kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 4 Maret 2007 tarukan valas
 

APRESIASI


Merah Biru Senja

DUDUK SEJENAK, kehilangan diri di tengah keramaian membuatku melukis wajah langit yang tertangkap mata sempurna. Biasanya kita menunggu malam di sini. Pandanglah dengan seksama, inilah indah yang kau rindu. Merah biru warnanya. Mungkin matahari yang melukisnya menjadi begitu, memilihkan warna untuk perjalanan pulang. Ia memang tak sengaja menciptakan indah itu buat kita. Namun perlahan aku telah menyimpannya dalam hati, memberimu sedikit ruang untuk tiap saat mengetuk pintunya. Aku tahu engkau tak akan lagi berniat membagi senja itu denganku. Mendengarku berkeluh, atau menyandarkan sedikit isi pundakku. Sebagaimana aku tahu, engkau bukanlah keabadian yang sepantasnya aku kemas rapi di hatiku.

Engkau tak akan pernah datang lagi, itu janjimu. Rasanya itu satu-satunya janji paling pasti yang pernah kudengar, di antara ribuan cerpen-cerpen personifikasimu tentangku. Ah, ya. Kau begitu banyak melukis tentang bunga-bunga anggrek. Aku pun menyimpannya rapi dalam sebuah folder pada telepon genggamku. Kau tidak sedang menjadi ahli anestesi, aku tahu itu. Namun biusmu perlahan perayap, mula-mula di tanganku sehingga lahir begitu banyak puisi baru memenuhi perahuku yang mengapung. Mungkin kejujuran adalah sebuah rasa sakit yang tanpa kita sadari telah menikam lamban. Tetapi, kita butuh kejujuran untuk membaca kenyataan. Setelah ini, engkau memintaku segera menutup pintu.

Tentu saja, senja telah jatuh. Merah biru warnanya.

Apakah ada basa-basi yang mesti kuingat kesepakatan ini? Setelah aku paham bahwa selalu ada hakmu untuk berlalu jauh dan makin jauh ketika harapan tak lagi dapat kau temukan di mataku. Sedangkan kewajibanku adalah mengembalikanmu pada ruang yang seharusnya kau huni dengan damai. Tidak ada hak yang akan aku kedepankan, karena aku hanya merangkai pemahamanku untukmu, seperti apakah aku kini di hadapanmu? Si anggrek ungu yang berkelopak halus?

Mungkin aku akan menjadikan kisah itu sebagai arang. Namun sejenak saja, selebihnya kau akan melihat aku baik-baik saja. Di waktu terbenamnya matahari, aku mengambil hikmah. Bahwa tak pernah ada salahnya menjadi puitis karena aku dapat memenuhi hatimu dengan lembaran puisi-puisiku. Pilihan kata-kata yang menjadi pengganti perenungan di merah biru senja itu mewakilkan betapa aku hanya titik kecil air yang harus terus mengalir. Begitu juga dirimu. Barangkali dengan berenang di pikiran seperti itu, kita belajar ikhlas. Bahwa begitu banyak hal yang tak seperti rangkaian keinginan kita, menanti untuk disikapi.

Tak akan kuputar waktu, meski kau titipkan kuncinya. Mengembalikanmu pada ruang yang seharusnya adalah ketetapan yang menjadi tutur cerita kita. Bila engkau kembali ke sebuah rumah di pegunungan yang ranum oleh pohon-pohon, aku akan membingkainya dengan lukisan. Akan kupilih warna senja yang kusuka. Tetapi, bila engkau merasa berhak untuk membangun persimpangan baru, masihkah aku punya kewajiban untuk mengembalikan kunci dari sebuah ruang kosong yang telah kau tinggalkan?

Senja telah sempurna kilaunya, perlahan-lahan tak lagi merah biru.

 

Sri Jayantini

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com