kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 4 Maret 2007 tarukan valas
 

CERMIN


Mimbar Buddha

Magha Puja

HARI ini, tepat saat purnama di bulan pertama menurut perhitungan kalender lunar (bulan), umat Buddha tradisional dan warga Tionghoa merayakan hari Cap Go Meh (bulan purnama pertama) sebagai akhir dari perayaan awal musim semi (Tahun Baru Imlek). Hari ini pula, umat Buddha merayakan Hari Magha Puja untuk mengenang peristiwa penting yang pernah terjadi di zaman Buddha Gotama.

---------

 

Suatu ketika, pada saat purnama di bulan Magha, terjadi pertemuan besar yang dihadiri oleh 1.250 orang bhikkhu. Untuk ukuran di zaman sekarang, apalagi di negara Buddhist, pertemuan seperti ini bukan hal yang aneh. Kemajuan alat komunikasi memberikan kemudahan untuk membuat janji. Kemajuan alat transportasi memberikan kemudahan untuk berpindah tempat dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain.

Untuk ukuran di zaman Sang Buddha, pertemuan tersebut memang layak diperingati hingga saat ini. Pertemuan tersebut terjadi begitu saja, tanpa ada perjanjian di antara para bhikkhu yang hadir. Mereka tidak pernah membuat janji, melakukan kontak atau pembicaraan terlebih dahulu.

Walaupun tidak ada perjanjian secara lisan, mereka tentu bisa saja melakukan perjanjian secara batin. Semua bhikkhu tersebut telah mencapai tingkat kesucian tertinggi arahat dan memiliki kekuatan batin. Dengan kemampuan batin yang tinggi, mereka bisa berhubungan antara yang satu dengan yang lain atau membuat perjanjian.

Mereka juga bukan sembarang bhikkhu. Mereka diterima secara langsung oleh Buddha Gotama, ditahbiskan secara langsung. Penahbisan ini hanya dilakukan oleh Buddha sendiri yang dikenal dengan ungkapan ehi-bhikkhu upasampada. 

Kesempatan yang baik tersebut dipergunakan oleh Buddha Gotama untuk menyampaikan Ovada Patimokkha yang merupakan intisari dari ajaran para Buddha; bukan hanya Buddha Gotama saja namun juga para Buddha yang lain. "Tidak melakukan segala bentuk kejahatan, memperbanyak perbuatan baik, sucikan hati dan pikiran, inilah ajaran semua Buddha." (Dhammapada 183).

Buddha Gotama juga menyampaikan nasihatnya kepada para bhikkhu. Kesabaran adalah praktik bertapa yang paling tinggi. Nibbana adalah yang tertinggi," begitulah sabda para Buddha. Dia yang masih menyakiti orang lain sesungguhnya bukanlah seorang samana. (Dhammpada 184). Tidak menghina, tidak menyakiti, dapat mengendalikan diri sesuai dengan peraturan. Memiliki sikap madya dalam hal makan. Berdiam di tempat yang sunyi serta giat mengembangkan batin nan luhur. Inilah ajaran para Buddha. (Dhammapada 185)

Magha Puja merupakan hari Sangha. Dalam kesempatan ini, ariya sangha (pasamuan para bhikkhu yang terdiri dari mereka yang sudah mencapai tingkat kesucian) menunjukkan keberadaannya dan sekaligus kekuatannya.

Hari ini, hampir semua vihara yang mengadakan kebaktian rutin setiap hari Minggu, merayakan hari Magha Puja. Beberapa vihara mengadakan acara pindapata di lingkungan vihara sebelum memulai kebaktian di pagi hari. Pengurus vihara berusaha untuk mengajak umatnya untuk terus berbuat baik melalui kegiatan yang diselenggarakan.

Magha Puja memang bukan sekadar upacara kebaktian. Lebih daripada itu adalah menerapkan Dhamma dalam kehidupan ini. Terus berjuang, berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melakukan segala bentuk kejahatan. Berusaha untuk melakukan perbuatan baik. Jangan lupa untuk melatih diri; mensucikan hati dan pikiran dengan bermeditasi.

Selamat hari Magha Puja.

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com