kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 16 Desember 2007 tarukan valas
 

BERITA


Akhirnya AS Menyerah, ''Bali Roadmap'' Disepakati

Denpasar (Bali Post) -
Conference of Parties (COP) 13 UNFCCC yang sempat molor sehari dari jadwal, Sabtu (15/12) kemarin, akhirnya ditutup. Pencapaian konsensus terjadi setelah Amerika Serikat  menyerah dan menyatakan persetujuannya untuk ikut dalam konsensus yang dicapai.

Dalam konferensi tersebut, semua delegasi dari 190 negara yang hadir berhasil menyepakati sebuah dokumen awal dari negosiasi pasca-Protokol Kyoto yang dinamakan Bali Roadmap.

Pada awalnya konferensi sempat berlangsung alot karena terdapat dua kubu yang masing-masing tetap pada pendirian mereka. Bahkan, pertemuan yang sedianya dilakukan pagi hari sempat tertunda beberapa kali. Guna mencairkan suasana, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon menyempatkan diri untuk hadir memberi semangat pada seluruh delegasi yang hadir.

Dalam pidatonya, SBY menekankan pentingnya konferensi yang berlangsung di Bali ini. SBY menyatakan kedatangannya di hadapan delegasi untuk memberikan sebuah penawaran. Dia mengingatkan kembali para delegasi bahwa pada pertemuan tingkat tinggi di New York sudah sepakat adanya sebuah terobosan di Bali. Dia menilai perlu adanya Bali Roadmap yang akan menjadi sebuah guideline. ''Saya percaya kalian akan melakukannya secara adil,'' katanya.

Dia menekankan tidak mungkin membiarkan dunia hancur karena tidak ada kesepakatan. Negara berkembang dan negara maju, lanjutnya, harus berusaha lebih keras lagi karena ini akan berimplikasi selama satu dekade. ''Generasi masa mendatang akan mencatat saat ini. Kita tidak bisa gagal kali ini. Mesti ada terobosan di sini. Dengan spirit globalisasi, harus ada komitmen kuat untuk membuat terobosan. Persamaan pandangan itu harus datang dari rasa percaya dan kemauan untuk kompromi,'' tegasnya.

Dalam akhir pidatonya, dia memohon pada delegasi untuk mencapai kesepakatan. ''Saya mohon pada Kalian jangan membuat dunia kecewa, mari kita selesaikan semuanya hingga yang terakhir ini,'' ujarnya diiringi standing ovation yang berlangsung sekitar satu menit.

Sekjen PBB Ban Ki-moon pun turut pula mendorong dan menyemangati para delegasi. Dia mengingatkan waktu sangat terbatas dan sudah saatnya membuat keputusan. ''Kalian punya kewajiban untuk menghasilkan sesuatu dalam pertemuan ini. Terlebih para pemimpin negara sudah sepakat pada pertemuan di New York harus ada terobosan di Bali,'' ujarnya. Ditambahkan perlu adanya rasa hormat, pengertian, dan kerja sama.

 

Capai Konsensus

Setelah melakukan perundingan alot terhadap rancangan keputusan yang diajukan Presiden COP 13 UNFCCC, akhirnya para delegasi mencapai konsensus. Alotnya negosiasi terutama pada angka 1 paragraf b, terutama item i dan ii. Di samping itu, pendirian Amerika Serikat juga ikut menghalangi tercapainya konsensus. Namun setelah beberapa pandangan dari negara-negara maju dan negara-negara berkembang, AS akhirnya setuju untuk ikut dalam konsensus yang dicapai. (*)

 

''Walk Out'' dan Menangis

ALOTNYA negosiasi untuk menghasilkan Bali Roadmap akhirnya berakhir ketika Amerika Serikat menyatakan persetujuannya untuk mengikuti konsensus yang dicapai sekitar pukul 14.30 siang. Negosiasi yang sedianya sudah berakhir Jumat (14/12) lalu itu juga diwarnai walk out oleh Executive Secretary Yvo de Boer.

De Boer keluar ruangan secara tiba-tiba setelah perwakilan dari Cina mempertanyakan kenapa kesepakatan yang dihasilkan pada pertemuan G-77 tidak diikutkan dalam rancangan dokumen COP 13 UNFCCC. De Boer mengatakan pihak sekretariat tidak mengetahui adanya pertemuan itu. Kemudian dia keluar ruangan rapat sambil menangis.

Ketua OP 13 UNFCCC, Rachmat Witoelar, juga menangis usai menutup persidangan. Mungkin saking harunya sidang menghasilkan konsensus karena sebelumnya berjalan alot. Rachmat Witoelar tak berkomentar apa-apa kepada wartawan.

Menurut Menteri Luar Negeri RI, Hassan Wirajuda, tindakan de Boer dipicu terjadi ketidaksesuaian prosedural. Dia tidak memaparkan apa peristiwa yang menyebabkan de Boer meninggalkan ruangan sambil menangis.

Sementara itu, lamanya negosiasi yang terjadi untuk menghasilkan Bali Roadmap yang dipicu ketidaksetujuan Amerika Serikat juga punya cerita tersendiri. Dikatakan Hassan Wirajuda, sebenarnya delegasi AS sudah melakukan upaya yang mencerminkan kepentingan pemerintah, masyarakatnya dan dunia. ''Delegasi AS ingin jadi bagian dari proses ini ke depan,'' katanya.

Dia juga menyebutkan negara-negara di dunia sebelumnya memiliki keyakinan bahwa di bawah kepemimpinan Indonesia, konferensi akan menghasilkan konsensus. Alasannya, Indonesia bisa berkomunikasi dengan negara-negara berkembang, negara-negara kecil yang takut tenggelam, dan negara maju.

Dia menyebutkan setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan pertemuan dan pendekatan dengan delegasi AS, pendirian delegasi negara super power ini mulai berubah. Tentunya ada banyak pertemuan yang dilakukan untuk meyakinkan delegasi AS bahwa adanya konsensus merupakan jawaban untuk menangani perubahan iklim.

Perubahan sikap AS juga dipicu beberapa pernyataan negara-negara berkembang dan negara-negara maju. Suasana tegang di ruang pertemuan menjadi cair setelah Ketua Delegasi AS Paula Dobriansky menyampaikan pandangannya. Dia mengatakan Amerika Serikat sudah mendengar beberapa pernyataan dari para kolega.

AS, sebutnya, sangat menghargai komitmen yang ditunjukkan negara berkembang, terutama yang ekonominya sedang berkembang pesat. ''Kita juga ingin menghasilkan roadmap karena kita menginginkan perkembangan. Kita sangat berkomitmen untuk mereduksi emisi, komit juga untuk menurunkan emisi sesuai dengan target 2050. Kita sudah datang jauh-jauh, dan ingin meyakinkan semua berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan. Kami akan ikut konsensus yang dihasilkan hari ini,'' katanya diikuti tepuk tangan seluruh delegasi yang hadir. (*)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com