kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 16 Desember 2007 tarukan valas
 

INTERMESO


Mati Favorit Cara Bali

PERUBAHAN iklim akibat pemanasan global bukan lagi sekadar teori para ilmuwan, tapi kenyataan yang dirasakan setiap orang. Dulu, saat musim hujan dari Oktober hingga Februari, udara sejuk berhembus nyaris selama lima bulan. Namun kini khususnya di Denpasar, di samping hujan jarang turun meski mendung tebal menyelimuti langit, suasana gerah dirasakan sebagian besar warga kota ini. Keringat orang-orang terus mengucur, siang maupun malam, sehingga istirahat mereka tidak tenang, tidur pun tak nyenyak. Sesuai hubungan mikro dan makrokosmos, temperamen manusia juga berubah.

**************

 

"Masyarakat awam sering memprotes di radio dalam acara interaktif, juga menulis di rubrik Surat Pembaca di koran, bahwa enggannya hujan turun akibat diusir segelintir manusia. Berkah Bhatara Wisnu untuk memelihara alam, kata mereka, ditolak kepentingan orang-orang yang punya kuasa dan uang. Kalau dulu, pawang hujan menggunakan mantra dan sesajen untuk menunda hujan, alam masih diberi hak untuk meluluskan atau menolak. Kini dengan Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation yang disingkat Laser, Dewa Wisnu enggan bernegosiasi dengan manusia-manusia yang makin arogan karena teknologi, kekuasaan dan uangnya. Sebagai 'pemelihara', lalu Beliau menyerahkan mandat pada Bhatara Siwa untuk melakukan tindakan setimpal," ulas Rubag.

"Benar! Para penguasa dan pengusaha, juga para tokoh dan orang-orang mokoh, membajak kepentingan masyarakat luas, sekaligus merusak keseimbangan alam. Coba lihat jalan-jalan umum yang ditutup sekehendak hati oleh kaum privelese, kendati hanya untuk kenduri pernikahan anaknya, menyebabkan lalu-lintas jadi kacau. Masyarakat yang bingung dan kesal terpaksa melanggar rambu stopan. Dengan kepentingan yang sama, hal serupa juga dilakukan pada langit dengan menembakkan Laser, sehingga mendung pekat tergusur, menyisakan atmosfer panas bagi kita semua. Itu sesuai arti singkatan Laser, meningkatkan sinar dengan menstimulasi pancaran radiasi. Masyarakat jadi gerah, otak pun cepat mendidih dan masalah sepele meledak jadi kerusuhan besar. Agaknya hasil penerawanganmu benar, urusan telah diambil alih Bhatara Siwa dan kheos menjadi ciri zaman sekarang,"  komentar Meregeg.

"Konsep Hindu tentang Tri Murti itu dipahami benar pakar matematika kheos, Ian Stewart. Kekacauan dan keharmonisan, menurut Stewart, adalah hakikat eksistensi jagat raya ini. Brahma sebagai Pencipta, Wisnu memelihara dan melindungi semesta, berupaya mengimbangi proses pralina yang dilakukan Siwa, yang diberi istilah 'penghancuran' oleh Stewart. Dalam tubuh manusia, unsur plus dan minus yang dikandung sub-atom, menurutnya, berinteraksi secara harmonis dan seimbang. Tapi dalam matematika, kata Stewart, unsur plus dan minus justru saling menghancurkan. Manusia modern yang menganut positivisme berciri pragmatisme dan materialisme, memandang hidup sebagai deretan angka dan menganggap matematika paling penting. Maka proses penghancuran oleh yang kuat terhadap yang lemah terjadi di tingkat global, regional, nasional dan lokal demi kepentingan ekonomi. Contoh lokalnya, lalu lintas yang kau katakan kacau tadi, juga tembakan Laser serta banyak lagi kebijakan publik yang menyengsarakan rakyat kecil."

"Ketidakadilan adalah penyebab segala kekacauan saat ini.  Lucunya, ketika terjadi kekacauan iklim, tidak ada pihak yang mau mengaku sebagai penyebabnya. Malah dari kancah UNCCC di Nusa Dua, yang penyelenggaraannya menelan dana milyaran rupiah, tidak terdengar kesepakatan untuk mengurangi emisi CO2, justru saling tuding terjadi. Mirip syair dolanan anak-anak di Bali tentang capung bangkok, yang ditanya mengapa dia membawa tombak keliling, lalu menuduh burung pelatuk yang memukul kentongan bertalu-talu sebagai dalihnya, yang selanjutnya menyalahkan kunang-kunang dan merembet kumbang tanah alias beduda. Amerika Serikat tetap bersikukuh tidak mau mengikuti Protokol Kyoto, malah minta India dan Cina mengurangi emisi gas rumah kacanya. Lalu, Indonesia yang cuma jadi penonton, karena tak punya banyak industri berat, justru paling menderita, sebab hutannya  nyaris gundul dan perut buminya terkuras," ujar Dombel.

"Huh, apa itu protongkol? Aku tidak ngerti! Mau tongkol kek, dodol kek, apalagi rumah kaca, persetan! Bali malah produsen CO2 terbanyak, soalnya cafe-cafe makacakan, bahkan ada CO jadi pengedar. Yang jelas rumahku dari gedek, tapi belakangan ini aku sulit tidur, karena angin yang biasanya berhembus lewat lubang-lubang kecil dinding bilikku, kini terasa seperti hembusan knalpot. Sudah beberapa ilih-ku robek untuk mengipasi tubuhku yang bersimbah peluh saat tidur. Nyamuk pun makin banyak. Akibatnya, aku kekurangan tidur, waktu kerja siang hari jadi ngantuk. Akhir-akhir ini aku cepat tersinggung dan marah, sehingga kawan-kawan sekerja menuduhku mengidap darah tinggi, bahkan stres. Celakanya, mungkin karena terpengaruh informasi tentang penyebab sulitnya hujan turun, maka setiap melihat sinar Laser berseliweran di langit malam hari, aku ingin ngamuk," tutur Konolan, seorang buruh bangunan.

"Sabar! Soal sulit tidur di malam hari, bukan masalah kau semata. Memang banyak yang berpendapat bahwa Laser-laser itu penyebab batalnya hujan turun, tapi itu opini, perlu pembuktian ilmiah. Ingat, di zaman yang semuanya diberi label ilmiah ini, uraian matematiklah dipakai patokan. Sedangkan, matematikawan punya ungkapan, 'apa yang kelihatan, hanyalah realitas permukaan, bukan realitas sejati'! Jadi, apa pun yang dilakukan orang berduit, pasti disiapkan penangkalnya secara matang. Pakar dan aparat hukum, sosiolog, filsuf, juru bicara dan bila perlu selusin tukang pukul. Jadi, urungkan niatmu untuk ngamuk, sebab itu tak ubahnya ular mencari penggebuk atau lelipi ngalih gegitik! Belum lagi kau harus berurusan dengan hukum, yang akan membuatmu lebih sulit tidur beralaskan semen bertirai besi," nasihat Kacir.

"Konolan adalah salah satu contoh orang yang terimbas pemanasan global secara psikologis menyebabkan otaknya mendidih. Awal panas pasti dari perut, akibat makin sulitnya rezeki dan lapangan kerja di era multikrisis berkelanjutan ini. Kenaikan harga berbagai komoditas tanpa diimbangi kenaikan pendapatan, ditambah lagi isu terakhir tentang rencana kenaikan harga BBM, yang dilengkapi 'logika anak-anak' dimana BBM konon akan dijual di dalam dan luar kota dengan harga sangat berbeda. Belum lagi berbagai isu yang terlontar dari konferensi Nusa Dua, tentang Bali yang akan tenggelam, krisis air bawah tanah dan bencana kelaparan tahun 2017, menyebabkan orang-orang seperti Konolan, jantungnya tambah berdebar, tekanan darahnya naik. Syukur, dia punya kawan-kawan seperti kita untuk curhat dan tukar pikiran," kata Meregeg.

"Lebih bersyukur lagi, karena dia tidak berpikiran pendek, sehingga luput dari daftar orang bunuh diri di Bali. Sebab, di koran DenPost tercatat pelaku bunuh diri sejak April hingga Oktober 2007, 114 orang -- 67 pria dan 47 wanita. Penyebabnya, 50 orang karena sakit tak sembuh-sembuh, 42 orang frustrasi, 22 orang karena kesulitan ekonomi. Cara mati paling favorit yang dipilih adalah gantung diri sebanyak 92 kasus, disusul minum racun 17 kasus, selebihnya gorok diri, bakar diri dan terjun. Wah, kalau di buku ada 'Mati Tertawa Cara Rusia', di sini ada 'Mati Favorit Cara Bali'. Ayak-ayak wae!" tambah Rubag.

 * aridus

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com