kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 16 Desember 2007 tarukan valas
 

BUDAYA


"Di Bawah Pohon" ---

Film tentang Lima Perempuan Mencari Diri

UNTUK pertama kalinya, Garin Nugroho bersama Oro-Oro Film Arts dan Set Film Workshop membuat film di Bali, judulnya "Di Bawah Pohon" (Under The Tree). Film ini bercerita tentang lima perempuan yang berjuang mencari diri, baik diri sebagai ibu, diri sebagai anak, dan diri sebagai alam.

---------

Kelima perempuan itu adalah Maharani (diperankan artis Marcella Zalianty), Nian (Nadia Saphira), Ayu (Bulan Trisna), Soka (Aryani Willems), dan Dewi (Ayu Laksmi). Mereka punya persoalan-persoalan berbeda.

Maharani yang merasa terbuang, sibuk mencari figur ibu di tengah perasaan bencinya kepada sang ibu yang telah membuangnya. Sedangkan Soka disibukkan perjuangan terhadap pengakuan-pengakuan akan keberadaanya yang tak pernah didapatnya, juga dari lelaki yang dicintainya.

Ayu yang penari dan dokter anak berusaha menjalin kenangan masa lalu untuk memantapkan perasaannya yang gamang. Nian yang hijau malah menemukan figur kekasih pada sosok lelaki tua dan aneh, Darma. Sedangkan Dewi, ibu yang sedang mengandung anak yang diperkirakan usianya tak akan panjang, sempat ragu memutuskan memelihara kandungan atau menggugurkannya.

Kelima perempuan itu, oleh sang sutradara, dipertemukan dengan tiga lelaki yang juga tak kalah anehnya, yakni Mayun (Dwi Sasono) yang juga memendam kebencian pada ibunya, Darma (Ikranegara) yang kehilangan masa lalunya sebagai orang Bali dan Kaler (I Ketut Rina) lelaki yang hebat di panggung yang gagal menemukan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan cintanya dalam kehidupan nyata.

Selain lima perempuan dan tiga laki-laki aneh, Garin seakan memantapkan keberpihakannya kepada perempuan lewat penampilan para maestro seniman Bali yang juga perempuan-perempuan hebat seperti Ketut Cenik, Sang Ayu Muklen dan Ketut Arini.

Menurut Garin, para maestro dan jejaknya, baik tubuh dan ekpresinya adalah sejarah itu sendiri. Sejarah yang perlu dibagi dan diberi ruang apresiasi.

"Tentu saja ini hanya bagian kecil dari maestro yang memberi jejak pada Bali, namun ini adalah upaya kecil yang kami upayakan. Dengan cara ini, film ini menjadi semacam heritage Bali, meski skala kecil sekaligus upaya membaca diri," jelas Garin.

 

Tentang Pohon

Terkait judul film "Di Bawah Pohon", Garin menghubungkan konsepnya dengan filsafat hidup masyarakat Bali, tentang rwa bhineda -- dua yang berbeda, antara dunia badan dan roh, sekala dan niskala, keindahan dan kesakralan. Menurutnya, judul ini diambil karena dunia pohon dan kehidupan sekitarnya adalah kehidupan itu sendiri.

"Pohon adalah dunia ibu, dunia cinta, dunia sakral, dunia upacara, dunia tempat kita beristirahat dan berbincang, dunia tempat anak bermain. Sebuah dunia badan dan roh. Sebuah dunia yang kini dicari, diperdagangkan, didoakan, namun juga sering kita tak lagi lihat keindahannya," tutur Garin.

Lebih jauh Garin menjelaskan tentang keberadaan pohon sebagai sumber cerita dari segala dongeng.

"Persoalannya, kita lebih banyak membangun dunia yang mati dan tidak beranak seperti ruko-ruko dibanding dunia hidup yang menghidupi badan dan roh.

Film "Di Bawah Pohon" ini adalah film Garin yang ke-10.

Film-film Garin senantiasa berkelana dari satu wilayah budaya ke budaya lainnya, dari Papua (Aku Ingin Menciummu Sekali Saja), dari Sumba (Surat untuk Bidadari), Aceh (Serambi) hingga Jawa (Daun di Atas Bantal, Bulan Tertusuk Ilalang, dan Opera Jawa). Para kritikus dunia menyebut Garin sebagai pembuat film yang senantiasa mencoba membuka bahasa baru dan berbeda dari satu film ke film lainnya.

Film-film Garin berbicara berbagai tema, baik sosial, politik, konflik ektrimitas dan kekerasan. Kali ini, lewat "Di Bawah Pohon", Garin mengangkat tema krisis sosial dan lingkungan.

 Tema-tema Garin senantiasa mampu membaca masalah -- masalah hari ini dan ke depan sekaligus upaya membaca kekuatan tradisi dalam paradoksnya dengan global.

 Film terakhirya (Opera Jawa), selain meraih beberapa penghargaan international, juga kini diedarkan di bioskop-bioskop Eropa.

 

Tampilkan Tari

Film "Di Bawah Pohon" yang secara keseluruhan pengambilan gambarnya dilakukan di Bali, direncanakan selesai Maret 2008. Proses pengambilan gambar dilakukan sejak 4 Desember lalu dan ditargetkan berakhir 20 Desember mendatang. Lokasi-lokasi pengambilan gambar meliputi daerah Sanur, SumertaUbud, Karangasem dan Bangli.

Selain mengangkat lokasi-lokasi daerah kunjungan wisata di Bali, film ini juga menampilkan tari Arja yang digarap Kadek Suardhana dari Arti Foundation, Cak yang digarap I Ketut Rina dari Sekaa Cak Banjar Teges Kanginan, Peliatan, Ubud, serta Calonarang yang dikoordinir I Gusti Ngurah Harta pinisepuh Perguruan Sandhi Murti.

Para pemeran film ini sebagian besar juga adalah seniman Bali yang sudah cukup dikenal seperti Ni Ketut Cenik (tokoh tari Joged Pingitan asal Batuan Gianyar), Sang Ayu Muklen (maestro tari Legong Pelayon Peliatan Ubud), Ni Ketut Arini (seniman tari yang juga pimpinan Sanggar Tari Warini), Aryani (kareografer tari dan pemain teater yang kini bermukimdi Jerman), I Ketut Rina (penari Cak), Sura (penari kontemporer yang juga dosen ISI Denpasar), Bulan Trisna (penari legong yang juga dokter), Ayu Laksmi (penyanyi yang juga bergabung band Tropical Transit), serta Ikranegara (tokoh teater asal Negara, Bali, yang bermukim di Amerika dan Jakarta).

Para seniman Bali diperkuat artis-artis ibukota seperti Marcella Zalianty. Artis kelahiran Jakarta, 7 Maret 1980, ini merupakan salah satu artis berbakat yang ada saat ini, yang terpilih sebagai aktris terbaik FFI 2005 dalam film "Brownies". Bukan hanya dunia akting saja yang digeluti, ia juga terpilih menjadi duta untuk Yayasan Kanker Indonesia dan UNICEF. Film yang telah dibintangi adalah "Bintang Jatuh", "Eliana Eliana", "Tusuk Jelangkung", "The Soul", "Brownies", "Belahan Jiwa", serta "Denias, Senandung di Atas Awan".

Pemain lainnya adalah Nadia Saphira. Artis kelahiran Jakarta, 20 Oktober 1987 ini memulai karier sebagai model sebuah majalah remaja. Penampilan awalnya dalam dunia film melalui film "Jomblo". Penampilannya dalam film "Jomblo" mendapat tanggapan yang sangat baik dari masyarakat yang diiringi dengan kesuksesan yang diraih dari film "Jomblo" itu sendiri.

Nadia Saphira yang masih tercatat sebagai mahasiswi fakultas hukum Universitas Pelita Harapan, baru saja tampil di film "Coklat Stroberi". Film lain yang telah dibintanginya adalah "Jomblo" (2005) dan "Cintapuccino" (2007)

. Ia juga membintangi sinetron serial "Ada Apa dengan Cinta", "Impian Cinderella", "Rahasia Pelangi", dan "Dunia Tanpa Koma".

Selain itu juga ada Dwi Sasono. Pria kelahiran 30 Maret 1980 ini memulai karier aktingnya saat berperan di film "Mendadak Dangdut" (2006) garapan Rudi Soedjarwo. Ia juga bermain di film "Pocong 2" (2006), "Mengejar Mas-Mas" (2007), dan "Otomatis Romantis" yang akan dirilis Januari 2008. Sebagai pendatang baru, Dwi terbilang cukup berhasil. Dalam ajang MTV Indonesia Movie Award 2007, ia masuk dalam 3 nominasi sekaligus, yaitu Most Favorite Actor (dalam "Mengejar Mas-Mas"), Most Favorite Supporting Actor ("Pocong 2"), serta Breaktrough Actor ("Mengejar Mas-Mas"). (ita)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com