kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 4 Maret 2007 tarukan valas
 

KELUARGA


Dongeng-dongeng Karmaphala

Ireng dan Bojog ke Pengadilan (1)

MEMANG benar pendapat orang, bertambah banyaknya perbuatan jahat yang mengotori dunia ini, suatu pertanda makin lunturnya kepercayaan akan nilai karmaphala. Kejahatan sekarang sering berperan sebagai aktor penegak kebenaran, sehingga sangat mudah mendapat kepercayaan. Siapa mengira seorang intelek dan spiritualis seperti sang Bangau, tahu-tahu seorang penjahat berkaliber yang memangsa pengikut-pengikutnya.

---------

 

Konon di Indonesia sekarang muncul banyak aktor seperti sang Bangau. Banyak kepalsuan. Emas yang kita lihat sesungguhnya adalah loyang. Menurut para pengamat, kejahatan yang melanda Indonesia sekarang disebabkan tidak tegaknya hukum dan keadilan. Sesungguhnya lebih daripada itu, yakni lunturnya kepercayaan terhadap hukum karma. Pengingkaran terhadap hukum karma tidak saja terjadi di kalangan rakyat, tetapi juga di kalangan penegak hukum. Dongeng berikut contohnya.

 

***

 

Sejak kecil Irengan bersahabat dengan Bojog. Irengan adalah kera berbulu hitam dan Bojog adalah monyet berbulu abu-abu. Walaupun kera hitam itu berbadan besar dan gemuk, namun ia tidak pernah menantang sahabatnya berkelahi. Monyet yang kecil mungil itu pun menganggap Irengan sebagai saudaranya. Ke mana-mana berdua selalu bersama, sehaluan dan tidak pernah bertengkar.

Ketika tiba musim bunga, kedua sahabat kental itu berjalan-jalan menikmati keindahan hutan. tiba-tiba Irengan mendapat ilham untuk mengarang sebuah cerita. Cerita itu mengisahkan perjalanan pangeran dan putri raja yang sangat berbahagia menikmati keindahan pohon-pohon yang berbunga. Setelah selesai, lalu ia minta sahabatnya, Bojog untuk memeriksa karangan tersebut.

Mula-mula Bojog sangat senang membaca karangan itu. Tetapi kemudian ia mengernyitkan kening lalu berkomentar, ''Bodoh benar kau Irengan! Belum pernah kudengar banah berbeda dengan gadung!''

''Tentu beda! Banah berdaun lebar, gadung berdaun kecil dan berbunga harum,'' jawab Irengan tegas.

Itulah pangkal perkara. Pendapat yang berbeda itu tidak dapat dipertemukan. Mereka bertengkar terus dan tak ada yang mau mengalah. Walaupun keduanya sudah mencocokkan pendapatnya dengan melihat langsung pohon banah dan gadung, namun mereka tetap mempertahankan pendirian masing-masing. Untunglah hati yang panas itu dihadapi dengan kepala yang dingin. Akhirnya mereka sepakat untuk mengajukan pendapat yang berbeda itu kepada orang pintar.

Tak jauh dari tempat itu mereka bertemu dengan dua orang manusia yang sedang minum tuak. Kedua orang itu bersaudara, yang tua bernama I Surada dan yang muda bernama I Welacit. Minum tuak dan bermabuk-mabukan, itulah pekerjaan kedua orang bersaudara itu. Kedua orang itulah yang dipercaya untuk menyelesaikan perkara Irengan dan Bojog.

''Bersungguh-sungguhkah engkau mengajukan perkara ini kepadaku?'' tanya orang pintar yang setengah mabuk itu.

''Ya, bersungguh-sungguh! Kami ingin mengetahui siapakah yang benar,'' jawab kedua hewan yang bersengketa itu serempak.

''Tahukah kamu, apa hukuman bagi yang kalah?'' tanya orang pintar.

''Tentu saja hukuman penggal! Hukuman itu sudah berlaku turun-temurun di wilayah ini,'' jawab Bojog bersemangat.

Kedua orang pintar itu lalu mendengarkan pengaduan Irengan dan Bojog. Sambil minum tuak, mereka manggut-manggut, seolah-olah sudah memahami pangkal persengketaan itu.

''Kamu yang benar, Irengan!'' sahut I Surada tiba-tiba.

''Tunggu dulu! Ini baru pertimbangan dan belum menjadi keputusan!'' kata I Welacit sambil menggeser pantatnya ke dekat kakaknya. Lalu katanya berbisik-bisik, ''Bodoh benar kamu Surada! Kalau Irengan yang menang, kita hanya memperoleh daging monyet yang kurus, tetapi kalau Bojog yang menang, kita akan berpesta daging yang besar dan gemuk.''

 

* made taro

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com