kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 16 Desember 2007 tarukan valas
 

BUDAYA


Lewat
Cerita, Ajarkan Anak Jaga Lingkungan

Judul                 :  Penyu dan Lumba-Lumba
                            (I Penyu lan I Lumba-lumba)
                            Serial Bali
Bersih


Pengarang
/

Teks Inggris      :  Maggie Dunkle
Teks
Indonesia  :  Etha Widiyanto
Teks
Bali           :  Made Taro
Ilustrasi
            :  Margiyono
Penerbit
            :  Saritaksu Edition, 2007
Tebal
                :  50 halaman

----------

 

PUNYA lingkungan bersih dan sehat adalah dambaan setiap orang. Lingkungan yang bersih dan sehat tidak mungkin ada dengan sendirinya, tanpa upaya keras dari orang-orang yang ada di dalamnya. Semestinya manusialah yang bertanggungjawab terhadap keadaan lingkungannya. Jika lingkungan yang kita ditinggali bersih dan sehat, kita yang akan mendapat manfaatnya. Namun, jika lingkungan kita tidak sehat, kita dan anak cuculah yang akan menderita.

Dapat dikatakan, alam hanya merupakan cermin pantul dari tingkah laku kita. Kita berperilaku buruk hasilnya juga buruk, dan berperilaku baik, hasilnya tentu baik juga.

Untuk mengajarkan agar anak-anak senantiasa berupaya menjaga lingkungan sekitar mereka, sekelompok orang-orang yang peduli lingkungan dan pendidikan anak-anak melakukannya lewat cerita. Mereka kemudian bekerjasama untuk menerbitkan buku berjudul "Penyu dan Lumba-lumba", dengan harapan bisa menjadi sarana pendidikan bagi anak-anak Bali.

"Ini adalah buku pertama dari sekumpulan buku yang menceritakan tentang burung, satwa lain, dan anak-anak yang mengalami hidup akibat sampah plastik dan lain-lain yang dibuang ke sungai dan berakhir di laut sekeliling pulau Bali," kata penulis Maggie Dunkle.

Buku yang dipenuhi gambar-gambar besar dan berwarna pada setiap halamannya ini memuat cerita tentang tokoh lumba-lumba, penyu dan binatang-binatang sekitar laut dalam teks tiga bahasa -- Bali, Indonesia dan Inggris.

Cerita dimulai dengan Si Lumba-lumba yang merasa lapar. Saking laparnya dia dengan cepat mengejar mangsanya yaitu seekor ikan besar, tetapi malang bukan makanan yang didapat, ia malah menabrak si penyu sahabatnya. Walaupun sempat marah, Si Penyu akhirnya mengerti juga keadaan Si Lumba-lumba yang berbuat begitu karena saking laparnya.

Si Penyu lantas mengajak Si Lumba-lumba ke pantai berharap mendapat makanan di sana. Di pantai mereka melihat banyak sampah plastik. Saat keduanya sampai di tempat lapang, tiba-tiba seekor burung camar terjatuh, ia minta tolong karena ada yang mengganjal kerongkongannya.

Penyu kemudian menolong Burung Camar dan menarik sesuatu benda panjang dari paruhnya. Ternyata, itu sehelai plastik panjang.

Burung Camar berterima kasih kepada Penyu dan Lumba-lumba yang telah menyelamatkan hidupnya. Burung Camar lalu bercerita bahwa banyak temannya yang mati karena makan atau terjerat plastik. Penyu dan Lumba-lumba mengangguk, keduanya sangat tahu apa yang telah terjadi. Penyu, Lumba-lumba dan Burung Camar akhirnya bertukar cerita dan pengalaman. Mereka juga berusaha mencari jalan agar binatang-binatang laut bisa keluar dari kesulitan.

Si Penyu mulai ceritanya dengan mengingat keadaan pantai di masa lalu dan membandingkannya dengan kondisi pantai sekarang.

"Aku ingat ketika pantai masih bersih. Aku ingat ketika air masih jernih, masih ada banyak ikan, ikan besar-besar, semua sehat, enak dimakan, mereka mudah ditangkap untuk dimakan. Sekarang semuanya kotor. Begitu banyak sampah, sampai-sampai kami tak bisa ke pantai. Tumbuh-tumbuhan air mati, karang laut mati, ikan-ikan kecil yang hidup pada tumbuh-tumbuhan dan pada karang lenyap," jelas Penyu.

"Ini karena ulah manusia. Mereka datang ke pantai. Mereka membawa makanan. Mereka membawa minuman. Lalu mereka membuang sisanya! Mereka membuang di pasir lalu pergi. Tapi sampahnya tidak pergi. Sampahnya tinggal di pasir dan terapung di air. Bahkan manusia mengeluh bahwa air laut kotor, pantai kotor, tetapi mereka masih membuang semua yang tidak mereka perlukan dan meninggalkanya di sana," kata si Lumba-lumba tak mau kalah.

"Aku terbang di atas pantai, aku terbang di atas pura. Aku terbang di desa-desa dimana manusia tinggal, dan dimana turis datang untuk berlibur. Di mana-mana tampak sama. Manusia tidak mengerti bahwa plastik yang mereka buang itu tidak akan hancur. Plastik tidak seperti daun pisang, bambu atau kelapa yang dapat membusuk dan kembali menjadi tanah. Plastik tetap tinggal plastik!" keluh Burung Camar.

Ketiga sahabat itu dikejutkan dengan munculnya dua orang anak. Penyu, Lumba-lumba dan Burung Camar merasa khawatir kalau-kalau anak-anak itu akan melakukan hal yang negatif. Keduanya membawa karung seperti akan membuang sesuatu Ternyata mereka salah duga, dua anak itu datang bukan untuk membuang plastik, tetapi mereka justru memunggut sampah-sampah plastik yang berserakan dan memasukkannya ke dalam karung.

Tak lama kemudian muncul juga anak-anak yang lain, makin lama makin banyak, mereka semua memunggut sampah-sampah plastik itu, sehingga dalam sekejap pantai menjadi bersih.

 

* mas ruscita

 

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com