Hapus
Sekolah
jangan Abaikan
Sejarah
Amlapura
(Bali Post) -
Anggota
Dewan Drs. I
Wayan
Tustiyasa menyayangkan
sikap
Kabid Tenaga Guru
dan
Teknis (TGT) Diknas
Karangasem Drs. Made
Darta yang
mengesampingkan
sejarah
untuk menghapus SDN 2
Sibetan,
Karangasem.
Saat
rapat
kerja gabungan
komisi
dengan Bupati I
Wayan
Geredeg yang didampingi
stafnya
Kamis (1/2) kemarin
di DPRD,
Darta
mengatakan warga yang
tak
setuju penghapusan SD
itu
jangan mempertahankan
SD itu
karena terpaku
kepada
sejarah.
Seperti
diberitakan
sebelumnya,
penghapusan SDN 2
Sibetan
di Banjar
Tengah,
Sibetan melalui
peraturan
Bupati
Karangasem mengundang
demonstrasi
massa
yang menolak
dan
mendukung ke DPRD
Karangasem.
Darta
mengatakan
saat
sosialisasi penghapusan
SDN 2 itu
di
kantor
Camat
Bebandem dengan
mengundang
para
tokoh desa,
sejumlah
warga
dan tetua
Desa
Sibetan yang menolak
penghapusan SD
itu
masih ada
dan
bersikukuh karena
alasan
sejarah.
Sekolah
itu
didirikan pada
zaman
penjajahan Belanda
tahun 1928.
''Saya
katakan kepada
segelintir yang
menolak
penghapusan SD itu
bahwa
semua sekolah
ada
sejarahnya.
Jadi,
jangan terpaku
karena
sejarah, tanpa
berbuat
apa-apa,'' katanya
di
depan Bupati.
Sementara
itu,
Tustiyasa salah
seorang
tokoh pendidikan
asal
Manggis, mengatakan
sejarah
hendaknya jangan
pernah
dikesampingkan.
Sebab,
sejarah menjadi
pedoman
kita melangkah
ke
depan. ''Proklamator
Bung Karno pun
mengingatkan
kita
dengan ucapannya yang
cukup
terkenal, ''Jasmerah''
yang maksudnya
jangan
sekali-kali pernah
melupakan
sejarah
masa lalu
untuk
pedoman melangkah
ke masa
depan,
kutif Tustiyasa
soal
ucapan Bung Karno
itu.
Tustiyasa
juga
meminta kepada
Bupati
Karangasem, jangan
pernah
mengabaikan suara
rakyat,
sekecil
apa pun mereka.
Jika
suara
rakyat diabaikan,
maka
terjadi pro-kontra
seperti
kasus keluarnya
perbup
tetang penghapusan
SDN 2 Sibetan
itu.
''Saya
jadi
khawatir, di
desa
asal Bupati
malah
terjadi pro dan
kontra
masyarakat menanggapi
kebijakan
Bupati,''
tegasnya.
Sejumlah
anggota
Dewan seperti IB Mega
Susila
menduga ada
miskomunikasi
di
kalangan warga yang
pro dan
kontra penghapusan
SDN 2 Sibetan
itu.
Masyarakat
belum
paham benar,
karena
sosialisasi perbup
sebelumnya
cuma
mengundang tokoh
masyarakat
Sibetan,
bukan
Komite
SD yang bersangkutan
atau
warga yang berkepentingan
dan
mewilayahi SDN 2 itu.
''Harus
dilakukan
pendekatan
kepada
masyarakat, sehingga
semua
pihak memahami
dan
bisa menerima
kebijakan
Bupati
apakah tetap
menghapus
ataukah
mempertahankan SD itu,''
kata Mega
Susila.
(013)