Merah Biru Senja
DUDUK
SEJENAK,
kehilangan diri di tengah keramaian membuatku melukis wajah langit
yang tertangkap mata sempurna. Biasanya kita menunggu malam di
sini. Pandanglah dengan seksama, inilah indah yang kau rindu.
Merah biru warnanya. Mungkin matahari yang melukisnya menjadi
begitu, memilihkan warna untuk perjalanan pulang. Ia memang tak
sengaja menciptakan indah itu buat kita. Namun perlahan aku telah
menyimpannya dalam hati, memberimu sedikit ruang untuk tiap saat
mengetuk pintunya. Aku tahu engkau tak akan lagi berniat membagi
senja itu denganku. Mendengarku berkeluh, atau menyandarkan
sedikit isi pundakku. Sebagaimana aku tahu, engkau bukanlah
keabadian yang sepantasnya aku kemas rapi di hatiku.
Engkau tak akan pernah datang lagi, itu janjimu.
Rasanya itu satu-satunya janji paling pasti yang pernah kudengar,
di antara ribuan cerpen-cerpen personifikasimu tentangku. Ah, ya.
Kau begitu banyak melukis tentang bunga-bunga anggrek. Aku pun
menyimpannya rapi dalam sebuah folder pada telepon genggamku. Kau
tidak sedang menjadi ahli anestesi, aku tahu itu. Namun biusmu
perlahan perayap, mula-mula di tanganku sehingga lahir begitu
banyak puisi baru memenuhi perahuku yang mengapung. Mungkin
kejujuran adalah sebuah rasa sakit yang tanpa kita sadari telah
menikam lamban. Tetapi, kita butuh kejujuran untuk membaca
kenyataan. Setelah ini, engkau memintaku segera menutup pintu.
Tentu saja, senja telah jatuh. Merah biru warnanya.
Apakah ada basa-basi yang mesti kuingat kesepakatan
ini? Setelah aku paham bahwa selalu ada hakmu untuk berlalu jauh
dan makin jauh ketika harapan tak lagi dapat kau temukan di
mataku. Sedangkan kewajibanku adalah mengembalikanmu pada ruang
yang seharusnya kau huni dengan damai. Tidak ada hak yang akan aku
kedepankan, karena aku hanya merangkai pemahamanku untukmu,
seperti apakah aku kini di hadapanmu? Si anggrek ungu yang
berkelopak halus?
Mungkin aku akan menjadikan kisah itu sebagai
arang. Namun sejenak saja, selebihnya kau akan melihat aku
baik-baik saja. Di waktu terbenamnya matahari, aku mengambil
hikmah. Bahwa tak pernah ada salahnya menjadi puitis karena aku
dapat memenuhi hatimu dengan lembaran puisi-puisiku. Pilihan
kata-kata yang menjadi pengganti perenungan di merah biru senja
itu mewakilkan betapa aku hanya titik kecil air yang harus terus
mengalir. Begitu juga dirimu. Barangkali dengan berenang di
pikiran seperti itu, kita belajar ikhlas. Bahwa begitu banyak hal
yang tak seperti rangkaian keinginan kita, menanti untuk disikapi.
Tak akan kuputar waktu, meski kau titipkan
kuncinya. Mengembalikanmu pada ruang yang seharusnya adalah
ketetapan yang menjadi tutur cerita kita. Bila engkau kembali ke
sebuah rumah di pegunungan yang ranum oleh pohon-pohon, aku akan
membingkainya dengan lukisan. Akan kupilih warna senja yang
kusuka. Tetapi, bila engkau merasa berhak untuk membangun
persimpangan baru, masihkah aku punya kewajiban untuk
mengembalikan kunci dari sebuah ruang kosong yang telah kau
tinggalkan?
Senja telah sempurna kilaunya, perlahan-lahan tak
lagi merah biru.
Sri
Jayantini