Pembatasan
RSh
Mubazir--
Banyak
Muncul
Rusun dan
Apartemen
Denpasar
(Bali Post) -
Pembatasan
pembangunan
RSh (rumah
sangat
sederhana) ternyata
tak
efektif, bahkan
terkesan
mubazir.
Pasalnya
belakangan
ini
justru banyak
muncul
rumah susun
dan
sejenis apartemen,
padahal
aturan untuk
rusun
belum ada.
Sekretaris
Ikatan
Kekerabatan Arsitektur
Indonesia (Ikrar) Bali Ir.
Wayan
Suantra, Jumat (9/2)
kemarin
usai rapat
mengatakan,
dibatasinya
pembangunan
rumah
sangat sederhana
bertujuan
positif
dalam rangka
menjaga
lingkungan dari
sisi
kekumuhan dan
kepadatannya.
Namun
anehnya
kini bertebaran
rumah
susun dan
apertemen.
Padahal,
Pemkot
dan Badung
sebelumnya
sangat
ketat mengawasi
perkembangan
rumah
tipe kecil yang
dikhawatirkan
bisa
mengganggu lingkungan.
Suantra
menambahkan, yang
perlu
diwaspadai adalah
hadirnya
bangunan
menjulang
tersebut
karena
selain tak
didukung
aturan
juga kini
disiasati
dengan
paket hotel atau
sejenis mall
di
dalamnya.
''Dinas
Tata Kota
dan DPRD
perlu
mengawasi hal
ini agar
jangan
sampai melanggar
aturan yang
nantinya
bisa
membawa dampak
negatif,''
tambahnya.
Tanpa
menunjuk
pasti
sejumlah lokasi yang
kini
dibangun fasilitas
untuk
kelompok menengah
ke atas
itu,
Suantra berharap
ke
depan pengusaha
bisa
menjalin kerja
sama
dengan
pemerintah dalam
menegakkan
pembangunan.
''Kerja
sama
itu perlu,
asal
tak kolusi,''
tandasnya.
Ia
menambahkan,
perlunya
segera
dibuatkan aturan
untuk
penataan pembangunan
khususnya
perumahan
di
Denpasar sebagai
kota
budaya.
Dengan demikian
ke
depan,
arahnya
menjadi jelas
dan tak
lepas
dari konsep yang
disepakati.
''Ini
untuk
kebaikan semua,''
tambahnya.
Langkah
itu
sangat penting
dan
mendesak mengingat
sejumlah
kasus
bencana alam yang
terjadi
akhir-akhir ini.
Banjir
di
sejumlah daerah
bukan
saja merusak
pemukiman
juga
perekonomian.
Bali
kalau
tak cermat
dalam
memanfaatkan alam
bisa
menjadi korban
dari
alam itu
sendiri.
Posisi
geografis
dan
pertumbuhan yang terjadi
sangat
memungkinkan hal
itu.
Karenanya
harus
diwaspadai sebelum
terlambat.
Suantra
mengatakan
pengusaha
adalah
peracik peluang,
di mana
ada
peluang di situ
ada
usaha.
Namun
dalam
memanfaatkan peluang
jangan
sampai mengorbankan
alam yang
akhirnya
merugikan
manusia
itu sendiri.
(031)