Lewat
Cerita, Ajarkan
Anak Jaga
Lingkungan
Judul
: Penyu
dan
Lumba-Lumba
(I Penyu lan
I Lumba-lumba)
Serial Bali Bersih
Pengarang/
Teks
Inggris
: Maggie Dunkle
Teks
Indonesia : Etha
Widiyanto
Teks
Bali :
Made Taro
Ilustrasi
: Margiyono
Penerbit
: Saritaksu Edition, 2007
Tebal
: 50 halaman
----------
PUNYA
lingkungan bersih
dan sehat
adalah dambaan
setiap orang.
Lingkungan yang
bersih dan
sehat tidak
mungkin ada
dengan sendirinya,
tanpa upaya
keras dari
orang-orang yang
ada di
dalamnya. Semestinya
manusialah yang
bertanggungjawab terhadap
keadaan
lingkungannya. Jika
lingkungan yang
kita ditinggali
bersih dan
sehat, kita
yang akan
mendapat manfaatnya.
Namun, jika
lingkungan kita
tidak sehat,
kita dan
anak cuculah
yang akan
menderita.
Dapat
dikatakan, alam
hanya merupakan
cermin pantul
dari tingkah
laku kita.
Kita berperilaku
buruk hasilnya
juga buruk,
dan berperilaku
baik, hasilnya
tentu baik
juga.
Untuk
mengajarkan agar
anak-anak senantiasa
berupaya menjaga
lingkungan
sekitar mereka,
sekelompok
orang-orang yang peduli
lingkungan dan
pendidikan
anak-anak melakukannya
lewat cerita.
Mereka kemudian
bekerjasama untuk
menerbitkan buku
berjudul "Penyu
dan Lumba-lumba",
dengan harapan
bisa menjadi
sarana pendidikan
bagi anak-anak
Bali.
"Ini
adalah buku
pertama dari
sekumpulan buku
yang menceritakan
tentang burung,
satwa lain, dan
anak-anak yang
mengalami hidup
akibat sampah
plastik dan
lain-lain yang dibuang
ke sungai
dan berakhir
di laut
sekeliling pulau
Bali," kata
penulis Maggie Dunkle.
Buku
yang dipenuhi
gambar-gambar besar
dan berwarna
pada setiap
halamannya ini
memuat cerita
tentang tokoh
lumba-lumba,
penyu dan
binatang-binatang sekitar
laut dalam
teks tiga
bahasa -- Bali, Indonesia
dan Inggris.
Cerita
dimulai dengan
Si Lumba-lumba
yang merasa lapar.
Saking laparnya
dia dengan
cepat mengejar
mangsanya yaitu
seekor ikan
besar, tetapi
malang
bukan makanan
yang didapat, ia
malah menabrak
si penyu
sahabatnya.
Walaupun sempat
marah, Si
Penyu akhirnya
mengerti juga
keadaan Si
Lumba-lumba yang
berbuat begitu
karena saking
laparnya.
Si
Penyu lantas
mengajak Si
Lumba-lumba ke
pantai berharap
mendapat makanan
di
sana.
Di pantai
mereka melihat
banyak sampah
plastik. Saat
keduanya sampai
di tempat
lapang, tiba-tiba
seekor burung
camar terjatuh,
ia minta
tolong karena
ada yang
mengganjal kerongkongannya.
Penyu
kemudian menolong
Burung Camar
dan menarik
sesuatu benda
panjang dari
paruhnya.
Ternyata, itu
sehelai plastik
panjang.
Burung
Camar berterima
kasih kepada
Penyu dan
Lumba-lumba yang
telah menyelamatkan
hidupnya. Burung
Camar lalu
bercerita bahwa
banyak temannya
yang mati karena
makan atau
terjerat plastik.
Penyu dan
Lumba-lumba
mengangguk, keduanya
sangat tahu
apa yang telah
terjadi. Penyu,
Lumba-lumba dan
Burung Camar
akhirnya bertukar
cerita dan
pengalaman.
Mereka juga
berusaha mencari
jalan agar
binatang-binatang laut
bisa keluar
dari kesulitan.
Si
Penyu mulai
ceritanya dengan
mengingat keadaan
pantai di
masa lalu
dan
membandingkannya dengan
kondisi pantai
sekarang.
"Aku
ingat ketika
pantai masih
bersih. Aku
ingat ketika
air masih jernih,
masih ada
banyak ikan,
ikan besar-besar,
semua sehat,
enak dimakan,
mereka mudah
ditangkap untuk
dimakan. Sekarang
semuanya kotor.
Begitu banyak
sampah,
sampai-sampai kami
tak bisa
ke pantai.
Tumbuh-tumbuhan air
mati, karang
laut mati,
ikan-ikan kecil
yang hidup pada
tumbuh-tumbuhan
dan pada
karang lenyap,"
jelas Penyu.
"Ini
karena ulah
manusia. Mereka
datang ke
pantai. Mereka
membawa makanan.
Mereka membawa
minuman. Lalu
mereka membuang
sisanya! Mereka
membuang di
pasir lalu
pergi. Tapi
sampahnya tidak
pergi. Sampahnya
tinggal di
pasir dan
terapung di
air. Bahkan
manusia mengeluh
bahwa air laut
kotor, pantai
kotor, tetapi
mereka masih
membuang semua
yang tidak mereka
perlukan dan
meninggalkanya di
sana,"
kata si
Lumba-lumba tak
mau kalah.
"Aku
terbang di
atas pantai,
aku terbang
di atas
pura. Aku
terbang di
desa-desa dimana
manusia tinggal,
dan dimana
turis datang
untuk berlibur.
Di mana-mana
tampak sama.
Manusia tidak
mengerti bahwa
plastik yang
mereka buang
itu tidak
akan hancur.
Plastik tidak
seperti daun
pisang, bambu
atau kelapa
yang dapat
membusuk dan
kembali menjadi
tanah. Plastik
tetap tinggal
plastik!" keluh
Burung Camar.
Ketiga
sahabat itu
dikejutkan dengan
munculnya dua
orang anak.
Penyu,
Lumba-lumba dan
Burung Camar
merasa khawatir
kalau-kalau
anak-anak itu
akan melakukan
hal yang negatif.
Keduanya membawa
karung seperti
akan membuang
sesuatu.
Ternyata mereka
salah duga,
dua anak
itu datang
bukan untuk
membuang plastik,
tetapi mereka
justru memunggut
sampah-sampah
plastik yang berserakan
dan memasukkannya
ke dalam
karung.
Tak
lama kemudian
muncul juga
anak-anak yang lain,
makin lama makin
banyak, mereka
semua memunggut
sampah-sampah
plastik itu,
sehingga dalam
sekejap pantai
menjadi bersih.
*
mas
ruscita