Mete dan
Mangga
Turun
Produksi
MUNTI
Gunung
wilayah desanya
berbukit-bukit
tandus.
Warga di
desa
ini cukup
melarat
saat musim
kemarau
panjang, karena
akan
mengakibatkan
terak (paceklik).
Sebenarnya,
kata
warga setempat
Nyoman Rena
dan
Ketut Karya,
Minggu (9/12)
kemarin
di desa
setempat,
tanaman
jambu mete dan
mangga
menjadi andalan
penghasilan
kebun
petani. Namun
hasil
jambu mete juga
tak
selalu baik.
Umumnya
hasil mete
cukup
baik tiap
dua
tahun sekali,
karena mete
satu
musim berbuah
lebat
dan satu
tahun/musim
istirahat.
Saat
istirahat berbuah,
produksi
jauh
menurun bahkan
tak
berbuah
sama sekali.
Pada
puncak
musim bulan
lalu per kg
biji mete
kering
antara Rp 5.000 -
Rp 6.000.
Petani mete
menjualnya
kepada
pengepul.
Petani
setempat
juga
cukup banyak
menanam
mangga. Namun
seperti mete,
produksi
buah
mangga juga
tak
menentu. Buah mete
dan
mangga juga
sangat
tergantung dari
musim.
Saat cuaca
buruk
digempur angin
kencang,
panas
dan kena air
hujan
sedikit
bunga mete
dan
mangga kering
dan
gugur.
Itu
berarti
produksi buah
bakal
jauh menurun.
''Tanah
di
Munti Gunung
cukup
subur, sehingga
serangan
jamur
putih tak
terlalu
banyak menyerang
pohon mete,''
ujar Rena.
Selain
mete, warga yang
memiliki
pohon
lontar juga
menyadap
tuak
manis yang
disadap
dari pohon
lontar.
Tuak
itu
oleh para
ibu
rumah tangga
dijadikan
gula
lontar dan
dijual
kepada pengepul yang
mendatangi
rumah-rumah
penduduk
atau
dijual ke
pasar
Tukad Deling
di
Tianyar, Kubu.
Berdasarkan
pengamatan
pohon
lontar banyak
tumbuh
dan tahan
di desa
tandus
itu.
Pohon
lontar
juga banyak
manfaatnya,
daun
muda pucuk
harganya
cukup
tinggi. Bunga
lontar
bisa disadap
menjadi
tuak
manis bahan
gula
lontar, sementara
tuak
wayah juga
bisa
dijual.
Daun
lontar
bisa dijual
ke luar
daerah
untuk bahan
anyaman,
sejumlah
ibu
rumah tangga
juga
menyangam tikar,
perabot
rumah tangga
dan
bahan untuk
upacara
persembahyangan.
Kini
petani
setempat juga
berharap
dengan
adanya pengembangan
jarak
pagar.
Di
mana,
dibantu yayasan
dan
pemerintah sudah
mulai
ditanam bibit
jarak
pagar dengan
perbanyakan
bibit
sistem kloning
akar.
Karya
mengatakan,
ada
informasi baik
dari
pemerintah maupun LSM
bahwa
minyak buah
jarak
pagar bisa
dipakai
minyak mesin (biofuel).
Pihak
Pemkab
Karangasem mengatakan
sudah
ada yang mau
membeli
buah jarak
pagar
itu. ''Jadi
kami
petani percaya
saja
dan kami
bakal
menanam bibit
jarak
itu di
lahan
kosong seperti
perbukitan,
tebing
dan daerah
aliran
sungai kering.
Selain
buahnya
bisa dijual,
hitung-hitung
untuk
menghutankan perbukitan
tandus yang
gundul.
Kami
juga berharap
dengan
cara
itu
desa kami
menjadi
lebih sejuk,''
tambah
Karya.
(bud)