Siswa
SMAN 1
Kediri
dan SMK
Marsudirini ''Kerauhan''
Tabanan
(Bali Post) -
Kerauhan
massal
terjadi Jumat (9/2)
kemarin
di SMA 1 Kediri.
Sejak
pagi, beberapa
siswa
mengalami trance (kerauhan)
yang menyebabkan
timbulnya
kepanikan
pada
sekolah tersebut.
Beberapa
tokoh agama
akhirnya
didatangkan
untuk
membantu siswa yang
berteriak
dan
menangis histeris
itu.
Sehari sebelumnya,
Kamis (8/2)
lalu,
beberapa orang
siswa
juga mengalami
kerauhan,
tetapi
cepat ditangani
oleh
pihak sekolah.
Menurut
informasi
di
lapangan, sejak
sekitar
pukul 08.00 wita,
pagi
kemarin, ratusan
siswa
di sekolah
tersebut
sedang
melakukan kerja
bakti,
Jumat bersih.
Satu
orang siswa
tiba-tiba
berteriak
dan
menangis dengan
keras.
Histeris siswa
perempuan
itu
akhirnya menjalar
pada
beberapa siswa
lainnya
dan siswa yang
kerauhan
bertambah
banyak,
sebagian besar
siswa
perempuan.
Beberapa
siswa
dan guru setempat
akhirnya
melakukan
penanganan.
Jumlah
siswa yang kerauhan
makin
banyak. Bahkan,
ada
siswa yang hingga
berguling-guling
di
halaman sekolah
sebelum
akhirnya dapat
ditenangkan.
Salah
seorang tokoh Muslim,
Haji
Datuk Basiru,
akhirnya
datang
untuk memberikan
pertolongan,
sebab yang
kerauhan
ada yang
beragama Islam,
juga Kristen.
Haji
tua yang rumahnya
berdekatan
dengan
sekolah tersebut
akhirnya
memberi
pertolongan dengan
membacakan
doa
serta memberi air
minum
pada beberapa
siswa yang
berteriak
seperti
ketakutan. Basiru
menyatakan
siswa
tersebut kerasukan,
tetapi
tidak bersedia
menjelaskan
kerasukan
apa.
Sementara salah
seorang
siswa yang tadinya
kerauhan,
Diah,
mengaku dirinya
ketakutan
karena
melihat sosok yang
menyeramkan.
Sekitar
pukul 10.00
wita,
pihak sekolah
akhirnya
mengumumkan
kepada
para siswa
untuk
meninggalkan sekolah
dan
pulang ke
rumah
masing-masing. Tetapi
beberapa
siswa yang
kerauhan
sulit
untuk ditenangkan
dan
beberapa siswa
lainnya
juga ikut
histeris. Hal
itu
menimbulkan kepanikan
pihak
sekolah dalam
melakukan
penanganan.
Di
tengah situasi yang
tegang,
nyaris terjadi
keributan
antara
pihak sekolah
dan
para wartawan media
cetak
serta elektronik yang
meliput
kejadian tersebut.
Hal itu
dipicu dari
teriakan
salah
seorang guru yang melarang
para
wartawan untuk
mengambil
gambar.
SMK
Marsudirini
Sementara
itu,
kerauhan juga
terjadi
di SMK Marsudirini,
Negara. Tiga
siswa
kelas III sekolah
tersebut
kerauhan
saat
berdoa di
ruang
doa, Jumat
kemarin
sekitar pukul 14.00
wita.
Tiga siswa yang
mengalami
kerauhan
adalah
Juliadi Wirawan (17),
Komang
Widia (16), dan
Eni
Stipurnamawati (17).
Dari beberapa
sumber
di SMK Marsudirini,
peristiwa
kerauhan
tersebut
berawal
dari siswa
kelas III yang
usai
belajar melakukan
doa
bersama di
ruang
doa yang berada
di
belakang gedung
sekolah.
Tiba-tiba
Juliadi
dan Widia
langsung
kerauhan,
disusul
oleh Eni
sekitar
setengah jam kemudian.
''Saya
takut, ada
banyak
orang di
sini.
Saya ingin
pulang
karena saya
takut
di sini,''
teriak
Juliadi sambil
meronta-ronta.
Sementara
itu,
Widia yang berada
di
ruang doa
juga
mengalami hal yang
sama.
Bahkan dia
juga
teriak-teriak. Kadang
dia
diam, tapi
sebentar
lagi
dia menangis.
Sedangkan
Eni yang
kerauhan
di
dalam kelas,
langsung
dibopong
oleh
teman-temannya ke
luar
kelas. Dia
meronta-ronta
sambil
menangis. ''Ruangan
ini
begitu sempit
bagi
saya, saya
butuh
ruangan yang luas,
karena
di sini
ruangannya
panas,
bekas gudang,''
teriak
Widia.
Setengah
jam setelah
Widia
dan Juliadi
kerauhan
di
ruang doa,
Eni yang
sedang
praktik menjahit
langsung
kerauhan
juga. "Kami
kemudian
mencoba
membacakan ayat
suci
Alquran agar Eni
cepat
tersadar dari
kerauhan,''
ujar
salah satu
teman
Eni.
Salah
seorang guru SMK
Marsudirini
mengatakan
sekitar
sebulan yang lalu
di SMK
Marsudirini pernah
terjadi
kerauhan dengan
korban
sekitar 13 siswa yang
sedang
mengikuti perkemahan.
Menurutnya,
salah
satu siswa yang
mengalami
kerauhah
saat
itu teriak-teriak,
kalau
penunggu di
sana
meminta
kepada pihak
sekolah
untuk dibuatkan
sebuah
ruangan.
Katanya,
saat
kerauhan sebulan
lalu,
penunggu meminta
dibuatkan
ruang
khusus untuknya.
(upi/kmb)