Pintu
Air Manggarai--
''Sorga''
dan ''Neraka''
Selalu
saja
terjadi saling
bantah
antara pejabat yang
satu
dengan pejabat yang
lain
dalam setiap
kejadian
bencana.
Demikian
juga
selalu muncul
makian
bagi mereka yang
terkena
bencana. Tak
terkecuali
bencana
banjir di
ibu
kota
Jakarta.
Penjaga
pintu air (PA)
Manggarai
tumpahan
dari
semua itu.
Bali Post merekam
detik-detik
menegangkan
di
pintu air Manggarai
ketika air bah
datang
dari
Bogor,
Minggu (4/2)
dini
hari.
PARDJONO
(50) tampak
sangat
tegang.
Dengan
kaos lorek
hitam-putih
dan
topi pet, tangannya
beberapa kali
mengelap
keringat
di
leher.
Padahal,
cuaca
sedang gerimis
dan
sesekali hujan
rendah
turun. Tangan
kirinya
tak putus
mengangkat
dering
telepon. Suara
makian
dari
warga
terdengar
melalui
gagang telepon
warna
merah marun.
Rekan
kerja
Pardjono juga
memintanya
tetap
sabar.
Kondisi
ruangan 2 x 3 meter itu
pun terasa
gerah
dan sangat
tegang.
Berkali-kali
telepon
berdering dan
Pardjono
dengan
telaten melayaninya,
walau
dimaki-maki. ''Kami
harus
banyak punya
kesabaran,''
ujar
Pardjono ketika
itu.
Guratan
antara
sedih, empati,
dan
marah berbaur
di
wajahnya.
Pardjono
memang
bukan siapa-siapa.
Namun,
dialah yang
menjadi
sasaran murka
warga
Jakarta.
Bukan
Gubernur DKI
Sutiyoso
atau
Presiden Susilo
Bambang
Yudhoyono. ''Yang
jadi
sasaran kemarahan
warga
memang kami,''
tuturnya.
Dia
hanya seorang
petugas
pintu air di
Manggarai, Jakarta
Pusat.
Di
sinilah
masalahnya.
Warga
Kampung Melayu,
Cipinang,
Jatinegara,
Bidara
Cina, Bukit
Duri,
dan sekitarnya
telah
terendam air hingga
genteng.
Anehnya,
kawasan
Kota,
Istana,
Menteng, dan
kawasan elite Jakarta
tenang-tenang
saja.
Tak
setetes air banjir
pun mengalir
di sini.
Warga
minta
pintu air Manggarai
ke arah
Sungai
Ciliwung dibuka agar
ketinggian
banjir
di Kampung
Melayu
berkurang. ''Tetapi
kami
tidak berwenang
membukanya,''
imbuh
Pardjono membela
diri.
''Kami
menunggu
perintah
Gubernur.''
Akibat
tidak
dibukanya pintu air
Manggarai
ke arah
Ciliwung
sangat
terasa. Warga
Kampung
Melayu, Gudang
Peluru
dan sekitarnya yang
mengungsi
di
lantai dua
rumahnya
atau
lantai dua
masjid pun
terendam
hingga
ketinggian lutut
orang
dewasa. Jumlah
warga yang
bertahan
mencapai
ribuan,
termasuk
balita,
anak-anak,
wanita,
dan lansia.
Warga
tak
menduga ketinggian
air melebihi
batas
maksimal banjir
besar yang
melanda Jakarta 2002
lalu.
Akibatnya
ribuan
orang panik
dan
minta dievakuasi
pada
dini hari
itu
juga.
Padahal,
dari
Posko Tulip hanya
tersedia
sebuah
perahu karet,
dari
bantuan Kostrad.
''Kami
kewalahan karena
jumlah
warga masih
sangat
banyak, sementara
jumlah
kami terbatas,''
ujar
Lettu Rudianto,
komandan
tim,
dari
satuan Tontaipur
Kostrad
ini.
Penelusuran
Bali Post pada
pukul 01.00 WIB
dini
hari di
lorong-lorong
sempit
rumah warga,
ketinggian air
mencapai
empat meter.
Warga
banyak
berdiri di
atas
genteng sambil
berteriak
minta
dievakuasi. Anak-anak
juga
tidak tidur
karena
harus siaga
di
teras untuk
mencari
perhatian
tim.
Untuk
bisa
masuk ke
rumah-rumah
penduduk,
perlu
perjuangan ekstra.
Arus air
sangat
kuat.
Kabel
listrik
bergelantungan dan
sampah
kayu, seng,
pagar
besi sangat
berbahaya.
Begitu
bisa mengevakuasi
warga,
salah satu
tim
juga
harus berenang
membimbing
arah
perahu karet.
Jika
tidak, perahu
akan
bernasib
naas.
Kondisi
seperti
itulah yang membuat
warga
menjerit minta
tolong agar
pintu air (PA)
Manggarai
dibuka
penuh.
Minggu (4/2)
sekitar
pukul 02.00 WIB, seusai
kunjungan
Wakil
Gubernur Fauzi
Bowo, Jakarta
ditetapkan
dalam
darurat banjir
atau
berstatus Siaga I. ''Ketinggian
air mencapai 950 cm
pukul 02.00 WIB,''
tutur
Pardjono.
Ketinggian
air ini
telah melebihi
ambang
batas normal yakni
750 cm.
Di
PA Manggarai
terdapat
tiga
jalur pintu,
yakni
dua
pintu
menuju arah
Banjir
Kanal A dan B.
Satu
pintu menuju
arah
Sungai Ciliwung.
Dua
pintu
ke arah
Banjir
Kanal telah
dibuka
penuh atau
tertera
dalam manives PA
Manggarai
disebut
los.
Sedangkan
di
pintu ke
arah
Sungai Ciliwung
hanya 50 cm.
Warga
minta dibuka
lebih
lebar.
Anehnya,
meski status
Siaga I,
pintu
ke arah
Ciliwung
masih
dibuka 50 cm. Bali Post coba
mengejar
masalah
ini.
Tetapi,
Pardjono
menjawab
diplomatis.
''Kami
tak
punya kewenangan.
Kita harus
menunggu
instruksi
Gubernur,''
akunya.
Gubernur
belum
memberi instruksi.
Sutiyoso
tidak
ingin Istana
Presiden
kebanjiran
untuk kali
kedua
di masa
kekuasaannya.
Tahun
2002, Istana
kebanjiran.
Kini,
Sutiyoso berupaya
menahannya
meski
dengan
mengorbankan
jutaan
warga
Ibu Kota. Minggu
(4/2) pukul 07.00 WIB,
ketinggian air
Manggarai
melonjak
hingga
melebihi batas
maksimum
banjir
tahun 2002, yakni
mencapai 1.070 cm.
Tahun 2002
ketika
Istana
terendam,
ketinggian air
di PA
Manggarai hanya 1.050
cm. Anehnya,
kondisi
Istana masih
tenang-tenang
saja.
Tak setetes air
banjir (bukan
air hujan) pun
nyelonong.
Istana
tampak
kokoh tak
tersentuh air
banjir yang
keruh
kecoklatan.
Widodo,
juga
petugas PA Manggarai,
menyebut
pukul 08.00
dan 09.00 WIB,
ketinggian air
di PA
Manggarai mencapai
puncaknya,
yakni 1.090 cm. Bali Post
lagi-lagi
mengecek
kondisi
Istana Presiden
sekitar
pukul 11-12.00 WIB.
Sekali
lagi,
Istana tak
tersentuh
banjir.
Kapan
PA Manggarai yang
ke arah
Ciliwung
dibuka
lebih lebar?
Widodo
merahasiakan. Yang
pasti,
aliran
sungai
keruh mulai
deras
ke arah kali
di
dekat Istana
Presiden
hingga
Mangga Dua,
Kota
pada
pukul 10.30 WIB.
Jalan
Gunung
Sahari mulai
terendam.
Tetapi
mobil
dan angkutan
Kopaja
masih bisa
lewat.
Sekali
lagi
pukul 11-12.00 WIB, Istana
belum
tersentuh air keruh.
Air di kali
dekat
Istana belum
penuh.
Itu
artinya, PA
Manggarai
ke arah
Ciliwung
telah
dibuka
lebih
dari 50 cm.
Kepala
Dinas PU Wishnu
Subagio
Jusuf mengaku
Minggu (4/2)
pukul 06.00 WIB,
pintu
ke arah
Ciliwung yang
keramat
itu telah
dibuka 100 cm.
Pintu air
ke arah
Ciliwung
terus
dibuka hingga 150 cm
sampai
hari Senin (5/2)
ketinggian air
di PA
Manggarai turun
menjadi 925 cm.
Itulah
sedikit
fakta di
balik
ribut-ribut saling
bantah
tentang pintu air
Manggarai.
*
heru b.
arifin