Mimbar Buddha
Magha Puja
HARI
ini, tepat saat purnama di bulan pertama menurut perhitungan
kalender lunar (bulan), umat Buddha tradisional dan warga Tionghoa
merayakan hari Cap Go Meh (bulan purnama pertama) sebagai akhir
dari perayaan awal musim semi (Tahun Baru Imlek). Hari ini pula,
umat Buddha merayakan Hari Magha Puja untuk mengenang peristiwa
penting yang pernah terjadi di zaman Buddha Gotama.
---------
Suatu ketika, pada saat purnama di bulan Magha,
terjadi pertemuan besar yang dihadiri oleh 1.250 orang bhikkhu.
Untuk ukuran di zaman sekarang, apalagi di negara Buddhist,
pertemuan seperti ini bukan hal yang aneh. Kemajuan alat
komunikasi memberikan kemudahan untuk membuat janji. Kemajuan alat
transportasi memberikan kemudahan untuk berpindah tempat dari satu
kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain.
Untuk ukuran di zaman Sang Buddha, pertemuan
tersebut memang layak diperingati hingga saat ini. Pertemuan
tersebut terjadi begitu saja, tanpa ada perjanjian di antara para
bhikkhu yang hadir. Mereka tidak pernah membuat janji, melakukan
kontak atau pembicaraan terlebih dahulu.
Walaupun tidak ada perjanjian secara lisan, mereka
tentu bisa saja melakukan perjanjian secara batin. Semua bhikkhu
tersebut telah mencapai tingkat kesucian tertinggi arahat dan
memiliki kekuatan batin. Dengan kemampuan batin yang tinggi,
mereka bisa berhubungan antara yang satu dengan yang lain atau
membuat perjanjian.
Mereka juga bukan sembarang bhikkhu. Mereka
diterima secara langsung oleh Buddha Gotama, ditahbiskan secara
langsung. Penahbisan ini hanya dilakukan oleh Buddha sendiri yang
dikenal dengan ungkapan ehi-bhikkhu upasampada.
Kesempatan yang baik tersebut dipergunakan oleh
Buddha Gotama untuk menyampaikan Ovada Patimokkha yang merupakan
intisari dari ajaran para Buddha; bukan hanya Buddha Gotama saja
namun juga para Buddha yang lain. "Tidak melakukan segala bentuk
kejahatan, memperbanyak perbuatan baik, sucikan hati dan pikiran,
inilah ajaran semua Buddha." (Dhammapada 183).
Buddha Gotama juga menyampaikan nasihatnya kepada
para bhikkhu. Kesabaran adalah praktik bertapa yang paling tinggi.
Nibbana adalah yang tertinggi," begitulah sabda para Buddha. Dia
yang masih menyakiti orang lain sesungguhnya bukanlah seorang
samana. (Dhammpada 184). Tidak menghina, tidak menyakiti, dapat
mengendalikan diri sesuai dengan peraturan. Memiliki sikap madya
dalam hal makan. Berdiam di tempat yang sunyi serta giat
mengembangkan batin nan luhur. Inilah ajaran para Buddha.
(Dhammapada 185)
Magha Puja merupakan hari Sangha. Dalam kesempatan
ini, ariya sangha (pasamuan para bhikkhu yang terdiri dari mereka
yang sudah mencapai tingkat kesucian) menunjukkan keberadaannya
dan sekaligus kekuatannya.
Hari ini, hampir semua vihara yang mengadakan
kebaktian rutin setiap hari Minggu, merayakan hari Magha Puja.
Beberapa vihara mengadakan acara pindapata di lingkungan vihara
sebelum memulai kebaktian di pagi hari. Pengurus vihara berusaha
untuk mengajak umatnya untuk terus berbuat baik melalui kegiatan
yang diselenggarakan.
Magha Puja memang bukan sekadar upacara kebaktian.
Lebih daripada itu adalah menerapkan Dhamma dalam kehidupan ini.
Terus berjuang, berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melakukan
segala bentuk kejahatan. Berusaha untuk melakukan perbuatan baik.
Jangan lupa untuk melatih diri; mensucikan hati dan pikiran dengan
bermeditasi.
Selamat hari Magha Puja.