kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Paing, 16 Desember 2007 tarukan valas
 

APRESIASI


Muara
Seluruh Arus Budaya
Ibu
, Kasih dan Strategi Budaya...

Jauh ibu lenyap di mata
timbul
takut di hati kecil
gelombang
bimbang mengharu fikir
berkata
jiwa menanya bonda

(''Batu Belah'', Amir Hamzah)

 

DI MANAKAH batas kasih seorang ibu? Ingat ibu, ingat dongeng ''Batu Belah Batu Bertangkup,'' ingatlah kita kepada penyair Amir Hamzah. Di manakah kita akan menemukan dongeng tentang seorang ibu sebaik dongeng Batu Belah Batu Bertangkup? Di manakah pula kita akan menemu sajak tentang seorang ibu sebaik sajak Batu Belah?

Lewat sajak ''Batu Belah,'' penyair Amir  Hamzah tak hanya sukses menyingkap kedalaman misteri seorang ibu, tetapi juga berhasil menjadikan dongeng ini sebagai umpan balik atas dongeng-dongeng tentang ibu lainnya yang pernah kita kenal. Seperti, dongeng Malin Kundang. Itu kalau kita sepakat bahwa tiap dongeng pada hakikatnya merupakan sebuah medan pergulatan pemikiran dalam budaya lisan kita.

Perbedaan yang implisit antara dongeng ''Batu Belah'' dan cerita ''Malin Kundang'' ada pada sikap budaya, di saat mana seorang ibu harus mengambil keputusan terhadap sebuah perubahan yang tercermin dalam perilaku si anak. Kendatipun di awal kedua cerita tersebut, seorang ibu sama-sama digambarkan sebagai korban dari gejala perubahan perilaku sosial budaya yang tercermin dalam ulah si anak, pada akhir cerita terjadi perbedaan mendasar.

Ibu dalam Malin Kundang tak begitu saja menerima perubahan laku si Malin Kundang. Ia lantas memintakan hukuman buat putranya itu. Maka ketika air susu perempuan tua itu terkuras habis, gelaplah Andalas Raya seketika. Tanah diguncang lindu, danau-danau dan laut yang tadi tenang mendadak bergolak dahsyat menghantam perahu si Malin Kundang. Ketika ia terdampar di pantai Padang, orang-orang sudah  menemukannya menjadi batu.

Malin Kundang dan orang-orang yang menyangkanya menjadi batu adalah produk dari sebuah moralitas budaya yang mengharamkan kedurhakaan sebagai landasan perubahan. Dalam moralitas kultur yang seperti ini sebuah perubahan hanya mungkin terjadi melalui sebuah negosiasi.

Sebaliknya, ibu dalam dongeng ''Batu Belah Batu Bertangkup'' adalah martir. Ia lebih memilih gua maut Batu bertangkup ketimbang mengutuk putra yang telah menghabiskan ''teluh kemahang'', ketimbang memukul kepala putranya dengan sendok seperti dalam dongeng ''Sangkuriang''. Maka diserulah Batu Bertangkup.

 

Rang....rang ....rangkup

Rang....rang.....rangkup

Batu Belah Batu Bertangkup

ngeri berbunyi berganda kali....'

Lompat ibu ke mulut batu

besar terbuka menunggu mangsa

(bait 8-9).

 

Barangkali tindakan ibu dalam dongeng ini akan dianggap sebuah kekeliruan karena tidak menjalankan perannya sebagai negosiator terhadap laju perubahan. Namun ia juga benar di satu sisi; bukankah tiap perubahan memerlukan korban? Tentu saja tidak di dalam arti yang pasif. Tetapi filosofis, sebagaimana halnya ibu dalam sajak Batu Belah menganggapnya sebagai suatu janji.

 

Batu belah, batu bertangkup

batu tepian tempat mandi

Insha Allah tiadaku takut

sudah demikian kuperbuat janji.

(bait 12)

 

SELALU, seorang ibu adalah subjek yang paling dikorbankan dari tiap transisi budaya. Saat demam telenovela melanda masyarakat kita, kaum ibulah yang pertama sekali terkena virusnya. Begitu pun saat budaya belanja makin tidak terkontrol menjadi wajah keseharian kita, peran kaum ibu sangat menonjol dalam proses menuju budaya belanja itu. Bahkan saat harga-harga membubung, kaum ibulah yang paling banyak menderita.

Ibu adalah muara dari seluruh arus budaya yang menimpa masyarakat kita sejak dulu hingga sekarang. Karena itu pula, tindakan seorang ibu sangat menentukan bagi kelanjutan budaya di hari-hari yang akan datang. Salah ibu dapat menjadi salah kita semua dan bahaya buat kita semua. Sebaliknya pula, tepatnya tindakan seorang ibu adalah ketepatan bagi kita semua.

Kebudayaan itu menurut puisi Belah tak ubahnya ''Anak lasak mengisak panjang/ menyabak merunta mengguling diri...'' Ia adalah semacam energi yang selalu ber-evolusi untuk mendewasakan diri. Ia memerlukan ibu untuk membawanya, memerlukan kasih dan strategi agar dapat berjalan menuju tujuan yang benar. Di titik ini, kebudayaan memerlukan puisi.

 

riki dhamparan putra

 

 

 
 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com