"Di Bawah
Pohon" ---
Film tentang
Lima Perempuan Mencari
Diri
UNTUK
pertama kalinya,
Garin Nugroho
bersama Oro-Oro
Film Arts dan Set Film Workshop
membuat film di
Bali, judulnya "Di
Bawah Pohon"
(Under The Tree). Film
ini bercerita
tentang
lima
perempuan yang
berjuang mencari
diri, baik
diri sebagai
ibu, diri
sebagai anak,
dan diri
sebagai alam.
---------
Kelima
perempuan itu
adalah Maharani (diperankan
artis Marcella
Zalianty), Nian (Nadia
Saphira), Ayu
(Bulan Trisna),
Soka (Aryani
Willems), dan
Dewi (Ayu
Laksmi).
Mereka
punya
persoalan-persoalan berbeda.
Maharani
yang merasa
terbuang, sibuk
mencari figur
ibu di
tengah perasaan
bencinya kepada
sang ibu yang
telah membuangnya.
Sedangkan Soka
disibukkan
perjuangan terhadap
pengakuan-pengakuan
akan
keberadaanya yang
tak pernah
didapatnya, juga
dari lelaki
yang dicintainya.
Ayu
yang penari dan
dokter anak
berusaha menjalin
kenangan masa
lalu untuk
memantapkan
perasaannya yang gamang.
Nian
yang hijau malah
menemukan figur
kekasih pada
sosok lelaki
tua dan
aneh, Darma.
Sedangkan Dewi,
ibu yang sedang
mengandung anak
yang diperkirakan
usianya tak
akan
panjang, sempat
ragu memutuskan
memelihara
kandungan atau
menggugurkannya.
Kelima
perempuan itu,
oleh sang
sutradara, dipertemukan
dengan tiga
lelaki yang juga
tak kalah
anehnya, yakni
Mayun (Dwi
Sasono) yang juga
memendam
kebencian pada
ibunya, Darma
(Ikranegara) yang
kehilangan masa
lalunya sebagai
orang Bali dan
Kaler (I Ketut
Rina) lelaki
yang hebat di
panggung yang
gagal menemukan
kata-kata untuk
mengungkapkan
perasaan cintanya
dalam kehidupan
nyata.
Selain
lima
perempuan dan
tiga laki-laki
aneh, Garin
seakan
memantapkan keberpihakannya
kepada perempuan
lewat penampilan
para maestro
seniman Bali yang juga
perempuan-perempuan
hebat seperti
Ketut Cenik,
Sang Ayu Muklen
dan Ketut
Arini.
Menurut
Garin, para
maestro dan
jejaknya, baik
tubuh dan
ekpresinya adalah
sejarah itu
sendiri.
Sejarah
yang perlu dibagi
dan diberi
ruang apresiasi.
"Tentu
saja ini
hanya bagian
kecil dari
maestro yang memberi
jejak pada
Bali, namun ini
adalah upaya
kecil yang kami
upayakan.
Dengan
cara ini,
film ini menjadi
semacam heritage
Bali,
meski skala
kecil sekaligus
upaya membaca
diri," jelas
Garin.
Tentang
Pohon
Terkait
judul film "Di
Bawah Pohon",
Garin
menghubungkan konsepnya
dengan filsafat
hidup masyarakat
Bali, tentang rwa
bhineda -- dua
yang berbeda,
antara dunia
badan dan
roh, sekala
dan niskala,
keindahan dan
kesakralan.
Menurutnya,
judul ini
diambil karena
dunia pohon
dan kehidupan
sekitarnya adalah
kehidupan itu
sendiri.
"Pohon
adalah dunia
ibu, dunia
cinta, dunia
sakral, dunia
upacara, dunia
tempat kita
beristirahat dan
berbincang, dunia
tempat anak
bermain.
Sebuah
dunia badan
dan roh.
Sebuah
dunia yang kini
dicari,
diperdagangkan, didoakan,
namun juga
sering kita
tak lagi
lihat
keindahannya," tutur
Garin.
Lebih
jauh Garin
menjelaskan
tentang keberadaan
pohon sebagai
sumber cerita
dari segala
dongeng.
"Persoalannya,
kita lebih
banyak membangun
dunia yang mati
dan tidak
beranak seperti
ruko-ruko
dibanding dunia
hidup yang
menghidupi badan
dan roh.
Film "Di
Bawah Pohon"
ini adalah
film Garin yang ke-10.
Film-film
Garin senantiasa
berkelana dari
satu wilayah
budaya ke
budaya lainnya,
dari Papua (Aku
Ingin Menciummu
Sekali Saja),
dari
Sumba
(Surat
untuk Bidadari),
Aceh (Serambi)
hingga Jawa
(Daun di
Atas Bantal,
Bulan Tertusuk
Ilalang, dan
Opera Jawa).
Para
kritikus dunia
menyebut Garin
sebagai pembuat
film yang senantiasa
mencoba membuka
bahasa baru
dan berbeda
dari satu
film ke film
lainnya.
Film-film
Garin berbicara
berbagai tema,
baik sosial,
politik, konflik
ektrimitas dan
kekerasan.
Kali
ini, lewat
"Di Bawah
Pohon", Garin
mengangkat tema
krisis sosial
dan lingkungan.
Tema-tema
Garin senantiasa
mampu membaca
masalah --
masalah hari
ini dan
ke depan
sekaligus upaya
membaca kekuatan
tradisi dalam
paradoksnya
dengan global.
Film
terakhirya (Opera
Jawa), selain
meraih beberapa
penghargaan international,
juga kini
diedarkan di
bioskop-bioskop
Eropa.
Tampilkan
Tari
Film "Di
Bawah Pohon"
yang secara
keseluruhan pengambilan
gambarnya
dilakukan di Bali,
direncanakan
selesai Maret 2008.
Proses
pengambilan gambar
dilakukan sejak
4 Desember lalu
dan ditargetkan
berakhir 20
Desember mendatang.
Lokasi-lokasi
pengambilan gambar
meliputi daerah
Sanur, Sumerta,
Ubud,
Karangasem dan
Bangli.
Selain
mengangkat
lokasi-lokasi daerah
kunjungan wisata
di Bali, film ini
juga menampilkan
tari Arja
yang digarap
Kadek Suardhana
dari Arti
Foundation, Cak yang
digarap I Ketut
Rina dari
Sekaa Cak
Banjar Teges
Kanginan,
Peliatan, Ubud,
serta Calonarang
yang dikoordinir I
Gusti Ngurah
Harta pinisepuh
Perguruan Sandhi
Murti.
Para
pemeran film ini
sebagian besar
juga adalah
seniman Bali yang
sudah cukup
dikenal seperti
Ni Ketut Cenik
(tokoh tari
Joged Pingitan
asal Batuan
Gianyar), Sang
Ayu Muklen (maestro
tari Legong
Pelayon Peliatan
Ubud), Ni Ketut
Arini (seniman
tari yang juga
pimpinan Sanggar
Tari Warini),
Aryani (kareografer
tari dan
pemain teater
yang kini
bermukimdi Jerman), I
Ketut Rina
(penari Cak),
Sura (penari
kontemporer yang
juga dosen ISI
Denpasar), Bulan
Trisna (penari
legong yang juga
dokter), Ayu
Laksmi (penyanyi
yang juga
bergabung band Tropical Transit),
serta Ikranegara (tokoh
teater asal
Negara, Bali, yang bermukim
di Amerika
dan Jakarta).
Para
seniman Bali
diperkuat artis-artis
ibukota seperti
Marcella Zalianty.
Artis kelahiran
Jakarta, 7 Maret 1980,
ini merupakan
salah satu
artis berbakat
yang ada saat
ini, yang
terpilih sebagai
aktris terbaik
FFI 2005 dalam film "Brownies".
Bukan hanya
dunia akting
saja yang
digeluti, ia
juga terpilih
menjadi duta
untuk Yayasan
Kanker Indonesia
dan UNICEF. Film yang telah
dibintangi adalah
"Bintang Jatuh",
"Eliana Eliana",
"Tusuk Jelangkung",
"The Soul", "Brownies", "Belahan
Jiwa", serta
"Denias,
Senandung di
Atas Awan".
Pemain
lainnya adalah
Nadia Saphira.
Artis
kelahiran
Jakarta, 20 Oktober 1987
ini memulai
karier sebagai
model sebuah
majalah remaja.
Penampilan
awalnya dalam
dunia film
melalui film "Jomblo".
Penampilannya
dalam film "Jomblo"
mendapat
tanggapan yang sangat
baik dari
masyarakat yang
diiringi dengan
kesuksesan yang
diraih dari film "Jomblo"
itu sendiri.
Nadia
Saphira yang
masih tercatat
sebagai mahasiswi
fakultas hukum
Universitas
Pelita Harapan,
baru saja
tampil di
film "Coklat
Stroberi". Film lain yang telah
dibintanginya
adalah "Jomblo" (2005)
dan "Cintapuccino"
(2007)
.
Ia juga
membintangi
sinetron serial "Ada
Apa dengan
Cinta", "Impian
Cinderella", "Rahasia
Pelangi", dan
"Dunia Tanpa
Koma".
Selain
itu juga
ada
Dwi Sasono.
Pria kelahiran
30 Maret 1980 ini
memulai karier
aktingnya saat
berperan di
film "Mendadak
Dangdut" (2006) garapan Rudi
Soedjarwo.
Ia juga
bermain di
film "Pocong 2" (2006), "Mengejar
Mas-Mas" (2007),
dan "Otomatis
Romantis" yang
akan dirilis
Januari 2008.
Sebagai pendatang
baru,
Dwi
terbilang cukup
berhasil. Dalam
ajang MTV Indonesia Movie Award 2007,
ia masuk
dalam 3 nominasi
sekaligus, yaitu
Most Favorite Actor (dalam "Mengejar
Mas-Mas"), Most Favorite Supporting
Actor ("Pocong 2"),
serta Breaktrough
Actor ("Mengejar
Mas-Mas"). (ita)