Akhirnya AS Menyerah,
''Bali Roadmap''
Disepakati
Denpasar
(Bali Post) -
Conference of Parties (COP) 13 UNFCCC yang
sempat molor
sehari dari
jadwal, Sabtu
(15/12) kemarin,
akhirnya ditutup.
Pencapaian
konsensus terjadi
setelah Amerika
Serikat
menyerah dan
menyatakan
persetujuannya untuk
ikut dalam
konsensus yang
dicapai.
Dalam
konferensi
tersebut, semua
delegasi dari
190 negara yang
hadir berhasil
menyepakati
sebuah dokumen
awal dari
negosiasi
pasca-Protokol Kyoto yang dinamakan
Bali Roadmap.
Pada
awalnya
konferensi sempat
berlangsung alot
karena terdapat
dua kubu
yang masing-masing
tetap pada
pendirian mereka.
Bahkan, pertemuan
yang sedianya
dilakukan pagi
hari sempat
tertunda beberapa
kali. Guna
mencairkan suasana,
Presiden RI
Susilo Bambang
Yudhoyono dan
Sekretaris
Jenderal Ban Ki-moon
menyempatkan diri
untuk hadir
memberi semangat
pada seluruh
delegasi yang
hadir.
Dalam
pidatonya, SBY
menekankan pentingnya
konferensi yang
berlangsung di Bali
ini. SBY
menyatakan kedatangannya
di hadapan
delegasi untuk
memberikan sebuah
penawaran. Dia
mengingatkan
kembali para
delegasi bahwa
pada pertemuan
tingkat tinggi
di New York sudah
sepakat adanya
sebuah terobosan
di Bali. Dia
menilai perlu
adanya Bali Roadmap yang
akan menjadi
sebuah guideline. ''Saya
percaya kalian
akan melakukannya
secara adil,''
katanya.
Dia
menekankan tidak
mungkin
membiarkan dunia
hancur karena
tidak ada
kesepakatan. Negara
berkembang dan
negara maju,
lanjutnya, harus
berusaha lebih
keras lagi
karena ini
akan berimplikasi
selama satu
dekade. ''Generasi
masa mendatang
akan mencatat
saat ini.
Kita tidak bisa
gagal kali ini.
Mesti ada
terobosan di
sini. Dengan
spirit globalisasi,
harus ada
komitmen kuat
untuk membuat
terobosan.
Persamaan pandangan
itu harus
datang dari
rasa percaya
dan kemauan
untuk kompromi,''
tegasnya.
Dalam
akhir pidatonya,
dia memohon
pada delegasi
untuk mencapai
kesepakatan. ''Saya
mohon pada
Kalian jangan
membuat dunia
kecewa, mari
kita selesaikan
semuanya hingga
yang terakhir ini,''
ujarnya diiringi
standing ovation yang berlangsung
sekitar satu
menit.
Sekjen
PBB Ban Ki-moon pun
turut pula
mendorong dan
menyemangati para
delegasi. Dia
mengingatkan
waktu sangat
terbatas dan
sudah saatnya
membuat keputusan.
''Kalian punya
kewajiban untuk
menghasilkan
sesuatu dalam
pertemuan ini.
Terlebih para
pemimpin negara
sudah sepakat
pada pertemuan
di New York harus
ada terobosan
di Bali,''
ujarnya. Ditambahkan
perlu adanya
rasa hormat,
pengertian, dan
kerja sama.
Capai
Konsensus
Setelah
melakukan
perundingan alot
terhadap
rancangan keputusan yang
diajukan Presiden
COP 13 UNFCCC, akhirnya
para delegasi
mencapai
konsensus. Alotnya
negosiasi
terutama pada
angka 1 paragraf
b, terutama item
i dan ii.
Di samping
itu, pendirian
Amerika Serikat
juga ikut
menghalangi
tercapainya konsensus.
Namun setelah
beberapa
pandangan dari
negara-negara
maju dan
negara-negara berkembang, AS
akhirnya setuju
untuk ikut
dalam konsensus
yang dicapai.
(*)
''Walk Out''
dan Menangis
ALOTNYA
negosiasi untuk
menghasilkan Bali Roadmap
akhirnya berakhir
ketika Amerika
Serikat
menyatakan persetujuannya
untuk mengikuti
konsensus yang
dicapai sekitar
pukul 14.30 siang.
Negosiasi yang
sedianya sudah
berakhir Jumat
(14/12) lalu itu
juga diwarnai
walk out oleh Executive Secretary
Yvo de Boer.
De Boer keluar
ruangan secara
tiba-tiba setelah
perwakilan dari
Cina
mempertanyakan kenapa
kesepakatan yang
dihasilkan pada
pertemuan G-77
tidak diikutkan
dalam rancangan
dokumen COP 13 UNFCCC. De Boer
mengatakan pihak
sekretariat tidak
mengetahui adanya
pertemuan itu.
Kemudian dia
keluar ruangan
rapat sambil
menangis.
Ketua
OP 13 UNFCCC, Rachmat
Witoelar, juga
menangis usai
menutup
persidangan. Mungkin
saking harunya
sidang
menghasilkan konsensus
karena sebelumnya
berjalan alot.
Rachmat Witoelar
tak berkomentar
apa-apa kepada
wartawan.
Menurut
Menteri Luar
Negeri RI, Hassan
Wirajuda,
tindakan de Boer dipicu
terjadi
ketidaksesuaian prosedural.
Dia tidak
memaparkan apa
peristiwa yang
menyebabkan de Boer meninggalkan
ruangan sambil
menangis.
Sementara
itu, lamanya
negosiasi yang
terjadi untuk
menghasilkan Bali Roadmap yang
dipicu
ketidaksetujuan Amerika
Serikat juga
punya cerita
tersendiri.
Dikatakan Hassan
Wirajuda,
sebenarnya delegasi AS
sudah melakukan
upaya yang
mencerminkan kepentingan
pemerintah,
masyarakatnya dan
dunia. ''Delegasi
AS ingin jadi
bagian dari
proses ini
ke depan,''
katanya.
Dia
juga menyebutkan
negara-negara di
dunia sebelumnya
memiliki
keyakinan bahwa
di bawah
kepemimpinan Indonesia,
konferensi akan
menghasilkan
konsensus.
Alasannya,
Indonesia bisa
berkomunikasi dengan
negara-negara
berkembang, negara-negara
kecil yang takut
tenggelam, dan
negara maju.
Dia
menyebutkan
setelah Presiden
Susilo Bambang
Yudhoyono
melakukan pertemuan
dan pendekatan
dengan delegasi
AS, pendirian
delegasi negara super power
ini mulai
berubah. Tentunya
ada banyak
pertemuan yang
dilakukan untuk
meyakinkan
delegasi AS bahwa
adanya konsensus
merupakan jawaban
untuk menangani
perubahan iklim.
Perubahan
sikap AS juga
dipicu beberapa
pernyataan
negara-negara berkembang
dan negara-negara
maju. Suasana
tegang di
ruang pertemuan
menjadi cair
setelah Ketua
Delegasi AS Paula
Dobriansky menyampaikan
pandangannya. Dia
mengatakan
Amerika Serikat
sudah mendengar
beberapa
pernyataan dari
para kolega.
AS, sebutnya,
sangat menghargai
komitmen yang
ditunjukkan negara
berkembang,
terutama yang ekonominya
sedang berkembang
pesat. ''Kita
juga ingin
menghasilkan roadmap karena
kita menginginkan
perkembangan. Kita
sangat
berkomitmen untuk
mereduksi emisi,
komit juga
untuk menurunkan
emisi sesuai
dengan target 2050. Kita
sudah datang
jauh-jauh, dan
ingin meyakinkan
semua berjalan
sesuai dengan
apa yang
diinginkan. Kami
akan ikut
konsensus yang
dihasilkan hari
ini,'' katanya
diikuti tepuk
tangan seluruh
delegasi yang
hadir. (*)