kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Pon, 27 Maret 2007

 Ekuin


Pengalihan ke Elpiji--

Penghasilan Pengusaha Minyak Tanah Menciut

Guna mengurangi besarnya subsidi minyak tanah (mitan) yang dikeluarkan pemerintah pusat, diluncurkanlah program konversi mitan ke elpiji. Bali merupakan salah satu daerah yang akan dijadikan lokasi penyaluran elpiji bersubsidi ini. Sejauh manakah program ini berjalan?

------------------ 

Keberadaan program konversi minyak tanah ke elpiji sudah cukup lama dilontarkan ke masyarakat. Adanya program bersubsidi ini dimaksudkan untuk meminimalkan terjadinya kecurangan dalam pendistribusian mitan kepada masyarakat yang membutuhkan. Pasalnya selama ini masyarakat selalu memperoleh mitan dengan harga di atas harga eceran tertinggi (HET). Program ini juga untuk meringankan beban anggaran subsidi BBM pemerintah pusat yang selama ini relatif besar.

 

Bali sendiri sebagai salah satu daerah yang akan melaksanakan program konversi mitan ke elpiji ini bisa dibilang belum melakukan tindakan apa-apa. Semuanya masih tergantung keputusan pusat, termasuk koordinasi dengan instansi terkait yang nantinya akan bertanggung jawab dalam penyalurannya. Pertamina memang mengaku sudah menyiapkan langkah-langkah untuk mendistribusikan elpiji 3 kg yang menjadi program pemerintah ini, tetapi realisasinya belum ada karena menunggu penugasan pusat. Alhasil, setidaknya sudah tiga kali ada perubahan jadwal pelaksanaan program ini di Bali maupun di daerah lainnya di Indonesia.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) Bali Udi Prayudi mengatakan semestinya perlu ada sosialisasi yang melibatkan berbagai instansi kepada masyarakat yang selama ini menggunakan mitan agar konversi ini tidak mubazir. Dia juga mengkhawatirkan konversi ini akan bernasib sama dengan distribusi mitan bersubsidi yang hanya menguntungkan segelintir orang dan oknum tidak bertanggung jawab.

Berita terakhir dari Pertamina Unit Pemasaran V Denpasar, pelaksanaan konversi ini jadi dilakukan, tetapi jadwalnya diundur dari Maret 2007 menjadi Mei 2007. Humas Pertamina Unit Pemasaran (UPms) V Denpasar Pamuji Harjo mengutarakan adanya kendala di bidang pengadaan kompor elpiji membuat program ini terus mengalami kemunduran. Jumlah elpiji yang akan dikonversikan, sebut Pamuji, mencapai 20 metrik ton.

Jumlah ini pun mengalami pengurangan dibandingkan jumlah yang sudah direncanakan sebelumnya. Paling tidak Bali Post mencatat terjadi tiga kali pengurangan jumlah tabung dan isi tabung yang akan didistribusikan di Bali. Sebelumnya WP Elpiji dan Produk Gas Rayon III Pertamina Abdul Manan menyebutkan elpiji yang akan disalurkan mencapai 40 metrik ton. Sementara rencana awalnya, jatah elpiji Bali mencapai 177 metrik ton.

Melalui pendistribusian elpiji pada Mei nanti, kuota minyak tanah yang mulanya mencapai 500 kl/hari berkurang menjadi 465 kl/hari karena 20 metrik ton elpiji kurang lebih setara dengan 35 kl minyak tanah. Belum jelas hingga bulan apa pengurangan jumlah mitan yang disalurkan akan terus berkurang.

Adanya konversi mitan ke elpiji ini mau tidak mau berimbas pada bisnis mitan di Bali. Ketua Hiswanamigas Bali Dewa Astama mengatakan pengalihan mitan ke elpiji akan terjadi pengurangan bisnis mitan di Bali. Karena adanya pengurangan bisnis minyak tanah ini, Astama mengatakan telah mengusulkan kepada Pertamina agar memberikan keringanan bagi para agen minyak tanah yang ingin ikut dalam bisnis penyaluran distribusi elpiji bersubsidi.

Dia menilai para pemain di bidang mitan berhak diajak ikut serta dan diprioritaskan mengingat dengan adanya pengurangan kuota mitan, bisnis menjadi terganggu. ''Memang dua bisnis ini berbeda jenis dan penanganannya. Tapi kita butuh bisnis baru untuk menutupi bisnis mitan yang sudah berkurang seiring dilakukannya konversi mitan ke elpiji kelak,'' jelasnya.

Dia optimis bila agen minyak tanah diberikan kesempatan, perangkat yang ada bisa dimodifikasi sehingga investasi yang dibutuhkan tidak relatif besar. Ditambah lagi adanya kesiapan agen mitan juga akan mempercepat proses pendistribusian elpiji ke masyarakat yang memang membutuhkan. (iah)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)