kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 10 Desember 2007

 Mancanegara


Unjuk Rasa Internasional KTT di Bali--
Tiap
Kebijakan harus Prioritaskan Perubahan Iklim

London -
Unjuk
rasa terkoordinasi apik ditujukan untuk menekan pemimpin dalam konferensi lingkungan PBB yang masih berlangsung di Bali, berlasung di seluruh dunia Sabtu (8/12). Diberitakan aktivis turun ke jalan-jalan di Inggris, Jerman, Yunani, Spanyol, Turki dan di Bali sendiri.

Penyelenggara mengklaim ada 10.000 orang turun ke jalanan di London. Tetapi menurut polisi hanya 2.000 orang. Mereka turun ke jalan meski hujan mengguyur di ibu kota London dan berkumpul di luar Kedubes AS. "Kami merasa untuk menghadapi ancaman masa depan yang menakutkan, pemerintah Inggris seharusnya menjadikan perubahan iklim sebagai prioritas utama di setiap kebijakannya," tulis sebuah surat yang ditujukan kepada kantor PM Gordon Brown.

Jonathan Essex dari Campaign Against Climate Change selaku penyelenggara menjelaskan, "jika generasi berikutnya bertanya kepada kita, 'Ayah, apa yang telah kamu lakukan untuk perubahan iklim?, jawaban yang seharusnya diberikan adalah kita harus menghentikannya. Tidak ada jawaban yang benar selain itu."

Di Jerman sekitar 10.000 orang berkumpul di hadapan simbol kegelapan. Masyarakat diminta untuk mematikan listrik selama lima menit pukul 19.00 GMT, Minggu kemarin di Austria, Jerman dan Swiss. Pemadaman tersebut direncanakan untuk membuat monumen-monumen bersejarah di bawah kegelapan, termasuk di antaranya Brandenburg Gate di Berlin dan Cologne Cathedral. Sekitar 5.000 orang bergabung dalam aksi di ibu kota, sementara beberapa lainnya terkonsentrasi di Munich, Nuremberg, Freiburg dan Saarbruecken.

"Ini adalah peringatan kuat dari gerakan baru untuk menjaga iklim," tegas Dirk Jansen dari kelompok hijau Jerman BUND. Di Bali sekitar 500 aktivis membawa spanduk dan plakat, untuk bersama-sama dengan aktivis di Eropa, Korea Selatan dan Bangladesh sebagai bentuk lobi kepada konferensi iklim PBB. "Hentikan Kekacauan Iklim", "Negara Kaya Harus Membayarnya" dan "Bush: Pembunuh Planet Bumi", tulis beberapa spanduk di Kota Denpasar.

Di tempat lain sebanyak 1.000 aktivis tumpah ruah di Istanbul meminta pemerintah Turki untuk menandatangani Protokol Kyoto mengenai perubahan iklim dan membatalkan rencana untuk  membangun pembangkit listrik tenaga nuklir, yang baru-baru ini disahkan oleh parlemen.

Di Athena lebih dari 1.000 simpatisan berkumpul di Syntagma Square, kota utara Salonika dan beberapa kota kecil lainnya. Kemudian di negeri Matador, sebanyak 50 pengunjuk rasa berkumpul di pusat kota membawa spanduk bertuliskan "Ubahlah Gaya Hidup, Bukan Iklim".

Dari perkiraan polisi, ada 3.000 orang berpartisipasi di Brussels, Belgia yang diatur oleh kelompok Coalition Climat, gerakan yang dibuat atas gabungan 70 asosiasi. Namun unjuk rasa untuk iklim kurang mendapat perhatian di Rusia. Hanya ada 10 orang demonstran beraksi sambil membawa sepeda gayung, polisi mengatakan unjuk rasa tersebut tidak diorganisasi dengan baik. (ton/afp)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)