Membangun
keadaban
publik yang
kerap
diserukan para
budayawan,
seniman
dan tokoh-tokoh agama
dan
masyarakat tidak
mempan
untuk mengubah
ketidakdisiplinan
dalam
kehidupan bermasyarakat,
berbangsa,
dan
bernegara.
-----------------------
Disiplin
dan
Keteladanan Membangun
Bangsa
Oleh
Pormadi
Simbolon
TRAUMA
sosial
dan psikologis
akibat
aneka bencana
alam
serta kecelakaan
transportasi
di
tanah air menciptakan
ketidakpastian
di
negeri ini.
Aneka
persoalan bersama
membangkitkan
gerakan
tobat dan
perbaikan
nasib
bangsa ini
seperti yang
pernah
diserukan ketua
Pengurus
Besar
Nahdlatul Ulama
dan
oleh pemerintah
melalui
Menteri Agama. Apakah
gerakan
tobat itu
akan
berhasil? Gerakan
tobat
nasional akan
menjadi
sia-sia bila
tidak
ada disiplin
diri
dalam perbaikan
mutu
kehidupan secara
individu
maupun
kolektif.
-------------------
Disiplin
diri
menjadi kata
kunci
kemajuan dan
kesuksesan
serta
kebesaran orang-orang
besar yang
pernah
hidup dalam
sejarah.
Seorang
pemimpin, atau
siapa
saja bisa
mencapai
kesejatian
di
bidangnya masing-masing
karena
pernah mempraktikkan
disiplin
diri.
Presiden
Amerika
Serikat (AS) ke-26, Theodore
Rosevelt (1858-1919) pernah
mengatakan, With
self-discipline, most anything is possible;
dengan
disiplin diri,
kebanyakan
hal
menjadi mungkin.
Gary Ryan Blair, seorang
motivator negeri
paman Sam,
pernah
berkata, self-dicipline
is an act of cultivating. It require you to connect
todays action to tomorrow's
results. Theres a seasons
for sowing a season of reaping. Self-discipline helps
you know which is which. Inti
pernyataan
tersebut
mau
mengatakan bahwa
barang
siapa melatih
disiplin
diri,
maka dia
akan
menuai hasilnya pula.
Orang yang
tidak
berdisiplin diri
akan
menerima akibatnya.
Di
Indonesia pemerintah
pernah
menyerukan gerakan
disiplin
nasional
dalam
kehidupan bermasyarakat
yang dimulai
dari
disiplin di
jalan
raya. Namun
hasil
dari gerakan
tersebut
relatif
belum kelihatan
sampai
sekarang. Gema
gerakan
terbut juga
tidak
terdengar lagi.
Membangun
keadaban
publik yang
kerap
diserukan para
budayawan,
seniman
dan tokoh-tokoh agama
dan
masyarakat tidak
mempan
untuk mengubah
ketidakdisiplinan
dalam
kehidupan bermasyarakat,
berbangsa
dan
bernegara.
Iklan
di
televisi, seseorang
pengemudi
mobil
pribadi melanggar
rambu
lalu lintas.
Ketika
ditanya mengapa
ia
melanggarnya, ia
mengatakan,
tidak
ada yang jaga.
Kejadian
di
iklan tersebut
sering kali
terjadi
dalam kehidupan
sehari-hari.
Pelanggaran
boleh
dilakukan karena
tidak
ada penjaga
disiplin
berlalulintas.
Ini
bisa menjadi
cermin
kepribadian insan-insan
bangsa
kita.
Ketidakdisiplinan
pada
dunia transportasi
mengakibatkan
kecelakaan
transportasi.
Ketidakdisiplinan
dalam
pengelolaan hutan
akan
menyebabkan bencana
alam.
Ketidakdisiplinan dalam
menjalankan
peraturan yang
ada
menyebabkan merajalelanya
tindakan
korupsi,
kolusi,
dan nepotisme.
Ketidakdisiplinan
menjalankan
ajaran
sejati dari
suatu agama
menyebabkan
salah
tafsir yang pada
akhirnya
terjadilah
tindakan
anarkhis
dan
penghilangan nyawa
sesama
secara gampang.
Keteladanan
Disiplin
diri
merupakan proses yang
sejatinya
dimulai
sejak masa
kanak-kanak
di
dalam pendidikan
sekolah
keluarga. Itu
berarti
pendidikan non-formal dalam
keluarga
menjadi
dasar seseorang
untuk
mampu melatih
disiplin
diri.
Namun, pelatihan
disiplin
diri
pada orang
dewasa
membutuhkan ekstra
pengorbanan
dan
pengendalian diri
yang intensif.
Orang
dewasa sudah
terbentuk
oleh
keadaan lingkungannya.
Masih
mungkinkah menerapkan
disiplin
diri
bagi para
insan-insan
bangsa yang
tidak
berdisiplin diri?
Dalam
masyarakat
umum,
metode yang sering
dilakukan
untuk
mendisiplinkan diri
adalah
pemberlakuan hukuman.
Namun
hasilnya, yang terjadi
adalah
disiplin sesaat,
karena
ada ancaman.
Itulah yang
terjadi
sekarang ini.
Itulah
sebabnya banyak
tindakan KKN
belum
dapat diberantas
secara
signifikan.
Praktik
pendisiplinan
diri
dapat terjadi
dari
orang tua
kepada
anak-anaknya, pemerintah
kepada
masyarakat, atau
dari
diri sendiri
kepada
diri sendiri.
Sejatinya
praktik
tersebut entah yang
dimulai
sejak masa-masa
kanak-kanak
entah
sesudah dewasa
bersifat
berkesinambungan (tidak
sesaat),
fleksibel (tidak
otoriter),
ada
batas-batas yang pasti
mana yang
boleh
dan tidak
boleh,
ada kepastian
hukum,
dan adanya
komunikasi (yang
sehat
dan konstruktif,
tanpa
ada unsur
saling
merendahkan atau
melecehkan).
Teladan
yang pernah
dipraktikkan
oleh Benjamin Franklin
mungkin
bisa menjadi model
bagi
setiap individu yang
mau
berkehendak baik
untuk
memperbaiki keadaan
di
negeri ini.
Mantan
Presiden AS itu
melatih 13
kecakapan
diri.
Ia memraktikkan
keugaharian
untuk
tidak makan
dan
minum terlalu
banyak.
Praktik diam
dengan
berbicara hanya
tentang yang
bermanfaat
bagi
orang lain, tidak
omong
kosong. Tertib
dan
teratur untuk
melatih
diri terbiasa
meletakkan
hal dan
barang
pada kedudukan
dan
tempatnya masing-masing,
membagi
waktu untuk
semua
urusannya.
Ia
melatih
keteguhan hati
dalam
melaksanakan apa yang
semestinya
dilakukan
dan
telah diputuskan (tidak
plinplan,
ragu-ragu).
Praktik
hemat diwujudkan
dengan
tidak mengeluarkan
biaya
selain untuk
hal-hal yang
baik
bagi orang lain
dan
diri sendiri.
Ia
rajin dengan
tidak
membiarkan waktunya
kosong,
menggunakan waktunya
dengan
mengerjakan hal-hal
yang berguna.
Sikap
jujur dilatihnya
dengan
tidak melakukan
tipu
muslihat yang menyakitkan
hati,
berpikir bersih
dan
jernih serta
berbicara
tentang yang
benar
saja.
Keutamaan
keadilan
dibangunnya
dengan
tidak menyalahkan
orang lain
dengan
melakukan sesuatu
yang tidak
adil
atau dengan
melakukan
hal-hal yang
merupakan
kewajibannya.
Sikap
moderat dilatihnya
dengan
menghindari sikap
hal-hal yang
ekstrem,
dan
selalu bersabar
terhadap
hal-hal yang
kurang
adil atas
dirinya.
Ia
melatih kebersihan
diri
dengan tidak
mentolerir
hal-hal yang
tidak
bersih dalam
badan,
pakaian atau
rumah.
Lalu
praktik
ketenangan diri
direalisasikannya
dengan
tidak gugup
atas
hal-hal remeh
atau
kejadian buruk yang
biasa
atau tak
terhindarkan.
Ia
meraih kemurnian
dengan
menggunakan seks
hanya
untuk kesehatan
atau
keturunan, tidak
berlebihan
sehingga
bisa
merusak reputasi
diri
sendiri dan
ketenangan
orang lain.
Ia
rendah hati
terhadap
siapa pun,
entah
kaya atau
miskin,
pejabat atau
rakya
biasa.
Ketigabelas
pelajaran Franklin
tersebut
membuat
dia berhasil
memajukan
negara AS.
Ia
menjadi teladan yang
patut
disegani di
negerinya.
Seruan
tobat
dan perbaikan
kultur
bangsa oleh
berbagai
pihak
akan sia-sia
jika
tidak ada
pendisiplinan
diri
lebih dulu.
Semuanya
bermula
dari disiplin
diri.
Jika tidak,
nasib
bangsa ini
akan
menjadi bangsa
kerdil yang
penuh
dengan bencana,
kecelakaan
dan KKN.
* Penulis,
alumnus Sekolah
Tinggi
Filsafat dan
Teologi
Widya
Sasana Malang,
tinggal
di Jakarta
-------------------
*
Praktik
pendisiplinan diri
dapat
terjadi dari
orangtua
kepada
anak-anaknya, pemerintah
kepada
masyarakat, atau
dari
diri sendiri
kepada
diri sendiri.
*
Sejatinya
praktik
tersebut bersifat
berkesinambungan,
fleksibel,
ada
batas-batas yang pasti
mana yang
boleh
dan tidak
boleh,
ada kepastian
hukum,
dan adanya
komunikasi.
*
Seruan
tobat dan
perbaikan
kultur
bangsa oleh
berbagai
pihak
akan sia-sia
jika
tidak ada
pendisiplinan
diri
lebih dulu.