Pengalihan ke Elpiji--
Penghasilan Pengusaha Minyak Tanah Menciut
Guna mengurangi besarnya subsidi minyak tanah (mitan)
yang dikeluarkan pemerintah pusat, diluncurkanlah
program konversi mitan ke elpiji. Bali merupakan salah
satu daerah yang akan dijadikan lokasi penyaluran elpiji
bersubsidi ini. Sejauh manakah program ini berjalan?
------------------
Keberadaan program konversi minyak tanah ke elpiji sudah
cukup lama dilontarkan ke masyarakat. Adanya program
bersubsidi ini dimaksudkan untuk meminimalkan terjadinya
kecurangan dalam pendistribusian mitan kepada masyarakat
yang membutuhkan. Pasalnya selama ini masyarakat selalu
memperoleh mitan dengan harga di atas harga eceran
tertinggi (HET). Program ini juga untuk meringankan
beban anggaran subsidi BBM pemerintah pusat yang selama
ini relatif besar.
Bali sendiri sebagai salah satu daerah yang akan
melaksanakan program konversi mitan ke elpiji ini bisa
dibilang belum melakukan tindakan apa-apa. Semuanya
masih tergantung keputusan pusat, termasuk koordinasi
dengan instansi terkait yang nantinya akan bertanggung
jawab dalam penyalurannya. Pertamina memang mengaku
sudah menyiapkan langkah-langkah untuk mendistribusikan
elpiji 3 kg yang menjadi program pemerintah ini, tetapi
realisasinya belum ada karena menunggu penugasan pusat.
Alhasil, setidaknya sudah tiga kali ada perubahan jadwal
pelaksanaan program ini di Bali maupun di daerah lainnya
di Indonesia.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Konsumen Swadaya Masyarakat
(LPKSM) Bali Udi Prayudi mengatakan semestinya perlu ada
sosialisasi yang melibatkan berbagai instansi kepada
masyarakat yang selama ini menggunakan mitan agar
konversi ini tidak mubazir. Dia juga mengkhawatirkan
konversi ini akan bernasib sama dengan distribusi mitan
bersubsidi yang hanya menguntungkan segelintir orang dan
oknum tidak bertanggung jawab.
Berita terakhir dari Pertamina Unit Pemasaran V
Denpasar, pelaksanaan konversi ini jadi dilakukan,
tetapi jadwalnya diundur dari Maret 2007 menjadi Mei
2007. Humas Pertamina Unit Pemasaran (UPms) V Denpasar
Pamuji Harjo mengutarakan adanya kendala di bidang
pengadaan kompor elpiji membuat program ini terus
mengalami kemunduran. Jumlah elpiji yang akan
dikonversikan, sebut Pamuji, mencapai 20 metrik ton.
Jumlah ini pun mengalami pengurangan dibandingkan jumlah
yang sudah direncanakan sebelumnya. Paling tidak Bali
Post mencatat terjadi tiga kali pengurangan jumlah
tabung dan isi tabung yang akan didistribusikan di Bali.
Sebelumnya WP Elpiji dan Produk Gas Rayon III Pertamina
Abdul Manan menyebutkan elpiji yang akan disalurkan
mencapai 40 metrik ton. Sementara rencana awalnya, jatah
elpiji Bali mencapai 177 metrik ton.
Melalui pendistribusian elpiji pada Mei nanti, kuota
minyak tanah yang mulanya mencapai 500 kl/hari berkurang
menjadi 465 kl/hari karena 20 metrik ton elpiji kurang
lebih setara dengan 35 kl minyak tanah. Belum jelas
hingga bulan apa pengurangan jumlah mitan yang
disalurkan akan terus berkurang.
Adanya konversi mitan ke elpiji ini mau tidak mau
berimbas pada bisnis mitan di Bali. Ketua Hiswanamigas
Bali Dewa Astama mengatakan pengalihan mitan ke elpiji
akan terjadi pengurangan bisnis mitan di Bali. Karena
adanya pengurangan bisnis minyak tanah ini, Astama
mengatakan telah mengusulkan kepada Pertamina agar
memberikan keringanan bagi para agen minyak tanah yang
ingin ikut dalam bisnis penyaluran distribusi elpiji
bersubsidi.
Dia menilai para pemain di bidang mitan berhak diajak
ikut serta dan diprioritaskan mengingat dengan adanya
pengurangan kuota mitan, bisnis menjadi terganggu.
''Memang dua bisnis ini berbeda jenis dan penanganannya.
Tapi kita butuh bisnis baru untuk menutupi bisnis mitan
yang sudah berkurang seiring dilakukannya konversi mitan
ke elpiji kelak,'' jelasnya.
Dia optimis bila agen minyak tanah diberikan kesempatan,
perangkat yang ada bisa dimodifikasi sehingga investasi
yang dibutuhkan tidak relatif besar. Ditambah lagi
adanya kesiapan agen mitan juga akan mempercepat proses
pendistribusian elpiji ke masyarakat yang memang
membutuhkan. (iah)