kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 10 Pebruari 2007

 Ekonomi


Pembatasan
RSh Mubazir--
Banyak
Muncul Rusun dan Apartemen 

Denpasar (Bali Post) -
Pembatasan
pembangunan RSh (rumah sangat sederhana) ternyata tak efektif, bahkan terkesan mubazir. Pasalnya belakangan ini justru banyak muncul rumah susun dan sejenis apartemen, padahal aturan untuk rusun belum ada.

Sekretaris Ikatan Kekerabatan Arsitektur Indonesia (Ikrar) Bali Ir. Wayan Suantra, Jumat (9/2) kemarin usai rapat mengatakan, dibatasinya pembangunan rumah sangat sederhana bertujuan positif dalam rangka menjaga lingkungan dari sisi kekumuhan dan kepadatannya. Namun anehnya kini bertebaran rumah susun dan apertemen. Padahal, Pemkot dan Badung sebelumnya sangat ketat mengawasi perkembangan rumah tipe kecil yang dikhawatirkan bisa mengganggu lingkungan.

Suantra menambahkan, yang perlu diwaspadai adalah hadirnya bangunan menjulang tersebut karena selain tak didukung aturan juga kini disiasati dengan paket hotel atau sejenis mall di dalamnya. ''Dinas Tata Kota dan DPRD perlu mengawasi hal ini agar jangan sampai melanggar aturan yang nantinya bisa membawa dampak negatif,'' tambahnya.

Tanpa menunjuk pasti sejumlah lokasi yang kini dibangun fasilitas untuk kelompok menengah ke atas itu, Suantra berharap ke depan pengusaha bisa menjalin kerja sama dengan pemerintah dalam menegakkan pembangunan. ''Kerja sama itu perlu, asal tak kolusi,'' tandasnya.

Ia menambahkan, perlunya segera dibuatkan aturan untuk penataan pembangunan khususnya perumahan di Denpasar sebagai kota budaya. Dengan demikian ke depan, arahnya menjadi jelas dan tak lepas dari konsep yang disepakati. ''Ini untuk kebaikan semua,'' tambahnya. Langkah itu sangat penting dan mendesak mengingat sejumlah kasus bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini.

Banjir di sejumlah daerah bukan saja merusak pemukiman juga perekonomian. Bali kalau tak cermat dalam memanfaatkan alam bisa menjadi korban dari alam itu sendiri. Posisi geografis dan pertumbuhan yang terjadi sangat memungkinkan hal itu. Karenanya harus diwaspadai sebelum terlambat.

Suantra mengatakan pengusaha adalah peracik peluang, di mana ada peluang di situ ada usaha. Namun dalam memanfaatkan peluang jangan sampai mengorbankan alam yang akhirnya merugikan manusia itu sendiri. (031)

                                   

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)