Warung
Global----
Anggota
Dewan
makin
tak
Punya
Hati Nurani
Ternyata
PP 37/2006 sangat
menarik
disimak perkembangannya.
Sebuah episode
politik yang
mempunyai
cerita
panjang dan
selalu
menjadi pembicaraan
di
masyarakat. Cerita
ini
mulai berseri,
ketika
melihat dari
berbagai
usaha yang
dilakukan
para
anggota Dewan.
Adkasi
bahkan dinyatakan
sebagai
lembaga dadakan
hendak
melakukan rapim.
Bahkan,
rupanya anggota
Dewan
makin tidak
punya
hati nurani
di
tengah kondisi
masyarakat yang
menjerit.
Demikian
terungkap
dalam
acara Warung Global
yang disiarkan
langsung Radio Global 96,5
FM dan
dipancarluaskan Radio
Singaraja FM. Berikut
rangkuman
selengkapnya.
===========================================================
Pande
di
Pandak Gede
menyatakan,
Adkasi
ini adalah
lembaga
dadakan yang terbentuk
untuk
menyikapi perkembangan
PP 37/2006. Di
mana
perjalanannya memunculkan
pro-kontra
pada
tataran masyarakat
kemudian
berujung
pada
akan direvisi
dan
dicabutnya pasal-pasal
substansial.
Terutama yang
pengundang
polemik
yakni pasal-pasal
yang mengatur
tentang
rapelan tunjangan
komunikasi
intensif
pimpinan
dan
anggota DPRD yang jumlahnya
fantastis.
Di
sini,
katanya, bisa
dilihat
perkembangan yang cukup
menarik
dari DPRD. Ini
menjadi
catatan bagi
kita
semua bahwa kali
ini
anggota Dewan
kita
sudah terang-terangan
mengingkari
perannya
sebagai
representasi rakyat.
Seharusnya
setiap
langkah yang dilakukannya
mesti
berorientasi pada
kepentingan
pablik.
Tapi realitanya
kini
mereka berjuang
secara all out
untuk
kepentingan pribadinya
masing-masing.
Pertimbangan
mereka
ke
Jakarta
barangkali
atas
dicabutnya "pasal-pasal
basah".
Oleh karena
itu,
mereka datang
ke
Jakarta membahasnya
untuk
menyatukan persepsi
dalam
rangka memberi
pressure terhadap
eksekutif agar
pasal-pasal yang
menjadi
usulannya tidak
dicabut.
Atau
mungkin juga
uang
rapelan itu
sudah
masuk ke
shoroom
mobil dalam
rangka
menaikkan penampilan
agar lebih
eksklusif.
Kadek
Jaya di
Abiansemal
mengusulkan
kalau
ke Jakarta jangan
memakai APBD
lagi,
sehingga diharapkan
anggota
Dewan tidak
perlu
datang ke
Jakarta.
Nang
Cekov
di Keliki
Payangan
Gianyar
menambahkan, "fantastis"
sehingga
turut
berdukacita atas
matinya
nurani bapak-bapak.
Tidak
bisa dibayangkan
di mana
rakyat
dalam keadaan
sulit,
masih memperjuangkan
PP 37/2006 yang otomatis
mempertebal
kantong
bapak-bapak Dewan.
Pernahkah
para
anggota Dewan
ini
berpikir bagaimana
rakyat
menjerit untuk
hidup.
Betapa tumpulnya
nurani
bapak-bapak kita yang
tidak
mau tahu
kondisi
rakyat. Sehingga
menggebunya
mereka
untuk memperjuangkan
sampai
di mana pun
dikejar.
Di saat
masyarakat
menderita
kenapa
tidak menggebu-gebu
juga
memperjuangkan rakyat
miskin?
Adnyana
di
Pedungan mengatakan,
untuk
apa Dewan
ke Jakarta.
Kalau
ke Jakarta untuk
mencabut PP 37/2006
maka
disetujui tapi
kalau
tidak lebih
baik
tidak. Lihatlah
rakyat
masih keteteran.
Guatama
di
Tampaksiring Gianyar
setuju DPRD
berangkat
ke Jakarta,
namun
harus memperjuangkan
kepentingan
rakyat
dengan mencabut PP
37/2006 dan
memperjuangkan
dana
alokasi untuk
petani.
Apalagi menghabiskan
dana Rp
3,5 juta
untuk
biaya pengganti
ke Jakarta. Dana
Rp 3,5
juta itu
lebih
baik dikumpulkan
di Bali
diberikan kepada
rakyat
miskin. Banyak
rakyat
tidak punya
rumah,
tidak makan
dan
penyandang cacat.
Kalau
ke Jakarta untuk
merevisi
dan
memuluskan PP 37/2006 maka
nurani
pejabat memang
betul-betul
mati,
sehingga mereka
menumbuhkan
feodal.
Mahayadi
di Nua
Dua
mengatakan kalau
dia
atau Dewan
betul-betul
lahir
dari rakyat
dan
dibesarkan oleh
rakyat
mestinya tidak
usah ke
Jakarta, karena
di sana
pasti
akan dicekokin.
Gede
Biasa
di Denpasar
menambahkan,
sebenarnya
dengan
adanya PP 37 akhirnya
masyarakat
jadi
tahu bahwa
selama
ini wakil
rakyat
dan pemerintah
kerjaannya
hanya
bagi-bagi uang
saja.
Selama ini,
kata
dia, belum
diatur
oleh peraturan
pemerintah
daerah
dengan jelas
atau
tidak dipublikasikan
soal
pembagian uang.
Dengan
adanya PP 37 inilah
memperlihatkan
dengan
jelas kinerja
wakil
rakyat selama
ini.
Adanya undangan
Adkasi
ini, kalau
memang
wakil rakyat
peduli
rakyat, mereka
seharusnya
tidak
usah menghadirinya,
karena
hal itu
akan
buang-buang uang
rakyat.
Sementara
itu,
Marbun di
Nusa
Dua berpendapat
tidak
usah ke Jakarta
karena
masih banjir,
nanti
basah. Bagi
anggota
Dewan dari
daerah
janganlah ke
Jakarta.
Walaupun
beliau-beliau
ke
sana
tidak
bakal didengar
di
pusat karena
di
pusat sudah
berkonfirmasi
masalahnya
duitnya
gede di
daerah
tidak seberapa.
Sehingga
anggota DPRD
dari Bali
tidak
usah datang
ke Jakarta. Yang
penting
di sini
berusaha
seoptimal
mungkin
menolak PP 37/2006.
Ngurah
Arya di
Kuta
mengatakan, kenapa
DPRD menghabis-habiskan
uang
terus? Kalau
berangkat
menggunakan
uang
sendiri tidak
apa-apa.
Mereka
maunya gratis saja
padahal
uangnya sudah
tidak
kekurangan. Diharapkan
seluruh
anggota Dewan
dari Bali
menolak
sehingga mendapat
simpati
dan empati
dari
masyarakat. * panca