Pura Penataran Agung Gunung Rinjani
Dari Mitologi Menuju Persatuan Umat
GUNUNG
Rinjani di Lombok, selain tinggi, indah, dan bervibrasi spiritual,
juga banyak dikunjungi para pendaki, serta sangat disucikan oleh
masyarakat di sekitarnya. Umat Hindu, begitu pula umat lain dari
luar Pulau Lombok, tak sedikit yang melakukan tirtayatra ke
kawasan Gunung berketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut
itu. Lalu, apa saja yang bisa disimak dari Pura Penataran Agung
Gunung Rinjani?
--------------
Jika ditelisik ke belakang, nama Pulau Lombok --
dari babad Lombok -- disebutkan berasal dari nama raja yang pernah
berkuasa di Lombok di zaman dulu. Dalam kekawin Negara Kertagama
karya Prapanca disebutkan, Lombok Barat disebut Lombok Mirah,
sementara Lombok Timur dinamakan Sasak Adi -- lantaran di bagian
timur ini ditumbuhi hutan belantara yang amat lebat, sampai sesak
atau seksek. Konon, dari kata itulah asal nama Sasak, nama suku
asli di Lombok.
Dalam babad Sangupati, Lombok disebut dengan "meneng"
(sepi). Dalam babad ini pula ada disebut Danghyang Nirarta pernah
datang ke Lombok pada 1530 M. Sebelumnya, agama (Ciwa-Budha) dan
kebudayaan yang ada di sana berada di bawah pengaruh Majapahit,
diawali kedatangan Patih Gajah Mada ke Lombok pada 1345 M.
Gunung Rinjani itu sendiri dijadikan usungan
orientasi spiritual bagi tempat peribadatan atau pura-pura di
pulau Lombok, berpedoman pada arah terbit dan tenggelamnya
matahari. Bahkan Rinjani, sebagaimana disebutkan dalam Purana
Hyang Pasupati, memiliki hubungan erat dengan Gunung Semeru di
Jawa dan Gunung Agung di Bali. Gunung-gunung yang disebut sebagai
acala lingga (lingga yang tak bergerak) itu konon dari mitologi
yang ada diambil oleh Ida Hyang Pasupati dari Gunung Maha Meru di
India.
Kahyangan
Jagat
Di kaki Gunung Rinjani, persisnya di Dusun Kebaloan,
Desa Senaru, Kecamatan Lombok Barat, akan dibangun dan dilakukan
perluasan Pura Penataran Agung Gunung Rinjani yang telah ada
sebelumnya. Mengingat status pura itu telah ditetapkan sebagai
salah satu Pura Kahyangan Jagat sejak 10 September 1995,
berbarengan dengan acara melaspas dan ngenteg linggih pada hari
itu. Karenanya, dianggap perlu untuk melakukan renovasi atau
pembangunan Pura Penataran Agung Gunung Rinjani. Hal ini dimaksud
agar semuanya jadi lebih baik atau sinkron dengan status dan
fungsi pura itu sebagai salah satu pura Kahyangan Jagat.
Selain itu, dirasakan perlu untuk melakukan
perluasan areal pura, sehingga dapat menampung lebih banyak jumlah
pamedek yang tangkil. Ihwalnya berangkat dari tujuan membina
kerukunan dan kebersamaan penganut agama Hindu, Budha maupun
kepercayaan masyarakat lokal. Artinya, untuk mewujudkan
kebersamaan, persatuan dan kesatuan intern umat Hindu di seantero
Nusantara khususnya dan dengan umat Budha pada umumnya.
Sebagaimana dikatakan Ir. I Dewa Gde Supartha,
salah satu anggota Seksi Perencanaan pura, keberadaan Pura
Penataran ini dimaksudkan untuk (1) Menyatukan umat sedharma di
Lombok bagian utara, yang hingga kini belum punya Pura Penataran
Agung; (2) Pura Penataran itu bukan untuk umat Hindu semata, namun
juga dipergunakan sebagai tempat berdoa suku Sasak yang masih
mengenal tradisi "Wetu Telu" yang secara historis masih terkait
dengan tradisi Hindu di Lombok; (3) Diharapkan pura itu merupakan
awal persinggahan utama memohon doa restu dan keselamatan sebelum
mendaki Gunung Rinjani.
Ditambahkan, Gunung Rinjani sebagai objek wisata
pernah memperoleh award di bidang pariwisata, lantaran dikatakan
sebagai pariwisata berbasis masyarakat. Masyarakat di sekitarnya
disebut memperoleh pendapatan dari membawa potter para wisatawan
domestik maupun mancanegara untuk mendaki gunung. "Masyarakat ikut
terlibat mendaki dan secara tidak langsung terlibat secara aktif
membantu wisatawan mendaki Gunung Rinjani," tandasnya.
Catur
Mandala
Berdasarkan data perencanaan yang diperoleh dari
para arsitek Pura Penataran Agung Gunung Rinjani (Ir. I W. Jandra
Budhiana, IAI, Ir. I Ketut Siandana dan Ir. I Ketut Adhimastra, M.
Erg.), pura yang akan dipugar menjadi Pura Penataran Agung Gunung
Rinjani itu di dalamnya telah terdapat beberapa bangunan palinggih
yang berdiri di atas tanah seluas 13 are. Beberapa di antara
palinggih itu yakni Padmasana, Palinggih Ratu Anom, Gedong Tirtha,
Bale Pawedan, dan Wantilan. Bangunan Palinggih dan Wantilan itu
rencananya akan direnovasi total dari bentuk yang ada sekarang.
Pun tentang luas arealnya diperluas menjadi sekitar
3,2 hektar. Hal itu dilakukan mengingat status dan fungsi pura
Penataran Agung Gunung Rinjani sebagai Pura Kahyangan Jagat.
Arealnya Catur Mandala, dengan pembagian Utama Mandala (Jeroan),
Madya Mandala (Jaba Tengah), Nista Mandala (Jaba Sisi) dan
Bencingah (Jaba Pisan).
Disebutkan, pada area Utama Mandala akan dibangun
pula palinggih Kuil Budha (awatara ke-9 dari Dewa Wisnu), dengan
mengambil contoh di Pura besakih, Pura Ulun Danu dan Pura Tanjung
Sari/Silayukti Padangbai. Penganut agama Budha banyak pula dianut
oleh penduduk asli Lombok bagian utara. Juga akan dibangun
palinggih Ganesha, selaku manifestasi Tuhan sebagai pelebur segala
kejahatan.
Lalu, palinggih dan bangunan penunjang apa saja
yang akan dibangun di situ? Pada zona Utama Mandala akan dibangun
Padmasana, Meru Tumpang Solas, Pertiwi, Palinggih Budha,
Pengaruman, Palinggih Ganesha, Bale Pawedaan, Bale Penganteb,
Pesandekan, Bale Banten, PS. Sulinggih, Kori Agung, Paletasan,
Bale Paselang.
Di zona Madya Mandala akan dibangun Palingggih
Kemalik, Palinggih Penataran Ped, Palinggih Betara Sakti (Barong),
Pesandekan (bale gong), Kori Agung, dan Peletasan. Sedangkan di
area Nista Mandala didirikan Bale Kulkul, Pesandekan, Wantilan dan
Candi Bentar. Pada halaman berikutnya ada disebut zona Bencingah
yang terdiri dari tempat parkir, pertamanan, pasraman dan toilet
umum.
Area Pura Penataran Agung Gunung Rinjani
ber-panyengker (dari Jeroan hingga Jaba Sisi) berukuran 67,26 m x
155,84 m, dengan posisi memanjang arah kaja-kelod. Pada area
Bancingah (Jaba Pisan) yang tak memiliki sengker, terbuka sebagai
areal telajakan dan areal parkir, di antaranya terpisah oleh
pangkung yang dihubungkan sebuah jembatan. Di depan areal parkir
terbentang jalan utama memanjang arah utara-selatan.
Kearifan
Lokal
Kemungkinan lain yang bisa ditambahkan sebagai
pedoman di dalam pembangunan dan pengembangan arsitektrur pura ke
depan, pertama adalah adanya pemahaman terhadap landasan filosofi
pembangunan pura itu. Lantas, dicarikan korelasinya dengan
pertalian nilai-nilai historis yang ada, seperti hubungan sejarah
dan tatanan sosial kerajaan yang ada di Karangasem dengan penerus
Dinasti Karangasem yang memerintah di Lombok. Hal ini akan memberi
pengaruh terhadap wujud bentuk arsitektur puranya, baik menyangkut
pola penataan, bahan bangunan yang dipergunakan hingga tipologi
ragam hiasnya.
Perbedaan fungsi serta makna antara bangunan
sucinya tentu ditampilkan dengan wujud bentuk yang tak sama satu
dengan yang lain. Kendati mesti memiliki nafas, karakter atau jiwa
arsitektur lokal yang sama, baik dari segi bahan, ornamen atau
ragam hiasnya. Misalnya, bentuk atau tampilan Palinggih Kemalik,
tentu -- sepatutnya -- berpenampilan beda dengan Palinggih
Penataran Ped. Katakanlah yang ber-stana di sana berbeda. Pun umat
yang beraktivitas spiritual-religius di dalamnya -- mungkin --
memiliki sikap atau pola sujud serta bentuk upakara yang lain
pula.
Menyangkut prosesi pembangunannya, semua ketentuan
ada termuat dalam naskah-naskah klasik (lontar) arsitekturnya yang
memiliki nilai-nilai kebajikan universal namun bisa dikondisikan
sesuai dengan potensi alam lokal dan kehidupan sosial budaya
masyarakat setempat. Misalnya, bagaimana proses membangun sebuah
pura, pekerjaan konstruksi hingga ngurip wewangunan, disesuaikan
dengan "desa-kala-patra"-nya. Perihal itu turut berperan memberi
identitas atau jatidiri arsitektur lokalnya.
* n.g.
suardana