kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Kliwon, 2 Pebruari 2007

 Debat


Tumbuhkan
Praktik Dokumentasi di Kalangan Siswa
Oleh
IG Sudarmanto 

SALAH satu kekurangan generasi muda pelajar dalam menyikapi era globalisasi yang semakin kompleks dan kompetitif adalah kelemahan dalam mengungkapkan pikiran. Kelemahan tersebut disebabkan kurangnya minat baca. Pada gilirannya menyebabkan menurunnya minat berpikir dan menulis. Padahal hanya dengan budaya gemar membacalah sumber daya manusia (SDM) kita dapat bersaing melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Banyak upaya untuk membangun dan mendayagunakan perpustakaan. Namun kadang upaya ini berhenti saat perpustakaan sudah berdiri. Kegiatan berlanjut untuk pengembangan sering dilupakan. Makanya, setelah perpustakaan berhasil dibangun, hendaknya selalu dilanjutkan dengan kegiatan mendayakan atau membuat perpustakaan selalu berdaya dalam memenuhi kebutuhan informasi pemakai. Selain itu, perpustakaan juga harus selalu digunakan oleh masyarakat dan pihak perpustakaan sendiri untuk memberikan pelayanan-pelayanan informasi.

Fakta menunjukkan bahwa belum semua perpustakaan memiliki dana cukup dan berkelanjutan untuk pengalaman literatur. Terlebih pada saat sekarang dengan semakin mahalnya harga buku. Pada situasi seperti inilah sebenarnya justru fungsi dokumentasi dari perpustakaan harus lebih digarap secara lebih intensif. Secara sederhana kegiatan dokumentasi dapat dikatakan sebagai upaya untuk pengabadian.

Konsep dokumentasi sebaiknya memang sudah harus diajarkan sejak anak didik masih duduk di bangku SD. Dokumentasi dalam hal ini dapat mulai dikenalkan dengan praktik seorang pelajar dalam mencatat isi pelajaran. Pekerjaan catat mencatat merupakan salah satu praktik dokumentasi. Anak didik perlu dibimbing membuat catatan, menyusun dalam urutan tertentu, serta merawat catatan tersebut.

Dengan lengkapnya dokumentasi pribadi kegiatan belajar, maka anak didik akan lebih mudah menemukan kembali informasi yang sewaktu-waktu mereka perlukan. Hal ini akan merintis kepada apresiasi atas informasi tertulis atau tercetak. Kebiasaan merawat bahan agar dengan benar ini apabila sejak dini dilaksanakan oleh semua pelajar. Juga dapat mengarahkan kepada minat membaca untuk mencari informasi lebih lanjut.

Walaupun penelitian tentang budaya baca secara menyeluruh, mendalam dan tuntas belum pernah di lakukan. Namu sebuah survai yang pernah penulis lakukan (2005) di sejumlah SD, SMP, SMA di wilayah Kota Denpasar -- kiranya cukup memberikan gambaran bahwa secara umum budaya baca generasi muda kita masih rendah. Rendahnya minat baca tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa faktor penyebab. Seperti godaan media pandang dengar atau televisi (32,94%). Harga buku yang relatif mahal (30,55%), kurangnya koleksi bahan bacaan yang bermutu dan menarik minat (23,61).

Alasan lain, meliputi kesibukan pelajar, proses pembelajaran  di sekolah yang kurang mendorong untuk banyak membaca, keadaan keluarga dan lingkungan yang tidak mendukung, serta keterbatasan ruang baca perpustakaan (12,90%).

Dalam konteks kurangnya minat baca ini, kita tidak perlu saling menuduh atau mengalahkan atas sedikitnya jumlah dan rendahnya mutu buku yang ada di perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum, serta daerah. Banyak faktor yang menyebabkan, antara lain rendahnya penghargaan terhadap penulis buku, rendahnya daya beli masyarakat terhadap buku dan media cetak.

Itu berarti, untuk menumbuhkan minat baca ini, pemerintah juga harus mempunyai kemauan dan upaya kongkret menekan tingginya harga bahan dasar buku. Di samping itu, tidak berlebihan rasanya bila pemerintah menghidupkan kembali lomba-lomba yang pernah terhenti beberapa tahun belakangan ini. Misalnya pemilihan pangeran-putri buku, menulis artikel ilmiah, cerpen, puisi dan memberi penghargaan yang memadai terhadap guru, dosen, pelajar atau mahasiswa yang gemar membaca.

Dengan membudayakan diri gemar membaca, seorang pelajar akan bertambah luas wawasannya. Akan banyak mendapatkan berbagai informasi tentang berbagai ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan dan petualangan, serta pengalaman intelektual. Di samping itu, seseorang akan terangsang untuk berpikir lebih kritis, lebih percaya diri dan berani mengungkapkan pikirannya dalam bentuk tulisan maupun perkataan. Oleh karena itu, slogan ''tiada hari tanpa membaca, membaca membuka cakrawala, dan bacalah, maka Anda akan tetap awet muda'' sudah sepantasnya di gaungkan kembali dengan gencar.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)