Muara
Seluruh Arus
Budaya
Ibu,
Kasih dan
Strategi
Budaya...
Jauh
ibu lenyap
di
mata
timbul
takut di
hati
kecil
gelombang
bimbang
mengharu
fikir
berkata
jiwa menanya
bonda
(''Batu
Belah'', Amir
Hamzah)
DI MANAKAH batas
kasih seorang
ibu?
Ingat
ibu, ingat
dongeng ''Batu
Belah Batu
Bertangkup,''
ingatlah kita
kepada
penyair Amir
Hamzah.
Di manakah
kita
akan
menemukan dongeng
tentang
seorang ibu
sebaik
dongeng Batu
Belah Batu
Bertangkup?
Di manakah pula
kita
akan
menemu sajak
tentang
seorang ibu
sebaik sajak
Batu Belah?
Lewat
sajak ''Batu
Belah,''
penyair Amir
Hamzah tak
hanya sukses
menyingkap
kedalaman misteri
seorang ibu,
tetapi juga
berhasil
menjadikan dongeng
ini sebagai
umpan balik
atas
dongeng-dongeng tentang
ibu lainnya
yang pernah
kita kenal.
Seperti,
dongeng Malin
Kundang.
Itu kalau
kita sepakat
bahwa tiap
dongeng pada
hakikatnya
merupakan sebuah
medan
pergulatan
pemikiran dalam
budaya lisan
kita.
Perbedaan
yang implisit
antara dongeng ''Batu
Belah'' dan
cerita ''Malin
Kundang'' ada
pada sikap
budaya, di
saat mana
seorang ibu
harus
mengambil keputusan
terhadap
sebuah perubahan yang
tercermin
dalam perilaku
si anak.
Kendatipun
di awal
kedua cerita
tersebut,
seorang ibu
sama-sama
digambarkan sebagai
korban dari
gejala
perubahan perilaku
sosial budaya
yang tercermin
dalam ulah
si anak,
pada akhir
cerita
terjadi perbedaan
mendasar.
Ibu
dalam Malin
Kundang tak
begitu saja
menerima
perubahan laku
si Malin
Kundang.
Ia
lantas
memintakan hukuman
buat putranya
itu. Maka
ketika air
susu
perempuan tua
itu terkuras
habis,
gelaplah Andalas
Raya seketika.
Tanah
diguncang
lindu, danau-danau
dan laut
yang tadi
tenang mendadak
bergolak
dahsyat menghantam
perahu si
Malin Kundang.
Ketika ia
terdampar di
pantai
Padang,
orang-orang
sudah
menemukannya
menjadi batu.
Malin
Kundang dan
orang-orang yang
menyangkanya
menjadi batu
adalah produk
dari sebuah
moralitas
budaya yang mengharamkan
kedurhakaan
sebagai landasan
perubahan.
Dalam
moralitas
kultur yang seperti
ini sebuah
perubahan
hanya mungkin
terjadi
melalui sebuah
negosiasi.
Sebaliknya,
ibu dalam
dongeng ''Batu
Belah Batu
Bertangkup''
adalah martir.
Ia
lebih memilih
gua maut
Batu
bertangkup ketimbang
mengutuk
putra yang telah
menghabiskan ''teluh
kemahang'',
ketimbang memukul
kepala
putranya dengan
sendok
seperti dalam
dongeng ''Sangkuriang''.
Maka
diserulah
Batu Bertangkup.
Rang....rang ....rangkup
Rang....rang.....rangkup
Batu
Belah Batu
Bertangkup
ngeri
berbunyi
berganda kali....'
Lompat
ibu ke
mulut
batu
besar
terbuka
menunggu
mangsa
(bait 8-9).
Barangkali
tindakan ibu
dalam dongeng
ini
akan
dianggap sebuah
kekeliruan
karena tidak
menjalankan
perannya sebagai
negosiator
terhadap laju
perubahan.
Namun ia
juga benar
di satu
sisi;
bukankah tiap
perubahan
memerlukan korban?
Tentu
saja tidak
di dalam
arti yang
pasif.
Tetapi
filosofis,
sebagaimana halnya
ibu dalam
sajak Batu
Belah
menganggapnya sebagai
suatu janji.
Batu
belah, batu
bertangkup
batu
tepian tempat
mandi
Insha
Allah tiadaku
takut
sudah
demikian
kuperbuat janji.
(bait 12)
SELALU, seorang
ibu adalah
subjek yang paling
dikorbankan
dari tiap
transisi
budaya.
Saat
demam
telenovela melanda
masyarakat
kita, kaum
ibulah yang
pertama sekali
terkena
virusnya. Begitu pun
saat budaya
belanja makin
tidak
terkontrol menjadi
wajah
keseharian kita,
peran kaum
ibu sangat
menonjol
dalam proses
menuju budaya
belanja itu.
Bahkan
saat
harga-harga membubung,
kaum ibulah
yang paling banyak
menderita.
Ibu
adalah muara
dari seluruh
arus budaya
yang menimpa
masyarakat kita
sejak dulu
hingga
sekarang.
Karena itu
pula, tindakan
seorang ibu
sangat
menentukan bagi
kelanjutan
budaya di
hari-hari yang
akan
datang.
Salah
ibu dapat
menjadi salah
kita semua
dan bahaya
buat kita
semua.
Sebaliknya
pula, tepatnya
tindakan
seorang ibu
adalah
ketepatan bagi
kita semua.
Kebudayaan
itu menurut
puisi Belah
tak ubahnya
''Anak lasak
mengisak
panjang/ menyabak
merunta
mengguling diri...''
Ia
adalah
semacam energi yang
selalu
ber-evolusi untuk
mendewasakan
diri. Ia
memerlukan
ibu untuk
membawanya,
memerlukan kasih
dan strategi
agar dapat
berjalan menuju
tujuan yang
benar. Di
titik ini,
kebudayaan
memerlukan puisi.
riki
dhamparan
putra