kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 4 Maret 2007 tarukan valas
 

DESAIN


Pura Penataran Agung Gunung Rinjani

Dari Mitologi Menuju Persatuan Umat

GUNUNG Rinjani di Lombok, selain tinggi, indah, dan bervibrasi spiritual, juga banyak dikunjungi para pendaki, serta sangat disucikan oleh masyarakat di sekitarnya. Umat Hindu, begitu pula umat lain dari luar Pulau Lombok, tak sedikit yang melakukan tirtayatra ke kawasan Gunung berketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut itu. Lalu, apa saja yang bisa disimak dari Pura Penataran Agung Gunung Rinjani?

--------------

 

Jika ditelisik ke belakang, nama Pulau Lombok -- dari babad Lombok -- disebutkan berasal dari nama raja yang pernah berkuasa di Lombok di zaman dulu. Dalam kekawin Negara Kertagama karya Prapanca disebutkan, Lombok Barat disebut Lombok Mirah, sementara Lombok Timur dinamakan Sasak Adi -- lantaran di bagian timur ini ditumbuhi hutan belantara yang amat lebat, sampai sesak atau seksek. Konon, dari kata itulah asal nama Sasak, nama suku asli di Lombok.

Dalam babad Sangupati, Lombok disebut dengan "meneng" (sepi). Dalam babad ini pula ada disebut Danghyang Nirarta pernah datang ke Lombok pada 1530 M. Sebelumnya, agama (Ciwa-Budha) dan kebudayaan yang ada di sana berada di bawah pengaruh Majapahit, diawali kedatangan Patih Gajah Mada ke Lombok pada 1345 M.

Gunung Rinjani itu sendiri dijadikan usungan orientasi spiritual bagi tempat peribadatan atau pura-pura di pulau Lombok, berpedoman pada arah terbit dan tenggelamnya matahari. Bahkan Rinjani, sebagaimana disebutkan dalam Purana Hyang Pasupati, memiliki hubungan erat dengan Gunung Semeru di Jawa dan Gunung Agung di Bali. Gunung-gunung yang disebut sebagai acala lingga (lingga yang tak bergerak) itu konon dari mitologi yang ada diambil oleh Ida Hyang Pasupati dari Gunung Maha Meru di India.

 

Kahyangan Jagat

Di kaki Gunung Rinjani, persisnya di Dusun Kebaloan, Desa Senaru, Kecamatan Lombok Barat, akan dibangun dan dilakukan perluasan Pura Penataran Agung Gunung Rinjani yang telah ada sebelumnya. Mengingat status pura itu telah ditetapkan sebagai salah satu Pura Kahyangan Jagat sejak 10 September 1995, berbarengan dengan acara melaspas dan ngenteg linggih pada hari itu. Karenanya, dianggap perlu untuk melakukan renovasi atau pembangunan Pura Penataran Agung Gunung Rinjani. Hal ini dimaksud agar semuanya jadi lebih baik atau sinkron dengan status dan fungsi pura itu sebagai salah satu pura Kahyangan Jagat.

Selain itu, dirasakan perlu untuk melakukan perluasan areal pura, sehingga dapat menampung lebih banyak jumlah pamedek yang tangkil. Ihwalnya berangkat dari tujuan membina kerukunan dan kebersamaan penganut agama Hindu, Budha maupun kepercayaan masyarakat lokal. Artinya, untuk mewujudkan kebersamaan, persatuan dan kesatuan intern umat Hindu di seantero Nusantara khususnya dan dengan umat Budha pada umumnya.

Sebagaimana dikatakan Ir. I Dewa Gde Supartha, salah satu anggota Seksi Perencanaan pura, keberadaan Pura Penataran ini dimaksudkan untuk (1) Menyatukan umat sedharma di Lombok bagian utara, yang hingga kini belum punya Pura Penataran Agung; (2) Pura Penataran itu bukan untuk umat Hindu semata, namun juga dipergunakan sebagai tempat berdoa suku Sasak yang masih mengenal tradisi "Wetu Telu" yang secara historis masih terkait dengan tradisi Hindu di Lombok; (3) Diharapkan pura itu merupakan awal persinggahan utama memohon doa restu dan keselamatan sebelum mendaki Gunung Rinjani.

Ditambahkan, Gunung Rinjani sebagai objek wisata pernah memperoleh award di bidang pariwisata, lantaran dikatakan sebagai pariwisata berbasis masyarakat. Masyarakat di sekitarnya disebut memperoleh pendapatan dari membawa potter para wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mendaki gunung. "Masyarakat ikut terlibat mendaki dan secara tidak langsung terlibat secara aktif membantu wisatawan mendaki Gunung Rinjani," tandasnya.

 

Catur Mandala

Berdasarkan data perencanaan yang diperoleh dari para arsitek Pura Penataran Agung Gunung Rinjani (Ir. I W. Jandra Budhiana, IAI, Ir. I Ketut Siandana dan Ir. I Ketut Adhimastra, M. Erg.), pura yang akan dipugar menjadi Pura Penataran Agung Gunung Rinjani itu di dalamnya telah terdapat beberapa bangunan palinggih yang berdiri di atas tanah seluas 13 are. Beberapa di antara palinggih itu yakni Padmasana, Palinggih Ratu Anom, Gedong Tirtha, Bale Pawedan, dan Wantilan. Bangunan Palinggih dan Wantilan itu rencananya akan direnovasi total dari bentuk yang ada sekarang.

Pun tentang luas arealnya diperluas menjadi sekitar 3,2 hektar. Hal itu dilakukan mengingat status dan fungsi pura Penataran Agung Gunung Rinjani sebagai Pura Kahyangan Jagat. Arealnya Catur Mandala, dengan pembagian Utama Mandala (Jeroan), Madya Mandala (Jaba Tengah), Nista Mandala (Jaba Sisi) dan Bencingah (Jaba Pisan).

Disebutkan, pada area Utama Mandala akan dibangun pula palinggih Kuil Budha (awatara ke-9 dari Dewa Wisnu), dengan mengambil contoh di Pura besakih, Pura Ulun Danu dan Pura Tanjung Sari/Silayukti Padangbai. Penganut agama Budha banyak pula dianut oleh penduduk asli Lombok bagian utara.  Juga akan dibangun palinggih Ganesha, selaku manifestasi Tuhan sebagai pelebur segala kejahatan.

Lalu, palinggih dan bangunan penunjang apa saja yang akan dibangun di situ? Pada zona Utama Mandala akan dibangun Padmasana, Meru Tumpang Solas, Pertiwi, Palinggih Budha, Pengaruman, Palinggih Ganesha, Bale Pawedaan, Bale Penganteb, Pesandekan, Bale Banten, PS. Sulinggih, Kori Agung, Paletasan, Bale Paselang.

Di zona Madya Mandala akan dibangun Palingggih Kemalik, Palinggih Penataran Ped, Palinggih Betara Sakti (Barong), Pesandekan (bale gong), Kori Agung, dan Peletasan. Sedangkan di area Nista Mandala didirikan Bale Kulkul, Pesandekan, Wantilan dan Candi Bentar. Pada halaman berikutnya ada disebut zona Bencingah yang terdiri dari tempat parkir, pertamanan, pasraman dan toilet umum.

Area Pura Penataran Agung Gunung Rinjani ber-panyengker (dari Jeroan hingga Jaba Sisi) berukuran 67,26 m x 155,84 m, dengan posisi memanjang arah kaja-kelod. Pada area Bancingah (Jaba Pisan) yang tak memiliki sengker, terbuka sebagai areal telajakan dan areal parkir, di antaranya terpisah oleh pangkung yang dihubungkan sebuah jembatan. Di depan areal parkir terbentang jalan utama memanjang arah utara-selatan.

 

Kearifan Lokal

Kemungkinan lain yang bisa ditambahkan sebagai pedoman di dalam pembangunan dan pengembangan arsitektrur pura ke depan, pertama adalah adanya pemahaman terhadap landasan filosofi pembangunan pura itu. Lantas, dicarikan korelasinya dengan pertalian nilai-nilai historis yang ada, seperti hubungan sejarah dan tatanan sosial kerajaan yang ada di Karangasem dengan penerus Dinasti Karangasem yang memerintah di Lombok. Hal ini akan memberi pengaruh terhadap wujud bentuk arsitektur puranya, baik menyangkut pola penataan, bahan bangunan yang dipergunakan hingga tipologi ragam hiasnya.

Perbedaan fungsi serta makna antara bangunan sucinya tentu ditampilkan dengan wujud bentuk yang tak sama satu dengan yang lain. Kendati mesti memiliki nafas, karakter atau jiwa arsitektur lokal yang sama, baik dari segi bahan, ornamen atau ragam hiasnya. Misalnya, bentuk atau tampilan Palinggih Kemalik, tentu -- sepatutnya -- berpenampilan beda dengan Palinggih Penataran Ped. Katakanlah yang ber-stana di sana berbeda. Pun umat yang beraktivitas spiritual-religius di dalamnya -- mungkin -- memiliki sikap atau pola sujud serta bentuk upakara yang lain pula.

Menyangkut prosesi pembangunannya, semua ketentuan ada termuat dalam naskah-naskah klasik (lontar) arsitekturnya yang memiliki nilai-nilai kebajikan universal namun bisa dikondisikan sesuai dengan potensi alam lokal dan kehidupan sosial budaya masyarakat setempat. Misalnya, bagaimana proses membangun sebuah pura, pekerjaan konstruksi hingga ngurip wewangunan, disesuaikan dengan "desa-kala-patra"-nya. Perihal itu turut berperan memberi identitas atau jatidiri arsitektur lokalnya.

 

* n.g. suardana

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com