Orasi
Kekalahan dan ''Recall''
DPD PDI
Perjuangan Bali tiba-tiba membuat keputusan mengejutkan.
Ketua DPC PDI Perjuangan Buleleng I Dewa Nyoman Sukrawan
di-recall dari keanggotaan Fraksi PDI Perjuangan DPRD
Buleleng. Pertimbangan penarikan itu didasarkan atas
kondisi Buleleng yang luas dengan penduduk
terbesar di Bali. Kondisi itu otomatis menjadikan
wilayah ini sebagai barometer politik Propinsi Bali.
Sebagai barometer, PDI Perjuangan tentu tak ingin
kehilangan tongkat kedua kalinya setelah kekalahan pada
Pemilu 2004. Mau tak mau, PDI Perjuangan harus
memberikan perhatian khusus guna menangani secara
maksimal situasi dan kondisi perpolitikan di Buleleng.
Atas dasar itulah, Sekretaris PDI Perjuangan Bali Nyoman
Parta menyatakan penarikan Dewa Nyoman Sukrawan sebagai
anggota Dewan. Selanjutnya yang bersangkutan agar
berkonsentrasi penuh dan maksimal pada tugas-tugasnya
sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Buleleng masa bakti
2005-2010. Target jangka pendek yang mesti ditangani
adalah memenangkan program partai termasuk Pilkada
Buleleng 2007 Juni ini. Target menengah menyukseskan
Pilkada Gubernur 2008 dan terakhir pemilu legislatif
2009 dan pemilu presiden dan wakil presiden. Mampukah
Dewa Sukrawan mengamankan target berat itu?
Ketua DPC PDI Perjuangan Buleleng Dewa Nyoman Sukrawan
membenarkan bahwa pe-recall-an dirinya karena DPD
memintanya untuk mengurus partai lebih serius dan
terfokus. Karena Buleleng itu luas, perlu penanganan
serius untuk menghadapi Pilkada 2007, Pemilu 2009 dan
Pilpres 2010. Kalau tak serius bisa gagal. "Untuk itu,
sebagai ketua partai harus berani mengorbankan diri,"
katanya.
Siap Terima Sanksi
Di sisi lain, Sukrawan mengakui recall itu juga
dipengaruhi oleh kekalahan merebut ketua komisi di DPRD
Buleleng belum lama ini. Secara pribadi, ia bertanggung
jawab terhadap kekalahan tersebut. Meski kegagalan dalam
perebutan ketua komisi itu tak berpengaruh besar
terhadap perjuangan di legislatif, namun kegagalan
itu akan berpengaruh besar terhadap partai. "DPC
dianggap gagal memperjuangkannya," katanya.
Orang yang gagal, kata Sukrawan, memang cenderung
melawan dengan mencari alasan dan pembenar. Hal itu yang
kerap dilakukan sejumlah temannya di partai sehingga
menimbulkan polemik yang panjang. Sebagai Ketua DPC,
Sukrawan dengan tegas mengakui kegagalan merebut ketua
komisi. Secara pribadi Sukrawan menyatakan minta maaf
kepada kader-kader PDI Perjuangan di Buleleng. "Saya
akui gagal, dan saya tak mencari alasan lagi, saya minta
maaf," katanya.
Kata dia, kader yang gagal sudah wajib hukumnya untuk
dikenai sanksi administrasi. Untuk itulah Sukrawan
menyatakan menerima sanksi itu dengan lapang dada.
Bahkan ia menyatakan bergembira, karena sanksi yang
diberikan untuk kader yang gagal bisa menjadi budaya di
tubuh PDI Perjuangan. "Saya ingin membuat tradisi
berbeda, salah kena sanksi dan menerima sanksi dengan
baik. Ini akan menjadi teladan bagi generasi PDI
Perjuangan berikutnya," katanya.
Apakah perombakan pengurus fraksi yang dilakukan PDI
Perjuangan itu merupakan sanksi atas kekalahan merebut
ketua komisi? Sukrawan tak menjawab dengan tegas. Ia
hanya mengatakan bahwa perombakan pengurus fraksi itu
hal yang biasa. "Perombakan pengurus fraksi itu biasa.
Dulu, ketika Nyoman Muliarta jadi ketua fraksi, di
tengah perjalanan juga diganti Putu Artana," katanya.
Selain itu, menurut Sukrawan, perombakan pengurus fraksi
itu memang menjadi kewenangan DPC sesuai AD/ART partai
pasal 25. Menurutnya, DPC tetap bisa memutuskan
pembentukan pengurus fraksi tanpa harus melakukan
koordinasi dengan pengurus yang bersangkutan.
Pengaruhi Pilkada
Sejumlah kader PDI Perjuangan di Buleleng mengaku
khawatir keretakan antarkader yang dimulai dari
kekalahan perebutan ketua komisi itu merembet ke pilkada.
Untuk itu, banyak yang menyarankan agar kader di DPC,
DPD serta yang duduk di DPRD Buleleng maupun DPRD Bali
segera bertemu untuk memadukan komitmen dalam
memenangkan pilkada. Jika memang terjadi keretakan, hal
itu harus secepatnya direkatkan kembali. "Lebih baik
bertengkar dalam rapat resmi, daripada bertengkar secara
diam-diam tetapi pelan-pelan bisa meluas sehingga bisa
mempengaruhi pilkada," kata seorang simpatisan PDI
Perjuangan dari kota Singaraja.
Sementara itu, Ketua PAC Sukasada yang juga anggota DPRD
Buleleng Made Teja berharap agar para kader mulai sadar
dan berbenah diri untuk siap-siap menghadapi pilkada.
Jika antarkader saling mengintip kelemahan kader lain,
situasi politik di tubuh PDI Perjuangan terus-terusan
tidak kondusif. "Mari tinggalkan gaya berpolitik lama,
yang saling mengintip kelemahan teman lalu
menjatuhkannya," kata Teja.
Teja berharap menjelang pilkada ini, para kader lebih
baik turun ke bawah menemui masyarakat. Misalnya,
membantu masyarakat dalam mengembangkan pariwisata
kerakyatan atau membantu mengembangkan usaha-uasaha
kecil dan menengah. Dengan begitu, citra partai akan
terdongkrak terus-menerus dan apa yang diperjuangkan
kemungkinan besar akan diperoleh. "Saya sendiri kini
lebih banyak bertemu masyarakat untuk pengembangan
pariwisata," katanya.
Dewa Sukrawan membantah kalau sekarang ini terjadi
keretakan dalam tubuh PDI Perjuangan Buleleng, meski
diakui terjadi polemik antarsejumlah kader. Ia juga
mengakui polemik itu bisa berpengaruh terhadap pilkada
mendatang, namun pengaruh itu tak terlalu besar. "Memang
kondisi ini berpengaruh terhadap pilkada, namun
pengaruhnya sedikit," katanya.
Jika memang terjadi keretakan, bagaimana cara
merekatkannya? Sukrawan mengatakan dirinya memang akan
bertemu dengan kader partai di Buleleng, terutama
berkaitan dengan persiapan menghadapi pilkada. Namun, ia
mengaku belum menetapkan jadwal untuk pertemuan itu,
karena saat ini ia masih sibuk mendatangi para kader dan
simpatisan yang berada di desa-desa. "Malam ini saja
saya diminta datang ke Sudaji untuk sebuah acara olah
raga. Undangan ini tak bisa diabaikan begitu saja,"
katanya.
Untuk sementara Sukrawan mengingatkan kadernya agar
tidak melakukan gerakan-gerakan yang membahayakan partai.
Jika hanya berpolemik, menurutnya, hal itu biasa terjadi.
"Namun jika sampai menggerogoti partai, kita lihat saja
sanksinya," tandasnya. (ole)