kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 10 Pebruari 2007

 Pariwisata


Catatan
Pariwisata Sepekan ------
Secuil
Harapan pada Muslub BTB 

SETELAH sempat tertunda, Musyawarah Luar Biasa Bali Tourism Board (Muslub BTB) akhirnya digelar Senin (12/3) mendatang di Campuhan, Ubud. Sebagaimana disyaratkan Koordinator Penyempurnaan AD/ART BTB Ida Bagus Ngurah Wijaya, muslub memiliki agenda utama yakni pengesahan AD/ART BTB yang telah disempurnakan dan pemilihan pengurus baru 2007 - 2009.

Organisasi sosial memiliki dua godaan yang paling genit, yakni para elitenya digoda untuk memanfaatkan organisasi tersebut sebagai kendaraan politik sekaligus kendaraan ekonomi untuk kepentingan dirinya sendiri. Dua godaan ini selalu menyertai keseharian kiprah organisasi di Indonesia, tak terkecuali organisasi profesi.

Kita berharap, siapa pun yang terpilih menjadi Koordinator/Ketua BTB dalam Muslub mendatang harus menanggalkan atribut politiknya dan menanggalkan ambisi ekonomisnya. Jangan menjerumuskan organisasi sekelas BTB dalam rivalitas politik yang hanya menguntungkan diri sendiri dan kelompok. Sebab, kalau itu yang terjadi, pariwisata makin terpuruk.

Pengalaman-pengalaman terdahulu sudah membuktikan bahwa gaya one man show pimpinan organisasi tak memberi keuntungan apa-apa bagi para anggota dan masyarakat. Yang diuntungkan hanya sang pemimpin itu sendiri yang mencoba mengambil berkah ekonomis atas kedudukannya. Sikap tidak peka seperti ini jelas bukan sikap pemimpin yang baik.

Kita percaya, para wakil stakeholder yang memiliki hak pilih memahami betul masalah ini. Dengan demikian, mereka bisa memilih figur yang cocok, tanpa terjebak dalam iming-iming sesaat dan sesat. Untuk mencari figur yang betul-betul sempurna jelas tak mungkin, namun setidaknya cukup diterima oleh lebih banyak orang.

Sesuai dengan spirit awalnya, BTB sesungguhnya lebih berperan sebagai think-tank. Oleh karena itu, kalau memang kesekretariatan BTB dipegang seorang setingkat chief executive officer (CEO) mestinya diperkuat oleh bidang penelitian dan pengembangan (litbang) dan media center. Untuk pembiayaan operasional tentu membutuhkan dana permanen yang perlu juga dibahas dalam muslub.

Di sisi lain, AD/ART seyogianya memberi rambu-rambu yang tegas mengenai hak dan kewajiban pengurus dan anggota. Dengan demikian, pengurus mempunyai legitimasi yang kuat dan dalam kebersamaan serta kepaduan (sinergi) bisa mengeksekusi program BTB, baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Ke depan, semoga kredibilitas, peran dan tanggung jawab BTB semakin baik.

Masalah perluasan keanggotaan BTB menjadi isu yang cukup penting yang sudah terdengar beberapa tahun lalu.  Saat ini terdapat sembilan stakeholder sebagai pendiri BTB, yakni Asita, PHRI, HPI, SIPCO, Bali Village, Putri, Gahawisri, Pawiba dan PATA. Memang terasa tidak fair dan bahkan agak janggal kalau kesembilan stakeholder mengklaim bisa merepresentasikan pariwisata Bali.

Di sini perluasan anggota menjadi suatu keniscayaan. Bisa saja unsur akademisi ikut jadi anggota, seperti Puslit Budpar Unud, STP Bali dan sekolah pariwisata lainnya. Juga misalnya Bali Rasa Sayang, Bali Villa Association, Asosiasi MICE, bahkan Federasi Serikat Pekerja Pariwisata (F-SP Par). Prinsipnya tentu bukan sekadar menambah anggota, tetapi memperkuat barisan. Akhirnya, selamat bermuslub!

·         gregorius

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)