kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Wage, 6 Pebruari 2007

 Nusantara


Pintu
Air Manggarai--
''Sorga'' dan ''Neraka''

Selalu saja terjadi saling bantah antara pejabat yang satu dengan pejabat yang lain dalam setiap kejadian bencana. Demikian juga selalu muncul makian bagi mereka yang terkena bencana. Tak terkecuali bencana banjir di ibu kota Jakarta. Penjaga pintu air (PA) Manggarai tumpahan dari semua itu. Bali Post merekam detik-detik menegangkan di pintu air Manggarai ketika air bah datang dari Bogor, Minggu (4/2) dini hari.

PARDJONO (50) tampak sangat tegang.  Dengan kaos lorek hitam-putih dan topi pet, tangannya beberapa kali mengelap keringat di leher. Padahal, cuaca sedang gerimis dan sesekali hujan rendah turun. Tangan kirinya tak putus mengangkat dering telepon. Suara makian dari  warga  terdengar melalui gagang telepon warna merah marun.  

Rekan kerja Pardjono juga memintanya tetap sabar. Kondisi ruangan 2 x 3 meter itu pun  terasa gerah dan sangat tegang. Berkali-kali telepon berdering dan Pardjono dengan telaten melayaninya, walau dimaki-maki.  ''Kami harus banyak punya kesabaran,'' ujar Pardjono ketika itu. Guratan antara sedih, empati, dan marah berbaur di wajahnya.  

Pardjono memang bukan siapa-siapa. Namun, dialah yang menjadi sasaran murka warga Jakarta. Bukan Gubernur DKI Sutiyoso atau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. ''Yang jadi sasaran kemarahan warga memang kami,'' tuturnya.  Dia hanya seorang petugas pintu air di Manggarai, Jakarta Pusat.  

Di sinilah masalahnya.  Warga Kampung Melayu, Cipinang, Jatinegara, Bidara Cina, Bukit Duri, dan sekitarnya telah terendam air hingga gentengAnehnya, kawasan Kota, Istana, Menteng, dan kawasan elite Jakarta tenang-tenang saja. Tak setetes air banjir pun mengalir di sini.  

Warga minta pintu air Manggarai ke arah Sungai Ciliwung dibuka agar ketinggian banjir di Kampung Melayu berkurang. ''Tetapi kami tidak berwenang membukanya,'' imbuh Pardjono membela diri. ''Kami menunggu perintah Gubernur.''  

Akibat tidak dibukanya pintu air Manggarai ke arah Ciliwung sangat terasaWarga Kampung Melayu, Gudang Peluru dan sekitarnya yang mengungsi di lantai dua rumahnya atau lantai dua masjid pun terendam hingga ketinggian lutut orang dewasa. Jumlah warga yang bertahan mencapai ribuan, termasuk  balita, anak-anak, wanita, dan lansia.  

Warga tak menduga ketinggian air melebihi batas maksimal banjir besar yang melanda Jakarta 2002 lalu. Akibatnya ribuan orang panik dan minta dievakuasi pada dini hari itu juga. Padahal, dari Posko Tulip hanya tersedia sebuah perahu karet, dari bantuan Kostrad. ''Kami kewalahan karena jumlah warga masih sangat banyak, sementara jumlah kami terbatas,'' ujar Lettu Rudianto, komandan tim, dari satuan Tontaipur Kostrad ini.  

Penelusuran Bali Post pada pukul 01.00 WIB dini hari di lorong-lorong sempit rumah warga, ketinggian air mencapai empat meter.  Warga banyak berdiri di atas genteng sambil berteriak minta dievakuasi. Anak-anak juga tidak tidur karena harus siaga di teras untuk mencari perhatian tim

Untuk bisa masuk ke rumah-rumah penduduk, perlu perjuangan ekstra. Arus air sangat kuat. Kabel listrik bergelantungan dan sampah kayu, seng, pagar besi sangat berbahaya. Begitu bisa mengevakuasi warga, salah satu tim juga harus berenang membimbing arah perahu karet. Jika tidak, perahu akan bernasib naas.  

Kondisi seperti itulah yang membuat warga menjerit minta tolong agar pintu air (PA) Manggarai dibuka penuh. Minggu (4/2) sekitar pukul 02.00 WIB, seusai kunjungan Wakil Gubernur Fauzi Bowo, Jakarta ditetapkan dalam darurat banjir atau berstatus Siaga I. ''Ketinggian air mencapai 950 cm pukul 02.00 WIB,'' tutur Pardjono. Ketinggian air ini telah melebihi ambang batas normal yakni 750 cm.  

Di PA Manggarai terdapat tiga jalur pintu, yakni  dua pintu menuju arah Banjir Kanal A dan B. Satu pintu menuju  arah Sungai Ciliwung. Dua pintu ke arah Banjir Kanal telah dibuka penuh atau tertera dalam manives PA Manggarai disebut los. Sedangkan di pintu ke arah Sungai Ciliwung hanya 50 cm. Warga minta dibuka lebih lebar. Anehnya, meski status Siaga I, pintu ke arah Ciliwung masih dibuka 50 cm. Bali Post coba mengejar masalah ini. Tetapi, Pardjono menjawab diplomatis. ''Kami tak punya kewenangan. Kita harus menunggu instruksi Gubernur,'' akunya.  

Gubernur belum memberi instruksi. Sutiyoso tidak ingin Istana Presiden kebanjiran untuk kali kedua di masa kekuasaannya. Tahun 2002, Istana kebanjiran. Kini, Sutiyoso berupaya menahannya meski dengan mengorbankan  jutaan warga Ibu Kota.  Minggu (4/2) pukul 07.00 WIB, ketinggian air Manggarai  melonjak hingga melebihi batas maksimum banjir tahun 2002, yakni mencapai 1.070 cm. Tahun 2002 ketika  Istana  terendam, ketinggian air di PA Manggarai hanya 1.050 cm. Anehnya, kondisi Istana masih tenang-tenang saja. Tak setetes air banjir (bukan air hujan) pun nyelonong. Istana tampak kokoh tak tersentuh air banjir yang keruh kecoklatan.  

Widodo, juga petugas PA Manggarai, menyebut pukul 08.00 dan 09.00 WIB, ketinggian air di PA Manggarai mencapai puncaknya, yakni 1.090 cm. Bali Post lagi-lagi mengecek kondisi Istana Presiden sekitar pukul 11-12.00 WIB. Sekali lagi, Istana tak tersentuh banjir.  

Kapan PA Manggarai yang ke arah Ciliwung dibuka lebih lebar? Widodo merahasiakan. Yang pastialiran sungai keruh mulai deras ke arah kali di dekat Istana Presiden hingga Mangga Dua, Kota pada pukul 10.30 WIB. Jalan Gunung Sahari mulai terendam. Tetapi mobil dan angkutan Kopaja masih bisa lewat.  Sekali lagi pukul 11-12.00 WIB, Istana belum tersentuh air keruh. Air di kali dekat Istana belum penuh.  

Itu artinya, PA Manggarai ke arah Ciliwung telah dibuka  lebih dari 50 cm.  Kepala Dinas PU Wishnu Subagio Jusuf mengaku Minggu (4/2) pukul 06.00 WIB, pintu ke arah Ciliwung yang keramat itu telah dibuka 100 cm. Pintu air ke arah Ciliwung terus dibuka hingga 150 cm sampai hari Senin (5/2)  ketinggian air di PA Manggarai turun menjadi 925 cm.

Itulah sedikit fakta di balik ribut-ribut saling bantah tentang pintu air Manggarai. * heru b. arifin

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)