kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 10 Desember 2007

 Desa Pekraman


Mete dan Mangga Turun Produksi

MUNTI Gunung wilayah desanya berbukit-bukit tandus. Warga di desa ini cukup melarat saat musim kemarau panjang, karena akan mengakibatkan terak (paceklik).

Sebenarnya, kata warga setempat Nyoman Rena dan Ketut Karya, Minggu (9/12) kemarin di desa setempat, tanaman jambu mete dan mangga menjadi andalan penghasilan kebun petani. Namun hasil jambu mete juga tak selalu baik.

Umumnya hasil mete cukup baik tiap dua tahun sekali, karena mete satu musim berbuah lebat dan satu tahun/musim istirahat. Saat istirahat berbuah, produksi jauh menurun bahkan tak berbuah sama sekali.

Pada puncak musim bulan lalu per kg biji mete kering antara Rp 5.000 - Rp 6.000. Petani mete menjualnya kepada pengepul. Petani setempat juga cukup banyak menanam mangga. Namun seperti mete, produksi buah mangga juga tak menentu. Buah mete dan mangga juga sangat tergantung dari musim. Saat cuaca buruk digempur angin kencang, panas dan kena air hujan  sedikit bunga mete dan mangga kering dan gugur. Itu berarti produksi buah bakal jauh menurun. ''Tanah di Munti Gunung cukup subur, sehingga serangan jamur putih tak terlalu banyak menyerang pohon mete,'' ujar Rena.

Selain mete, warga yang memiliki pohon lontar juga menyadap tuak manis yang disadap dari pohon lontar. Tuak itu oleh para ibu rumah tangga dijadikan gula lontar dan dijual kepada pengepul yang mendatangi rumah-rumah penduduk atau dijual ke pasar Tukad Deling di Tianyar, Kubu. 

Berdasarkan pengamatan pohon lontar banyak tumbuh dan tahan di desa tandus itu. Pohon lontar juga banyak manfaatnya, daun muda pucuk harganya cukup tinggi. Bunga lontar bisa disadap menjadi tuak manis bahan gula lontar, sementara tuak wayah juga bisa dijual. Daun lontar bisa dijual ke luar daerah untuk bahan anyaman, sejumlah ibu rumah tangga juga menyangam tikar, perabot rumah tangga dan bahan untuk upacara persembahyangan. 

Kini petani setempat juga berharap dengan adanya pengembangan jarak pagar. Di mana, dibantu yayasan dan pemerintah sudah mulai ditanam bibit jarak pagar dengan perbanyakan bibit sistem kloning akar.

Karya mengatakan, ada informasi baik dari pemerintah maupun LSM bahwa minyak buah jarak pagar bisa dipakai minyak mesin (biofuel). Pihak Pemkab Karangasem mengatakan sudah ada yang mau membeli buah jarak pagar itu. ''Jadi kami petani percaya saja dan kami bakal menanam bibit jarak itu di lahan kosong seperti perbukitan, tebing dan daerah aliran sungai kering. Selain buahnya bisa dijual, hitung-hitung untuk menghutankan perbukitan tandus yang gundul. Kami juga berharap dengan cara itu desa kami menjadi lebih sejuk,'' tambah Karya. (bud)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)