Taat
Asas
Kelola SMK
Pemerintah
c.q.
Depdiknas dewasa
ini
sedang menggebu
mengarahkan agar
anak-anak
tamatan SMP
mau dan
berminat
masuk
ke Sekolah
Menengah
Kejuruan (SMK).
Hal itu
disebabkan
oleh
lulusan SMA yang mampu
melanjutkan
ke
perguruan tinggi
masih
kurang dari 15%.
Secara
institusional,
kepala
Dinas Pendidikan
Propinsi Bali TIA
Kusuma
Wardani menyatakan
komposisi
sekolah yang
ada
sekarang di Bali (SMA
= 167 dan SMK = 97)
diupayakan
akan
menjadi
terbalik (BP, 26 Januari
2007).
Sesungguhnya,
keinginan
pemerintah
seperti
sekarang ini
sudah
sering tercetus
dan
terlaksana, namun
sering pula
menuai
kegagalan.
Sebut
saja ketika
Mendikbud
dipegang
oleh Prof.
Wardiman
Djojonegoro
secara
besar-besaran dikenalkan
kepada
masyarakat sebuah
sistem yang
diberi
nama
Pendidikan
Sistem
Ganda (PSG) atau Link
and Match.
Melalui
sistem
itu tak
hanya
lulusan SMK yang disasar
dan
diharapkan siap
kerja,
tetapi juga
lulusan SMA
lewat program
sisipan yang
disebut
dengan kurikulum
muatan
lokal.
Hasilnya?
Belum
banyak
terlihat bahwa
lulusan SMK yang
siap
kerja.
Kendati
demikian,
saya
tidak bermaksud
mengajak
praktisi
pendidikan
untuk
menjadi pesimis
di
dalam menyikapi
kebijakan
pemerintah.
Cuma,
mampukah
Depdiknas
beserta
jajarannya hingga
terbawah
membalik
keadaan
dari perbandingan SMA-SMK
(63% dan 37%)
menjadi 37% (SMA)
dan 67% (SMK)?
Kalau
pemerintah
serius
menggarap hal
tersebut,
maka
komponen-komponen pendidikan
harus
diperhatikan, terutama
komponen
sarana/prasarana
pembelajaran SMK.
Sebaliknya,
jika
komponen dan
proses
pembelajaran kurang
berorientasi
pada
pembentukan keterampilan
dan
kecakapan hidup,
ditambah
lagi guru-gurunya
lebih
banyak berceramah
ketimbang
aktif
bersama siswa
di
bengkel kerja,
jangan
harap lulusan SMK
bisa
mengurangi angka
pengangguran yang
kini
kian membengkak.
Para pengelola SMK
harus
benar-benar taat
asas,
kalau praktik
ya
praktik dan
jangan
ceramah melulu.
Satu
hal yang
perlu
mendapat perhatian
yaitu
perguruan tinggi (PTN
& PTS) sedapat
mungkin
jangan menerima
lulusan SMK.
Dengan
cara seperti
itu,
mereka (lulusan SMK)
akan
semakin sadar
bahwa
mereka ''diciptakan''
untuk
bekerja
dan
bukannya
melanjutkan
studi/kuliah
sesuai yang
diamanatkan
pemerintah.
Romi
Sudhita
Jl.
Srikandi
Gg. Melon No. 11
Singaraja