Merampok,
Biayai
Kekerasan
Poso
Jakarta (Bali Post) -
Bali
Post/sep
PAMERKAN SENJATA - Mabes Polri ''pamerkan'' senjata
sitaan kasus Poso saat Kapolri Jenderal Pol. Sutanto
mengadakan dengar pendapat dengan Komisi III DPR di
Gedung MPR/DPR Senayan, Jakarta, Senin (5/2) kemarin.
Aksi
kekerasan
dan
kerusuhan di
Poso,
Sulawesi Tengah (Sulteng)
dibiayai
dari
hasil merampok yang
dilakukan
oleh
para pelakunya.
Indikasi
itu
didapat dari
hasil
pemeriksaan polisi
terhadap
para
tersangka yang sudah
tertangkap. ''Ada
tersangka yang
telah
ditangkap dan
menyebutkan
bahwa
dana (untuk
menggerakkan
aksi
kekerasan dan
kerusuhan
di Poso)
itu
diperoleh dengan
merampok
toko
emas,'' kata
Kapolri
Jenderal Pol.
Sutanto
di sela-sela
rapat
dengar pendapat
dengan
Komisi III DPR di
Gedung MPR/DPR
Senayan, Jakarta,
Senin (5/2)
kemarin.
Rapat
yang agendanya
membahas
penanganan
konflik
Poso itu,
dipimpin
Ketua
Komisi III DPR Trimedia
Panjaitan.
Dalam
rapat itu,
Mabes
Polri juga
menunjukkan
berbagai
barang
bukti yang disita
Polri
selama melakukan
penegakan
hukum
di wilayah
rawan
konflik itu.
Kapolri
tidak
menjelaskan apakah
toko yang
dirampok
para
tersangka itu
berada
di wilayah
Poso
atau wilayah lain.
Namun, modus
mendanai
aksi
terorisme dengan
menggunakan
uang
hasil rampokan
sebenarnya
bukan
merupakan hal yang
baru.
Terpidana kasus
bom Bali I Imam
Samudra
sendiri pernah
menyebutkan,
dia dan
kelompoknya
pernah
merampok sebuah
toko
emas di
Serang (Banten)
untuk
mendanai aksinya.
Mengenai
perkembangan
pengejaran
terhadap
para DPO (daftar
pencarian
orang) yang
belum
tertangkap, Kapolri
mengatakan
polisi
hingga kini
masih
terus melakukan
pengejaran
terhadap
mereka.
Dikatakan Sutanto,
penangkapan
terhadap
para
buron itu
merupakan
salah
satu kunci
untuk
mengembalikan kondisi
keamanan
di Poso
yang menurutnya
kini
sudah mulai
kondusif.
Serahkan
Senjata
Di
tempat yang
sama,
Kapolda Sulteng
Brigjen
Pol. Badrodin Haiti
mengungkapkan,
seorang
wanita di
Poso
telah menyerahkan
satu
pucuk senjata
api
genggam jenis FN
kepada
polisi. Selain
senjata
itu, wanita yang
sama
ini juga
menyerahkan
satu
senjata tajam
jenis
sangkur, 69 butir
amunisi
kaliber 5,56 milimeter
dan
tiga buah
magasen (tempat
peluru).
Untuk
keamanan orang
itu,
kita tidak
akan
menyebutkan identitasnya
sehingga
keamanannya
terjamin
dan
orang yang akan
menyerahkan
senjatanya
kepada
polisi akan
semakin
banyak.
Ketika
ditanya
soal kondisi
keamanan
di Poso,
Barodin
menyebutkan, sejauh
ini
kondisi keamanan
di sana
cukup
kondusif. Untuk
membuat
kondisi keamanan
di sana
kian
kondusif, pihaknya
berencana
melakukan
pendataan
ulang
penduduk di
Poso.
Langkah
itu,
menurut Badrorin,
perlu
dilakukan untuk
menertibkan
administrasi
kependudukan
di Poso
dan
menyaring orang-orang
yang tidak
memiliki
kepentingan
di
wilayah itu. ''Kami
sudah
sarankan (kepada
Pemda
Poso) untuk
mengadakan
penertiban
penduduk,
sehingga
dapat
diketahui mana
pendatang
dan
mana penduduk
asli,''
kata mantan
Kapolda
Banten ini.
Kapolda
tidak
menjelaskan, bagaimana
penertiban
itu
dilakukan. Kapolda
juga
enggan memastikan
apakah
penertiban itu
nantinya
akan
diwujudkan pada
pembuatan KTP (kartu
tanda
penduduk) khusus
seperti yang
pernah
berlaku di
Nanggroe
Aceh Darussalam. ''Itu
terserah
pemerintah
daerah,''
tandasnya.
(kmb5/kmb4)