Kita
harus mau mengakui bahwa kita bangsa yang korup karena
memang benar adanya. Seiring dengan itu marilah kita
sadar diri bahwa perjuangan saat ini bukanlah melawan
penjajahan fisik, namun kemiskinan, kebodohan dan
peperangan melawan korupsi.
-------------------------------
''Paket''
Kemiskinan-Pendidikan-Kebodohan
Oleh I Gusti Bagus Rai Utama, MMA
MENURUT
catatan ADB, ternyata mayoritas masyarakat miskin
Indonesia bekerja di sektor pertanian. Artinya jika
penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian
berjumlah 100 juta orang, kita dapat membayangkan berapa
banyaknya masyarakat Indonesia berada pada garis
kemiskinan. Jika kita lihat masyarakat Bali yang masih
mayoritas sebagai petani, itu juga dapat dipakai sebagai
indikator bahwa masyarakat Bali masih banyak berada
dalam garis kemiskinan walaupun sektor pariwisata memang
harus diakui telah berhasil menjadi primadona Bali.
Karena masyarakat Bali mayoritas sebagai petani, ada
juga indikasi bahwa mereka tidak akan mampu
menyekolahkan anak-anak mereka sampai benar-benar siap
untuk bekerja. Jika semakin banyak anak-anak kita yang
putus sekolah, bagaimana Bali ini bisa ajeg?
--------------------
Dalam konteks pembangunan ke depan, sudah saatnya
yel-yel dan dogma lama yang bernuansakan rayuan pulau
kelapa dihilangkan karena itu juga membuat kita menjadi
bangsa yang manja dan tak mau bekerja keras. Tidak ada
lagi tongkat menjadi tanaman, tidak ada lagi nyiur hijau
melambai-lambai, tidak ada lagi lautan menjadi kolam
susu. Kita harus mau mengakui bahwa kita telah menjadi
miskin, tanah sudah tidak sesubur dulu lagi karena tanah
kita sudah terkena dampak penyempitan lahan dan tercemar
limbah. Kita harus mau mengakui bahwa kita bangsa yang
korup karena memang benar adanya. Seiring dengan itu
marilah kita sadar diri bahwa perjuangan saat ini
bukanlah melawan penjajahan fisik, namun kemiskinan,
kebodohan dan peperangan melawan korupsi.
Coba kita lihat bangsa lain seperti Jepang, kenapa
mereka mampu menjadi bangsa yang besar dan
diperhitungkan di muka bumi ini, walaupun sebenarnya
mereka tidak memiliki kekayaan alam semelimpah kekayaan
alam Indonesia. Karena masyarakatnya yang tidak manja
dan pekerja keras, masyarakat yang tekun menuntut ilmu,
masyarakat yang tidak korup, masyarakat yang mau
mengakui bahwa dirinya memang miskin sehingga mereka
harus bekerja keras.
Pemimpin yang bersih dan berjiwa kesatria (mau mengakui
kesalahan jika memang bersalah), klian, lurah, camat,
bupati, gubernur, menteri-menteri yang mau
memperjuangkan kepentingan rakyat, pemimpin yang layak
ditiru dan digugu serta mampu menggerakkan masyarakat
untuk bekerja keras sangat dinanti-nantikan saat ini.
Minimal tiga bidang yang menjadi dasar kebangkitan dan
kemajuan sebuah bangsa dengan asumsi, tidak ada korupsi
lagi.
Bidang Pangan
Ada anggapan yang mengatakan, jika masyarakat cukup
pangan menurut standar gizi dan nutrisi yang ideal maka
masyarakat akan hidup sehat. Artinya, pembangunan
diarahkan untuk memenuhi pangan masyarakat, pangan tidak
saja bermakna ''beras'' namun juga termasuk jenis pangan
yang lainnya. Harus ada inovasi-inovasi untuk
menggerakkan sektor pertanian agar berdaya dan bangga
dengan sektor pertanian yang memang nyata-nyata masih
dilakoni oleh mayoritas masyarakat Indonesia.
Sekolah-sekolah, fakultas pertanian digairahkan lagi
bila perlu diberikan beasiswa khusus bagi mereka yang
mau melanjutkan ke bidang tersebut dan tentu juga
diarahkan untuk menjadi wirausahawan di bidang pertanian.
Budi daya dengan sentuhan teknologi dan pembinaan petani
untuk menjadi petani yang mampu bekerja dengan prinsip
agrobisnis. Daripada membuat petani Vietnam menjadi kaya,
kenapa tidak petani kita saja yang disubsidi agar mampu
hidup layak? Daripada mensubsidi sepak bola kenapa
petani ditinggalkan? Sektor perbankan yang memiliki
kebijakan khusus untuk penyaluran modal ke petani masih
terus diperlukan, pembinaan para penyuluh pertanian yang
sempat hilang digairahkan kembali.
Bidang Kesehatan
Sangat aneh kita lihat, hampir setiap tahun kita
mendengar dan menyaksikan namanya wabah demam berdarah,
flu burung, dan berbagai jenis wabah lainnya, kenapa
bisa terus terjadi? Persoalannya karena bidang kesehatan
masih kurang mendapat perhatian yang serius, jikalau ada
pembangunan rumah sakit yang canggih dan mewah itu
hanyalah tujuan bisnis semata seolah-olah perkembangan
jumlah orang sakit akan menjadi trend positif bagi
keuntungan pengelola rumah sakit.
Kenapa kita tidak menyadari semua itu? Kalau penyakit
atau wabah bisa dicegah kenapa harus terjadi setiap
tahun? Kalau Pulau Bali sampai terpublikasi dan
terindikasi sebagai pulau yang tidak sehat, karena
masyarakatnya yang banyak sakit, apa jadinya pulau ini?
Ada indikasi, banyak para pekerja di bidang kesehatan
tidak dilandasi pada prinsip pelayanan kemanusiaan yang
sesungguhnya karena dari rekrutmen awal sudah harus
membayar dengan harga yang mahal, sehingga melahirkan
seorang pekerja yang juga tidak sungguh-sungguh melayani
sesama. Ditambah lagi memang kurangnya perhatian
pemerintah terhadap bidang kesehatan, seolah-olah
keberadaan penyakit dibiarkan begitu saja. Daripada
memberikan tunjangan kepada anggota dewan yang sudah
kaya dengan gajinya, kenapa tidak dipakai untuk subsidi
bidang kesehatan bagi masyarakat miskin saja. Kenapa
para petugas kesehatan hanya menunggu pasien di rumah
sakit? Bukankah melakukan pengamatan langsung di
lapangan jauh lebih baik sehingga tindakan pencegahan
dapat dilakukan sedini mungkin.
Bidang Pendidikan
Masih kurangnya perhatian pemerintah pada bidang
pendidikan masih sangat terasa. Besarnya angka drop-out
masih dianggap biasa-biasa saja, kurangnya fasilitas
sekolah negeri, rendahnya kualitas guru imbas dari
rendahnya pendapatannya kurang mendapat perhatian yang
serius. Rekrutment calon guru yang berbau KKN masih
tetap ada di tengah gema reformasi. Daripada mensubsidi
sepakbola kenapa tidak membangun perpustakaan keliling,
internet keliling, dan fasilitas lain yang berkaitan
dengan pendidikan. Bukan berarti mengganggap sepakbola
tidak penting, namun ada yang lebih penting untuk
diperhatikan. Jika masyarakat kita pintar maka
pembangunan akan dapat dilakukan dengan baik. Jika
masyarakat kita bodoh karena tidak mendapatkan
pendidikan yang cukup, maka kita akan menjadi masyarakat
yang gampang ditipu termasuk juga oleh pemimpin kita
sendiri.
Akhirnya, jika bangsa cukup makan, rumah, dan juga
pakaian maka bangsa ini hidup sehat dan mampu menuntut
ilmu dengan baik untuk perbaikan generasi yang akan
datang.
Penulis, alumnus Magister Manajemen
Agribisnis Universitas Udayana, mahasiswa MA
International in Leisure and Tourism Studies CHN Belanda,
dosen STIM Dhyana Pura Badung
--------------------
*
Harus ada inovasi-inovasi untuk menggerakkan sektor
pertanian agar berdaya dan bangga dengan sektor
pertanian yang memang nyata-nyata masih dilakoni oleh
mayoritas masyarakat Indonesia.
*
Subsidi bidang kesehatan bagi masyarakat miskin, petugas
kesehatan melakukan pengamatan langsung di lapangan
sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sedini
mungkin.
*
Membangun perpustakaan keliling, internet keliling, dan
fasilitas lain yang berkaitan dengan pendidikan.