Hindari Seks, Bercintalah dengan Cerdas
PERTANYAAN
yang terkesan "klise" sering terdengar, "Apa saja yang boleh dan
tidak boleh dilakukan bagi orang yang sedang berpacaran?" Paul
Subiyanto dalam dua bukunya -- di antara sejumlah buku perihal
remaja, cinta, dan seks yang pernah ditulisnya -- berjudul "Smart
Love" dan "Smart Sex", setidaknya, sudah menjawab pertanyaan itu.
Dikatakan Paul, agama, adat-istiadat, norma yang
berlaku di masyarakat, mungkin sudah memberikan aturan secara
jelas. "Namun yang terpenting adalah Anda membuat norma sendiri
dan belajar menaati. Banyak orang yang tahu persis aturan
eksplisitnya tidak boleh ini dan itu, namun toh melanggarnya,"
tulis Paul di salah bukunya itu.
Kegiatan pacaran, begitu papar Paul, begitu pribadi
dan rahasia sehingga rasanya sulit diatur dari luar. Namun
demikian, manusia bukan kambing atau sapi yang tak kuasa melawan
naluri. Manusia punya akal sehat yang mampu memilih mana yang
terbaik, yang memiliki kehendak bebas sehingga bisa berkata
"tidak", bahkan terhadap dirinya sendiri. Dengan demikian,
mencintai secara manusiawi mestinya melibatkan
keunggulan-keunggulan yang dimilikinya.
Dapat
Rangsangan
"Benar bahwa cinta membutuhkan ungkapan nyata
secara fisik yang terasakan seperti pelukan, ciuman, elusan dan
belaian. Persoalannya, tubuh kita tidak netral dan steril karena
di dalamnya terpasang jutaan kabel saraf yang akan bereaksi bila
mendapat rangsangan. Singkatnya, ungkapan cinta secara fisik akan
dibarengi dengan terbangkitnya hasrat seksual. Dalam kondisi
seperti ini, sulit membuat batas yang tegas mana nafsu dan mana
cinta. Nafsu juga sejenis emosi yang jauh lebih kuat sehingga akal
sehat pun bisa dikalahkan. Menyadari hal ini, seseorang mesti
menggunakan akal sehat untuk menyelamatkan diri," tulis Paul.
Lantas, bagaimana soal seks pranikah di kalangan
remaja? "Ini memang rumit. Di beberapa negara tertentu,
boleh-boleh saja orang melakukannya. Namun perlu diingat bahwa
kendati masyarakat membolehkan, justru tidak sedikit orang yang
tidak mau melakukannya. Mereka, dengan alasan-alasan pribadi,
tetap menjunjung tinggi nilai kesucian perkawinan. Sebaliknya di
negara tertentu, termasuk Indonesia, orang menolak hubungan seks
sebelum nikah, setidak-tidaknya secara moral. Namun secara hukum,
sepertinya belum pernah ada orang diadili karena melakukan
hubungan seks atas dasar suka sama suka," tulis Paul.
Atas persoalan tersebut, Paul lebih memberi tips
bagaimana remaja mesti "mencintai dengan cerdas". "Remaja mesti
menggunakan keunggulan-keunggulan manusia sehingga secara pribadi
ia bisa mengambil pilihan secara dewasa dan bertanggung jawab.
Kalau aturan, norma, bahkan agama, dan lain-lain tak mampu
mengatasi, kembalikan kepada kekuatan yang bersumber pada diri
manusia itu sendiri," demikian Paul.
Menurut Paul, kata "seks" memang telah mengalami
distorsi makna yang jauh sekali. "Saya sering menanyakan kepada
para remaja, mahasiswa, dan anak-anak muda tentang konotasi apa
yang spontan muncul dalam benak ketika mendengar kata seks, hampir
semua menjawab seks itu konotasinya hubungan intim antara pria dan
wanita atau setidak-tidaknya berarti alat kelamin," tulis Paul.
Sekali lagi Paul menegaskan, batas-batas antara
"cinta" dan "seks" kini memang tipis bahkan kabur. Lebih rumit
lagi karena aktivitas mencintai secara fisik dalam berpacaran juga
memacu hormon-hormon tertentu yang membangkitkan saraf-saraf
seksual. "Ketika remaja mengungkapkan cinta secara fisik dan
emosional, pada saat yang sama hasrat seksualnya terbangkit.
Karenanya, penting sekali melibatkan akal sehat agar
ungkapan-ungkapan cinta remaja bisa terbebas dari nafsu-nafsu
seksual," papar Paul.
Jika binatang hanya memiliki "masa" tertentu untuk
melakukan hubungan seks, manusia setiap saat hasrat seksualnya
bisa terbangkit asal ada rangsangan atau stimulus. Namun demikian
manusia diberi keunggulan, yakni mampu mengambil jarak dengan
dirinya sendiri. Menurut Paul, dengan akal budi dan kehendak
bebasnya, manusia bisa memilih perilakunya. "Dalam kehidupan
manusia, setiap perilaku adalah pilihan bebas dan harus
dipertanggungjawabkan. Manusia juga hidup bersama manusia lain
sehingga berada pula dalam tata nilai, norma-norma yang berlaku
dalam komunitasnya. Semua ini bukan untuk membatasi kebebasan
manusia, justru karena kebebasannya manusia mampu menciptakan
sistem demi kelestariannya di muka bumi ini," tulis Paul.
Risiko
Hubungan
Lalu, perihal pertanyaan inti, "Bolehkah remaja
melakukan hubungan seks selama pacaran?" Paul balik menulis
jawaban, "Sekarang Anda hidup di masyarakat mana? Kalau Anda di
Eropa atau Amerika, mungkin masyarakat tidak mempermasalahkan,
sebaliknya masyarakat Indonesia tidak membolehkan hubungan seks di
luar perkawinan. Demikian juga agama apa pun. Namun semua itu
hanyalah kekuatan eksternal yang mudah dilanggar, oleh sebab itu
kita perlu membangun kekuatan internal yang bersumber pada
keunggulan manusia, yakni akal budi."
Paul memberi simpul, sebenarnya mengungkapkan cinta
banyak ragamnya, tidak harus melalui hubungan seks. Disebutkan,
apa risikonya bila remaja melakukan hubungan seks selama pacaran
sbb.;
* Kehamilan adalah akibat logis dari aktivitas
seksual, dan ini banyak menimpa remaja yang belum siap menjalani
perkawinan. Jika ini terjadi, jelas hidup remaja akan berubah
drastis.
* Ketergantungan akan sangat kuat ketika pria dan
wanita yang belum menikah melakukan hubungan seksual. Remaja akan
kehilangan kebebasan sebagai pribadi, dan takut kehilangan pacar
sehingga hubungan menjadi tidak sehat lagi. Pacaran adalah masa
penjajakan, artinya "masih ada jarak" sehingga pribadi-pribadi
masih memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan.
* Beban psikologis khususnya bagi wanita di tengah
masyarakat yang masih paternalistik cukup berat kalau ia merasa
"tidak perawan" atau "tidak murni" lagi. Ketidakperawanan akan
menggerogoti rasa percaya diri dan membuatnya takut untuk memulai
hubungan baru lagi.
Intinya, Paul menekankan, "bercintalah dengan
cerdas". Artinya, remaja mesti mampu berhitung untung rugi bagi
diri sendiri terhadap perilaku yang akan dipilih. "Dalam hubungan
cinta, hanya Anda sendirilah yang bisa melindungi diri. Orangtua,
agama, hukum, dan otoritas lain tak berdaya, tangan mereka tidak
sampai. Segala aturan tidak akan berbunyi pada saat pria dan
wanita sedang disergap dorongan seksual. Karenanya, gunakan akal
sehat Anda sebelum hal itu terjadi," tegas Paul.
(tin)