Catatan
Pariwisata
Sepekan ------
Secuil
Harapan
pada Muslub BTB
SETELAH sempat
tertunda,
Musyawarah
Luar
Biasa Bali Tourism Board (Muslub
BTB) akhirnya
digelar
Senin (12/3) mendatang
di
Campuhan, Ubud.
Sebagaimana
disyaratkan
Koordinator
Penyempurnaan AD/ART BTB Ida
Bagus
Ngurah Wijaya,
muslub
memiliki agenda utama
yakni
pengesahan AD/ART BTB yang
telah disempurnakan
dan
pemilihan pengurus
baru 2007 - 2009.
Organisasi
sosial
memiliki dua
godaan yang paling
genit,
yakni para
elitenya
digoda
untuk memanfaatkan
organisasi
tersebut
sebagai
kendaraan politik
sekaligus
kendaraan
ekonomi
untuk kepentingan
dirinya
sendiri.
Dua
godaan
ini selalu
menyertai
keseharian
kiprah
organisasi di
Indonesia, tak
terkecuali
organisasi
profesi.
Kita berharap,
siapa pun yang
terpilih
menjadi
Koordinator/Ketua BTB dalam
Muslub
mendatang harus
menanggalkan
atribut
politiknya dan
menanggalkan
ambisi
ekonomisnya.
Jangan
menjerumuskan
organisasi
sekelas BTB
dalam
rivalitas politik
yang hanya
menguntungkan
diri
sendiri dan
kelompok.
Sebab,
kalau
itu yang terjadi,
pariwisata
makin
terpuruk.
Pengalaman-pengalaman
terdahulu
sudah
membuktikan bahwa
gaya
one man show pimpinan
organisasi
tak
memberi keuntungan
apa-apa
bagi para
anggota
dan masyarakat. Yang
diuntungkan
hanya sang
pemimpin
itu
sendiri yang mencoba
mengambil
berkah
ekonomis atas
kedudukannya.
Sikap
tidak
peka seperti
ini
jelas bukan
sikap
pemimpin yang baik.
Kita percaya,
para
wakil stakeholder yang
memiliki hak
pilih
memahami betul
masalah
ini.
Dengan
demikian,
mereka
bisa memilih
figur yang
cocok,
tanpa terjebak
dalam
iming-iming sesaat
dan
sesat.
Untuk
mencari
figur yang betul-betul
sempurna
jelas
tak mungkin,
namun
setidaknya cukup
diterima
oleh
lebih banyak
orang.
Sesuai
dengan spirit
awalnya, BTB
sesungguhnya
lebih
berperan sebagai
think-tank.
Oleh
karena
itu, kalau
memang
kesekretariatan BTB dipegang
seorang
setingkat chief executive officer (CEO)
mestinya
diperkuat
oleh
bidang penelitian
dan
pengembangan (litbang)
dan media center.
Untuk
pembiayaan operasional
tentu
membutuhkan
dana
permanen yang
perlu
juga dibahas
dalam
muslub.
Di
sisi
lain, AD/ART seyogianya
memberi
rambu-rambu yang tegas
mengenai
hak dan
kewajiban
pengurus
dan
anggota. Dengan
demikian,
pengurus
mempunyai
legitimasi yang
kuat
dan dalam
kebersamaan
serta
kepaduan (sinergi)
bisa
mengeksekusi program BTB,
baik jangka
pendek,
menengah maupun
jangka
panjang. Ke
depan,
semoga kredibilitas,
peran
dan tanggung
jawab BTB
semakin
baik.
Masalah
perluasan
keanggotaan BTB
menjadi
isu yang cukup
penting yang
sudah
terdengar beberapa
tahun
lalu.
Saat
ini terdapat
sembilan stakeholder
sebagai
pendiri BTB, yakni
Asita, PHRI, HPI, SIPCO,
Bali Village, Putri,
Gahawisri,
Pawiba
dan PATA.
Memang
terasa
tidak fair dan
bahkan
agak janggal
kalau
kesembilan stakeholder
mengklaim bisa
merepresentasikan
pariwisata
Bali.
Di
sini
perluasan anggota
menjadi
suatu keniscayaan.
Bisa
saja
unsur akademisi
ikut
jadi anggota,
seperti
Puslit Budpar
Unud, STP Bali
dan
sekolah pariwisata
lainnya.
Juga
misalnya Bali Rasa
Sayang, Bali Villa
Association, Asosiasi MICE,
bahkan
Federasi Serikat
Pekerja
Pariwisata (F-SP Par).
Prinsipnya
tentu
bukan sekadar
menambah
anggota,
tetapi
memperkuat barisan.
Akhirnya,
selamat
bermuslub!
·
gregorius