Hipersemiotika Salju
SEMIOTIKA pada prinsipnya adalah sebuah disiplin
yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
berdusta. (Umberto Eco)
-------------
Semiotika struktural dalam linguistik memang ilmu yang membahas
tanda-tanda. Penanda yang lahir dalam pikiran manusia sebagai
konsep ditujukan ke sesuatu petanda di luar tubuh dengan sebuah
kata, lalu secara konvensional diakui seluruh komunitas bahasa
sebagai nama petanda tersebut.
Mawar disebut mawar, bukan melulu karena baunya, namun karena
memenuhi kriteria tertentu yang disepakati secara arbitrasi
seluruh komunitas bahasa Indonesia untuk disebut "mawar".
Mengejutkan bila adenium di Bali disebut "jepun Jepang" padahal di
Jepang sendiri tidak pernah tumbuh pohon jepun.
Seorang pakar pertanian Universitas Udayana yang juga dosen
terbang di beberapa perguruan tinggi Jepang, Prof. Dr. Ir. Dewa
Ngurah Suprapta hanya tersenyum simpul mendengar nama tanaman hias
yang secara konvensional disebut "jepun Jepang" itu. Demikian pula
sejenis buah yang sering dijadikan bahan sayur di Bali disebut
"buah Jepang". Padahal keduanya, tegas Suprapta, adalah tanaman
khas tropis yang tidak tumbuh di Jepang secara alamiah, kecuali
direkayasa.
Diduga, lantaran bangsa Indonesia pernah dijajah Jepang, nama
bangsa dan negara itu digunakan sebagai "penanda", meski
masyarakat Jepang tidak tahu menahu soal itu. Bahkan kata jepun
untuk frangipani atau kamboja pun, diperkirakan berasal dari
bahasa Malaysia yang berarti "orang Jepang".
"Ini termasuk dusta, seperti definisi Umberto Eco tentang
semiotika, meski dusta kecil-kecilan yang tidak meresahkan. Beda
dengan iklan berbentuk baliho tentang turunnya salju di bulan
Maret ini, yang konon membuat temperatur drop minus 20 derajat
Celcius. Meskipun bertujuan merangsang hasrat konsumen, seharusnya
iklan tidak terlalu membohongi publik yang dapat menimbulkan
keresahan. Apalagi negeri ini sejak beberapa tahun terakhir
seakan-akan berlangganan dengan musibah dan bencana. Iklan 'salju'
itu, pinjam istilah Yasraf A. Piliang, adalah hipersemiotika yang
memproduksi tanda melampaui realitas," tutur Rubag setelah membaca
Tajuk Denpost edisi Rabu (28/2) lalu.
"Iklan adalah jantung kapitalisme global. Dari jantung ini
dipompakan kata-kata, simbol, citra dan dusta ke seluruh tubuh
masyarakat konsumen. Etika bisnis yang bermuara pada keuntungan
sebanyak-banyaknya menafikan etika moral. Apalagi pendekatan
produksi dalam kapitalisme tingkat lanjut seperti sekarang, sudah
bergeser ke pendekatan konsumsi, yang mengubah industri kebutuhan
menjadi industri hasrat. Dengan menjanjikan hal-hal yang mustahil
terpenuhi, iklan menyihir kesadaran para konsumen untuk membeli
segala produk yang ditawarkan. Aku khawatir, nanti akan ada
perusahaan perjalanan yang menawarkan tamasya ke sorga, setelah
perjalanan ke bulan," komentar Kudil.
"Kalau nama 'jepun Jepang' diduga lantaran bangsa ini pernah
dijajah Dai Nippon, bisakah iklan 'salju' itu dipersepsi sebagai
pengaruh penjajahan neoliberal kapitalisme? Setelah mobil, barang
elektronik, jeans, kacamata, sampai minuman ringan dan keras
diimpor atau ditiru dari negara-negara bermusim dingin, kini alam
dan atmosfir Barat juga didatangkan. Padahal kemiskinan sedang
mendera bangsa ini dari segala sektor, sehingga banyak warga
bangsa yang tak mampu membeli beras berkualitas terburuk pun.
Mengapa tidak dibikin program hujan beras berton-ton, bukan salju
yang bikin kulit mengkerut?" tanya Kasna.
"Pas! Bila hujan beras berkarung-karung deras mengguyur, singkatan
PKK sebagai Program Kesejahteraan Keluarga jadi tepat. Sebab,
dalam Tajuk Denpost, iklan itu menurut Kabag Humas dan Protokol
Setkab Badung, konon berasal dari PKK Pusat dan PKK Badung, yang
bertujuan menampilkan salju pada 20 Maret mendatang. Bila itu
benar meski sebatas iklan program rekreasi, di tengah-tengah era
yang penuh plesetan ini, aku takutkan PKK akan diterjemahkan
sebagai Program Keresahan Keluarga," ulas Putra.
"Memindahkan salju ke bumi tropis, tak ubahnya seperti sihir
kontemporer dengan bantuan hi-tech. Umberto Eco menyebutnya
sebagai 'Tamasya dalam Hiperealitas' karena fantasi benar-benar
direproduksi. Aku tidak tahu, apakah ibu-ibu yang tergabung dalam
PKK sudah terbius dengan budaya Disneyland, sehingga punya ide
untuk menampilkan salju yang memerosotkan temperatur ke titik
beku? Walt Disney adalah perusahaan tersebar di seluruh pelosok
dunia, punya teknologi yang mampu memproduksi realitas melebihi
yang bisa disajikan alam. Dia bisa membawa alam tropis ke dunia
salju atau sebaliknya mengantarkan orang Bali memasuki dunia Peter
Pan dan Putri Salju. Disneyland, kata Eco, benar-benar merupakan
saripati ideologi konsumen, yang menciptakan ilusi untuk
menstimulasi hasrat konsumen dengan hiperealitas
ciptaannya," papar Rubag.
"Aneh, diberikan karunia untuk lahir dan besar di negeri tropis,
yang justru digandrungi wisatawan bule yang melarikan diri dari
hawa dingin, malah mendambakan salju. Kalau aku malah bersyukur
lahir, besar dan selalu berdoa agar mati pun di Bali.
Berduyun-duyunnya orang datang ke Bali sehingga pulau ini sarat
beban, bukankah karena daerah ini punya daya tarik yang sulit
diterangkan dengan kata-kata? Kalau cuma ingin lihat salju, cukup
nonton film atau bila ingin rasakan dinginnya salju masuk saja ke
kulkas. Boleh saja menyebutku ortodoks atau kuno, tapi batas
ortodoksi dan modernitas saat ini kabur," tukas Cik Dul.
"Benar! Tak sedikit orang yang mengaku selalu berpikir ilmiah di
ruang publik, namun kenyataannya rajin mengunjungi tempat-tempat
keramat dan rumah dukun untuk mohon ajimat buat meningkatkan
karier atau merebut posisi. Tak jarang yang mengaku profesional
dalam menjalankan bisnis toh masih menggunakan 'penglaris' bahkan
santet untuk memajukan usahanya. Juga ada selebritis yang
berpenampilan jet set tetap menggunakan susuk buat menunjang
popularitasnya. Itu menyebabkan nyaris semua sinetron di televisi
memasukkan unsur-unsur mistis dan gaib dalam ceritanya. Malah
acara penampakan dan pemburu hantu pun banyak penggemarnya. Jadi,
jangan rendah diri bila disebut kuno, juga tidak perlu ge er kalau
dikatakan modern," ujar Sudita.
"Bahkan, sinetron berjudul 'Kiamat Sudah Dekat' konon digandrungi
beberapa petinggi negeri, sehingga para pemainnya diundang ke
istana. Ini menandakan, tak hanya rakyat kecil yang kurang
terdidik saja yang terjerat sihir hipersemiotika yang disebarkan
film dan iklan untuk mewujudkan dunia hiperealitas, tapi juga
pejabat yang notabene berpendidikan tinggi. Coba simak iklan rokok
yang menampilkan petugas menyamar jadi semak-belukar ketika
menjebak pelanggar rambu lalu-lintas. Apa benar ada petugas
seperti itu? Juga lihat iklan salah satu produk minyak, apa benar
'kita untung, bangsa untung' setelah harga BBM dikatrol dua kali
di tahun 2005? Tak perlu dijawab, mari siap-siap menyambut
turunnya salju untuk merayakan hipersemiotika dan hiperealitas!
Semoga hati dan otak kita tidak beku tertimpa es batu!" ajak Rubag
sembari berlalu.
* aridus