulasi hasrat konsumen dengan hiperealitas  ciptaannya," papar Rubag.

"Aneh, diberikan karunia untuk lahir dan besar di negeri tropis, yang justru digandrungi wisatawan bule yang melarikan diri dari hawa dingin, malah mendambakan salju. Kalau aku malah bersyukur lahir, besar dan selalu berdoa agar mati pun di Bali. Berduyun-duyunnya orang datang ke Bali sehingga pulau ini sarat beban, bukankah karena daerah ini punya daya tarik yang sulit diterangkan dengan kata-kata? Kalau cuma ingin lihat salju, cukup nonton film atau bila ingin rasakan dinginnya salju masuk saja ke kulkas. Boleh saja menyebutku ortodoks atau kuno, tapi batas ortodoksi dan modernitas saat ini kabur," tukas Cik Dul.

"Benar! Tak sedikit orang yang mengaku selalu berpikir ilmiah di ruang publik, namun kenyataannya rajin mengunjungi tempat-tempat keramat dan rumah dukun untuk mohon ajimat buat meningkatkan karier atau merebut posisi. Tak jarang yang mengaku profesional dalam menjalankan bisnis toh masih menggunakan 'penglaris' bahkan santet untuk memajukan usahanya. Juga ada selebritis yang berpenampilan jet set tetap menggunakan susuk buat menunjang popularitasnya. Itu menyebabkan nyaris semua sinetron di televisi memasukkan unsur-unsur mistis dan gaib dalam ceritanya. Malah acara penampakan dan pemburu hantu pun banyak penggemarnya. Jadi, jangan rendah diri bila disebut kuno, juga tidak perlu ge er kalau dikatakan modern," ujar Sudita.

"Bahkan, sinetron berjudul 'Kiamat Sudah Dekat' konon digandrungi beberapa petinggi negeri, sehingga para pemainnya diundang ke istana. Ini menandakan, tak hanya rakyat kecil yang kurang terdidik saja yang terjerat sihir hipersemiotika yang disebarkan film dan iklan untuk mewujudkan dunia hiperealitas, tapi juga pejabat yang notabene berpendidikan tinggi. Coba simak iklan rokok yang menampilkan petugas menyamar jadi semak-belukar ketika menjebak pelanggar rambu lalu-lintas. Apa benar ada petugas seperti itu? Juga lihat iklan salah satu produk minyak, apa benar 'kita untung, bangsa untung' setelah harga BBM dikatrol dua kali di tahun 2005? Tak perlu dijawab, mari siap-siap menyambut turunnya salju untuk merayakan hipersemiotika dan hiperealitas! Semoga hati dan otak kita tidak beku tertimpa es batu!" ajak Rubag sembari berlalu.

* aridus

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com