kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Kliwon, 2 Pebruari 2007

 Bali


Nusa
Penida Kini--
Diburu
Pebisnis Jakarta dan Bule Australia

Tidak dapat dimungkiri, tingginya angka pengalihan lahan dari warga kepada investor belakangan ini di Nusa Penida, sebagai akibat makin mudahnya akses penyeberangan dari/ke Nusa Penida. Puluhan hektar lahan sudah berpindah tangan dan ratusan hektar lainnya tengah antre menanti giliran dijamah investor. Dari sekian banyak investor yang datang, sebagian besar berasal dari negeri kanguru (Australia) dan Jakarta.

Jalan-jalan di Nusa Penida dulunya dominan dilintasi kendaraan roda dua dan kendaraan umum berupa angdes. Mereka lebih banyak melayani paket wisata religi, mengingat Nusa Penida memiliki banyak pura yang kental dengan nilai sejarahnya. Seperti Pura Penataran Dalem Ped, Goa Giri Putri, Pucak Mundi dan lainnya. 

Tetapi sekarang, ceritanya beda. Mobil mewah, sekelas BMW dan lainnya, selalu mewarnai keseharian jalanan di Nusa Penida. Bisa ditebak, siapa yang berada dalam mobil mewah yang setiap saat mengintai hamparan perbukitan berbatu yang ada di sekelilingnya itu. Mereka adalah para investor yang mengintip indahnya panorama Nusa Penida.

Nyoman Cuit Suparta, seorang perantara (baca: makelar tanah) di Klungkung yang cukup dikenal para investor dalam dan luar negeri, menuturkan sejak akses penyeberangan dari/ke Nusa Penida setelah kapal roro beroperasi, para investor mulai berdatangan, terutama dari Australia. Namun, para investor itu belum menargetkan lahan dalam ukuran sangat luas. Maksimal hanya 15 hektar. Mereka masih mempertimbangkan minimnya sarana-prasarana dan infrastruktur penunjang yang ada.

''Harga per are tanah relatif murah. Berkisar Rp 4 juta hingga Rp 5 juta. Kalau letaknya jauh ke dalam, lebih murah. Tetapi, kalau aksesnya lebih mudah dijangkau ditambah pemandangan di sekitarnya bagus, harganya lebih tinggi,'' kata Cuit seraya mengaku tiga hari lalu, ia mengajak investor asal Australia yang disebut bernama John membeli lahan seluas 5 hektar di kawasan Bunga Mekar seharga Rp 5 juta per are. ''Jalannya masih sempit, masih sulit dilalui. Kalau jalannya bagus, pasti investor akan membeli tanah lebih banyak lagi,'' katanya optimis. Bahkan saat ini, ia mengaku masih mendapat titipan 8 hektar lahan oleh pemiliknya di kawasan Pasih Uug untuk dicarikan pembeli.

Ketut Sukasta, seorang tokoh masyarakat, menyebutkan daerah-daerah yang paling diincar investor saat ini adalah daerah bagian barat seperti Suana, Sakti, Bunga Mekar dan utara (Ped). Letaknya strategis, dekat dengan Bali, pemandangannya juga indah dan sangat cocok untuk membangun jasa akomodasi pariwisata, seperti hotel, restoran, vila dan lainnya.

Menurut Sukasta, puluhan hektar lahan di kawasan strategis itu sudah terjamah investor. Termasuk para pejabat dan anggota Dewan di Klungkung, juga disebut-sebut telah memiliki lahan tak kurang dari satu hektar di wilayah itu. Namun, ia tidak mendapat angka pasti tentang perpindah-tanganan lahan di Nusa Penida. ''Yang jelas, masing-masing investor rata-rata membeli tanah sekitar 5 sampai 10 hektar. Selain untuk akomodasi pariwisata, banyak juga yang membangun usaha jasa dan perdagangan,'' katanya.  ''Yang jelas, oleh desa adat, setiap investor yang membangun usaha, wajib berdana punia untuk desa di sekitarnya.''

Sumber di bagian pengukuran tanah Kantor Pertanahan (KP) Klungkung mengakui banyaknya peralihan lahan di Nusa Penida. ''Banyak sekali, pak. Tetapi, saya tidak berani menjelaskan secara detail, karena harus mendapat izin dulu dari atasan saya (Kepala KP-red),'' ujarnya. (bal)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)