Nusa
Penida
Kini--
Diburu
Pebisnis Jakarta
dan
Bule Australia
Tidak
dapat
dimungkiri, tingginya
angka
pengalihan lahan
dari
warga kepada investor
belakangan
ini di
Nusa
Penida, sebagai
akibat
makin mudahnya
akses
penyeberangan dari/ke
Nusa
Penida.
Puluhan
hektar
lahan sudah
berpindah
tangan
dan ratusan
hektar
lainnya tengah
antre
menanti giliran
dijamah investor.
Dari sekian
banyak investor yang
datang,
sebagian besar
berasal
dari negeri
kanguru (Australia)
dan
Jakarta.
Jalan-jalan
di Nusa
Penida
dulunya dominan
dilintasi
kendaraan
roda
dua dan
kendaraan
umum
berupa angdes.
Mereka
lebih
banyak melayani
paket
wisata religi,
mengingat
Nusa
Penida memiliki
banyak
pura yang kental
dengan
nilai sejarahnya.
Seperti
Pura
Penataran Dalem
Ped,
Goa Giri
Putri,
Pucak Mundi
dan
lainnya.
Tetapi
sekarang,
ceritanya
beda.
Mobil mewah,
sekelas BMW
dan
lainnya, selalu
mewarnai
keseharian
jalanan
di Nusa
Penida.
Bisa
ditebak,
siapa yang
berada
dalam mobil
mewah yang
setiap
saat mengintai
hamparan
perbukitan
berbatu yang
ada di
sekelilingnya
itu.
Mereka
adalah
para investor yang mengintip
indahnya panorama
Nusa
Penida.
Nyoman
Cuit
Suparta, seorang
perantara (baca:
makelar
tanah) di
Klungkung yang
cukup
dikenal para investor
dalam
dan luar
negeri,
menuturkan sejak
akses
penyeberangan dari/ke
Nusa
Penida setelah
kapal
roro beroperasi,
para investor
mulai
berdatangan, terutama
dari Australia.
Namun,
para investor
itu
belum menargetkan
lahan
dalam ukuran
sangat
luas.
Maksimal
hanya 15
hektar.
Mereka
masih
mempertimbangkan minimnya
sarana-prasarana
dan
infrastruktur penunjang
yang ada.
''Harga per are
tanah
relatif murah.
Berkisar
Rp 4
juta hingga
Rp 5
juta.
Kalau
letaknya
jauh ke
dalam,
lebih murah.
Tetapi,
kalau aksesnya
lebih
mudah dijangkau
ditambah
pemandangan
di
sekitarnya bagus,
harganya
lebih
tinggi,'' kata
Cuit
seraya mengaku
tiga
hari lalu,
ia
mengajak investor
asal Australia yang
disebut
bernama John membeli
lahan
seluas 5 hektar
di
kawasan Bunga
Mekar
seharga Rp 5
juta per are.
''Jalannya
masih
sempit, masih
sulit
dilalui. Kalau
jalannya
bagus,
pasti investor
akan
membeli
tanah lebih
banyak
lagi,'' katanya
optimis.
Bahkan
saat ini,
ia
mengaku
masih mendapat
titipan 8
hektar
lahan oleh
pemiliknya
di
kawasan Pasih
Uug
untuk dicarikan
pembeli.
Ketut
Sukasta,
seorang
tokoh masyarakat,
menyebutkan
daerah-daerah yang paling
diincar investor
saat
ini adalah
daerah
bagian barat
seperti
Suana, Sakti,
Bunga
Mekar dan
utara (Ped).
Letaknya
strategis,
dekat
dengan Bali, pemandangannya
juga
indah dan
sangat
cocok untuk
membangun
jasa
akomodasi pariwisata,
seperti hotel,
restoran,
vila
dan
lainnya.
Menurut
Sukasta,
puluhan
hektar lahan
di
kawasan strategis
itu
sudah terjamah
investor.
Termasuk
para
pejabat dan
anggota
Dewan di
Klungkung,
juga
disebut-sebut telah
memiliki
lahan
tak kurang
dari
satu hektar
di
wilayah itu.
Namun,
ia
tidak
mendapat angka
pasti
tentang perpindah-tanganan
lahan
di Nusa
Penida.
''Yang jelas,
masing-masing investor
rata-rata membeli
tanah
sekitar 5 sampai 10
hektar.
Selain
untuk
akomodasi pariwisata,
banyak
juga yang membangun
usaha
jasa dan
perdagangan,''
katanya.
''Yang
jelas,
oleh desa
adat,
setiap investor yang
membangun usaha,
wajib
berdana punia
untuk
desa di
sekitarnya.''
Sumber
di
bagian pengukuran
tanah
Kantor Pertanahan
(KP) Klungkung
mengakui
banyaknya
peralihan
lahan
di Nusa
Penida.
''Banyak
sekali,
pak.
Tetapi,
saya
tidak berani
menjelaskan
secara detail,
karena
harus mendapat
izin
dulu dari
atasan
saya (Kepala
KP-red),'' ujarnya.
(bal)