Puluhan
Siswa SMAN 1
Ubud
Kesurupan
Gianyar
(Bali Post) -
Puluhan
siswa SMAN 1
Ubud,
Kamis (1/2) kemarin,
kesurupan
saat
proses belajar-mengajar
di
sekolah tersebut.
Kesurupan
yang pertama kali
dialami
oleh salah
satu
siswi kelas 10.V,
Novi,
disusul
siswa lainnya yang
jumlahnya
mencapai 28
orang.
Peristiwa
ini
membuat suasana
belajar
di SMAN 1 Ubud
kacau.
Hingga
akhirnya
semua
siswa dipulangkan
untuk
mencegah hal-hal yang
tidak
diinginkan.
Menurut
seorang guru yang
kebetulan
mengajar
saat
peristiwa tersebut,
Wayan
Ubud, sebagaimana
biasanya
siswa yang
ada di
kelas
mengikuti proses
belajar.
Sekitar
pukul 09.45
wita di
kelas
tersebut sedang
mendapatkan
pelajaran
bahasa Mandarin.
Tanpa
disadari, tiba-tiba
saja
salah satu
siswi,
Novi,
yang duduk
di
deretan paling depan
berteriak
dan
menendang bangku yang
membuat
suasana kelas
ricuh.
Wayan
Ubud yang
saat
itu kebetulan
berada
di belakang pun
terkejut.
Dan berusaha
untuk
menenangkan siswa
yang lainnya.
Lima belas
menit
kemudian, hal yang
sama
juga
dialami oleh
siswa
di kelas
lainnya.
Melalui
pengeras
suara,
semua siswa
kemudian
diarahkan
untuk
berkumpul ke
padmasana
sekolah
untuk sembahyang
meminta
ketenangan.
Orangtua
siswa yang
kesurupan pun
dihubungi.
Informasi
yang diperoleh,
kesurupan
tidak
hanya terjadi
di
kelas.
Siswa
yang ada
di
kantin juga
mengalami
hal
serupa.
Dari 28 siswa
yang kesurupan
tersebut
hanya
dua orang yang
siswa
laki-laki.
Kepala
SMAN 1 Ubud, Drs. A.A.
Ketut
Raka, yang ditemui
mengatakan
peristiwa
tersebut
juga
pernah terjadi
beberapa
tahun yang
lalu.
Beberapa
kejadian
aneh
juga pernah
terjadi
di sekolah yang
sebelah
timurnya merupakan
Tukad
Ubud (Sungai
Ubud).
Karena
kejadian
itu,
pihak sekolah
telah
membuat upacara
Waraspati
Kalpa
di sekolah
tersebut
bersama
dengan masyarakat
sekitarnya.
Sejak
saat
itu, tidak
pernah
lagi terjadi
peristiwa
aneh di
sekolah
tersebut.
Sedangkan
untuk
siswa yang kesurupan
ini
pertama kali sejak
dilangsungkan
upacara
tersebut, pada 29
Desember 2005.
Berkaitan
dengan
adanya kesurupan
Kamis
kemarin, pihak
sekolah
meminta petunjuk
ke Ida
Pedanda Giri
Kusuma,
dari Geria
Payangan.
Mengenai
keterkaitannya
dengan
adanya pembangunan
labotarium yang
dibangun
bertingkat, A.A.
Raka
mengatakan
ketidakmungkinannya.
Karena
saat
awal rencana
pembangunan
tersebut
telah
dilakukan prosesi
upacara
sebagaimana mestinya.
(dar)