Lima Tes
Jaring
CPNS
Berkualitas
Negara
(Bali Post) -
Seperti
yang sering
dikatakan Bupati
Jembrana, Prof.
Winasa,
sumber daya
aparatur
merupakan salah
satu aspek
yang harus
diperbaiki demi
terjamin jalannya
pemerintahan yang
bersih, transparan,
akuntabel dan
bebas KKN. "Birokrasi
memegang peranan
penting dalam
memberantas KKN.
Sebab,
fungsi birokrasi
pemerintah adalah
sebagai produsen
kebijakan publik
dan pelayanan
publik, sehingga
diperlukan
aparatur yang mumpuni,"
jelas Prof.
Winasa, Sabtu (15/12)
kemarin.
Dirinya sepakat,
untuk mendapatkan
aparatur yang
berkualitas harus
dimulai dari
proses perekrutan.
Untuk
itu, di
Jembrana,
penerimaan CPNS bisa
terbilang sangat
istimewa.
Pasalnya
persyaratan administrasi yang
ditetapkan sangat
berbeda dengan
daerah-daerah lain.
Misalnya indeks
prestasi (IP) minimal 3,0
dan bagi
lulusan perguruan
tinggi swasta
harus dari
perguruan tinggi
swasta yang
terakreditasi B. Sementara
saat pelaksanaan
seleksi, Jembrana
tidak hanya
menggunakan tes
tulis sebagai
satu-satunya
indikator kelulusan,
namun ada
empat tes
lagi yang harus
dilewati untuk
bisa menjadi
calon pamong
praja.
Keempat
tes tambahan
yang mungkin
tidak ada
di daerah
lain ini
masing-masing tes TOEFL, TPA (Tes
Potensi Akademik),
psikotest, dan
tes kompetensi.
Untuk memperkecil
terjadinya
peluang KKN, tim
penguji
didatangkan dari
perguruan tinggi
di Bali maupun
luar Bali.
Menurut Prof. Winasa,
setelah
dinyatakan lolos
dari tes
tulis, pelamar
diuji kemampuanya
dengan tes
TOEFL dan TPA yang
semuanya
dilaksanakan bekerja
sama
dengan Unud.
"Dengan
cara ini,
saya yakin
peluang untuk
KKN akan sangat
kecil," tandasnya.
Menurut
Prof. Winasa,
tujuan adanya
penambahan tes
untuk mendapatkan
CPNS yang optimal. Dengan
demikian out put CPNS yang
lolos seleksi
memiliki kualitas
yang mumpuni.
"Kalau
tes tersebut
tidak
dilaksanakan, saya
khawatir ada
pelamar,
khususnya pelamar guru yang
memiliki akta
IV tapi tidak
bisa mengajar.
Untuk
itu, tes
kompetensi sangat
diperlukan.
Ketatnya
tes administrasi
juga diakui
Prof. Winasa,
untuk menghindari
adanya pelamar
dari perguruan
tinggi bodong.
"Akhir-akhir
ini
kan
lagi marak
adanya perguruan
tinggi dengan
istilah setia,
sekolah tidak,
ijazah ada,"
kelakar Prof.
Winasa.
(r/*)