Jutaan
Ikan
Mati akibat
Keracunan Plankton
Beracun
Badung,
Tabanan
dan Jembrana
Daerah
Rawan -----
Beberapa
hari yang
lalu,
masyarakat Bali terutama
yang berdiam
di
Kabupaten Tabanan,
dikejutkan
dengan
matinya ribuan
ekor
ikan. Kematian
ikan-ikan
ini
sangat misterius
mengingat
hampir
bersamaan dalam
jumlah yang
sangat
besar. Namun
di
balik kematian
ikan-ikan
tersebut
sebenarnya
ada
penjelasan ilmiah
mengenainya,
terutama
ketika
kondisi cuaca
seperti
ini terjadi.
Apakah
itu?
------------------------------
SEDIKIT
kilas
balik, adanya
temuan
ribuan ekor
ikan yang
mati di
Tabanan
ini terjadi
di
pantai Yeh
Gangga
pada Rabu (31/1)
lalu (BP, 1/2).
Adanya
kematian ikan-ikan
ini
ternyata tidak
hanya
sekali itu
saja
terjadi, melainkan
sudah
berlangsung selama
sebulan
terakhir di
sepanjang
pantai
di Tabanan.
Bahkan,
di beberapa
pantai
di kabupaten lain
pun, seperti
Jembrana
dan
Badung, terdapat pula
temuan
bangkai ikan yang
terdampar
di
pesisir pantai.
Sebelum
adanya
penelitian mengenai
kematian
ikan-ikan
tersebut,
ada
beberapa spekulasi
mengenai
penyebab
kematiannya.
Beberapa yang
santer
dianggap pemicu
kematian
massal
ini adalah
pengeboman
ikan,
penebaran sianida
potasioun,
dan
kesehatan ikan.
Namun
ternyata setelah
diteliti,
ikan-ikan
tersebut
mati
akibat keracunan
plankton beracun yang
makin
subur tumbuhnya
seiring
adanya El-Nino.
Fenomena
alam
tersebut kerap
disebut Red Tide.
Sebutan red tide
ini
dimunculkan karena
setiap kali
terjadi,
lautan
berubah menjadi
gelombang
merah.
Fenomena bukan kali
ini
terjadi di Bali
dan Indonesia
umumnya. Red tide
memiliki
siklus
tahunan yang rutin,
berkisar
antara
empat hingga lima
tahun.
Keberadaan red tide ini
kerap
dikaitkan dengan
kedatangan El-Nino yang
berakibat
pada
terjadinya up welling dan
penyuburan
perairan
dengan nutrient.
Karena
perairan
subur
dengan nutrient terjadi
blooming fitoplankton,
dari
kelompok Dynoflagellata,
yang sayangnya
merupakan
jenis yang
beracun
dan mematikan
ketika
dikonsumsi mayoritas
habitat laut.
Kejadian
seperti
di Tabanan
ini
sebenarnya pernah
terjadi
pada tahun 1994, 1998
dan 2003. El Nino yang
menghasilkan
aliran
arus lintas Indonesia
dari
Pasifik ke
Samudera Indonesia
dan
masuk ke
Selat Bali yang
menunjukkan
fenomena Red Tide
tersebut.
Diduga
kematian
ikan
secara massal yang
terjadi
saat ini
penyebabnya
sama.
Kedua jenis
racun
tersebut terdistribusi
pada
massa
air, tumbuhan,
dasar
perairan yang akan
masuk
ke dalam
jaringan
ikan yang
mengonsumsi plankton,
detritus, tumbuhan air
atau
memangsa ikan yang
lebih
kecil.
Peristiwa
Serupa
Tahun
2003 lalu,
ledakan
populasi fitoplankton
sejenis alga
beracun yang
dikenal
dengan istilah red
tide juga
positif
dianggap penyebab
matinya
berton-ton ikan
di
pantai Kuta.
Ketua
tim peneliti
Jurusan
Perikanan Universitas
Warmadewa Ir. I
Ketut
Sudiarta, M.Si.
mengatakan red tide
ditandai
dengan
berubahnya warna air
laut.
Umumnya air laut
berubah
merah karena
jenis alga
gymnodinium
dan
perdinium saat
itu
populasinya melonjak.
Karena
jenis ini
sangat
beracun, diduga
banyak
ikan memakannya
sehingga
mematikan
ikan-ikan
tersebut.
Meski
ikan
tersebut mati,
menurut Ir.
Sudiarta,
ikan
itu bisa
saja
dikonsumsi. ''Cuma
jangan
dimakan bagian
insang
dan perutnya yang
sudah
tercemar racun,''
jelasnya.
Ia
mengatakan kasus
ikan
mati ini
juga
merupakan siklus
tahunan.
Acapkali
terjadi
tiap empat
tahun.
Kejadian yang persis
sama
juga sempat
terjadi
beberapa tahun
lalu di
sejumlah
pantai
di Bali.
Sudiarta
menambahkan,
jalur
pantai Badung -
Tabanan -
Jembrana
rawan
dengan peristiwa
ini.
Selain karena red
tide tersebut,
dalam
penelitian itu
ditemukan
tingginya
kandungan
nitrat
dalam air.
Kuat
dugaan
meningkatnya populasi
fitoplankton
tersebut
dipicu
oleh naiknya
kandungan
nitrat
dalam air. Nitrat
ditemukan
dalam
jumlah besar
di
perairan saat
ikan
itu mati
yakni
antara 5,35 ppm -
7,15 ppm,
padahal
normalnya tak
lebih 4
ppm. Mencegah
peristiwa
ini
perlu dilakukan
antisipasi
dengan
mengurangi masuknya
limbah
ke laut.
Tak
hanya
di Bali, kasus
matinya
ribuan bahkan
jutaan
ikan terjadi.
Sejak
terjadinya cuaca
dramatis pada 1997-1998,
fenomena red tide
kerap
terjadi terutama
ketika El Nino
tiba.
Arus hangat yang
disebabkan El Nino
memang
menyebabkan penyuburan
nutrient di
perairan
manapun
di dunia
ini
sehingga fenomena red
tide tidak
bisa
dicegah keberadaannya.
Di
samping itu
limbah yang
masuk
ke dalam
perairan
juga
diperkirakan semakin
menambah
tinggi
kemungkinan matinya
ribuan,
bahkan jutaan
ikan
secara bersamaan.
(iah/berbagai
sumber)