Unjuk
Rasa Internasional KTT
di Bali--
Tiap
Kebijakan
harus
Prioritaskan Perubahan
Iklim
London -
Unjuk
rasa
terkoordinasi apik
ditujukan
untuk
menekan pemimpin
dalam
konferensi lingkungan
PBB yang masih
berlangsung
di Bali,
berlasung
di
seluruh dunia
Sabtu (8/12).
Diberitakan
aktivis
turun ke
jalan-jalan
di
Inggris, Jerman,
Yunani,
Spanyol, Turki
dan di
Bali sendiri.
Penyelenggara
mengklaim
ada 10.000
orang
turun ke
jalanan
di London. Tetapi
menurut
polisi hanya 2.000
orang.
Mereka turun
ke
jalan meski
hujan
mengguyur di
ibu
kota
London dan
berkumpul
di luar
Kedubes
AS.
"Kami
merasa untuk
menghadapi
ancaman
masa depan yang
menakutkan,
pemerintah
Inggris
seharusnya menjadikan
perubahan
iklim
sebagai prioritas
utama
di setiap
kebijakannya,"
tulis
sebuah
surat
yang ditujukan
kepada
kantor PM Gordon Brown.
Jonathan Essex dari Campaign
Against Climate Change selaku
penyelenggara
menjelaskan, "jika
generasi
berikutnya
bertanya
kepada
kita, 'Ayah, apa yang
telah
kamu lakukan
untuk
perubahan iklim?,
jawaban yang
seharusnya
diberikan
adalah
kita harus
menghentikannya.
Tidak
ada jawaban yang
benar
selain itu."
Di
Jerman
sekitar 10.000 orang
berkumpul
di
hadapan simbol
kegelapan.
Masyarakat
diminta
untuk mematikan
listrik
selama lima menit
pukul 19.00 GMT,
Minggu
kemarin di Austria,
Jerman
dan Swiss. Pemadaman
tersebut
direncanakan
untuk
membuat monumen-monumen
bersejarah
di
bawah kegelapan,
termasuk
di
antaranya Brandenburg Gate
di Berlin dan Cologne
Cathedral. Sekitar 5.000
orang
bergabung dalam
aksi di
ibu
kota,
sementara
beberapa
lainnya
terkonsentrasi di
Munich, Nuremberg,
Freiburg
dan
Saarbruecken.
"Ini
adalah
peringatan kuat
dari
gerakan baru
untuk
menjaga iklim,"
tegas Dirk Jansen
dari
kelompok hijau
Jerman BUND.
Di Bali
sekitar 500 aktivis
membawa
spanduk dan
plakat,
untuk bersama-sama
dengan
aktivis di
Eropa, Korea
Selatan
dan Bangladesh sebagai
bentuk
lobi kepada
konferensi
iklim PBB. "Hentikan
Kekacauan
Iklim", "Negara
Kaya
Harus Membayarnya"
dan "Bush:
Pembunuh Planet
Bumi",
tulis beberapa
spanduk
di Kota Denpasar.
Di
tempat lain
sebanyak 1.000
aktivis
tumpah ruah
di Istanbul
meminta
pemerintah Turki
untuk
menandatangani Protokol
Kyoto mengenai
perubahan
iklim
dan membatalkan
rencana
untuk membangun
pembangkit
listrik
tenaga nuklir, yang
baru-baru
ini
disahkan oleh
parlemen.
Di
Athena lebih
dari 1.000
simpatisan
berkumpul
di
Syntagma Square,
kota
utara
Salonika
dan
beberapa
kota
kecil
lainnya. Kemudian
di
negeri Matador, sebanyak
50 pengunjuk
rasa
berkumpul di
pusat
kota
membawa
spanduk bertuliskan "Ubahlah
Gaya
Hidup, Bukan
Iklim".
Dari perkiraan
polisi,
ada 3.000 orang
berpartisipasi
di Brussels,
Belgia yang
diatur
oleh kelompok
Coalition Climat,
gerakan yang
dibuat
atas gabungan 70
asosiasi.
Namun
unjuk rasa
untuk
iklim kurang
mendapat
perhatian
di
Rusia. Hanya
ada 10
orang demonstran
beraksi
sambil membawa
sepeda
gayung, polisi
mengatakan
unjuk
rasa tersebut
tidak
diorganisasi dengan
baik. (ton/afp)