Tumbuhkan
Praktik
Dokumentasi di
Kalangan
Siswa
Oleh
IG Sudarmanto
SALAH
satu
kekurangan generasi
muda
pelajar dalam
menyikapi era
globalisasi yang
semakin
kompleks dan
kompetitif
adalah
kelemahan dalam
mengungkapkan
pikiran.
Kelemahan
tersebut
disebabkan
kurangnya
minat
baca. Pada
gilirannya
menyebabkan
menurunnya
minat
berpikir dan
menulis.
Padahal
hanya dengan
budaya
gemar membacalah
sumber
daya manusia (SDM)
kita
dapat bersaing
melalui
penguasaan ilmu
pengetahuan
dan
teknologi (iptek).
Banyak
upaya
untuk membangun
dan
mendayagunakan perpustakaan.
Namun
kadang upaya
ini
berhenti saat
perpustakaan
sudah
berdiri. Kegiatan
berlanjut
untuk
pengembangan sering
dilupakan.
Makanya,
setelah
perpustakaan berhasil
dibangun,
hendaknya
selalu
dilanjutkan dengan
kegiatan
mendayakan
atau
membuat perpustakaan
selalu
berdaya dalam
memenuhi
kebutuhan
informasi
pemakai.
Selain
itu, perpustakaan
juga
harus selalu
digunakan
oleh
masyarakat dan
pihak
perpustakaan sendiri
untuk
memberikan
pelayanan-pelayanan
informasi.
Fakta
menunjukkan
bahwa
belum semua
perpustakaan
memiliki
dana
cukup dan
berkelanjutan
untuk
pengalaman literatur.
Terlebih
pada
saat sekarang
dengan
semakin mahalnya
harga
buku. Pada
situasi
seperti inilah
sebenarnya
justru
fungsi dokumentasi
dari
perpustakaan harus
lebih
digarap secara
lebih
intensif. Secara
sederhana
kegiatan
dokumentasi
dapat
dikatakan sebagai
upaya
untuk pengabadian.
Konsep
dokumentasi
sebaiknya
memang
sudah harus
diajarkan
sejak
anak didik
masih
duduk di
bangku SD.
Dokumentasi
dalam
hal ini
dapat
mulai dikenalkan
dengan
praktik seorang
pelajar
dalam mencatat
isi
pelajaran. Pekerjaan
catat
mencatat merupakan
salah
satu praktik
dokumentasi.
Anak
didik perlu
dibimbing
membuat
catatan, menyusun
dalam
urutan tertentu,
serta
merawat catatan
tersebut.
Dengan
lengkapnya
dokumentasi
pribadi
kegiatan belajar,
maka
anak didik
akan
lebih mudah
menemukan
kembali
informasi yang sewaktu-waktu
mereka
perlukan. Hal ini
akan
merintis kepada
apresiasi
atas
informasi tertulis
atau
tercetak. Kebiasaan
merawat
bahan agar dengan
benar
ini apabila
sejak
dini dilaksanakan
oleh
semua pelajar.
Juga
dapat mengarahkan
kepada
minat membaca
untuk
mencari informasi
lebih
lanjut.
Walaupun
penelitian
tentang
budaya baca
secara
menyeluruh, mendalam
dan
tuntas belum
pernah
di lakukan.
Namu
sebuah survai yang
pernah
penulis lakukan
(2005) di
sejumlah SD, SMP, SMA
di
wilayah Kota Denpasar
-- kiranya
cukup
memberikan gambaran
bahwa
secara umum
budaya
baca generasi
muda
kita masih
rendah.
Rendahnya minat
baca
tersebut dilatarbelakangi
oleh
beberapa faktor
penyebab.
Seperti
godaan media pandang
dengar
atau televisi
(32,94%). Harga
buku yang
relatif
mahal (30,55%), kurangnya
koleksi
bahan bacaan yang
bermutu
dan menarik
minat (23,61).
Alasan
lain, meliputi
kesibukan
pelajar,
proses
pembelajaran di
sekolah yang
kurang
mendorong untuk
banyak
membaca, keadaan
keluarga
dan
lingkungan yang tidak
mendukung,
serta
keterbatasan ruang
baca
perpustakaan (12,90%).
Dalam
konteks
kurangnya minat
baca
ini, kita
tidak
perlu saling
menuduh
atau mengalahkan
atas
sedikitnya jumlah
dan
rendahnya mutu
buku yang
ada di
perpustakaan
sekolah
dan perpustakaan
umum,
serta daerah.
Banyak
faktor yang menyebabkan,
antara lain
rendahnya
penghargaan
terhadap
penulis
buku, rendahnya
daya
beli masyarakat
terhadap
buku
dan media cetak.
Itu
berarti,
untuk
menumbuhkan minat
baca
ini, pemerintah
juga
harus mempunyai
kemauan
dan upaya
kongkret
menekan
tingginya harga
bahan
dasar buku.
Di
samping itu,
tidak
berlebihan rasanya
bila
pemerintah menghidupkan
kembali
lomba-lomba yang pernah
terhenti
beberapa
tahun
belakangan ini.
Misalnya
pemilihan
pangeran-putri
buku,
menulis artikel
ilmiah,
cerpen, puisi
dan
memberi penghargaan
yang memadai
terhadap guru,
dosen,
pelajar atau
mahasiswa yang
gemar
membaca.
Dengan
membudayakan
diri
gemar membaca,
seorang
pelajar akan
bertambah
luas
wawasannya. Akan
banyak
mendapatkan berbagai
informasi
tentang
berbagai ilmu
pengetahuan,
teknologi,
keterampilan
dan
petualangan, serta
pengalaman
intelektual.
Di
samping itu,
seseorang
akan
terangsang untuk
berpikir
lebih
kritis, lebih
percaya
diri dan
berani
mengungkapkan pikirannya
dalam
bentuk tulisan
maupun
perkataan. Oleh
karena
itu, slogan ''tiada
hari
tanpa membaca,
membaca
membuka cakrawala,
dan
bacalah, maka
Anda
akan tetap
awet
muda'' sudah
sepantasnya
di
gaungkan kembali
dengan
gencar.