Pers
harus
Perhatikan
Persatuan
Bangsa
Samarinda
(Bali Post) -
Pers
bebas
memberitakan apa pun
yang terjadi
di
Tanah Air, tetapi
kebebasan
itu
harus bertanggung
jawab.
Berita atau
informasi yang
disampaikan
kepada
masyarakat mesti
bermartabat,
memegang
teguh
independensi dan
tidak
merusak persatuan
dan
kesatuan negara.
Oleh
karena pada
hakikatnya
kebebasan
itu
adalah proses
menuju
kesejahteraan bersama
bangsa Indonesia.
Hal itu
ditegaskan Wakil
Presiden
Jusuf
Kalla pada
puncak
peringatan Hari
Pers
Nasional 2007 sekaligus
HUT ke-61 PWI di
Gedung DPRD
Kaltim,
Samarinda, Jumat
(9/2) sore kemarin.
Peringatan
Hari
Pers Nasional 2007
bertemakan ''Mewujudkan
Pers
Independen dan
Berkualitas
untuk
Memperjuangkan Kesejahteraan
Bangsa''.
Acara
ini merupakan
rangkaian
terakhir
dari
kegiatan yang telah
digelar
di Samarinda,
yaitu
Rakernas Siwo PWI,
Porwanas IX,
dan
Konvensi Nasional
Media Massa.
Wapres
memberi
contoh pemberitaan
terkait
kasus penyakit flu
burung yang
merebak
di Tanah Air
belakangan
ini yang
sangat
merugikan. Berita
seputar flu
burung yang
hampir
menjadi menu sehari-hari
media cetak
dan
elektronik di
Indonesia dampaknya
sangat
luas di
luar
negeri. Begitu
juga
kejadian yang terjadi
di
kecamatan, ledakan
bom-bom
kecil dan demo yang
sering
diangkat secara
panjang
lebar oleh media
massa. Para
turis
jadi takut
mengunjungi
negara
kita. ''Gubernur Bali
pasti
khawatir,'' katanya.
Setiap
bangsa
di dunia
ini
pasti mempunyai
masalah,
apalagi Indonesia
sebagai
salah satu
negara
besar. Oleh
karena
itu, lanjut
Wapres,
harus dipikirkan
atau
dikalkulasi masak-masak
dampak
dari berita yang
disampaikan
lewat media
massa
secara terbuka.
Meski
demikian, Jusuf
Kalla
menegaskan, pemerintah
tidak
pernah melarang media
untuk
memuat atau
tidak
memuat suatu
berita.
Namun, apabila
ada
berita yang kiranya
dapat
merusak persatuan
dan
kesatuan bangsa,
hendaknya
tidak
dibesar-besarkan. ''Mari
kita bersama-sama
jaga
persatuan bangsa
ini
untuk mencapai
tujuannya
menuju
masyarakat yang sejahtera,''
pinta
Wapres.
Dalam
hal
kebebasan pers,
ia
mengatakan pemberitaan
media massa AS
terhadap
peristiwa 11 September (serangan
terhadap
gedung WTC)
pantas
dicontoh. Pers
di sana
justru
menunjukkan rasa
empatinya,
sehingga
dengan
pemberitaan yang konstruktif
masyarakat yang
menjadi
korban merasa
hidup
kembali.
Sebelumnya,
Ketua
Umum PWI Pusat
Tarman
Azzam menyebutkan
sekarang
tidak
dihargai lagi
standardisasi
pers
oleh kalangan
pers
itu sendiri.
Ini
diakibatkan masuknya
orang-orang
bukan
pers ke
dunia
pers. Akibatnya,
tiga
orang saja
sudah
bisa membentuk
organisasi
wartawan,
padahal
seharusnya minimal mempunyai
500 anggota.
Karena
itu, ia
membenarkan
kritik
beberapa kalangan
bahwa
pers Indonesia sudah
kebablasan,
walau
tidak sepenuhnya
benar.
Pada
kesempatan
itu,
Tarman Azzam
menyampaikan
tiga
rumusan yang
direkomendasikan Konvesi
Nasional Media
Massa yang
melibatkan
sekitar 600
wartawan
di
Samarinda, Kamis
(8/2) lalu.
Pertama,
idealisme
pers
nasional wajib
kita
tegakkan bersama
secara
berkesinambungan dan
pers
harus mampu
meningkatkan
interaksi
dengan
para stakeholder. Kedua,
meningkatkan
profesionalisme
pers,
etika jurnalistik,
SDM pers
dan
sosialisasi kode
etik
jurnalistik. Ketiga,
meminta
dewan pers
bersama
masyarakat pers
untuk
segera menyusun
standardisasi
kesejahteraan
pers
dan organisasi
perusahaan
pers.
(kmb11)