kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 4 Maret 2007 tarukan valas
 

KELUARGA


Hindari Seks, Bercintalah dengan Cerdas

PERTANYAAN yang terkesan "klise" sering terdengar, "Apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan bagi orang yang sedang berpacaran?" Paul Subiyanto dalam dua bukunya -- di antara sejumlah buku perihal remaja, cinta, dan seks yang pernah ditulisnya -- berjudul "Smart Love" dan "Smart Sex", setidaknya, sudah menjawab pertanyaan itu.

Dikatakan Paul, agama, adat-istiadat, norma yang berlaku di masyarakat, mungkin sudah memberikan aturan secara jelas. "Namun yang terpenting adalah Anda membuat norma sendiri dan belajar menaati. Banyak orang yang tahu persis aturan eksplisitnya tidak boleh ini dan itu, namun toh melanggarnya," tulis Paul di salah bukunya itu.

Kegiatan pacaran, begitu papar Paul, begitu pribadi dan rahasia sehingga rasanya sulit diatur dari luar. Namun demikian, manusia bukan kambing atau sapi yang tak kuasa melawan naluri. Manusia punya akal sehat yang mampu memilih mana yang terbaik, yang memiliki kehendak bebas sehingga bisa berkata "tidak", bahkan terhadap dirinya sendiri. Dengan demikian, mencintai secara manusiawi mestinya melibatkan keunggulan-keunggulan yang dimilikinya.

 

Dapat Rangsangan

"Benar bahwa cinta membutuhkan ungkapan nyata secara fisik yang terasakan seperti pelukan, ciuman, elusan dan belaian. Persoalannya, tubuh kita tidak netral dan steril karena di dalamnya terpasang jutaan kabel saraf yang akan bereaksi bila mendapat rangsangan. Singkatnya, ungkapan cinta secara fisik akan dibarengi dengan terbangkitnya hasrat seksual. Dalam kondisi seperti ini, sulit membuat batas yang tegas mana nafsu dan mana cinta. Nafsu juga sejenis emosi yang jauh lebih kuat sehingga akal sehat pun bisa dikalahkan. Menyadari hal ini, seseorang mesti menggunakan akal sehat untuk menyelamatkan diri," tulis Paul.

Lantas, bagaimana soal seks pranikah di kalangan remaja? "Ini memang rumit. Di beberapa negara tertentu, boleh-boleh saja orang melakukannya. Namun perlu diingat bahwa kendati masyarakat membolehkan, justru tidak sedikit orang yang tidak mau melakukannya. Mereka, dengan alasan-alasan pribadi, tetap menjunjung tinggi nilai kesucian perkawinan. Sebaliknya di negara tertentu, termasuk Indonesia, orang menolak hubungan seks sebelum nikah, setidak-tidaknya secara moral. Namun secara hukum, sepertinya belum pernah ada orang diadili karena melakukan hubungan seks atas dasar suka sama suka," tulis Paul.

Atas persoalan tersebut, Paul lebih memberi tips bagaimana remaja mesti "mencintai dengan cerdas". "Remaja mesti menggunakan keunggulan-keunggulan manusia sehingga secara pribadi ia bisa mengambil pilihan secara dewasa dan bertanggung jawab. Kalau aturan, norma, bahkan agama, dan lain-lain tak mampu mengatasi, kembalikan kepada kekuatan yang bersumber pada diri manusia itu sendiri," demikian Paul.

Menurut Paul, kata "seks" memang telah mengalami distorsi makna yang jauh sekali. "Saya sering menanyakan kepada para remaja, mahasiswa, dan anak-anak muda tentang konotasi apa yang spontan muncul dalam benak ketika mendengar kata seks, hampir semua menjawab seks itu konotasinya hubungan intim antara pria dan wanita atau setidak-tidaknya berarti alat kelamin," tulis Paul.

Sekali lagi Paul menegaskan, batas-batas antara "cinta" dan "seks" kini memang tipis bahkan kabur. Lebih rumit lagi karena aktivitas mencintai secara fisik dalam berpacaran juga memacu hormon-hormon tertentu yang membangkitkan saraf-saraf seksual. "Ketika remaja mengungkapkan cinta secara fisik dan emosional, pada saat yang sama hasrat seksualnya terbangkit. Karenanya, penting sekali melibatkan akal sehat agar ungkapan-ungkapan cinta remaja bisa terbebas dari nafsu-nafsu seksual," papar Paul.

Jika binatang hanya memiliki "masa" tertentu untuk melakukan hubungan seks, manusia setiap saat hasrat seksualnya bisa terbangkit asal ada rangsangan atau stimulus. Namun demikian manusia diberi keunggulan, yakni mampu mengambil jarak dengan dirinya sendiri. Menurut Paul, dengan akal budi dan kehendak bebasnya, manusia bisa memilih perilakunya. "Dalam kehidupan manusia, setiap perilaku adalah pilihan bebas dan harus dipertanggungjawabkan. Manusia juga hidup bersama manusia lain sehingga berada pula dalam tata nilai, norma-norma yang berlaku dalam komunitasnya. Semua ini bukan untuk membatasi kebebasan manusia, justru karena kebebasannya manusia mampu menciptakan sistem demi kelestariannya di muka bumi ini," tulis Paul.

 

Risiko Hubungan

Lalu, perihal pertanyaan inti, "Bolehkah remaja melakukan hubungan seks selama pacaran?" Paul balik menulis jawaban, "Sekarang Anda hidup di masyarakat mana? Kalau Anda di Eropa atau Amerika, mungkin masyarakat tidak mempermasalahkan, sebaliknya masyarakat Indonesia tidak membolehkan hubungan seks di luar perkawinan. Demikian juga agama apa pun. Namun semua itu hanyalah kekuatan eksternal yang mudah dilanggar, oleh sebab itu kita perlu membangun kekuatan internal yang bersumber pada keunggulan manusia, yakni akal budi."

Paul memberi simpul, sebenarnya mengungkapkan cinta banyak ragamnya, tidak harus melalui hubungan seks. Disebutkan, apa risikonya bila remaja melakukan hubungan seks selama pacaran sbb.;

* Kehamilan adalah akibat logis dari aktivitas seksual, dan ini banyak menimpa remaja yang belum siap menjalani perkawinan. Jika ini terjadi, jelas hidup remaja akan berubah drastis.

* Ketergantungan akan sangat kuat ketika pria dan wanita yang belum menikah melakukan hubungan seksual. Remaja akan kehilangan kebebasan sebagai pribadi, dan takut kehilangan pacar sehingga hubungan menjadi tidak sehat lagi. Pacaran adalah masa penjajakan, artinya "masih ada jarak" sehingga pribadi-pribadi masih memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan.

* Beban psikologis khususnya bagi wanita di tengah masyarakat yang masih paternalistik cukup berat kalau ia merasa "tidak perawan" atau "tidak murni" lagi. Ketidakperawanan akan menggerogoti rasa percaya diri dan membuatnya takut untuk memulai hubungan baru lagi.

Intinya, Paul menekankan, "bercintalah dengan cerdas". Artinya, remaja mesti mampu berhitung untung rugi bagi diri sendiri terhadap perilaku yang akan dipilih. "Dalam hubungan cinta, hanya Anda sendirilah yang bisa melindungi diri. Orangtua, agama, hukum, dan otoritas lain tak berdaya, tangan mereka tidak sampai. Segala aturan tidak akan berbunyi pada saat pria dan wanita sedang disergap dorongan seksual. Karenanya, gunakan akal sehat Anda sebelum hal itu terjadi," tegas Paul. (tin)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com