kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Pon, 5 Pebruari 2007

 Lingkungan


Jutaan
Ikan Mati akibat Keracunan Plankton Beracun
Badung
, Tabanan dan Jembrana Daerah Rawan ----- 

Beberapa hari yang lalu, masyarakat Bali terutama yang berdiam di Kabupaten Tabanan, dikejutkan dengan matinya ribuan ekor ikan. Kematian ikan-ikan ini sangat misterius mengingat hampir bersamaan dalam jumlah yang sangat besar. Namun di balik kematian ikan-ikan tersebut sebenarnya ada penjelasan ilmiah mengenainya, terutama ketika kondisi cuaca seperti ini terjadi. Apakah itu?

------------------------------

SEDIKIT kilas balik, adanya temuan ribuan ekor ikan yang mati di Tabanan ini terjadi di pantai Yeh Gangga pada Rabu (31/1) lalu (BP, 1/2). Adanya kematian ikan-ikan ini ternyata tidak hanya sekali itu saja terjadi, melainkan sudah berlangsung selama sebulan terakhir di sepanjang pantai di Tabanan. Bahkan, di beberapa pantai di kabupaten lain pun, seperti Jembrana dan Badung, terdapat pula temuan bangkai ikan yang terdampar di pesisir pantai.

 

Sebelum adanya penelitian mengenai kematian ikan-ikan tersebut, ada beberapa spekulasi mengenai penyebab kematiannya. Beberapa yang santer dianggap pemicu kematian massal ini adalah pengeboman ikan, penebaran sianida potasioun, dan kesehatan ikan. Namun ternyata setelah diteliti, ikan-ikan tersebut mati akibat keracunan plankton beracun yang makin subur tumbuhnya seiring adanya El-Nino.

 

Fenomena alam tersebut kerap disebut Red Tide. Sebutan red tide ini dimunculkan karena setiap kali terjadi, lautan berubah menjadi gelombang merah. Fenomena bukan kali ini terjadi di Bali dan Indonesia umumnya. Red tide memiliki siklus tahunan yang rutin, berkisar antara empat hingga lima tahun. Keberadaan red tide ini kerap dikaitkan dengan kedatangan El-Nino yang berakibat pada terjadinya up welling dan penyuburan perairan dengan nutrient.

 

Karena perairan subur dengan nutrient terjadi blooming fitoplankton, dari kelompok Dynoflagellata, yang sayangnya merupakan jenis yang beracun dan mematikan ketika dikonsumsi mayoritas habitat laut. Kejadian seperti di Tabanan ini sebenarnya pernah terjadi pada tahun 1994, 1998 dan 2003. El Nino yang menghasilkan aliran arus lintas Indonesia dari Pasifik ke Samudera Indonesia dan masuk ke Selat Bali yang menunjukkan fenomena Red Tide tersebut.

 

Diduga kematian ikan secara massal yang terjadi saat ini penyebabnya sama. Kedua jenis racun tersebut terdistribusi pada massa air, tumbuhan, dasar perairan yang akan masuk ke dalam jaringan ikan yang mengonsumsi plankton, detritus, tumbuhan air atau memangsa ikan yang lebih kecil.

 

Peristiwa Serupa

 

Tahun 2003 lalu, ledakan populasi fitoplankton sejenis alga beracun yang dikenal dengan istilah red tide juga positif dianggap penyebab matinya berton-ton ikan di pantai KutaKetua tim peneliti Jurusan Perikanan Universitas Warmadewa Ir. I Ketut Sudiarta, M.Si. mengatakan red tide ditandai dengan berubahnya warna air laut. Umumnya air laut berubah merah karena jenis alga gymnodinium dan perdinium saat itu populasinya melonjak. Karena jenis ini sangat beracun, diduga banyak ikan memakannya sehingga mematikan ikan-ikan tersebut.

 

Meski ikan tersebut mati, menurut Ir. Sudiarta, ikan itu bisa saja dikonsumsi. ''Cuma jangan dimakan bagian insang dan perutnya yang sudah tercemar racun,'' jelasnya. Ia mengatakan kasus ikan mati ini juga merupakan siklus tahunan. Acapkali terjadi tiap empat tahun. Kejadian yang persis sama juga sempat terjadi beberapa tahun lalu di sejumlah pantai di Bali.

Sudiarta menambahkan, jalur pantai Badung - Tabanan - Jembrana rawan dengan peristiwa ini. Selain karena red tide tersebut, dalam penelitian itu ditemukan tingginya kandungan nitrat dalam air.

 

Kuat dugaan meningkatnya populasi fitoplankton tersebut dipicu oleh naiknya kandungan nitrat dalam air. Nitrat ditemukan dalam jumlah besar di perairan saat ikan itu mati yakni antara 5,35 ppm - 7,15 ppm, padahal normalnya tak lebih 4 ppm. Mencegah peristiwa ini perlu dilakukan antisipasi dengan mengurangi masuknya limbah ke laut.

 

Tak hanya di Bali, kasus matinya ribuan bahkan jutaan ikan terjadi. Sejak terjadinya cuaca dramatis pada 1997-1998, fenomena red tide kerap terjadi terutama ketika El Nino tiba. Arus hangat yang disebabkan El Nino memang menyebabkan penyuburan nutrient di perairan manapun di dunia ini sehingga fenomena red tide tidak bisa dicegah keberadaannya. Di samping itu limbah yang masuk ke dalam perairan juga diperkirakan semakin menambah tinggi kemungkinan matinya ribuan, bahkan jutaan ikan secara bersamaan. (iah/berbagai sumber)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)