kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Wage, 6 Pebruari 2007

 Surat Pembaca


Taat
Asas Kelola SMK 

Pemerintah c.q. Depdiknas dewasa ini sedang menggebu mengarahkan agar anak-anak tamatan SMP mau dan berminat masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hal itu disebabkan oleh lulusan SMA yang mampu melanjutkan ke perguruan tinggi masih kurang dari 15%.

Secara institusional, kepala Dinas Pendidikan Propinsi Bali TIA Kusuma Wardani menyatakan komposisi sekolah yang ada sekarang di Bali (SMA = 167 dan SMK = 97) diupayakan akan menjadi terbalik (BP, 26 Januari 2007).

Sesungguhnya, keinginan pemerintah seperti sekarang ini sudah sering tercetus dan terlaksana, namun sering pula menuai kegagalan. Sebut saja ketika Mendikbud dipegang oleh Prof. Wardiman Djojonegoro secara besar-besaran dikenalkan kepada masyarakat sebuah sistem yang diberi nama Pendidikan Sistem Ganda (PSG) atau Link and Match.

Melalui sistem itu tak hanya lulusan SMK yang disasar dan diharapkan siap kerja, tetapi juga lulusan SMA lewat program sisipan yang disebut dengan kurikulum muatan lokal. Hasilnya? Belum banyak terlihat bahwa lulusan SMK yang siap kerja.

Kendati demikian, saya tidak bermaksud mengajak praktisi pendidikan untuk menjadi pesimis di dalam menyikapi kebijakan pemerintah. Cuma, mampukah Depdiknas beserta jajarannya hingga terbawah membalik keadaan dari perbandingan SMA-SMK (63% dan 37%) menjadi 37% (SMA) dan 67% (SMK)? Kalau pemerintah serius menggarap hal tersebut, maka komponen-komponen pendidikan harus diperhatikan, terutama komponen sarana/prasarana pembelajaran SMK.

Sebaliknya, jika komponen dan proses pembelajaran kurang berorientasi pada pembentukan keterampilan dan kecakapan hidup, ditambah lagi guru-gurunya lebih banyak berceramah ketimbang aktif bersama siswa di bengkel kerja, jangan harap lulusan SMK bisa mengurangi angka pengangguran yang kini kian membengkak. Para pengelola SMK harus benar-benar taat asas, kalau praktik ya praktik dan jangan ceramah melulu.

Satu hal yang perlu mendapat perhatian yaitu perguruan tinggi (PTN & PTS) sedapat mungkin jangan menerima lulusan SMK. Dengan cara seperti itu, mereka (lulusan SMK) akan semakin sadar bahwa mereka ''diciptakan'' untuk bekerja dan  bukannya melanjutkan studi/kuliah sesuai yang diamanatkan pemerintah.

 

Romi Sudhita

Jl. Srikandi Gg. Melon No. 11 Singaraja

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)