Mati Favorit Cara Bali
PERUBAHAN
iklim akibat pemanasan global bukan lagi sekadar teori para
ilmuwan, tapi kenyataan yang dirasakan setiap orang. Dulu, saat
musim hujan dari Oktober hingga Februari, udara sejuk berhembus
nyaris selama lima bulan. Namun kini khususnya di Denpasar, di
samping hujan jarang turun meski mendung tebal menyelimuti langit,
suasana gerah dirasakan sebagian besar warga kota ini. Keringat
orang-orang terus mengucur, siang maupun malam, sehingga istirahat
mereka tidak tenang, tidur pun tak nyenyak. Sesuai hubungan mikro
dan makrokosmos, temperamen manusia juga berubah.
**************
"Masyarakat
awam sering memprotes di radio dalam acara interaktif, juga
menulis di rubrik Surat Pembaca di koran, bahwa enggannya hujan
turun akibat diusir segelintir manusia. Berkah Bhatara Wisnu untuk
memelihara alam, kata mereka, ditolak kepentingan orang-orang yang
punya kuasa dan uang. Kalau dulu, pawang hujan menggunakan mantra
dan sesajen untuk menunda hujan, alam masih diberi hak untuk
meluluskan atau menolak. Kini dengan Light Amplification by
Stimulated Emission of Radiation yang disingkat Laser, Dewa Wisnu
enggan bernegosiasi dengan manusia-manusia yang makin arogan
karena teknologi, kekuasaan dan uangnya. Sebagai 'pemelihara',
lalu Beliau menyerahkan mandat pada Bhatara Siwa untuk melakukan
tindakan setimpal," ulas Rubag.
"Benar!
Para penguasa dan pengusaha, juga para tokoh dan orang-orang
mokoh, membajak kepentingan masyarakat luas, sekaligus merusak
keseimbangan alam. Coba lihat jalan-jalan umum yang ditutup
sekehendak hati oleh kaum privelese, kendati hanya untuk kenduri
pernikahan anaknya, menyebabkan lalu-lintas jadi kacau. Masyarakat
yang bingung dan kesal terpaksa melanggar rambu stopan. Dengan
kepentingan yang sama, hal serupa juga dilakukan pada langit
dengan menembakkan Laser, sehingga mendung pekat tergusur,
menyisakan atmosfer panas bagi kita semua. Itu sesuai arti
singkatan Laser, meningkatkan sinar dengan menstimulasi pancaran
radiasi. Masyarakat jadi gerah, otak pun cepat mendidih dan
masalah sepele meledak jadi kerusuhan besar. Agaknya hasil
penerawanganmu benar, urusan telah diambil alih Bhatara Siwa dan
kheos menjadi ciri zaman sekarang," komentar Meregeg.
"Konsep
Hindu tentang Tri Murti itu dipahami benar pakar matematika kheos,
Ian Stewart. Kekacauan dan keharmonisan, menurut Stewart, adalah
hakikat eksistensi jagat raya ini. Brahma sebagai Pencipta, Wisnu
memelihara dan melindungi semesta, berupaya mengimbangi proses
pralina yang dilakukan Siwa, yang diberi istilah 'penghancuran'
oleh Stewart. Dalam tubuh manusia, unsur plus dan minus yang
dikandung sub-atom, menurutnya, berinteraksi secara harmonis dan
seimbang. Tapi dalam matematika, kata Stewart, unsur plus dan
minus justru saling menghancurkan. Manusia modern yang menganut
positivisme berciri pragmatisme dan materialisme, memandang hidup
sebagai deretan angka dan menganggap matematika paling penting.
Maka proses penghancuran oleh yang kuat terhadap yang lemah
terjadi di tingkat global, regional, nasional dan lokal demi
kepentingan ekonomi. Contoh lokalnya, lalu lintas yang kau katakan
kacau tadi, juga tembakan Laser serta banyak lagi kebijakan publik
yang menyengsarakan rakyat kecil."
"Ketidakadilan adalah penyebab segala kekacauan saat ini.
Lucunya, ketika terjadi kekacauan iklim, tidak ada pihak yang mau
mengaku sebagai penyebabnya. Malah dari kancah UNCCC di Nusa Dua,
yang penyelenggaraannya menelan dana milyaran rupiah, tidak
terdengar kesepakatan untuk mengurangi emisi CO2, justru saling
tuding terjadi. Mirip syair dolanan anak-anak di Bali tentang
capung bangkok, yang ditanya mengapa dia membawa tombak keliling,
lalu menuduh burung pelatuk yang memukul kentongan bertalu-talu
sebagai dalihnya, yang selanjutnya menyalahkan kunang-kunang dan
merembet kumbang tanah alias beduda. Amerika Serikat tetap
bersikukuh tidak mau mengikuti Protokol Kyoto, malah minta India
dan Cina mengurangi emisi gas rumah kacanya. Lalu, Indonesia yang
cuma jadi penonton, karena tak punya banyak industri berat, justru
paling menderita, sebab hutannya nyaris gundul dan perut
buminya terkuras," ujar Dombel.
"Huh, apa
itu protongkol? Aku tidak ngerti! Mau tongkol kek, dodol kek,
apalagi rumah kaca, persetan! Bali malah produsen CO2 terbanyak,
soalnya cafe-cafe makacakan, bahkan ada CO jadi pengedar. Yang
jelas rumahku dari gedek, tapi belakangan ini aku sulit tidur,
karena angin yang biasanya berhembus lewat lubang-lubang kecil
dinding bilikku, kini terasa seperti hembusan knalpot. Sudah
beberapa ilih-ku robek untuk mengipasi tubuhku yang bersimbah
peluh saat tidur. Nyamuk pun makin banyak. Akibatnya, aku
kekurangan tidur, waktu kerja siang hari jadi ngantuk. Akhir-akhir
ini aku cepat tersinggung dan marah, sehingga kawan-kawan sekerja
menuduhku mengidap darah tinggi, bahkan stres. Celakanya, mungkin
karena terpengaruh informasi tentang penyebab sulitnya hujan
turun, maka setiap melihat sinar Laser berseliweran di langit
malam hari, aku ingin ngamuk," tutur Konolan, seorang buruh
bangunan.
"Sabar!
Soal sulit tidur di malam hari, bukan masalah kau semata. Memang
banyak yang berpendapat bahwa Laser-laser itu penyebab batalnya
hujan turun, tapi itu opini, perlu pembuktian ilmiah. Ingat, di
zaman yang semuanya diberi label ilmiah ini, uraian matematiklah
dipakai patokan. Sedangkan, matematikawan punya ungkapan, 'apa
yang kelihatan, hanyalah realitas permukaan, bukan realitas
sejati'! Jadi, apa pun yang dilakukan orang berduit, pasti
disiapkan penangkalnya secara matang. Pakar dan aparat hukum,
sosiolog, filsuf, juru bicara dan bila perlu selusin tukang pukul.
Jadi, urungkan niatmu untuk ngamuk, sebab itu tak ubahnya ular
mencari penggebuk atau lelipi ngalih gegitik! Belum lagi kau harus
berurusan dengan hukum, yang akan membuatmu lebih sulit tidur
beralaskan semen bertirai besi," nasihat Kacir.
"Konolan
adalah salah satu contoh orang yang terimbas pemanasan global
secara psikologis menyebabkan otaknya mendidih. Awal panas pasti
dari perut, akibat makin sulitnya rezeki dan lapangan kerja di era
multikrisis berkelanjutan ini. Kenaikan harga berbagai komoditas
tanpa diimbangi kenaikan pendapatan, ditambah lagi isu terakhir
tentang rencana kenaikan harga BBM, yang dilengkapi 'logika
anak-anak' dimana BBM konon akan dijual di dalam dan luar kota
dengan harga sangat berbeda. Belum lagi berbagai isu yang
terlontar dari konferensi Nusa Dua, tentang Bali yang akan
tenggelam, krisis air bawah tanah dan bencana kelaparan tahun
2017, menyebabkan orang-orang seperti Konolan, jantungnya tambah
berdebar, tekanan darahnya naik. Syukur, dia punya kawan-kawan
seperti kita untuk curhat dan tukar pikiran," kata Meregeg.
"Lebih
bersyukur lagi, karena dia tidak berpikiran pendek, sehingga luput
dari daftar orang bunuh diri di Bali. Sebab, di koran DenPost
tercatat pelaku bunuh diri sejak April hingga Oktober 2007, 114
orang -- 67 pria dan 47 wanita. Penyebabnya, 50 orang karena sakit
tak sembuh-sembuh, 42 orang frustrasi, 22 orang karena kesulitan
ekonomi. Cara mati paling favorit yang dipilih adalah gantung diri
sebanyak 92 kasus, disusul minum racun 17 kasus, selebihnya gorok
diri, bakar diri dan terjun. Wah, kalau di buku ada 'Mati Tertawa
Cara Rusia', di sini ada 'Mati Favorit Cara Bali'. Ayak-ayak wae!"
tambah Rubag.
*
aridus