kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Wage, 6 Pebruari 2007

 Debat


Melek
Aksara Mempermudah Hidup
Oleh
Drs. I Wayan Darma, M.Si. 

DI tengah derasnya kemajuan teknologi informasi saat ini, ternyata masih ada sebagian penduduk Bali yang belum mengenal huruf alias buta aksara. Jumlahnya pun lumayan besar yakni 15,56% dari total jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas. Bahkan, menjadi peringkat keempat terburuk di Indonesia. Menurut Mendiknas RI, ini merupakan salah satu aibnya Bali dalam bidang pendidikan.

Program ini sangat memerlukan perhatian dan sinergi dari semua komponen masyarakat, dan tidak cukup dari pemerintah saja. Kendala dalam penanganan buta aksara dapat dilihat dari dua sisi yakni dari sisi penyelenggara dalam hal ini pemerintah sampai penyelenggara tingkat kecamatan dan tutor di TKB (tempat kegiatan belajar), dan dari sisi peserta didik atau warga belajar itu sendiri. Dari sisi penyelengara kendalanya dapat dilihat berupa pola penanganan yang menonton, kurang inovatif, keberlanjutan kurang (karena memakai pola anggaran tahunan), dan rendahnya etos kerja dari penyelengara maupun tutor di TKB. Ini semua juga terkait dengan masalah dana. Alokasi dana untuk program pendidikan luar sekolah khususnya penuntasan buta aksara, di masa yang lalu sangat rendah. Sehingga rekrutmen jumlah peserta warga belajar sanat terbatas, begitu pula biaya oprasionalnya sangat kecil, termasuk insentif honor tutor hanya sekadarnya.

Sementara dari sisi peserta/warga belajar yang notabene penduduk buta aksara, sebagian tampaknya kurang motivasi. Secara intrinsik mereka belum merasa tersentuh, untuk apa belajar, apa manfaat belajar, apakah dengan melek aksara hari ini bisa lebih baik dari kemarin, atau hari esok bisa lebih baik dari hari ini? Sebagian dari peserta masih menganggap belajar di TKB sebagai beban, belum dianggap sebagai suatu kebutuhan. Ini pun terkait dengan kurangnya motivasi ekstrinsik yang dilakukan oleh tutor dan penyelenggara di TKB masing-masing.

Ada beberapa hal yang bisa diupayakan. Pertama, penyelenggara program penuntasan buta aksara harus mampu mengoptimalkan koordinasi piranti yang ada pada setiap jenjang pemerintahan. Lebih-lebih pemerintah, dalam hal ini kecamatan di bawah koordinasi camat setempat dan secara teknis Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan atau UPT (Unit Pelaksana Teknis) Dinas Pendidikan Kecamatan mengkoordinasikan program ini dengan melibatkan stakeholders terkait seperti Mantri Statistik, petugas Dukcapil Kecamatan, Seksi Kesra Kecaamtan, Kepala Desa/Kelurahan, bahkan sampai kepada Kepala Dusun/Kepala Lingkungan dimana TKB itu berada. Koordinasi ini akan memudahkan di dalam rekrutmen peserta warga belajar dan sangat menunjang keberhasilan program selanjutnya. Untuk itu semua komponen tersebut harus memiliki visi yang sama, serta mau memberi perhatian yang besar dan mau bersinergi dalam menuntaskan buta aksara tersebut.

Kedua, tutor di TKB harus mampu menerapkan pola kegiatan belajar dengan pola interaksi yang mengasyikkan atau menyenangkan. Tidak ada salahnya tutor mengadopsi pola PAKEM (pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan) dalam pendidikan formal. Lebih-lebih jika tutor mampu menerapkan pembelajaran kontekstual, maka peserta akan sangat tertarik dan termotivasi untuk mengikuti program-program selanjutnya. Dalam hal ini tutor perlu inovasi dan kreasi agar mampu mengkondisikan peserta untuk melakukan olah pikir, olah raga, olah rasa dan olah hati. Tutor hendaknya mampu memformat kegiatan bahwa pertemuan di TKB tidaklah sekadar membaca, menulis dan berhitung saja. Barangkali ada baiknya 10 menit pada awal pertemuan diadakan perenungan/duduk hening atau meditasi. Setelah itu ada persepsi, lalu langsung ke materi membaca, menulis dan berhitung. Kemudian setelah jenuh lakukanlah mauwadan (sekadar menggerak-gerakkan badan) atau maseliahan (intermeso) mungkin ada yang senang magegitaan, mewirama atau makidung, apalagi kalau dilengkapi dengan geguntangan. Ini akan sangat menarik dan mengasyikkan bagi peserta. Secara tidak langsung kurikulum yang tersembunyi telah dapat diwujudkan, yakni olah hati/olah batin melalui meditasi walau hanya 10 menit. Olah raga dengan mauwadan, olah rasa dengan maseliahan yang diisi dengan mawirama/makidung dan tentunya juga olah pikir yakni melalui kegiatan baca tulis hitung itu sendiri.

Ketiga, perlu ada dukungan dana yang memadai untuk program penuntasan buta aksara, mulai dari persiapan koordinasi dan sinkronisasi program, biaya oprasionalisasi program termasuk pengadaan sarana belajar dan biaya transpor atau honor tutor.

Keempat, etos kerja dari tutor maupun penyelenggara perlu ditingkatkan. Perlu ada upaya penyamaan persepsi bahwa tugas ini adalah tugas bersama dan lebih merupakan sebuah pengabdian atau pelayanan kepada sesama.

Kelima, etos belajar dari peserta didik perlu ditanamkan. Bahwa belajar (melek aksara) bukanlah beban, belajar bukanlah kewajiban yang harus dilaksanakan dengan terpaksa. Tetapi belajar adalah sebuah kebutuhan rohani yang sanagt penting. Belajar adalah upaya pemuliaan integritas diri pribadi dan keluarga, yang nantinya dapat mempermudah, memberi arah dan memperindah hidup ini.

 

Penulis, Pengawas SMP/SMA/SMK Kabupaten Karangasem, dosen STKIP Agama Hindu Amlapura

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)