kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Pon, 27 Maret 2007

 Surat Pembaca


Upacara
''Bebantenan'' dan ''Yadnya'' 

Membaca tulisan di Surat Pembaca Bali Post berjudul ''Pertahankan Konsep Yadnya'' pada 28 Februari 2007 dan ''Sinkronisasi Agama dan Adat'' pada 2 Maret 2007, ingin saya garis bawahi sebagai tambahan acuan.

Dalam tulisan itu dipertanyakan antara lain sistem tender dalam upacara bebantenan, sekaligus penggunaan banten secara besar-besaran yang diduga atau diragukan pemahaman maknanya maupun kegunaannya. Bagi saya, kedua penyelenggaraan itu sifatnya relatif, sesuai situasi dan kebutuhan.

Yadnya bebantenan itu ada yang bersifat nista (sederhana), madya dan utama. Yadnya yang utama itu diselenggarakan dalam kurun waktu yang cukup lama, memerlukan jenis bebantenan yang beraneka ragam. Perlu keahlian dan waktu yang panjang. Mungkin kondisi ini mendorong timbulnya bisnis tender dalam pengadaan bebantenan. Tetapi bagaimana pun sistem atau prosedur yang ditempuh, pengadaan yadnya upacara bebantenan terikat kepada hukum sekala dan niskala.

Yadnya adalah dharma, persembahan kepada yang kita kasihi, persembahan yang dilandasi oleh hakikat kebenaran mutlak (sat), hukum mutlak (rta), kesucian (diksa), ketekunan (tapa) dan keagungan (brahma). Pembuatannya dan penggunaannya dalam wujud banten disangga oleh hukum sarwa wastu di bawah pengendali Dewi Wastu dan Dewi Tapini. Jika terjadi pelanggaran yang disengaja dari acuan sakral sebagai petunjuk, dengan membodohi mereka yang awam yang mempercayainya, bisa-bisa ikut jadi tambahan caru. Kalau kita cermat kita bisa membuktikannya. Karena itu berhati- hatilah menjadi manggala dalam upacara bebantenan.

Tetapi yadnya itu banyak jenisnya. Memberikan santunan kepada keluarga kita yang miskin, sakit dan kelaparan adalah yadnya yang sangat agung. Bantuan kepada mereka bisa dalam berbagai bentuk, selain uang, juga makanan, pakaian bekas, obat-obatan bahkan bantuan untuk berteduhnya, karena lahan mereka umumnya sudah ada. Jadikanlah tahun saka ini sebagai awal kebangkitan kesadaran ber-yadnya bagi warga Bali Hindu yang miskin dan terpinggirkan. 

Dr. I Dewa Ketut Wisnu Putra
Br. Sembung Kumpi

Kec
.
Kerambitan, Tabanan

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)