Dongeng-dongeng Karmaphala
Ireng dan Bojog ke Pengadilan (1)
MEMANG
benar pendapat orang, bertambah banyaknya perbuatan jahat yang
mengotori dunia ini, suatu pertanda makin lunturnya kepercayaan
akan nilai karmaphala. Kejahatan sekarang sering berperan sebagai
aktor penegak kebenaran, sehingga sangat mudah mendapat
kepercayaan. Siapa mengira seorang intelek dan spiritualis seperti
sang Bangau, tahu-tahu seorang penjahat berkaliber yang memangsa
pengikut-pengikutnya.
---------
Konon di Indonesia sekarang muncul banyak aktor
seperti sang Bangau. Banyak kepalsuan. Emas yang kita lihat
sesungguhnya adalah loyang. Menurut para pengamat, kejahatan yang
melanda Indonesia sekarang disebabkan tidak tegaknya hukum dan
keadilan. Sesungguhnya lebih daripada itu, yakni lunturnya
kepercayaan terhadap hukum karma. Pengingkaran terhadap hukum
karma tidak saja terjadi di kalangan rakyat, tetapi juga di
kalangan penegak hukum. Dongeng berikut contohnya.
***
Sejak kecil Irengan bersahabat dengan Bojog.
Irengan adalah kera berbulu hitam dan Bojog adalah monyet berbulu
abu-abu. Walaupun kera hitam itu berbadan besar dan gemuk, namun
ia tidak pernah menantang sahabatnya berkelahi. Monyet yang kecil
mungil itu pun menganggap Irengan sebagai saudaranya. Ke mana-mana
berdua selalu bersama, sehaluan dan tidak pernah bertengkar.
Ketika tiba musim bunga, kedua sahabat kental itu
berjalan-jalan menikmati keindahan hutan. tiba-tiba Irengan
mendapat ilham untuk mengarang sebuah cerita. Cerita itu
mengisahkan perjalanan pangeran dan putri raja yang sangat
berbahagia menikmati keindahan pohon-pohon yang berbunga. Setelah
selesai, lalu ia minta sahabatnya, Bojog untuk memeriksa karangan
tersebut.
Mula-mula Bojog sangat senang membaca karangan itu.
Tetapi kemudian ia mengernyitkan kening lalu berkomentar, ''Bodoh
benar kau Irengan! Belum pernah kudengar banah berbeda dengan
gadung!''
''Tentu beda! Banah berdaun lebar, gadung berdaun
kecil dan berbunga harum,'' jawab Irengan tegas.
Itulah pangkal perkara. Pendapat yang berbeda itu
tidak dapat dipertemukan. Mereka bertengkar terus dan tak ada yang
mau mengalah. Walaupun keduanya sudah mencocokkan pendapatnya
dengan melihat langsung pohon banah dan gadung, namun mereka tetap
mempertahankan pendirian masing-masing. Untunglah hati yang panas
itu dihadapi dengan kepala yang dingin. Akhirnya mereka sepakat
untuk mengajukan pendapat yang berbeda itu kepada orang pintar.
Tak jauh dari tempat itu mereka bertemu dengan dua
orang manusia yang sedang minum tuak. Kedua orang itu bersaudara,
yang tua bernama I Surada dan yang muda bernama I Welacit. Minum
tuak dan bermabuk-mabukan, itulah pekerjaan kedua orang bersaudara
itu. Kedua orang itulah yang dipercaya untuk menyelesaikan perkara
Irengan dan Bojog.
''Bersungguh-sungguhkah engkau mengajukan perkara
ini kepadaku?'' tanya orang pintar yang setengah mabuk itu.
''Ya, bersungguh-sungguh! Kami ingin mengetahui
siapakah yang benar,'' jawab kedua hewan yang bersengketa itu
serempak.
''Tahukah kamu, apa hukuman bagi yang kalah?''
tanya orang pintar.
''Tentu saja hukuman penggal! Hukuman itu sudah
berlaku turun-temurun di wilayah ini,'' jawab Bojog bersemangat.
Kedua orang pintar itu lalu mendengarkan pengaduan
Irengan dan Bojog. Sambil minum tuak, mereka manggut-manggut,
seolah-olah sudah memahami pangkal persengketaan itu.
''Kamu yang benar, Irengan!'' sahut I Surada
tiba-tiba.
''Tunggu dulu! Ini baru pertimbangan dan belum
menjadi keputusan!'' kata I Welacit sambil menggeser pantatnya ke
dekat kakaknya. Lalu katanya berbisik-bisik, ''Bodoh benar kamu
Surada! Kalau Irengan yang menang, kita hanya memperoleh daging
monyet yang kurus, tetapi kalau Bojog yang menang, kita akan
berpesta daging yang besar dan gemuk.''
* made taro